Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
bab 72. Dilema Ammar.


__ADS_3

Veby tebangun melihat jam menjukan pukul 05 : 20 am. Melihat selimut dan bantal pada dirinya dan juga assisten rumah tangganya yang setia menemani istri tuannya yang ikut tertidur di ruang tamu.


"Ternyata belum pulang juga tuh bule," ucap Veby yang kesal.


"Eh nyonyah sudah bangun? maaf nyah saya ketiduran," ucap bibik


"Gak apa apa bik, bibik pindah aja ke dalam kalau masih ngantuk" ucap Veby yang masuk ke kamar.


"Kalau nyonya butuh sesuatu bilang ke bibik ya nyah," ucap Bibik yang sangat mengawatirkan istri tuannya.


Veby bergegas masuk ke dalam kamarnya, perasaan kesal terus menghantuinya. Bagaimana tidak, Frans yang sudah menikmati tubuhnya tiba tiba meninggalkannya seorang diri di apartmentnya.


Air shower mendinginkan pikiran negatifnya tentang Frans, dia mencoba untuk tetap berfikir positif terhadap suaminya. Tapi, mengingat Frans masih memperdulikan sahabat rasa musuhnya itu memebuat hati Veby kembali panas.


Veby telah memutuskan untuk keluar dari apartement pagi pagi, agar saat Frans pulang melihat istrinya tidak ada, apakah akan sekesal dirinya yang sudah menunggu suaminya untuk pulang.


"Aman... si bibik juga lagi di dapur," ucap Veby yang mengedap edap berlari ke arah pintu. Saat Veby sudah membuka pintu apartment, Veby di kejutkan dengan dua bodyguard yang sudah mencegah Veby untuk keluar.


"Maaf nyonyah untuk saat ini kami di perintakan untuk melarang nyonyah keluar rumah sampai bos kembali nyonyah" ucap bodyguardnya.


"Gue cuma mau beli sarapan di luar kok" ucap Veby yang menolak.


"Maaf nyonyah jangan mempersulit kami untuk menjalankan tugas kami. Silahkan masuk lagi nyonyah biar orang suruhan saya untuk membeli segala kebutuhan nyonyah di luar."


"Ih nyebelin banget tuh bulle, gue gak boleh keluar, trus... dia? enak enak kan gitu di luar sana! awas aja kalau dia minta jatah, belalainya gue remes remes kaya cucian baju udah gitu gue pelintir sampe putus dari akar akarnya," tangan Veby yang menggerakan seperti memeras baju dengan kesal.


*******


Villa Romansa, Jawa Barat.


Semenjak Aini di rumah sakit, Ammar jarang pulang ke rumah Nabila dengan alesan urusan pekerjaan yang sangat deadline dan Ammar harus mengerjakannya sendiri.


Agar papi Nabila tidak mengetahui pernikahan Ammar dan Aini. Sesuai kesepakatan, untuk sementara Aini tinggal di Villa bersama Ainun yang selalu Ammar impikan untuk tinggal bersama istrinya suatu hari nanti di Villa tersebut.


Walaupun orang tua Rey memberikan sebuah rumah di Bandung dengan atas nama Aini, tapi Ammar tidak mengizinkanya. Orang tua Rey juga sudah membahas kepada Ammar tentang Aini.

__ADS_1


Ammar merasa ada kejanggalan terhadap orang tua Rey, karena orang tua Rey memohon kepada Ammar agar tidak mengembalikan semua barang dari keluarga Ghozali untuk istrinya.


"Alhamdulillah, Ya sudah sekarang kamu mesti banyak banyak istirahat dulu ya, kalau mau apa apa panggil ibu kalau gak bik Sumi (Asissten Aini dulu)." Ucap Ibu Ainun


"Makasi bu," ucap Aini manja.


"Ya sudah, ibu mau buatkan sop untuk makan malam nanti, lebih baik kamu istirahat yang cukup biar bayinya juga sehat,"


"Iya bu" ucap Aini yang melihat Ainun keluar dari kamarnya.


"Mas sudah kasih kabar ke mba Nabila?" ucap Aini yang membuyarkan lamunan suaminya saat ibu Ainun sudah keluar dari kamar mereka.


"Sudah,"


"Terimakasih ya mas, udah mau jemput Aini, maaf bila Aini merepotkan mas, gara gara Aini, mas harus bisa membagi waktu, antara kerja, Aini dan mba Nabila."


"Sama sama sayang, itu sudah menjadi tanggung jawab mas sebagai suami dan calon ayah untuk anak anak kita," Ammar mengelus perut Aini.


"Apakah mas akan bermalam di sini?" ucapan Aini membuat Ammar terdiam tak mau mengatakan yang akan membuatnya sakit.


"Terimakasih sayang, maaf bila kamu merasa kecewa. apa kamu mau mas buat kan susu?" tawar Ammar ke Aini dan hanya di jawab dengan senyum dan anggukan.


"Ya sudah, tunggu sebentar. Mas buatkan dulu" ucap Ammar.


Disaat Ammar sudah keluar, air mata Aini langsung menetes. "Entah kenapa hati ini masih saja sakit, bila mas Ammar pergi ke pelukan mba Nabila, walaupun aku sudah mengandung anaknya. Ya allah aku hanya mengharapkan ridhomu. Jika memang surga yang kau janjikan pada setiap hamba mu yang sabar, maka hapuskan lah rasa sakit ini. Agar aku bisa melewati ini semua yang harus rela berbagi suami dengan sahabat suami ku tanpa ada rasa sakit di hati ku."


Ammar yang baru keluar dari pintu kamar Aini, Langsung menghibungi Roy asisten pribadinya.


"Roy... cepat cari info keluarga Ghozali sekarang juga," suara Ammar yang memerintahkan Roy dari ponselnya.


"Loh kemarin kan sudah, bos" Roy mengingatkam Ammar.


"Itukan anaknya, Roy... cepat! "


"Baik boss! " Roy yang bersemangat mengiyakan tugasnya.

__ADS_1


Ammar menuju dapur tempat Ibunya yang sedang mempersiapkan makan malam, melihat Ammar membuatkan susu ke Aini, Ainun langsung menghampirinya.


"Nak?"


"Eh ibu, kenapa bu?"


"Apakah bapak mertua mu sudah tau kalau kamu menikah lagi?"


"Belum bu.tapi Ammar rasa Ayah sudah mulai curiga bu."


"Ibu ngerti di posisi kamu, tapi... Lebih baik kamu jujur nak, ibu gak mau kamu terus terusan berbohong, cepat atau lambat pasti keluarga Aini akan tau siapa itu Nabila. Begitu juga dengan keluarga Nabila, dan kamu harus sudah siap menerima konsukuensinya. "


"Ya bu, tapi Ammar gak mau menerima konsukuensi bila Ammar harus berpisah dari Aini bu, apalagi Aini sedang mengandung anak Ammar bu."


"Apa kamu juga mencintai Nabila?"


Deg.


Aini yang tidak sengaja mendengar percakapan Ammar dan Ainun saat di dapur ketika Aini ingin menyusul suaminya, langkahnya berhenti tepat di balik dinding.


"Gak tau bu, kalaupun Ammar juga mencintai Nabila, apakah Ammar salah bu sebagai suami mencintai istrinya?"


"Ya gak salah toh nak, berarti akan ada hati yang terluka, apalagi dari keluarga kedua belah pihak, pasti meraka akan sangat kecewa pada kita nak."


"Maaf bila ibu menanyakan ini, apa kamu dan Nabila sudah tidur bersama? apa Nabila juga sudah hamil?" timpal Ainun.


Deg.


Sekali lagi perih itu tiba tiba muncul menggores hati Aini. Aini yang tidak mau mendengar jawaban dari Ammar yang akan membuatnya tambah sakit, memilih untuk balik ke kamar.


Bersambung...


Hallo.... yang masih setia dengan cerita kehidupan Aini dan Ammar, maaf telat up nya ya...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya,

__ADS_1


salam hangat untuk orang yang kamu sayang...


__ADS_2