Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 137. Kecurigaan Ammar.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Selama semalaman Roy terus menggempur sang istri habis-habisan, bagaikan menang lotre, begitu senang mendapat istri yang masih muda, cantik, tersegel dan juga aduhai dalam segala bentuk ditubuhnya.


Sungguh beruntung Roy, saat dirinya bisa menjadi seorang suami dari Gabriel Anatasya, berbeda dengan Nico yang telah membuang intan permata demi sebongkah batu apung.


"Om, udah ... Gabriel masih ngantuk," rengekan Gabriel saat sang suami yang sudah bangun terus menciumi setiap lekuk tubuhnya.


"Tapi, Om masih mau." Roy terus menyesap gundukan Gabby sembari memainkan pucuk yang berwarna ping merona.


"Astaga." Gabby mengusap lembut rambut sang suami.


Akhirnya Gabby melayani keinginan sang suami dipagi hari sampai Roy benar-benar merasa puas dan senang atas Service yang Gabby berikan.


Tidak mau egois, Roy pun memberikan perhatian dan rasa sayang kepada sang istri yang mau terus bersedia melayani hak biologisnya, mulai dari menggendong Gabby ke kamar mandi, sampai menyuapi sarapannya penuh dengan kasih sayang.


Setelah selesai, Gabby pun kembali tidur selama seharian bersama sang suami, karena posisi mereka berada di hotel. Jadi pihak keluarga baik dari Gabby atau keluarga Roy tidak bisa mengganggu masa-masa pengantin baru mereka.


***


Seminggu telah berlalu, semua kembali normal di mana Gabby bisa menjalankan pernikahannya sembari sekolah untuk bisa lulus dengan predikat yang memuaskan, sedangkan dalam pernikahan Aini kini dia sedang mengikuti masa-sama akhir di kampus kuliahnya dengan nilai yang membanggakan.


Aini yang tanpa tahu bahwa sang suami telah menjebloskan mami Nabila masuk ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik dan penganiyaan terhadap Aini, hanya menikmati kehidupannya sebagai Nyonya Ammar.


"Mas, Aini ada acara dari kampus, boleh Aini datang ke kampus?" tanya Aini yang menelepon sang suami.


"Kapan?" tanya Ammar.


"Acaranya si besok, tapi kalau Mas izinin nanti siang Aini berangkat ke kota X sama anak-anak dan juga bunda Ismi" ucap Aini yang ragu.


"Bunda Ismi? Ngapain?" tanya Ammar menyelidiki sang istri.


"Dia juga ada keperluan di kota X," ujar Aini menjelaskan.


"Penting?" tanya Ammar karena setahu Ammar kampus Aini cukup lumayan jauh, berbeda saat dulu Aini masih kuliah di Jakarta ditambah bunda Ismi ikut bersama Aini dan kemungkinan besar Rey pun juga ikut.


"Penting gak penting si, kan juga mau mengurus wisudah," jawab Aini agar sang suami mau memberikan izin kepadanya.

__ADS_1


"Tunggu Mas pulang kerja, biar Mas yang antar," ujar Ammar dengan tegas.


"Iya." Aini mematikan sambungan ponselnya ketika sudah memberi salam kepada sang suami.


Malam harinya setelah selesai pulang dari kantor, Ammar langsung mengantar Aini ke kota X, lalu memesan hotel untuk mereka berdua.


Sesampainya di kamar hotel, Aini langsung menidurkan kedua anaknya, setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan Ammar masih sibuk untuk menjadwal ulang kerjanya yang diundur beberapa hari kebelakang untuk menemani sang istri selama tiga hari di kota X.


Pemulihan pada tulang dikakinya sudah membaik, sehingga Ammar bisa mengantar dan menemani istrinya sendiri ke kota X, walaupun belum sepenuhnya sembuh setidaknya Ammar sudah tidak memakai kursi rodanya.


"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Ammar kepada sang istri.


"Apa aja Mas," sahut Aini yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Oke," jawab Ammar yang menghubungi pihak hotel.


Tidak berapa lama kemudian, pintu kamar di ketuk dari luar, Ammar segera bangun dan membuka pintunya, ternyata bukan pihak pelayanan hotel yang datang melainkan bunda Ismi.


Bunda Ismi membawakan beberapa baju untuk Aini kenakan saat wisuda nanti, Bunda Ismi juga memberikan beberapa barang bermerek kepada Aini, mulai dari tas, sepatu dan juga asesoris lainya.


Ammar yang memang menaruh curiga kepada keluarga Rey terus mengorek informasi dari pihak pesuruhnya, tetapi hanya sebagian Ammar mendapat tentang fakta keluarga Rey.


"Ini gak seberapa, gimana suka gak? Kalau kamu tidak suka ... nanti tinggal bilang sama bunda." Ismi mengelus kepala Aini sembari menatapnya dengan dalam.


"Suka si bunda, tapi yang kemarin aja dari bunda, sebagian ada yang belum Aini pakai," ucap Aini merasa tidak enak dengan Ismi.


"Gak apa-apa, kamu bisa sumbangkan sebagian kepada yang lain." Ismi mengelus tangan Aini.


"Oh iya, sudah makan? Mau bunda panggilan kokinya?" tanya Ismi.


"Bunda gak perlu repot-repot, tadi Ammar sudah mesen ke pihak hotelnya." Ammar merasa Ismi terlalu memanjakan Aini sebagai anak angkatnya.


"Bunda gak repot kok, kalau buat Aini anak bunda ... apa sih yang gak." Ismi mencubit pipi Aini dengan gemas, tapi Ammar melihat ada yang tidak beres dengan sikap bunda Ismi selama ini ke Aini.


"Oh iya, besok kamu berangkat sendiri atau ...." tanya Ismi yang dipotong oleh Ammar.


"Bunda jangan khawatir, Ammar yang akan mengantar Aini ke kampus," jawab Ammar dengan cepat.

__ADS_1


Aini dan Ismi hanya melihat tingkah Ammar secara bergantian, Ismi yang menyadari sikap Ammar yang tidak suka terhadapnya yang selalu memanjakan Aini secara berlebihan memilih untuk tidak banyak berbicara.


Disela-sela obrolan Aini dan Ismi, pihak pelayan hotel datang membawa berbagai macam hidangan yang dipesan oleh Ammar, Ismi pun langsung pamit untuk balik ke kamar hotelnya setelah mereka berbincang.


"Mas kamu ko seperti itu sama bunda?" tanya Aini saat bunda Ismi sudah kembali ke kamarnya.


"Emang kamu gak curiga apa? Keluarga Rey selalu membelikan semua barang-barang mewah dari kamu kecil sampai sekarang sudah punya suami, kan gak masuk akal!" Ammar mulai kesal karena keluarga Rey seakan tidak menghargai Ammar sebagai suami Aini.


"Astagfirullah, Mas ... kok kamu mikirnya jauh banget? Dah jangan curigaan mulu sama orang lain, gak bagus." Aini menyuapi suaminya agar berhenti membicarakan bunda Ismi.


Ammar hanya bisa diam untuk sementara waktu sampai terbongkarnya dibalik misteri keluarga Rey yang begitu royal memanjakan istrinya.


Seusai makan, Aini sudah mulai mengambil aba-aba untuk tidur tapi Ammar sudah mencegahnya lebih dulu, masuk ke dalam selimut dan mulai mencumbui istrinya.


"Mas Aini ngantuk, besok harus berangkat pagi-pagi, pulang dari kampus aja ya ...." Aini merangkul leher suaminya.


"Beda lagi itu," ucap Ammar yang masih memendam kepalanya dibelahan kedua dada sang istri.


Ammar yang merasa tidak ada respon dari istrinya langsung melihat dan menengok ke arah Aini dan ternyata sudah tertidur lelap. Ammar hanya tertawa melihat istrinya benar-benar mengantuk, dia memutuskan untuk memeluk istrinya lalu perlahan memejamkan matanya.


***


Keesokan paginya, Aini begitu cantik dengan balutan muslim berwarna hitam menggunakan ciri khasnya yang memakai banana mata elang, bunda Ismi yang merasa bangga kepada anak perempuannya hanya bisa meneteskan air matanya.


"Kok, bunda nangis?" Aini menghampiri Ismi yang sedang mandanginya dari belakang.


"Kamu cantik, Al beruntung punya adik secantik kamu." Ismi mengelus wajah Aini yang tertutup cadar.


"Iya dong, bunda ... bunda aja cantik masa anaknya gak," ledek Aini dan berhasil membuat Ismi tertawa.


"Ya sudah, sana berangkat, nanti telat. Biar bunda yang menjaga si kembar." Ismi mendorong Aini agar merangkul suaminya dan segera untuk pergi sebelum terlambat ke kampus.


Ammar dan Aini berpamitan kepada bunda Ismi, mereka pun berangkat menggunakan mobil dan menuju kampus Aini di mana selama ini Aini mengambil kelas daring.


Setelah sampai Aini berpamitan pada suaminya, dia mencium tangan Ammar lalu mencium pipi suaminya, tapi Ammar malah menahan tengku leher Aini membuka cadar sang istri lalu menciumnya dengan penuh penghayatan.


"Telepon, Mas kalau sudah beres." Ammar melepaskan ciumannya dan berbisik di depan Aini.

__ADS_1


"Hmm," anggukan Aini sebagai tanda mengerti.


Bersambung...


__ADS_2