
"Jangan di bahas lagi, Abang tidak mau terus terusan bertengkar. Lebih baik sekarang abang antar kamu ke tempat papih." Ammar melepaskan pelukannya dan menarik tangan Nabila.
"Gak mau! Nabila mau dengar dulu kalau abang sayang dan cinta sama Nabila!" protes Nabila.
"Nabila, abang sedang tidak mau bercanda! " Ammar membalikan tubuhnya menghadap Nabila yang sudah di luar pintu kamar.
"Nabila juga gak bercanda bang! Nabila mau dengar dari mulut abang kalau abang sayang dan cinta sama Nabila!" Nabila yang bersih keras dengan pendiriannya.
Mendengar paksaan dari Nabila, Ammar hanya bertelak pinggang dengan satu tangan dan yang satunya lagi memegang kening di antara ke dua matanya.
"Nabila abang sayang sama kamu!" ucap Ammar datar sambil menarik nafas kasar.
"Tapi gak cinta kan? Iya kan? Ck! Abang itu JAHAT!" Nabila marah dan pergi meninggalkan Ammar.
"Nabila? Nabila tunggu Nabila, Nabila!" Ammar mengejar Nabila.
"Nabila kamu mau kemana?!"
"Apa pedulinya abang? Toh juga kalau Nabila pergi abang hanya mementingkan Aini kan dari pada Nabila?"
"Nabila abang peduli sama kamu dan Aini, jadi tolong jangan tambah masalah. Bisa?!"
"Abang tau gak? Istri mana yang tidak sakit saat suami nya tidak menyentuh istrinya! Nabila itu hanya di jadiin pajangan di antara Abang dan Aini," ucap Nabila menangis.
"Gak Nabila, abang gak pernah menganggap kamu sebagai pajangan sama sekali. "
"Lalu apa kalau bukan pajangan? Figuran iya?" Nabila melangkah pergi tapi di cekal oleh Ammar
"Bukan Nabila!" Ammar yang menghadang Nabila.
"Dah lah bang, mending abang cari aja istri tercinta Abang, Nabila bisa pergi sendiri ke rumah Papih!" Nabila mendorong Ammar dan pergi keluar.
"Nabila tunggu! Nabila, biar abang antar ke rumah Papih."
"Gak usah, Nabila bisa sendiri!"
"Nabila!"
"Astagfirullah ... Aakkkggghhh ....!" teriak Ammar yang mengusap kasar wajahnya
Roy yang setia menunggu bosnya di ruang tamu hanya terdiam saat melihat tuannya menatap emosi mobil Nabila yang sudah keluar.
"Bos." Roy memberikan info lewat Tab nya.
Ammar melihat informasih mengenai Rey yang sudah lebih dulu berangkat ke negara Prancis. Ammar membanting sebuat Tab keluaran terbaru dari Apel milik Roy.
Praank!
Tab keluaran terbaru milik Roy hancur seketika. Roy yang melihat pacar barunya hancur berkeping - keping hanya bisa melongo menatap serpihan benda pipi besarnya.
"Siapkan Jet pribadi sekarang!" Ammar melangkah pergi meninggalkan Roy yang masih mematung melihat Tab kesayangannya.
"Roy!" teriak Ammar yang melihat Roy masih berdiam diri.
"Siap bos!" Roy berlali menghampiri Ammar.
------
Desa Mittelbergheim
Desa Mittelbegheim adalah desa di perancis yang terkenal dengan hasil produksi wine yang paling baik di Perancis. Dan tentunya desa ini juga mempunyai ladang anggur yang luas, sehingga desa ini juga dijuluki sebagai desa wine. ( Google )
Sumber foto by : Mbah Google.
Aini masih menjalankan Bed Rest di kamar, ingin rasanya jalan jalan mengeliling daerah yang ia tempati saat ini, tapi apalah daya dengan kondisi dia yang saat ini harus benar benar istirahat.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Aini melihat Omah tersenyum dan membawa sebuah kursi roda yang cukup di bilang sangat elit.
"Surpise! " Omah memberikan sebuah kursi roda elit untuk Aini.
"Subhanallah, Grandma buat apa?"
"Ya buat jalan - jalan keliling desa Mittelberghei dong. " Omah membantu Aini untuk berdiri dan duduk di kursi roda.
"Merci, Grandma"
"Aimer également ( sama - sama, sayang)." Omah mencium cucu nya dan mendorong kursi roda Aini keluar.
Saat Aini berjalan pelan bersama omah menggunakan kursi roda, semua mata tertujuh pada Aini yang duduk di kursi roda dengan penampilannya yang tertutup, sebagian orang yang mengenal Omah Rienza menyapa hanya sekedar menanyakan tentang cucunya.
Omah membalas sapaan dari tetangganya dengan ramah, Aini yang melihat komunikasi antara Omahnya dan juga para tetangga sekitar sangatlah ramah.
"Wah, ma sya allah cantiknya." Aini takjub melihat pemandangan di depan matanya, saat Aini berhenti bersama Omahnya di haparan luas perbukitan.
Ini pertama kalinya Aini ke tempat tinggal omahnya, karena waktu kecil Aini sama sekali tidak pernah jalan jalan selama tinggal di Prancis.
"Kamu suka?" ucap Omah.
"Sangat suka, Omah." Aini mencium Omahnya
"Apa kamu mau ke sana?" tunjuk Omah ke kebun Anggur miliknya.
"Apakah boleh, Omah?" tanya Aini
" Bien sûr (tentu)."Omah yang sudah jalan lebih dulu, lalu Aini mengikutinya dari belakang menggunakan kursi roda yang bisa jalan otomatis.
Aini dan Omah berjalan pelan pelan di dalam kebun Anggur milik keluarga Rienza, Omah sangat semangat menceritakan tentang masa mudanya bersama alm suaminya.
Aini sangat kagum mendengar cerita Omah yang begitu romantis dengan suaminya dulu, Omah pun menangis saat bercerita tentang suaminya membuatnya teringat akan kenangan bersama suaminya dulu.
"Grandmah." Aini memeluk Omahnya.
"Sudah, semua sudah berlalu. Grandma mau masuk dulu ke dalam, kalau kamu mau memetik buah silahkan!" Grandma masuk ke dalam rumah khusus tempat pembutan anggur (wine).
Berlahan Aini menelusuri kebun anggur milik Omahnya,
Aini memetik buah anggur dengan sangat senang, seperti halnya anak kecil yang sedang bertamasya ke kebun anggur. Aini memetik anggurnya dan langsung memasukannya kedalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan senang.
"Hmmm ... ma sya allah!" ketika gigitan pertama sudah ada di dalam rongga mulutnya.
Aini terus memakan buah anggur yang dia petik dari pohonya langsung, karena rata rata buah nya sudah bisa langsung di makan.
Sudah berapa banyak Aini makan buah Anggur dari pohonnya, karena sangking asiknya sampai Aini lupa menaruh kedalam keranjangnya.
Ketika Aini ingin mengambil buah anggur yang lebih tinggi, tanganya tidak sampai sehingga Aini harus bangun berdiri untuk mengambilnya. Tapi, tiba tiba kaki Aini tergelincir saat Aini bangun dan membuat kursi roda Aini tergeser dari tempatnya.
"Astagfiru ... llah! "
Buugggh!
Aini terjatuh di pelukan seorang wanita cantik yang lebih tua dari usianya. Aini membuka matanya saat merasa tubuhnya tidak terjatuh mencium tanah.
"Est-ce que tu vas bien? (Loe gak apa-apa kan? )." Wanita itu memapah Aini agar bisa duduk lagi ke kursinya.
"Merci," ucap Aini
"Iya, oh ya. Kenalin gue Liana, salah satu orang kepercayaanya Omah Rienza."
"Aku, Aini. Cucunya." Mebalas uluran tangan Liana.
"Btw, loe sendirian? Omah nya mana? " Liana menengok kiri kanan mencari Omah Rienza.
"Ada di dalam, masuk aja!"
__ADS_1
"Oke, gue masuk dulu ya, gak apa-apa kan kalau gue tinggal?" Liana yang melihat ke arah Aini.
"Gak apa-apa," ucap Aini tersenyum.
-------
Sementara di sisi lain.
Dalam pesawat Jet pribadi milik Abqori. Ammar terus melacak keberadaan istrinya yang tersambung oleh monitor layar di depannya.
"Maaf bos, kita tidak bisa landing, semua akses di tolak bos! " Roy yang menyampaikan informasi yang di berikan oleh Kopilot.
"Apa? Astagfirullah ... Robbet!" Geram Ammar yang tau pasti ini perbuatan mertuanya.
"Bos, saya punya ide." Roy memainkan alisnya ke atas bawah menunjukan bahwa idenya akan bagus untuk bosnya.
"Apa?" Ammar penasaran dengan ide Asistennya. Roy berbisik ke Ammar.
Ammar mengerutkan dahinya seperti tidak percaya dengan idenya Roy. Namun, tidak ada salahnya bila mencoba. Karena terakhir kali Roy memberikan ide agar Aini tidak bisa kabur dari genggamannya dengan cara membuat Aini mengandung anaknya. Ternyata hasilnya, Aini tetap kabur dari gengamannya
"Ok! " ucap Ammar dengan wajah seriusnya.
'Alhamdulillah, bisa beli pacar keluaran terbaru lagi, setelah bos banting tadi pagi, yes! ' Roy tersenyum senang menampakan giginya yang membuat Ammar heran.
"Sembunyikan gigi kamu, mengganggu pemandangan aja," ucap Ammar.
Akhirnya pesawat jet pribadi Ammar landing di luar negara Prancis. Ammar menuruti ide dari Roy dengan mengubah penampilan Ammar dari atas sampai bawah.
Setelah itu Ammar memesan pesawat penerbangan menuju Prancis menggunkan tiket Economy Class. Ammar yang jiwa di dirinya sudah membaur dengan kesederhanaan, sudah tidak canggung lagi.
Ammar yang memilih duduk dekat dengan jendela sedangkan Roy yang memilih di bangku tengah.
"Kakek, kenapa kakek bisa naik pesawat? seharusnya kakek duduk manis di rumah." anak kecil yang cantik duduk di depan Ammar.
Ammar yang hanya tersenyum di bilang kakek oleh anak kecil tersebut. karena memang Ammar mengikuti idenya Roy dengan menyamar sebagai kakek kakek cool. Agar akses masuk Ammar ke negara Prancis tidak terbaca.
"Apa kakek sudah tuli? Kakek, emangnya kakek mau kemana?!" teriak anak kecil itu yang cantik.
"Adik kecil yang manis, jangan kencang - kencang, kakek gak tuli, cuma dia jarang bicara." Roy meletakan jari telunjuknya ke bibirnya.
"Oh ... kirain aku tuli, Tante," ucap anak kecil yang memanggil Roy tante, karena penampilan nya yang sedang menyamar sebagai wanita anak dari Kakek Ammar.
Bruuk!
Seorang wanita seksi terjatuh di dekat baris bangku Ammar dan Roy saat ingin pergi ke toilet, sehingga dress seksinya terangkat dan mengekspos paha mulusnya.
"Astagfirullah," ucap Ammar dan Roy bersamaan.
Penumpang wanita itu bangun dan melihat Roy dan Ammar yang sedang melihat ke arahnya langsung berdiri dengan emosi dan melayangkan tanganya ke wajah Ammar.
Plakk!
"Dasar tua tua mesum!" Wanita itu langsung pergi.
Ammar langsung melongo ketika pipinya di gambar oleh salah satu penumpang di pesawat tersebut. Sedangkan Roy tertawa melihat bosnya mendapat sambutan hangat dari wanita seksi tersebut.
Wajar wanita itu marah ke Ammar bukan ke Roy, karena pikiran wanita tersebut Roy adalah wanita tidak mungkin mesum memikirkannya. Tapi, Ammar yang menjadi seorang kakek mendapat sambutan hangat di pipinya.
"Ide loe nih." Ammar masih sakit memegang pipinya, sedangkan Roy masih tertawa.
"Bonus, dan ganji ilang." Ammar menatap sinis ke Roy, seketika Roy terdiam dari tertawanya.
***Bersambung...
Hai readers mohon maaf bila telat upnya.
Author mau tanya nih, kira kira Ammar berhasil gak ya masuk ke areh negara Prancis? berhasilkah Ammar menemukan Aini di sebuah desa yang jauh dari kota?
ikuti terus ya ceritanya, jangan lupa like, like, like, komen, Hadiah dab juga Vote Vote Vote..
__ADS_1
salam manis untuk kamu dan irang yang kamu sayang. 😘***