
Kemang, Jakarta selatan.
Sudah sejam lebih, Roy menunggu pasangan halal yang sedang bermadu kasih di pagi hari, sampai akhirnya Ammar keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah yang begitu ceria.
"Pagi, Roy!" ucap Ammar menyapa terlebih dahulu kepada asistennya karena begitu senang seperti anak kecil.
"Pagi, Bos!" Roy terpaksa untuk tersenyum.
"Jangan memasang wajah seperti itu! Kamu tambah jelek, apalagi dengan muka mu yang seperti itu." Ammar tertawa melihat Roy terbakar rasa kesal akibat menunggunya begitu lama.
"Wajah saya emang jelek, Bos! Mangkanya di tinggal nikah." Roy membukakan pintu mobil untuk atasanya.
"Masih sakit hati? Bukanya sudah mendapat daun yang lebih muda?" sindir Ammar.
"Bos, bisa saja." Tawa paksa dari raut wajah Roy yang menunjukan ada masalah dalam dirinya.
"Bawa orangnya saat pesta amal. Saya harap, kamu secepatnya menikah! Agar terhindar dari fitnah." Perintah Ammar saat melihat raut wajah Roy yang sedang menutupi masalah dari Ammar.
"Baik, Bos!" Jawab Roy yang menjalankan laju mobilnya menuju kantor dengan kecepatan sedang.
Setelah sampai di kantor, semua karyawan Ammar begitu kagum dengan atasan mereka selaku pemilik usaha Energi tempat mereka bekerja, walaupun Ammar masih duduk di kursi roda, tidak mengurangi karisma dan image Ammar sebagai atasanya yang begitu tampan dan mempesona.
Para karyawan Ammar pun tidak hanya menganggumi sosok pemilik group Energi tetapi juga menganggumi sosok yang selalu setia mendampingi Ammar saat bekerja.
"Eh, kira-kira gue bisa dapetin asistennya gak ya?" ucap seorang karyawan wanita yang sudah menaruh hati pada Roy.
"Serius loe? Dia kan sombong banget orangnya, lebih judes dari Pak Bos," ucap temannya yang mengingatkan.
"Tapi gue denger-denger ... dia, di tinggal nikah loh, sama pacarnya," timpal karyawan wanita yang baru bergabung.
"Berarti gue ada kesempatan dong, buat deketin dia?" ucap karyawan wanita itu yang sudah mengicar Roy.
"Serah ... sono, kalau bisa!" tantang temannya.
"Kalau gue bisa naklukin cowok itu, loe berani bayar gue berapa?" tantang wanita itu yang mempunyai perasaan terhadap Roy.
"Ala ... belagu, loe! Palingan juga di kacangin." Timpal temannya satu lagi.
"Liat ya, kalau gue bisa dapetin Roy, loe semua bayar gue dua jeti," ucap wanita itu dengan sombong.
"Oke, palingan juga langsung di tolak!" tawa dari temannya yang membuat wanita itu merasa kesal.
"Liat aja nanti," ucap seorang karyawan yang begitu kesal dengan ucapan temannya.
🍀
"Roy siapkan semua dokumen yang akan di bawa ke acara amal besok malam. Jangan sampai ada yang terlupakan!" Ammar memberikan beberapa lembar kertas untuk Roy kerjakan.
__ADS_1
"Baik, Bos!" ucap Roy dengan tegas.
"Ah, iya satu lagi. Tolong belikan obat ini di apotik dan langsung kirim saat jam makan siang!" Ammar menyerahkan beberapa resep obat untuk sang istri.
"Baik, Bos!" Roy mengambil selembar kertas lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Roy berjalan melewati setiap departemen pada bagian masing-masing dalam menjalankan tugasnya, beberapa karyawan terus memperhatikan Roy saat memberikan perintah pada karyawan yang bersangkutan.
Pekerjaannya yang begitu padat, membuat Roy melupakan sejenak kondisi Gabriel yang berada di dalam apartemennya.
Jam makan siang pun Roy masih sibuk mengurus segala keperluan Bosnya, hanya menyempatkan waktu untuk sholat dan melewatkan makan siangnya.
"Bos, ini semua dokumenya. Sudah saya siapkan dan untuk vitamin Nyonyah sudah saya kirim, Bos. " Roy menaruh beberapa dokumen ke aras meja kerja Ammar.
"Loh, cepat banget Roy?" Kamu tidak makan siang?" tanya Ammar yang begitu peduli terhadap asistennya.
"Belum, Bos," jawab jujur Roy.
"Ok, kamu break dulu. Nanti kita lanjut lagi." Ammar memberi izin kepada Roy untuk bisa berisirahat makan siang.
"Maaf, Bos. Kalau di kasih izin saya mau balik ke apartemen saya dulu." Rasa kawatir Roy terhadap wanitanya tidak membuatnya takut meminta izin kepada Ammar.
"Oh, gitu, ok!" Ammar langsung memberi izin kepada Roy tanpa rasa curiga terhadap asistennya.
"Terima kasih, Bos!" Roy membungkuk dengan sekilas lalu pergi keluar ruangan dengan tergesa-gesa.
Roy langsung melajukan kendaraan roda empatnya menuju apartemennya, perasaan yang begitu cemas terhadap wanitanya sudah tidak terbendung lagi.
Roy mencari sosok Gabriel yang tidak ada di setiap ruangan. Terasa sunyi dan tenang, hanya ada suara gemericik air dari arah dalam kamar mandi.
Saat mendengar suara air dari dalam, Roy membuka pintu kamar mandi dan melihat sosok sang Gadis yang terbaring lemah karena luka sayatan di pergelangan tanganya.
"Astagfirullah, Gabriel!" teriak Roy yang begitu panik saat melihat Gabriel tidak sadarkan diri.
Roy mengangkat tubuh Gabriel yang masih polos tidak mengenakan benang sehelai pun dan mengikat pergelangan tangan dengan handuk putih kecil.
Setelah Roy memakaikan baju kepada Gabriel. Tanpa berfikir panjang, Roy menancapkan pedal gas pada mobilnya dan berlaju menuju rumah sakit.
Beberapa menit kemudian. Roy sampai di rumah sakit dan membawa Gabriel masuk ke dalam Unit Gawat Darurat, wajah paniknya tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, hanya buliran bening yang menetes di atas pipinya.
Ketika Dokter sedang menangani Gabriel yang berada di dalam sana, Roy langsung menghubungi para bawahanya untuk menyelidiki beberapa hal yang telah mengusik hati Roy, dan tidak lupa Roy memberikan kabar kepada Ammar.
Sejam kemudian, para perawat pun keluar membawa Gabriel untuk masuk ke dalam ruangan rawat inap, sedangkan Roy mendengarkan penjelasann yang di sampaikan oleh sang Dokter.
Mendengar penjelasan dari sang Dokter ada rasa lega di dalam dada Roy, rasa senangnya Roy tumpahkan di setiap tetesan air mata sembari mengenggam erat tangan Gabriel yang tidak terluka.
"Gimana ke adaanya?" Ammar beserta istrinya menghampiri Roy yang sedang menunggu Gabriel untuk sadar.
__ADS_1
"Bos?" Roy terkejut saat atasannya rela datang bersama istrinya kerumah sakit.
"Apa kata, Dokter?" tanya Aini yang heran melihat Roy mengengam tangan Gabriel.
Roy pun menceritakan kondisi Gabriel yang sudah di jelaskan oleh sang Dokter kepada atasan dan Istri atasanya.
"Astagfirullah! Terus kamu sudah mengubungi pihak keluarganya?" tanya Aini yang penasaran dengan sosok Gabriel.
"Sudah, tapi ... dari pihak keluarga Gabriel belum ada yang datang," jawab Roy dengan ciri khas suaranya.
"Terus selama ini?" tanya Aini yang menebak-nebak.
"Iya, dia tinggal bersama saya, Nyah!" ucap Roy dengan nada tegas.
"Astagfirullah, kamu tau apa yang kamu lakukan?" tanya Aini yang mulai kesal dengan asisten suaminya.
"Sayang," ucap Ammar yang mencoba menenangkan Istrinya.
"Apa?" tanya Aini kesal saat Ammar seakan menutupi maksiat yang telah Roy lakukan.
"Dengerin dulu, mungkin Roy punya alesan tepat. Kenapa mereka bisa tinggal satu atap." Ammar mencoba mengajak istrinya untuk duduk dalam keadaan emosi.
"Alesan apa? Coba!" Aini melihat tanjam ke arah Roy.
Mampus gue kena semprot! Batin Roy yang sudah menebak firasatnya.
Roy pun menjelaskan kepada Ammar dan juga Aini secara jujur, bahwa Gabriel yang mau tinggal bersama Roy karena alesan perlakuan dari Ayah dan Kakaknya.
"Astagfirullah, Roy!" teriak Aini saat mendengar penjelasan dari Roy.
"Roy, Roy!" Ammar memijat keningnya yang terasa pusing akibat memikirkan asistennya yang hanya satu-satunya.
"Udah, benar kata, Mas Ammar. Lebih baik kamu cepat-cepat menikah dengan gadis itu!" Aini yang merasa kasihan melihat posisi yang Gabriel rasakan.
"Kalau perlu sekarang!" tambah ucapan Aini yang begitu kesal dengan apa yang sudah Roy perbuat.
Tuh kan gue bilang juga ape, baru bilang tinggal bareng aje udah di paksa nikah! Apa lagi kalau gue bilang yang enak-enak! Batin Roy berbicara pada dirinya sendiri.
"Tapi kamu belum melakukan yang aneh-aneh kan?" tanya Aini yang begitu tepat sasaran.
"A-ah, be-belum, Nyah!" Roy langsung gugup mendengar pertanyaan dari Istri Bosnya.
"Yakin?" Ammar yang begitu paham dengan sisi jiwa Roy.
"Yakin lah, Bos! Tau gitu mending saya icip dulu tadi malam." Jawab Roy yang keceplosan.
"Iihh ... Roy!" Aini siap melempar jurus beladirinya untuk menutup sifat mesum dari asistennya
__ADS_1
"Ehh iya, ampun, Nyah!" Roy langsung meminta perlindungan kepada Bosnya.
Bersambung...