
"Loe itu nyebelin tau gak, loe tuh... " ucap Veby terpotong saat Veby memanggil Frans dengan sebutan kasar.
Cup... kecupan mendarat di bibir Veby.
"Loe tuh..."
Cup
"Ihh... Kamu tuh gak mikirin apa gimana perasaan aku, aku tuh udah mikirin yang gak gak sama kamu, tau taunya kamu pulang pulang udah penyok huuu... huuuwaaa... hu... hu... hu... " Veby yang di peluk oleh Frans langsung menangis.
"Apa itu penyok?"
"Ahh uda pokonya udah kagak ganteng lagi... hu... hu... "
"Oh jadi kalau aku gak ganteng lagi, kamu gak mau gitu"
"Kata siapa? masih mau kok, asalkan saldo duitnya gak ikutan penyok" ucap manja Veby membuat Frans tertawa.
"Hahaha... Aauuww," tertawa Frans yang lupa akan jahitanya.
"Apa kamu tidak mau cerita sama aku?"
"Aku akan cerita, tapi berjanji lah, lain kali jangan memakai baju yang terlalu terbuka lagi, dan untuk selanjutnya kamu harus menurut sama aku." ucap Frans.
Frans menjelaskan semuanya yang terjadi dan Veby jadi bersalah karena kalau bukan gara gara dia yang menikah dengan Frans, semua gak akan seperti ini.
Veby pun setuju untuk pergi ke negara Prancis secara diam diam.
**********
4 bulan kemudian.
Semenjak kejadian yang menimpa Aini, Robbet sudah bersiap menyeret dalang di balik pengeroyokan yang terjadi pada Aini berkat bantuan dari pasukan naga putih.
Begitu juga dengan rencananya yang ingin mengambil Aini, karena melihat kondisi Aini dan kandunganya yang sehat, Robbet tidak sabar untuk menjemput putri semata wayangnya.
Selama itu pula Ammar selalu membagi waktu antara Aini dan juga Nabila, Karena papih sekarang memilih untuk tinggal di rumahnya yang tidak jauh dari rumah Ammar.
Villa,
Semua sibuk mempersiapkan tasyakuran untuk Aini yang kini usia kandunganya memasuki 4 bulan. Aini beruntung tinggal bersama ibu mertuanya yang begitu menyayanginya.
Lengkap sudah semua keluarga Aini berkumpul termasuk keluarga Gozali yang ikut hadir dalam tasyakuran anak asuhnya begitu juga Rey yang ikut membatu dalam mempersiapkan acara tersebut.
"Bun, apa ini gak terlalu mewah?" ucap Aini yang ternyata Bunda Ismi dalang memeriahkan acara Aini dengan mewah.
"Loh menurut bunda ini gak mewah kok, Bunda hanya ingin memanjakan anak perempuan bunda satu satunya, apa bunda salah?" tanya Ismi.
"Tapi bun, ini berlebihan untuk Aini, "
"Sudah... pokoknya semua sudah bunda persiapkan dengan mateng, kamu tinggal ngikutin acarnya dari awal sampai selesai dan no coment" ucap Bunda Ismi.
"Makasi ya bun," ucap Aini yang memeluk Ismi dengan manja.
"Sama sama sayang" Ismi yang membalas pelukan Aini
"Ini tidak seberapa nak untuk bisa mengganti semua kebahagiaan kamu yang semestinya menjadi hak kamu, maafkan kami nak, maafkan kami... " ucap dalam hati Ismi.
Kini acara tasyakuran Aini di mulai, pembawa acara yang diundang oleh bunda Ismi dari kalangan artis papas atas yang membawakan kata sambutan untuk kerabat terdekat dan para pejabat pejabat penting dari Jawa Barat, khususnya dari daerah Bandung karena keluarga Ghozali orang yang berpengaruh di daerahnya.
__ADS_1
Tidak lupa rekan rekan bisnis Perusahan Berlian dan juga Perusahaan Energi, semua menjadi satu di acara tersebut.
Setelah kata sambutan selesai dan sebelum pembacaan ayat suci di bacakan, kini tiba saatnya pembawa acara memanggil Nur Aini untuk masuk kedalam acara dan duduk di samping suami untuk melaksanakan pembacaan ayat ayat yang di pimpin oleh ustad Rahman di lanjut ustad Sobri dan di akhiri oleh Aini yang membawakan surat Mariam/yusuf.
Dari tempat sudut dimana seseorang memperhatikan sang pujaan hati yang dulu pernah dia perjuangkan, Rey hanya meneteskan air mata tanpa di ketahui oleh semua orang saat Aini membacakan surah Mariam/Yusuf dengan merdu hanya bisa tersenyum senang.
"Sabar Al, semua sudah di atur oleh yang maha kuasa, ayah yakin kamu mampuh melewati ini semua" ucap sang ayah yang mengetahui betapa lapangnya hati anaknya yang begitu mencintai Aini dari kecil.
"Al gak tau yah, apa Al mampu mecari seseorang untuk bisa menggantikan pengantin kecil Al." ucap Al yang mengelap air matanya.
Bunda Ismi sebagai ibunya, melihat anaknya begitu mencintai Aini hingga rela melepaskannya dengan lapang dada, ikut merasakan kesedihan yang di alami anaknya.
"Yakin lah nak, allah telah mempersiapkan pengganti yang lebih baik lagi." ucap bunda Ismi yang memeluk Rey.
"Makasih bun" ucap Rey yang membalas pelukan Bunda Ismi.
Setelah semua acara berjalan satu persatu, tiba saatnya siraman yang akan di lakukan keluarganya saja.
Ammar dan ibu Ainun, yang sudah menunggu Aini di halaman samping rumah yang di sulap menjadi cantik untuk acara siraman 4 bulanan Aini.
(sumber foto : google)
"Sudah siap nak?" ucap Bunda Ismi yang mengandeng tangan Aini untuk mengantar Aini ke tempat siraman.
"Bismillah bun siap" balas Aini yang mau merangkul tangan bunda Ismi.
"Astagfirullah... kak Al?" terkejut Aini saat tangan Al meraih lengan Aini agar Al yang mengantar Aini ketempat siraman.
"Biar Al aja ya bun," ucap Rey yang memohon untuk bisa mengantar adiknya ke Ammar yang sudah menunggunya dari tadi.
"Boleh kan?" ucap Rey minta izin ke Aini. Aini hanya membalas senyum dan anggukan.
Kini Aini yang di dampingi oleh Rey berjalan pelan menuju tempat siraman yang sudah di tunggu oleh orang tua Aini dan juga Ammar. Semakin langkahnya maju, semakin tak tahan Rey mengeluarkan air matanya yang melihat Aini begitu senang dan melihat Ammar tersenyum senang menanti Aini ke dalam gengamannya.
Entah apa yang merasukin pikiran Rey, sehingga semua kenangan kenangan indah semasa kecilnya dulu yang di lalui bersama Aini pengantin kecilnya dulu, begitu nyata di pikirannya saat ini.
...Ini salahku...
...Terlalu memikirkan egoku...
...Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku...
...Hingga kau pergi tinggalkan aku...
...Terlambat sudah...
...Kini kau t'lah menemukan dia...
...Seseorang yang mampu membuatmu bahagia...
...Ku ikhlas kau bersanding dengannya...
...Aku titipkan dia...
...Lanjutkan perjuanganku 'tuknya...
...Bahagiakan dia, kau sayangi dia...
__ADS_1
...Seperti ku menyayanginya...
...'Kan kuikhlaskan dia...
...Tak pantas ku bersanding dengannya...
...'Kan kuterima dengan lapang dada...
...Aku bukan jodohnya...
...Aku titipkan dia...
...Lanjutkan perjuanganku 'tuknya...
...Bahagiakan dia, kau sayangi dia...
...Seperti ku menyayanginya...
...Dan 'kan kuikhlaskan dia...
...Tak pantas ku bersanding dengannya...
...'Kan kuterima dengan lapang dada...
...Aku bukan jodohnya, oh-wo-wo...
...Oh, aku titipkan dia...
...Lanjutkan perjuanganku 'tuknya...
...Bahagiakan dia, kau sayangi dia...
...Seperti ku menyayanginya...
...'Kan kuikhlaskan dia...
...Tak pantas ku bersanding dengannya...
...Dan 'kan kuterima dengan lapang dada...
...Aku bukan jodohnya...
( Tri Suaka : Aku Bukan Jodohnya )
Reyzal Al Ghozali yang meperjuangkan cintanya, mencari Aini tidak pernah henti hentinya untuk mendapatkanya kembali. Jatuh bangun Rey yang rela melakukan apa saja demi menjemput sang pujaan hati, tanpa kenal lelah, dia rela melepas segala kemewahan dan jabatan demi mencari pengantin kecil nya.
Tapi kini Reyzal Al Ghozali sudah tak perlu mencarinya lagi, perjuangannya telah usai, karena Nur Aini pengantin kecilnya sudah kembali di hadapannya, tetapi hanya sebagai adiknya. Dan kini Rey harus menyerahkan pengantin kecilnya untuk orang yang ada di hadapannya.
Langkah Aini dan Rey berhenti tepat di hadapan Ammar, Rey dan Aini yang sudah memakai sarung tangan sehingga Rey bisa memegang tangan Aini dan menyerahkannya ke tangan Ammar yang sudah terulur untuk menyambut tangan Aini.
Ammar yang menerima tangan Aini dan mendekapnya dalam pelukan untuk nenutun Aini duduk di samping Robbet, Ainun, dan keluarga lainnya yang berdiri mengantri menyiram ke Aini dengan doa.
"Kenapa kamu malah melepaskan orang yang kamu sayang,?" tiba tiba suara perempuan datang dan berbicara di samping Rey yang melihat Aini dari kejauhan sambil meneteskan air mata.
"Kamu tau Nabila, titik tertinggi dalam mencintai seseorang yaitu melepaskannya, dan merelakannya bahagia bersama orang yang dia cintai." ucap Rey yang mengetahui perempuan yang ada disampingnya adalah Nabila.
Deg.
Hati Nabila terasa tertampar oleh kata kata yang terlontar dari mulut Rey.
__ADS_1
Bersambung...