Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 170. Keputusan Aini


__ADS_3

Matahari pun semakin tenggelam, tetapi kedua pria itu masih aja di pulau yang tak berpenghuni tersebut. Mereka berusaha mencari jalan keluar untuk bisa keluar dari pulau itu, lautan yang terbentang luas mengukur jarak titik lokasi dia sampai ke pulau lain sangat mustahil jika menggunakan perahu dari kayu yang mereka rakit.


"Bos!" Panggil Roy ketika dia menemukan sebuah ponsel untuk melakukan panggilan, tetapi anehnya ponsel tersebut tidak memiliki sinyal lantas apa yang membuat mereka semua memegang ponsel tetapi tidak ada sinyal?


Amar berfikir keras, dia mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menemukan titik terangnya. Ada suatu kejanggalan yang di relung hatinya mengatakan bila mereka bisa menggunakan ponsel itu tanpa sinyal?


Usai mencari tahu akhirnya Amar pun mendapat sebuah kode di mana kode tersebutlah yang menjadi sinyal terhubung, dia mencoba memasukkan kode yang ditemukan lantas ponsel mereka terisi oleh sinyal dengan penuh.


"Alhamdulillah, ya Allah!" Ucap kedua pria itu dengan serempak.


Amar langsung menghubungi naga putih agar bisa menjemputnya, tentu saja semua harus dirahasiakan karena Amar ingin membalaskan rasa sakitnya ketika tahu bila orang yang mencelakainya adalah Rahman.


"Bersabarlah, Aini! Tunggu aku, Sayang!" ucap Ammar setelah memutuskan sambungan telepon.


"Sabar, Bos!" Roy memegang bahu Amar seraya memberikan semangat pada atasan itu.


"Dua hari, Roy! DUA HARI ... dua hari lagi kita bisa bertemu istri kita Roy! Astagfirullah," ucap Ammar yang sudah tidak sabar.


Ya itulah perkiraan dalam pikiran Amar, sehari naga putih menjemputnya ke pulau itu dan sehari lagi insyaallah dia bisa sampai ke tanah air untuk bertemu dengan orang yang mereka cintai.

__ADS_1


***


Suasana di dalam ruangan begitu hangat ketika Rahman sudah siuman pasca operasi sehari yang lalu, terdapat ismi, Ghozali, Robert dan Aini berada di dalam ruangan tersebut.


Ismi pun sebelumnya sudah berbicara kepada Aini tentang keputusan yang diambil apakah wanita bercadar itu mau menerima Rahman atau tidak, untuk memancing pembicaraan tersebut ismi pun mulai berbicara lebih dulu.


"Alhamdulillah, oh iya ... Aini ke sini untuk menyampaikan kabar katanya," ucap Ismi dengan senang saraya melirik ke arah Aini.


"Oh ya? Apa itu, Tan?" tanya Rahman yang ikut melihat ke arah Aini tengah tertunduk.


”Aini sudah buat keputusan, katanya ... selepas masa iddah dia sudah siap menerima lamaran kamu!" ujar Ismi yang melirik ke arah Aini sembari tersenyum.


Namun, yang jelas saat ini Rahman langsung bahagia, segurat senyum terpancar jelas di wajahnya. Akhirnya penantian panjang selama ini terbayar sudah saat tahu ternyata Aini menerima permintaannya.


"Ka–kamu serius?" Ucap Rahman terbata karena saking senangnya.


"Ya, jelas seriuslah, kamu itu bagaimana sih, ya kan Pak Robert?" Ismi melirik ke arah Rober.


"Ya saya tergantung bagaimana Aini, karena yang menjalankan nya dia! Saya hanya memberi doa untuk Aini." Robert memegang bahu anaknya saat dia berdiri di belakang ini di mana putrinya itu duduk di kursi samping tempat tidur Rahman.

__ADS_1


"Terima kasih, terima kasih sudah ngasih saya kesempatan!" Ucap Rahman yang begitu bahagia sampai dia lupa akan luka di punggungnya. "Aakkh!"


"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya ismi yang begitu khawatir terhadap Rahman.


"Tidak apa-apa tante, saya hanya terlalu senang!" Rahman kembali tersenyum ke arah Aini agar wanita itu tidak mengkhawatirkannya, padahal Aini sama sekali tidak mengkhawatirkan Rahman.


"Alhamdulillah kalau kayak gitu, ya sudah kamu banyak-banyak istirahat biar cepat pulih!" ucap Ismi mereka pun pamit untuk keluar dari ruangan Rahman.


Setelah menikah keluar dari ruangan Rahman, Robert pun mendapat pesan notifikas. Baru saja dia ingin membuka pesan singkat dari naga putih ternyata baterai ponselnya keburu lemah dan ponsel itu pun mati. Sehingga Robert tidak bisa melihat isi pesan singkat yang dikirim oleh naga putih.


"Ayah apakah pilihan ini sudah tepat?" Aini menahan tangan Robert agar berhenti dan melihatnya.


"Apakah kamu masih ragu dengan Rahman? Ayah rasa cukup baik anaknya, sepertinya dia sangat sayang kepada si kembar sampai dia rela mengorbankan dirinya, kalau kamu masih ragu sama dia tidak apa masih ada dua bulan lebih masa iddahmu!" Robert memeluk anaknya.


"Aini masih mencintai Mas Ammar, ayah! Sampai kapanpun tak akan pernah terganti! Bahkan kalau bukan demi anak-anak Aini akan tetap setia sampai tiil Jannah!" Aini membalas pelukan sang ayah.


"Ayah tahu kamu mencintai Ammar, Amar juga pasti di sana ingin melihat kamu dan juga anak-anaknya bahagia! Percayalah, dia tidak akan marah bila kamu menerima laki-laki lain untuk menjadi perisaimu di dunia." Robert mengusap air mata anaknya seraya mengecup keningnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2