Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 156. Abizar tahu latar belakang Nabila


__ADS_3

"Rasyid di mana?" tanya Abizar ketika melihat pintu kamar privasi terbuka.


"Masih, tidur!" sahut Nabila.


"Mau makan?" tanya Abizar yang tahu, Nabila pasti kelelahan saat bersama Rasyid.


Aini pun langsung bangun dari duduknya dan menawarkan diri untuk mengambilkan makanan untuk Nabila, dia meninggalkan Abizar dan Nabila yang masih ada baby sister si kembar yang berada di ruangan itu.


"Kamu mengenalnya?" tanya Abizar.


"Dia istri pertama mantan suamiku sekaligus sudah aku anggap sebagai adikku," ucap Nabila yang tersenyum getir dibalik cadarnya.


Abizar memang terkejut mendengar penuturan dari Nabila, bahwa Ammar ternyata adalah mantan suaminya yang sudah berhasil menutup pintu cinta Nabila hingga ta'aruf yang dia ajukan Abizar pada Nabila ditolak.


"Kamu sudah makan?" tanya Nabila yang mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak terlalu canggung.


"Belum, nanti saja!" ucap Abizar yang terlihat jelas dari raut wajahnya langsung berubah tidak semangat.


"Beruntung kamu, aku tolak! Carilah wanita lain yang jauh lebih baik dari aku, dengan latar belakang wanita yang sudah jelas masih single dan belum pernah meni—"


"Bil ... Aku bukan fi'il Madhi yang mencintaimu dimasa lampau, tapi aku adalah fi'il mudhori yang mencintaimu dimasa sekarang dan masa yang akan datang! Aku tulus, Bil!" ujar Abizar.

__ADS_1


Sontak saja Aini langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu ketika mendengar penuturan dari Abizar teman sekampusnya dulu, dia pun merasa bersalah karena sudah datang membawa piring untuk Nabila di saat yang tidak tepat.


"Ah, ya ... anu, itu ... a–aku lupa ambil air minum, ini aku taruh sini dulu, maaf silahkan lanjutkan lagi!" ucap Aini dengan gugup ketika dia menjadi penghalang Abizar dan Nabila.


Abizar dan Nabila terdiam ketika melihat Aini yang merasa bersalah, ingin rasanya Nabila menarik tangan Aini dan menemaninya saat itu juga, tapi situasi saat ini hanya bisa diam yang dia lakukan.


Aini membalikan lagi tubuhnya dan menunjuk Baby sisternya untuk memakai headset agar tidak mendengar pembicaraan mereka walaupun masih terus mengawasi mereka agar terhindar dari dosa zina. "Bik, aku punya lagu baru di ponselku! Dengerin ya! Kamu suka pasti lagi itu!"


"Sip, Nyah ... aman!" ucap Baby sister yang paham dengan ucapan Aini.


"A–A–Aini, tunggu! Kamu salah paham!" panggil Nabila tapi Aini sudah keburu pergi.


"Aku akan keluar!" ujar Abizar ketika dia sadar saat ini waktu yang belum tepat untuk membahasnya kembali.


Terdapat Nabila dan Abizar juga yang duduk di kursi satu meja dengan Aini, dan pada saat itu juga seorang anak perempuan berlari memeluknya sembari memanggilnya dengan sebutan kata, "Bunda!"


"Hai, cantik! Sama siapa?" Aini membalas pelukan anak kecil itu.


"Sama, Ayah dong, Bun!" Naura menunjuk ke arah Rahman yang perlahan menghampiri mereka.


"Assalamualaikum," ucap salam Rahman yang tersenyum melihat anak dan wanita yang diam-diam dia cintai.

__ADS_1


"Waalaikumussalam," sahut serentak semua orang yang ada di dalam sana.


Semua orang yang ada di sana pun merasa bingung dengan kedatangan seorang anak kecil yang memanggil Aini dengan sebutan bunda dan seorang pria yang bisa ditebak seumuran dengan Ammar.


Tidak mau membuat kesalahpahaman terhadap semua orang yang ada di sana, Aini mencoba untuk memperkenalkan Rahman dan Naura kepada Abizar dan juga Nabila.


Setelah mereka berkenalan, Naura bermain dengan si kembar dan juga Rasyid yang masih di awasi oleh Beby sister si kembar, sedangkan mereka berempat berbincang-bincang.


Dalam obrolan mereka terlihat jelas di mata Abizar yang sesama pria bahwa Rahman tertarik dengan Aini, setiap Aini bergerak pasti Rahman selalu melindunginya, entah itu melindungi Aini dari benturan meja saat Aini hendak mengambil sesuatu yang jatuh, atau melindungi dari para pelayan yang hampir menabraknya.


Sebagain orang mungkin terlihat wajar, tapi tidak di mata Abizar, apalagi ketika Aini menyebut nama suaminya pasti ada segurat di wajah Rahman yang tidak suka mendengar Aini menyebut nama sang suami.


"Abizar yang paling tinggi dengan nilai IPK, ya kan?" ucap Aini yang juga membanggakan temannya dengan bertujuan agar Nabila kagum dengan Abizar ketika di sela-sela obrolan mereka.


"Ah, itu juga karena lawannya kamu!" ucap Abizar yang tersenyum garing.


"Oh, ya? Tapi perusahaan saya menerima bukan karena IPK tinggi, tapi membutuhkan orang yang seperti kamu!" ucap Rahman yang melihat ke arah Aini, sontak saja Aini langsung memalingkan matanya dan hanya bisa tertawa di samping Nabila.


"Bunda, tadi Ade Khan ketawa sama Naura, pas Naura ajak main cilukba," ujar Naura yang tiba-tiba memberitahu kepada Aini.


"Oh, ya? Berarti Ade Khan seneng main sama Kak Naura!" ujar Aini yang terlihat tulus berbicara pada Naura.

__ADS_1


"Kalau gitu, kapan Bunda bawa Adik Naura bobo sama Naura? Naura pengen cepet-cepet bobo bareng sama Bunda, sama Adik Khan, Adik Khansa dan Ayah? Kita bobo berlima!" ucap Naura yang polos sembari menghitung jemarinya ketika mengucap berlima.


Bersambung..


__ADS_2