
Pagi harinya Veby melihat Ammar dan juga Aini sedang makan bersama.
" Ini kesempatan buat gue,,, come on By loe pasti bisa,, inget ibu loe..." ucap Veby sendiri yang lagi lagi di dengar oleh Frans diam diam.
Frans melihat Veby mencampurkan minuman yang sudah di berikan obat, lalu memberikannya kepada pelayan yang mengantarkan makanan ke Aini.
" Obat apa yang di berikan wanita gila ini ke Aini..?" ucap Frans dalam hati yang terus mengamati gerak gerik Veby.
Setelah beberapa saat kemudian dengan perasaan dag dig dug yang tidak karuan, dwngan keringat dingin Veby mencoba mengejar pelayan.
" Eh tunggu tunggu dulu... minuman nya yang ini gak jadi deh" ucap Veby yang mengambil gelas berisi minuman yang sudah di campur obat.
" Maaf ya,,, hehehe" ucap Veby yang langsung berlari ke toilet.
Frans mengikuti Veby dari belakang, nekat masuk ke toilet wanita yang kebetulan dalam ke adaan sepi.
" Gila lo By, dikit lagi loe mau berhasil, kenapa loe se dodol ini sih...?" Grutu Veby di dalam toilet yang di dengar Frans.
" Apa yang dia rencanakan ?" ucap Frans yang melihatnya.
Tiba tiba ponsel Veby berdering,
" Angkat enggak,, angkat enggak,,, enggak angkat,, kalau gue angkat ... ah bodo amat lah" ucap Veby sendiri.
"Halo.." ucap Ketus Veby.
" Veby,,, Veby,,, ternyata segini doang nyali loe..? lebih sayang sahabat yang udah buat hidup loe ancur dari pada keselamatan ibu loe... lihat ini" ucap Bule itu yang menunjukan bahwa ibunya ada di genggaman dia.
" Brengs*k ,,,, lepasin ibu gue..." ucap Veby yang memukul wastafel.
" Kalau loe mau ibu loe selamat,,, cepat selesaikan tugas loe" ucap Bule itu langsung memutuskan telephonenya.
" Any*ng loe,,,, hiksss hikks,,,," ucap Veby yang melempar ponselnya.
" Ok gue harus b*n*h loe, salah loe sendiri yang udah ngerusak hidup gue" ucap Veby sambil mengeluarkan pistol dan di liat oleh Frans.
Veby melangkahkan kaki hendak keluar tapi di cegah oleh Frans, aksi merebutkan pistol pun dimulai.
" Akkkhhh,,,," Teriak Veby saat tangannya di tendang dari belakang oleh Frans lalu di sekap oleh Frans dan sekarang pistol mengarah ke kepala Veby.
Dengan posisi Veby di depan Frans tangan kirinya di kunci Frans dan tangan kanannya di paksa oleh Frans untuk menghadap ke kepalanya sambil memegang pistol.
" Tembak gue, kenapa diem dan cuma gretak gue ,,, Hah,,, !" ucap Veby yang tau ternyata cowo bule yang semalam.
" Siapa loe..? siapa orang yang udah nyuruh loe.. ?" ucap Frans.
" Hah,,, ? gue siapa? apa urusan loe? mau gue siapa itu gak penting...! minggir loe" ucap Veby memberontak.
" Jangan harap loe bisa lepas dari gue,," ucap Frans yang langsung mengikat tangan Veby ke belangkang.
" Lepasin gue,,, mau di bawa kemana gue..? tunggu dulu... sepertinya kita hanya salah paham.." ucap Veby yang mengerti dia akan di bawa ke mana.
" Jangan banyak alesan buruan ikut gue, kalau gak..." ucap Frans yang menarik paksa Veby.
" Kalau gak apa? loe mau nembak gue? silahkan dengan rela gue di tambak loe" ucap Veby yang mulai menangis di kaki Frans karena gak mau di bawa ke kantor polisi.
" Tapi gue mohon jangan bawa gue ke kantor polisi,,, hiks... hiks... please gue mohon sama loe tembak gue sekarang juga." ucap Veby yang menangis.
" Ok kalau loe milih untuk gue tembak. " ucap Frans langsung menodongkan pistol ke kepala Veby.
Veby dengan pasrah melihat pistol di kepalanya dengan derai air mata yang membanjiri pipinya, perlahan menutup matanya agar dia tidak melihat pistol itu saat di tembakan di kepalanya.
" Apa pesan terakhir loe..?" ucap Frans yang melihat ke sungguhan Veby yang rela di tembak.
" Emang boleh..? " ucap Veby senang dan langsung membuka mata tapi tiba tiba Frans memajukan pistolnya lebih dekat dengan mata Veby, sehingga Veby langsung terdiam.
" Cepat waktu gue gak banyak."
__ADS_1
" Tolong selamatkan ibu gue, di jalan XXX di kota Parahiyangan. yang ke dua tolong bilang ke Ernata bahwa gue benci sama dia dan Grael" ucap Veby.
Frans menarik pelatuknya tapi seketika Veby sudah pingsan duluan.
" Jiiiahhh belom juga gue door udah pingsan duluan aja. " ucap Frans dan menelephone anak buahnya untuk membawa Veby ke kamar hotel miliknya.
Frans yang menyuruh anak buahnya untuk menjaga dan mengawasi Veby sedangkan Frans pergi dengan urusan lainnya.
Malam pun tiba Frans yang sudah kembali dari urusannya, menunggu Veby untuk bangun dari tidurnya yang sudah dikasih obat tidur oleh anak buahnya.
Frans mendapat laporan bahwa, Veby setelah siuman dari pingsannya terus mencoba menyakiti dirinya sendiri, Walaupun tangannya sudah terikat.
Dengan mata yang masih berat, Veby membuka matanya dan melihat kesekelilingnya, ternyata ada sosok laki laki dengan wajah bule di hadapannya.
" Kenapa loe belum tembak gue..? " ucap Veby dengan suara lirihnya sambil meneteskan air mata.
" Gue akan lepasin loe dan bantu nyokap loe, asalkan loe bilang ke gue,, Siapa loe? apa motif loe mau m*b*n*h orang itu dan siapa yang menyuruh loe..?" ucap Frans yang menunggu jawaban dari Veby.
Veby hanya terdiam dan tak menjawab.
" Ok kalau loe gak mau jawab, Joy...!" Ucap Frans.
Joy pun maju mendengar bosnya memanggilnya.
" Bawa dia ke kantor polisi, paksa dan seret dia." ucap Frans.
" Siap bos.." ucap Joy asissten Frans.
" Please,,, No... " ucap Veby yang menangis.
" Cepat katakan?" ucap Frans yang masih berbelas kasih.
" Gue di suruh sama tu cewe bule kalau gue gak ngikutin yang dia suruh nyokap gue yang jadi taruhannya, gue gak tau siapa tu bule tapi yang jelas dia ada tatto bintang di lehernya, " ucap Veby yang menangis.
" Apakah dia orangnya..?" ucap Frans memperlihatkan foto Monic ke Veby.
" Iya dia orangnya,,, Please nyokap gue,,, gue akan melakukan apapun buat loe asalkan tidak menyangkut lagi dengan kriminal dan juga Ernata?" ucap Veby.
" Siapa nama loe? " Ucap Frans tapi Veby hanya terdiam..
" Gue tanya sekali lagi siapa nama loe ? dan apa hubungan loe sama Aini?" ucap Frans yang memegang wajah Veby dengan 2 jari.
" Veby Olanda, gue .... gue gak tau siapa itu Ainu " ucap Veby
"Ernata?" ucap Frans menjelaskan
" Gue sahabatnya.." ucap Veby pelan.
" Apa..?" ucap Frans kencang.
" Dulu.... gue sahabatnya, sekarang dia cuma musuh gue,, ya walaupun gue benci sama dia tapi gue gak ada niat buat ngeb*n*h dia." ucap Veby.
" Apa buktinya..?" ucap Frans
" Terserah loe percaya apa gak sama gue, gak penting juga buat loe percaya apa gak sama gue..." Ucap Veby.
" Ok, gue akan bantu loe buat nyelamatin ibu loe,,, tapi dengan syarat..." ucap Frans yang memberi tahukan syarat ke Veby.
Veby setuju dengan persyaratan yang di berikan Frans, dengan wajah bahagianya Frans meluncurkan aksinya yang akan membuat Monica menyesal seumur hidupnya.
Flasback off....
Bali ✈️ Jakarta,
Bandara Jakarta,
" Bu,, ibu yakin gak mau tinggal sama Ammar..?" ucap Ammar yang sedan menunggu jemputan mobil.
__ADS_1
" Iya,,, bu yakin, lagian Budeh mu dari dulu ingin ibu tinggal disana, kasian juga semejak Pak de mu meninggal Budeh mu hanya tinggal sendiri, anak anaknya sudah pada besar menikah dan sebagian tinggal di luar kota." ucap Ainun.
Aini dan Nabila hanya terdiam mendengar percakapan ibu mertuanya dan juga suaminya, tapi tidak dengan Aini yang merasakan sedih mendengar Ainun tidak tinggal dengannya.
Mobil jemputan yang Ammar suruh dari anak buahnya pun datang dengan dua mobil, saat Ammar membukakan pintu untuk ibunya Aini pun ikut masuk duduk di samping Ainun di kursi belakang.
Ammar yang bingung melihat Aini yang tiba tiba masuk dan duduk di samping Ainun, memberikan kode mata ke Aini agar segera turun dan ikut mobil bersamanya.
" Bu,,, boleh ya Aini satu mobil sama ibu,,, Aini lagi gak mau jauh jauh sama ibu..ya ya ya bu...?" ucap Aini yang manja dengan Ainun.
Ainun yang membalas pelukan Aini melirik ke Ammar, Ammar hanya menarik nafas panjang melihat tinggah istrinya yang menggemaskan.
Ammar menutup pintu mobil dan naik ke mobil ke dua bersama Nabila.
" Bilang jujur sama ibu,, bahwa kamu sangat terluka dengan pernikahan Ammar dan Nabila." ucap Ainun yang mengelus rambut menantunya.
" Aini senang bu,," ucap Aini yang meneteskan air mata.
" Lihat ibu,,, kamu tidak perlu berbohong sama ibu,," ucap Ainun yang melihat wajah Aini.
Aini pun menangis sejadi jadinya di pelukan Ainun tanpa pengucapkan satu kata pun, Ainun yang tau isi hati menantu pertamanya hanya bisa ikut menangis merasakan yang di rasakan Aini.
Ainun memang ingin Nabila menjadi menantunya, tapi itu dulu. Sekarang yang ada Ainun merasa bersalah pada Aini menantu kesayangannya yang sudah di anggap anak sendiri.
" Bu,,, izinikan Aini tinggal sama ibu ya,, please,,, " ucap Aini memohon.
Aini yang tidak tau akan seperti apa hatinya bila dia harus tinggal satu atap dengan madunya, melihat kemesraan Ammar dengan Nabila.
Walaupun Aini ikhlas berbagi suami dengan Nabila, tapi tetap hati dan air mata ini tidak bisa di bohongi oleh perkataannya sendiri.
" Ibu gak akan melarang kamu, tapi bagaimana dengan suami mu..?" ucap Ainun yang menolak secara halus.
Perjalan pun cukup panjang, sehingga Aini cukup punya banyak waktu untuk menjelaskan ke Ainun, tetang dia bisa menerima Nabila menjadi madunya.
Dan selama perjalanan Ainun hanya bisa menghiburnya dengan canda dan tawa, agar hati menantunya lebih tenang tidak merasa sedih lagi, Ainun pun menyanyikan Aini dengan tembang jawa membuat Aini perlahan tertidur pulas di pangkuan Ainun.
Sesampainya di Pondok Indah rumah Budeh Ammar, Ainun tidak tega membangunkan Aini di pangkuannya. Hingga akhirnya Ammar hanya bisa menggantikan Ainun sebagai bantal nya.
" Maaf bu Ammar gak bisa antar ibu masuk." ucap Ammar yang sudah menggantikan posisi Ainun.
" Sssttt,, sudah nda apa apa,, biar ibu masuk sendiri, salam buat Aini nanti kalau dia sudah bangun" ucap Ainun yang mengecup kening Aini.
" Ya bu,, Ammar langsung pamit dulu ya bu" ucap Ammar.
"Kamu hati hati di jalan ya, jaga istri istri mu dengan baik." ucap Ainun.
Mobil Ammar mulai menjauh dari Ainun, selama perjalanan pulang Aini masih tertidur lelap di pangkuan Ammar. Nabila yang duduk di depan hanya bisa melihat dari kaca depan.
Ammar sesekali tersenyum melihat Aini yang terus mengeratkan pegangannya di pinggang Ammar, terkadang Ammar mengelus pipi Aini dengan lembut. Nabila yang melihatnya dari kaca hanya bisa menahan rasa cemburunya.
" Ibu,,, boleh ya..." ngigau Aini dalam pangkuan Ammar.
Ammar yang mendengarnya hanya tertawa kecil sambil mencubit pelan hidung istrinya.
Kini mobil pun sampai di halaman rumah lama Ammar.
Ammar turun sambil menggendong Aini di tangannya, membawanya ke kamar Ammar yang sebelumnya sudah di renof untuk pengantin baru. Tapi karena situasinya berbeda, Ammar menyuruh Asistennya untuk merubah menjadi seperti biasa.
Ammar membaringkan Aini dengan perlahan di tempat tidur dan di bantu oleh Nabila yang membawa kan selimut.
" Apakah dia memang sangat lama kalau tidurnya? sampai sampai kamu gendong pun dia tidak bangun?" ucap Nabila yang memberikannya selimut.
" Mungkin karena dia terlalu lelah, sudah lah mending kamu juga istrihat, mas antar kamu ke kamar" ucap Ammar yang keluar tapi Nabila tidak mau keluar.
" Kenapa? apa kamu takut aku mengusirmu dari kamar ini dan akan tidur bersama Aini sekarang? tenang lah jangan kawatir ada banyak kamar disini aku akan tidur sendiri biar adil." ucap Ammar
" Kalau kamu mau berusaha adil, bawa aku ke kamar seperti kamu membawa Aini ke kamarnya" ucap Nabila yang tak mau mengalah.
__ADS_1
Ammar hanya menuruti kemauan Nabila agar dia bisa adil ke dua istrinya, sedangkan Aini yang sudah bangun dari tadi hanya bisa mengintip dari cela selimut.
Bersambung,,,