Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
46. Perkelahian Sengit


__ADS_3

Prov Author On


Reyzal Al Ghozali adalah anak pengusaha berlian di kota Xxx. Rey dan Aini adalah teman seperguruan di pengajiannya, Rey juga yang membantu Aini belajar membaca Alquran dengan suara yang merdu, belajar hadist dan belajar memanah dalam satu seperguruan.


Melihat Rey yang begitu menyayangi Aini, kedua orang tua Rey pun berinisiatif melamar Aini saat usia Aini baru 6 tahun untuk menjadi calon menantunya suatu saat nanti. Usia Rey terpaut 3 tahun lebih tua dari Aini, membuat Rey menjadi sosok kakak yang selalu memperlakukan Aini penuh dengan cinta.


Kakek dan Nenek Aini menolak secara halus saat kedatangan kedua orang tua Rey yang ingin melamar Aini, tapi saat kedua orang tua Rey menjelaskan secara rinci kepada kakek dan Nenek Aini.


Mereka pun setuju atas perjodohan Aini dan Rey, Rey dan Aini yang di beri tahu oleh kedua orang karena mereka masih kecil Aini hanya tahu bahwa Aini akan menikah dengan Rey tidak boleh berdeketan dengan lelaki lain selain Rey.


" Kak Al..?"


" Hmmm..?" ucap Rey.


" Nur masih gak ngerti nikah itu seperti apa?" ucap Aini polos.


" Kakak juga belum paham Nur, yang kakak tau, kalau Nur sama kakak sudah besar nanti, kita akan menjadi suami istri."


" Oh seperti papa mama kakak ya?"


" Iya,, nih sudah jadi mahkotanya," ucap Rey yang merakit mahkota dari bunga bunga yang kecil.


" Waahhh cantik banget kak, makasih ya kak".


Kebersamaan Rey dan Aini membuat tumbuh rasa cinta Rey pada Aini, begitu juga rasa nyaman Aini ke Rey membuat Aini tidak mau jauh dari Rey.


Pada saat ayah Aini datang dan ingin membawa Aini pergi ke Prancis, membuat Rey marah tidak mau jauh dari Aini.


Rey pun mengejar mobil yang membawa Aini pergi.


" Nur...?" ucap Rey yang terus berlari mengejar mobil Aini.


Aini yang melihat Rey mengejarnya hanya bisa menangis dan melambaikan tangannya, Rey pun terjatuh saat berlari, papah mamah rey dan kakek nenek Aini langsung mengahmpiri Rey yang terjatuh.


" Pah mah,, kejarrr Aini,,, Al mohon pah,,, maahhh" ucap Rey yang memohon ke orang tuanya.


Seminggu berlalu, Rey syok dan jatuh sakit sehingga di bawa berobat ke kota pariyangan sekalian pindah kesana demi kesehatan Rey yang selalu mengingat Aini.


Prov Author off.


" Rey...!" Teriak Ammar yang sudah kalang kabut dengan Emosinya.


" Kalau kamu tidak mau saya pecat, sekarang juga lepasin tangan kamu dari Istri saya...!" ucap Ammar.


Deg deg deg, denyut jantung Rey berdegup sakit saat mendengar atasanya bilang bahwa calon istrinya adalah istri atasanya.


" Heh..." Nafas kasar Rey yang melepas baju Aini dari gengamannya.


Rey pun mundur secara perlahan sambil menjatuhkan air matanya dan memegang dadanya yang begitu sakit.


" Kakak akan keluar dari rumah ini, setelah Kakak mendengar langsung dari mulut kamu Nur..!" ucap Rey dengan suara serak nya.


Ammar yang sudah naik pitam menahan rasa cemburunya dari tadi, tak segan segan ingin memukul Rey yang ada di depanya, tapi Aini memegang tangan Ammar dan berkata pada Rey dengan berat hati.


" Maafkan aku Kak,, aku gak bisa menepati janji aku buat menjadi istri kamu. Ak_ ak_ ku sudah menikah dengan mas Ammar, dan sekarang aku adalah istrinya mas Ammar. Ammar Abqori." ucap Aini dengan terpaksa.


" Kau dengar..? Hah..! dia istri ku..! milik ku...!" ucap Ammar dengan egoisnya.


" Haha" ketawa Rey menutupi sakit di dadanya.


" Katakan Nur kau masih mencintai kakak..?" ucap Rey membuat Ammar melayangkan pukulan ke wajah Rey.


" Buuugghhhh....!" Rey pun terjatuh ke lantai.


" Abang..! " ucap Nabila

__ADS_1


" Mas Ammar..!" ucap Aini


" Astaghfirullahallazim" ucap ke dua istri Ammar.


Ammar yang hendak ingin memukul lagi Rey, di tahan oleh Aini dengan merentangkan tangan agar Ammar tidak memukul Rey.


" Stoop mas...!" ucap Aini.


" Loe lihat..? Raganya memang milik loe, tapi hati dan cintanya masih milik gue" ucap Rey berdiri.


Mendengar Rey berbicara seperti itu, membuat Ammar semakin marah dan nendang Rey hingga terjatuh. Rey bangun dan melawan Ammar sehingga terjadinya perkelahian yang sengit.


" Astaghfirulah ,, Aini... ini semua gara gara kamu,, capat panggil satpam." ucap Nabila yang ketakutan.


Aini bingung dia tidak mau sampai orang lain tau, para asissten rumah tangga hanya ketakutan tidak bisa melerai kedua orang yang sudah penuh emosi,


Akhirnya Aini mengikat gamis nya dengan posisi kuda kudanya yang kuat berlari ke arah Ammar dan juga Rey yang sedang bertarung adu jotos.


" Nyonyaahhhh...." ucap semua parah asisstennya yang berteriak memanggil Aini.


" Hhhiiiyyyaaaattttt........ buggghhh... buuuggghhh,,, buuuggghhh...." pukulan dan tangkisan Aini ke Ammar dan Rey sekaligus tendangan harimau Aini ke Ammar dan Rey hingga membuat mereka berdua terjatuh tak berdaya.


Rey yang terkejut akibat kena pukulan dan tendangan Aini akhirnya langsung di pegangi oleh Assissten rumah tangga Ammar bagian tukan kebun dan sopir, sedangkan Ammar di pengangi oleh Asissten rumah tangga Ammar bagian koki dan sopir.


" Kak Al..?" ucap Lirih Aini yang melihat Rey babak belur. ingin menghampiri Rey tapi takut suaminya salah paham.


" Bawa dia keluar,, mulai sekarang loe gue pecat...! " bentak Ammar.


" Gak perlu, lepasin gue, gue bisa jalan sendiri,, dan gak perlu loe pecat gue, gue juga bakalan mundurin diri dari perusahaam loe.." ucap ketus Rey.


" Bagus kalau loe sadar, " ucap Ammar.


Rey berjalan keluar dengan sempoyonngan, Aini tidak tega melihat Rey pulang sendiri dengan sempoyongan, meminta sopir pribadinya Pak Karto untuk mengantarnya.


" Mas,,,! ok, memilih mana? pak Karto yang anterin atau Aini sendiri..?" ucap kesal Aini.


" Silahkan kalau kamu memilih dia, pergilah sesuka kamu dengan dia" ucap Ammar yang sudah kecewa dengan Aini.


Aini pun tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa memberi tahu sarah buat menjemput Rey, yang sudah dari tadi pergi dari luar rumahnya.


Rey pergi dengan rasa kecewa pada Aini, selama ini Rey mencoba mencari Aini lewat berbagai e-mail dan medsos lainnya tapi nihil, mencoba menyusul ke Prancis saat Rey lulus SMK dan kuliah di Prancis tapi ternyata tidak menemukanya.


Hingga akhirnya Rey menjadi direk di perusahaan papahnya di kota xx mengurus perusahaan berlian papahnya, tapi karena Rey terus memikirkan Aini Rey mengundurkan diri dari jabatan yang dia pegang selama ini.


Mengetahui Rey mengundurkan diri dari Direk. Papahnya Rey marah dan mencabut semua fasilitas Royal yang selama ini Rey gunakan.


Rey mengadu nasib di ibu kota dengan bekal seadanya, pernah menjadi OB, jadi waiters, jadi ojol, sekertaris, manager sampai saat ini menjadi Assisten pribadi Ammar, berkat ketampanan, kecerdasan dan ke ahliannya membuat Rey mendapat kepercayaan Ammar.


Dan pada saat baru pertama kali Rey bekerja dengan Ammar Rey mendapat pujian sekaligus musuh dalam satu hari.


Kediaman rumah Ammar....


Nabila mengompres luka lebam di wajar Ammar, Aini membawakan susu hangat untuk Ammar.


" Mas,," ucap Aini yang memberikan gelas ke Ammar.


Ammar yang benar benar di bakar oleh rasa cemburu, kecewa dan marah terhadap Aini hanya bisa diam tanpa membalas perkataan Aini.


" Nabila, bawa susu nya ke luar, lalu konci pintunya, Abang sangat lelah" ucap Ammar dengan raut wajah yang dingin.


Aini tau Ammar mengusirnya dari kamar Nabila, dengan sadar diri Aini membawa lagi segelas susu hangatnya dan keluar dari kamar Nabila.


Aini menangis di dalam kamarnya sambil memeluk gulingnya, perasaan yang aneh terhadap dirinya saat melihat sosok yang di rindukan selama ini muncul tiba tiba saat di hadapannya saat dia sudah menjadi istri dari seorang Ammar.


Aini memang mempunyai rasa cinta terhadap Rey, mungkin sampai saat ini Aini masih mengartikan rasa cinta untuk Rey itu ada. Kini Aini tidur sendiri, karena Sarah setelah sholat magrib meminta izin pulang karena tidak bisa menginap di rumah Aini saat ini.

__ADS_1


Untung rumah Ammar setiap ruangan memiliki kedap suara, sehingga Aini tidak akan merasa sakit hati saat Ammar dan Nabila melakukan hubungan suami istri, pikir Aini.


Perlahan Aini memejamkan matanya hingga tertidur pulas.


Di ruangan lain..


Ammar yang masih gelisa tidak bisa tidur, mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa tidur juga, membuat Nabila merasakan kegelisahan Ammar.


" Bang,, !" ucap Nabila merayu.


" Maaf abang membuatmu terbangun ya..?" ucap Ammar yang merasa bersalah.


" Gak kok,, abang kenapa gak bisa tidur? memikirkan Aini..?" ucap Nabila yang mencoba memeluk Ammar.


" Tidak, maaf Nabila malam ini abang lagi kacau" ucap Ammar yang tau niat Nabila meminta haknya untuk menjalankan kewajibannya.


" Ya Nabila tau, abang tidak perlu memaksakannya." ucap sedih Nabila.


" Kita tidur ya, besokkan kamu ada pertemuan di SMK Nuansa Bening. abang akan menemani kamu tidur." ucap Ammar sambil memeluk Nabila dengan posisi tiduran dan saling menghadap.


Mereka berdua tertidur dalam satu selimut yang sama.


💤💤💤💤💤


" Nur hayooo mandi sana waktunya ngaji,,, jangan main mulu" Suruh Rey membawa kayu rotan untuk memukul Aini dengan pelan untuk mengertak Aini.


" Sebentar lagi kak,,, lagi seru nangung nih, bentar lagi Nur menang," ucap Aini sambil aba aba untuk menyentil kelereng lawannya.


" Astaghfirullah Nurrr . .!" ucap Rey dengan marah sambil mengangkat Rotannya ke atas siap memukul Aini.


Aini yang melihat Rey marah hanya tertawa dan berlari, Rey pun memgejar Aini sambil mebawa rotan. Saat Aini menengok lagi kebelakang Aini terkejut kerena yang mengejar dia memakai rotan bukan Rey tapi Ammar.


" Mas Ammar...?" ucap Aini waktu kecil. Ammar langsung mengangkat rotan, Aini pun tersadung batu saat menghindar dari rotan Ammar.


" Ampun Masss....! " Teriak Aini membuka matanya dengan nafas turun naik dengan cepat.


" Huuufftt... Astaghfirullah... ternyata mimpi, " ucap Aini. yang bangun duduk dan bersandar di ujung kepala kasur.


" Ya abis..." ucap Aini yang mengambil gelas minumnya


Terpaksa Aini keluar dari kamar dan melewati kamar Nabila, dengan perasaan kepo. Aini memasang kupingnya yang di tempelkan ke pintu Nabila, tapi tidak menemukan suara suara yang aneh.


Aini pun berjalan menuruni anak tangga dan pergi di kedapur mengambil air minum dari dalam kulkas.


" Kok gak ada suara yang aneh ya..? Apa jangan jangan sudah selesai..? masa cepat banget si? baru jam 1an,, belum subuh" ucap Aini yang meminum airnya.


" Huukkk hhukkkk" tersedak Aini saat minum air putih, ternyata Ammar sudah ada di depannya memasang wajah sangar seperti di dalam mimpinya.


" Mas Ammar..?" ucap Aini yang merapihkan sisa air di mulutnya.


Ammar hanya mengambil air minum tanpa berbicara pada Aini, lalu meninggalkan nya begitu saja. Aini yang tidak mau membuang kesempatanya untuk meminta maaf kepada Ammar, langsung menarik tangan Ammar dan memeluknya.


" Maaf maaf maaf mas,,, " ucap Aini menangis


Ammar masih terus terdiam saat Aini terus terusan meminta maaf, Ammar terlalu sakit bila mengingatnya. terlalu kecewa dengan Aini.


Membayangkan saat Aini di obati jarinya oleh Rey, bersentuhan oleh Rey. berpelukan di depan matanya membuat Ammar terasa sesak di dadanya.


" Mas,,, Aini gak akan bisa tidur kalau mas belum memaafkan Aini" ucap Aini memohon.


" Apa kamu mencintai nya?" ucap Ammar dingin.


Deg,,, ada rasa perih di dada saat Ammar melontarkan pertanyaannya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2