
Aini terdiam tak berkutik sama sekali saat suaminya menanyakan perasaannya terhadap Rey mantan asisstennya.
Perasaan Aini waktu kecil bukanlah perasaan cinta yang Aini miliki sekarang ke Ammar, Perasaan cinta dan nyaman itu ada tapi sebelum Aini mengalami kecelakaan.
Setelah itu memory kenangan bersama Rey hilang begitu saja berasamaan rasa cinta dan nyaman Aini miliki untuk Rey. Tapi saat Rey muncul kembali di hadapan Aini.
Memory semua kenangan sosok Rey muncul bersamaan, rasa rindu Aini pada sosok yang di tunggu tunggu selama ini adalah Rey tunangannya waktu kecil.
" Jawab...!" teriak Ammar yang menyadarkan Aini dari ambigu perasaannya.
Aini hanya menagis tanpa menjawab pertanyaan Ammar, dia gak tau harus menjawab apa ke suaminya, Aini bingung dengan perasaan nya saat ini yang tiba tiba kacau saat sosok Rey muncul lagi dalam ke hidupannya.
" Baiklah, kalau kau tidak mau menjawabnya" ucap Ammar yang pergi meninggalkan Aini sendiri di dapur dalam ke adaan menangis.
"Astagfirullahallazim,,, mas,,, maafin Aini,,hikss hikksss" ucap Aini menangis sambil memeluk dirinya sindiri yang sedang berjongkok.
" Ya allah, hapuskan lah rasa cinta dan rindu ini selain padamu ya Allah, mafi qalbi ghairullah, mafi qalbi gairullah, mafi qalbi ghairullah......" ucap Aini menangis sambil megang kepalanya yang terasa sakit.
" Ya allah nyonya Aini,, Astagfirullahallazim,,, nyonyah gak apa apa?" ucap Bik Nuni tiba toba mengahmpiri Aini sedang menangis di dapur.
" Bik, huhuhuhu sakit bik pala saya" ucap Aini yang memegang kepalanya.
" Ya allah, Bentar ya nyah saya panggilkan tuan dulu, nyonyah tunggu disini" ucap Bik Nuni hendak bangun tapi di cegah.
" Gak usah bik,,, jangan saya mohon,,,, tolong antarkan saya saja ke kamar bik," ucap Aini memohon.
" Tapi nyah,,,"
" Bik buruan,,, sakit,,, " ucap Aini memaksa.
" Iya yah nyah,,," bik Nuni menuntun Aini hingga kekamarnya.
" Bik tolong ambilkan obat di lanci saya bik" Ucap Aini yang sudah di atas tempat tidurnya.
Bik Nuni memberikan obat pereda sakit kepada Aini, dengan rasa kawatirnya bik Nuni terus memijat kepala Aini, sampai Aini tertidur.
Bik Nuni hendak meninggalkan Aini, tapi rasa kekawatirannya lebih besar dari rasa takut akan ketauan sama tuannya kalau dia sampai tertidur di kamar Aini.
Adzan subuh berkumandang, Ammar dan Nabila melaksanakan sholat berjamaah bersama, sebelum mengajar mengaji.
Aini bangun dengan rasa sakit di badannya. merasakan tubuhnya yang panas. Aini melihat Bik Nuni menemaninya tidur ada rasa senang di hati Aini, Aini mengelus tangan bik Nuni membuat bik Nuni terbangun dari tidurnya.
" Astaghfirullah maafin saya nyah, saya ke tiduran" ucap Wanita paruh baya itu yang sudah Aini anggap sebagai ibunya,
" Gak apa apa bik, Aini senang, kita sholat bareng yuk bik," Ajak Aini dan di anggukan oleh Bik Nuni.
Setelah sholat Aini mengaji dengan deru nafas yang tak beraturan, Bik Nuni pun merasakan ada yang aneh saat Aini membaca kitab suci.
" Astaghfirullah nyah, badan nya panas banget, istirahat dulu ya yah , bibik panggilankan tuan dulu" ucap bik Nuni yang memegang kening Aini.
"Jangan bik, gak usah, saya gak mau buat mas Ammar tambah kawatir sama saya" ucap Aini yang memegang tangan bik Nuni.
" Apa tuan dan nyonyah masih bertengkar ya..kasian Nyonyah,,,?" ucap Bik Nuni dalam hati.
" Ya sudah kalau gitu,,, bibik siapkan bubur dulu ya nyah, biar nyonyah langsung minum obat. biar cepat sembuh" ucap Bik Nuni yang di anggukan oleh Aini.
Bik Nuni menyuruh bagian dapur untuk membuat sarapan Ammar dan Nabila, sedangkan Bik Nuni sendiri menyiapakan bubur untuk Aini.
Saat Bik Nuni hendak mengatar bubur ke atas untuk Aini, Nabila bertanya pada bik Nuni dan bik Nuni menjawabnya dengan jujur.
__ADS_1
" Ya sudah bik, biar saya aja yang bawa ke atas." Ucap Nabila yang mengambil nampat berisi bubur untuk Aini.
" Tapi nyah, " ucap Bik Nuni ragu,
" Kalau bibik kawatir bibik boleh ikut juga sama saya ke atas" ucap Nabila yang tau bi Nuni rasa kawatirnya ke Aini.
Nabila masuk bersama Bik Nuni, Nabila membangunkan Aini dan membantu Aini untuk duduk bersandar. Aini heran dengan sikap Nabila tapi karena Aini lagi sakit dia malas berfikir negatif pada madunya itu.
Nabila menyupai Aini dengan telaten tanpa ada rasa dendam,
" Terimakasi atas empatik nya" ucap Aini selesai minum obatnya.
"Jangan terlalu GR.. Saya lakukan ini bukan untuk kamu, tapi untuk bang Ammar. Saya tidak mau dia tambah kawatir karena kamu lagi sakit. sudah cukup kamu membuat masalah semalam." ucap Nabila dingin.
" Terserah lah" ucap Aini yang kembali tidur.
" Bik, kalau panas nya belum turun, telephone dokter Odi untuk datang kesini, ingat pesan saya" ucap Nabila yang langsung meninggalkan Bik Nuni,.
Bik Nuni menghampiri Aini dengan rasa kawatirnya,
" Nyonyah, boleh saya menemani nyonyah di sisni..?" ucap Bim Nuni yang di anggukan oleh Aini.
Disisi lain..
Ammar sudah berada di meja makan bersama Nabila, walaupun Ammar masih marah sama Aini, Ammar tetap mencari keberadaan Istri tercintanya hanya saja tidak berani berbicara menanyakan keberadaan Aini.
" Bang, Nanti Nabila ke sekolahan Nuasa beningnya agak pagian sepertinya in sya allah jam 9," ucap Nabila yang tidak di balas oleh Ammar.
"Bang..?" ucap Nabila yang mengatar Ammar ke depan.
Ammar masih dengan pikirannya sendiri tanpa mendengar ucapan Nabila.
" Kenapa dia gak sarapan di bawah? sudah tau suaminya mau berangkat kerja turun kek walaupun suaminya masih marah," ucap Ammar dalam hati.
" Astahgfirullah, maaf Aini,,, mas tadi hanya.."
" Aini..? bang,,! aku Nabila...! bukan Aini.." ucap Nabila kesal.
" Ahh, hmmm Maaf Nabila, kalau gitu abang berangkat kerja dulu, kamu hati hati ya nanti berangkatnya bilang sama pak Anto jangan terlalu kencang bawa mobilnya, Assaalamualaikum" ucap Ammar yang langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa mencium kening Nabila seperti Ammar mencium kening Aini.
" Waalaikumussalam" jawab singkat Nabila.
Beberapa jam kemudian, sebelum berangkat Nabila bertanya ke bik Nuni untuk mengetahui kondisi Aini. mendengar panas Aini sudah mendingan Nabila ikut merasa lega meninggalkan Aini di rumah dalam keadaan sakait.
" Alhamdulillah kalau begitu, saya nitip Aini ya bik, kalau ada apa apa kabarin saya saja jangan ke bang Ammar," ucap Nabila
" Iya nyah,"
" Ya sudah kalau gitu saya berangkat dulu ya bik, assalamualaikum." ucap Nabila menuju mobilnya.
" Waalaikumussalam nyah" balas bik Nuni.
" Bik, apa mba Nabila sudah pergi bik?" ucap Aini sedang lantai atas,
" Eh nyonyah,, iyah nya barusan aja nyah,, " ucap Bik Nuni yang menghampiri Aini.
" Apa Sarah sudah datang bik..?" ucap Aini lagi
" Sepertinya belum nyah,"
__ADS_1
" Oh ya sudah kalau gitu." ucap Aini
" Nyah kita ke dokter saja ya nyah,, bibik kawatir, mau bibik panggil kan dokter Odi?" ucap bik Nuni.
" Gak usah bik, gak apa apa, bentar lagi juga sembuh kok bik, cuma perlu istirahat aja yang cukup," ucap Aini.
" Ya sudah kalau gitu bibik anter ke dalam ya nyah" sambil menuntun pelan Aini masuk ke dalam kamar.
Di sisi lain,,
PT Abqori Energi.
" Astagfirullah,,," ucap Ammar yang masih tidak fokus untuk bekerja,
Tok tok tok,,
" Masuk."
" Permisi Pak, ini Roy asissten pribadi bapak yang baru" ucap Sindy sekertaris Ammar.
Ammar melihat info data pribadi Roy Sanjaya. dengan sangat teliti. Ammar sangat trauma untuk pertama kalinya memilih asissten. Ammar sudah sohib dengan Asiisten lamanya yang bernama Joe. karena Joe sudah tua, joe pun memilih untuk pensiun.
Joe pun merekomendasikan Rey keponakannya. karena jasa joe yang sangat bagus. Akhirnya Ammar menerimanya sebagai asissten tanpa pertimbangan embel embel.
" Apa kau mengenal yang bernama Aini?" ucap Ammar dingin.
" Tidak Tuan."
" Apa kau mengenal wanita ini?" ucap Ammar yang menunjukan foto Aini yang terbalut cadar, topi dan jaket.
" Hmmm..." ucap Bingung Roy.
" Kau mengenalnya...!" Nada tinggi Ammar mulai bergema di ruangan itu.
" Maaf tuan maksud saya,,,, bagaimana saya mengenalnya, sedangkan wanita yang tuan perlihatkan wajahnya saja tidak terlihat" ucap Roy dengan benar membuat sekertaris Sindy tertawa.
" Maaf pak, saya sudah pastikan Roy asisten baru Bapak tidak ada kaitannya dengan istri bapak." ucap Sindy.
" Apa kau yakin.?" ucap Ammar sinis.
" Iya bapak tenang saja, Roy ini saudara jauh saya, tapi untuk soal pekerjaan jangan di ragukan lagi. in sya allah beres pak" ucap Sekertasinya yang menjelaskan.
" Ok kalau gitu kamu boleh pergi" usir Ammar ke Sindy.
" Roy, saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya, ini tugas pertama kamu" ucap Ammar yang memberikan tugas ke Roy.
Beberapa menit kemudian, Roy membawa informasi penting untuk Ammar, informasi tentang Rey mantan asistennya yang baru sehari bekerja.
" Reyzal Al Ghozali... heemm ternyata dia direk perusahaan Berlian di kota Xxx berat juga saingan gue,,," ucap Sendiri Ammar yang terdengar oleh Roy.
" Maaf tuan, menurut saya, Rey bukan saingan tuan"
" Maksud kamu apa Roy..!" ucap Ammar kesal.
" Maksud saya, tuan kan sudah memiliki hak paten terhadap istri Tuan, jadi Rey bukanlah saingan tuan lagi. karena tuan berhak segala galanya terhadap Nyoyah Aini"
" Ya ya,, kamu benar Roy, tapi bagaimana kalau istri saya masih ada rasa terhadap Rey,,?" ucap Ammar pesimis.
" Tenang tuan, ....." Bisik Roy ke Ammar.
__ADS_1
Wajah Ammar memerah saat Roy memberi saran kepada bosnya .
Bersambung,,,