
"Mas, terima kasih ya ... sudah mau menyelamatkan Khanza, kalau tidak ada Mas ... mungkin—"
"Tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah tanggung jawab aku. Biar bagaimanapun Khanza juga anakku!" ucap Rahman ketika mereka masih duduk di area kantin. "Seharusnya aku yang justru terima kasih sama kamu, terima kasih Aini, kamu sudah memberi aku kesempatan."
Aini mengganggu secara perlahan dia tidak tahu harus membalas apa saat Rahman mengatakan seperti itu, kalau boleh jujur juga ini ya kan tetap pada pendiriannya bila dia ingin memilih sendiri. Akan tetapi, karena anaknya membutuhkan sesosok ayah dan Rahman pun telah banyak berkorban untuk anaknya, maka dari itu dia memberikan kesempatan untuk pria yang ada di hadapannya.
Usai perbincangan mereka di kantin, Ismi pun kembali mengajak Naura untuk pulang, karena waktu jam besuk sudah mulai habis. Terpaksa Naura hanya bisa nurut dengan Ismi sebagai neneknya, dia melambaikan tangan kepada ini dan juga Rahman.
"Aku antar kamu ke ruang rawat inap Khanza," ujar Rahman ketika tinggal mereka berdua.
Jelas saya Aini menolaknya karena kondisi Rahman yang masih belum pulih, tetapi karena pria tersebut bersikeras untuk ini sampai ke depan lorong anak membuat Aini pun menerima tawaran Rahman.
"Kamu tahu Aini, hanya jalan seperti ini denganmu membuat aku senang! Aku tak sabar ingin berjalan bersamamu seperti ini sejajar seraya menggandeng tanganmu!" Rahman melirik ke arah Aini yang sedang menatap lurus ke arah depan.
"Sudah sampai, terima kasih sudah mau mengantar saya sampai ke sini!" Aini berhenti di hadapan Rahman lantas melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam ruangan anak.
"Sabar, Rahman! Sebentar lagi kamu akan berhasil mendapatkannya!" Rahman terus melihat ke arah Aini yang semakin menghilang di balik pintu ruangan anak.
***
Jam terus bergulir hari pun telah berlalu sekarang, Khanza mendapatkan izin pulang ke atas dokter ketika kondisinya sudah mulai membaik. Aini pun senang tetapi di samping kesenangannya itu masih tersimpan kesedihan karena sampai saat ini anak kembarnya yang pertama belum juga ditemukan.
"Sudah semua kan nggak ada yang ketinggalan?" tanya Rey pada Ainun dan juga Aini.
"Insyaallah sudah sepertinya!" sahut Ainun.
"Ye... Alhamdulillah, anak Umi sudah boleh pulang! Kita main ya di rumah!" Aini yang sudah rapi dengan perbekalan yang akan mereka bawa pulang langsung membawa Khanza keluar.
__ADS_1
Begitu mereka sudah sampai di tempat parkiran mobil, Robert pun mendapatkan telepon dari nomor yang tak dikenal. Membuat dia geram lantas mematikan ponselnya dan memilih fokus untuk mengantar anak dan cucunya pulang ke rumah.
"Makasih ya, A!" ucap Aini kepada Rey saat pria itu tidak ikut mengantarnya karena harus mengantar Rahman pulang.
"Hati-hati di jalan!" ucap Reyzal yang melambaikan tangan ke arah mobil tersebut.
Selama perjalanan Ainun mencoba untuk bertanya kepada Aini tentang masalah dia yang akan mau menerima lamaran Rahman. Ainun hanya bisa memberikan restu kepada Aini, dia tidak bisa memaksakan ataupun melarang Aini untuk bisa berpaling dengan anaknya begitu cepat.
"Terima kasih ya, Bu! Sudah mau mengerti Aini." Aini memeluk Ainun ketika wanita paruh baya itu sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Lalu bagaimana apakah polisi sudah menemukan Khan?" tanya Ainun.
"Belum Bu, Aini masih belum rela kehilangan Khan!" Aini menangis dalam pelukan mainan begitu juga dengan Ainun dia ikut menangis saat cucu pertamanya masih belum bisa ditemukan.
Begitu mereka sampai di rumah, baby sister nya pun melaporkan bila ada nomor yang tidak dikenal terus menghubungimu. Robert menyarankan bila jangan mengangkatnya, karena dia mengkhawatirkan bila itu adalah John adiknya untuk merencanakan sesuatu membalaskan dendam atas kematian istrinya.
"Kita tidak tahu, Sayang! Yang penting kita harus waspadai!" ucap Robert, dia membantu menaruh tas perlengkap
Aini menaruh Khanza di atas tempat tidurnya, lalu kembali berkata, "Ayah, menurut Ayah ... Bagiamana tentang Mas Rahman?"
Robert berpikir sejenak lalu menarik tangan anaknya untuk tidur di pangkuannya seraya menceritakan tentang sosok Rahman yang dia tahu, menurutnya Ahmad adalah sosok laki-laki yang dewasa yang rela melakukan apa aja untuk Aini.
"Hanya itu?" ucap Aini dan yang bukan oleh Robert.
Terdengar helaan nafas berat dari Aini, lantas Robert pun berkata, "jika kamu masih belum bisa menerima sepenuhnya Rahman dan terpaksa menerima dia hanya untuk anak kamu, yakinlah Aini rumah tanggamu tidak akan ada kata bahagia, karena itu cobalah untuk menerima Rahman dengan ikhlas!"
"Akan, Aini coba Ayah untuk menerima Mas Rahman sepenuh hati." Aini mulai terpejam merasakan sentuhan lembut dari sang ayah yang kini mulai jarang dia dapatkan.
__ADS_1
***
Tiga hari berlalu, kabar dari kepolisian masih membuat Aini harus menunggu tentang Khan yang entah di mana dia berada. Setelah pulang dari rumah sakit, Aini telah mengurangi jadwal padatnya saat berada di kantor. Dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Khanza.
Seperti saat ini dia pulang lebih awal dari biasanya, tetapi saat dia sudah sampai di rumah, Aini melihat Rahman yang sudah menunggunya untuk mengajak makan malam.
Sebenarnya Aini ingin menolak, karena perasaan yang masih terus kepikiran oleh anaknya yang hilang sehingga hatinya merasa tidak tenang di saat dirinya jalan-jalan tetapi anak yang dicintai masih saja belum ditemukan.
"Bunda ayo! Naura pengen makan malam bersama Bunda, ayo Bun!" Naura dengan manja.
"Baiklah tapi bunda ganti baju dulu ya!" ucap Aini yang tidak bisa menolak permintaan Naura.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Aini untuk bersiap, dia pun berpamitan pada Ainun membawa Khanza ikut bersamanya. Langkah kakinya semakin menjauh saat dia mulai masuk ke dalam mobil Rahman.
"Dadah, nenek!" Naura melambaikan tangan ke arah Ainunn yang mulai memanggil dengan sebutan nenek dan Ainun ikut melambaikan tangan kepada Naura saat mobil itu mulai menjauh.
Belum juga ada sepuluh menit setelah Ainun masuk ke dalam rumah, pintu bel pun berbunyi, Ainun menyuruh salah satu pelayanan untuk membukakan pintu. Pelayan itu begitu terkejut saat melihat siapa yang datang dari balik pintu.
"Ha–ha–hantu," ucap Pelayan yang langsung jatuh pingsan saat melihat sosok yang dia tahu sudah meninggal berdiri di depan matanya.
"Siapa sih, Bik?" Ucap Ainun yang menghampiri ke arah ruang tamu. Dia terkejut saat melihat siapa yang datang.
Kedua bola mata Ainun membulat sempurna seakan-akan hampir lepas dari kelopak matanya, "A–A–Ammar? Ini beneran kamu kan Mak?"
Ainun terjatuh ke bawah kakinya begitu lemas bagaikan tanpa tulang susah untuk berdiri, dia pun terjatuh ke lantah setara masih tidak saya dengan apa yang dia lihat.
bersambung
__ADS_1
.....