
Pada saat itu juga Aini bisa melihat mobil sport warna hitam yang dia kira itu adalah mobil suaminya, berhenti tepat di depan mobil Rahman. Kedua bola mata ini bisa melihat bagaimana pria yang mengendarai mobil tersebut keluar dari dalam mobilnya.
Benar saja, orang yang keluar dari dalam mobil tersebut adalah suaminya—Ammar Abqori, Aini terkejut dan masih tidak percaya bila orang tersebut benar-benar suaminya.
"Brengsek!" Rahman mendorong tubuh Aini agar menyingkir dari hadapannya lantas menjalankan mobilnya kembali secara mundur sebelum Amar pendekat ke arahnya dan membawa Aini.
Akan tetapi, kedua mobil yang ada di belakang menghalanginya sehingga membuat dia sulit untuk melarikan diri, dia hanya tersenyum saat mereka semua berhasil menaklukkannya. Terdiam sejenak sebelum dia melakukan tindakan sesuatu untuk melawan mereka semua.
"Buka!" teriak Ammar yang mengetuk kaca mobil.
Rahman terkekeh melihat Ammar berhasil meloloskan diri dan berada di depan matanya, dia mengambil sebuah senjata api lalu dia arahan ke Aini sebagai bentuk ancaman.
"Mas, astagfirullah! Apa yang kamu lakukan?" Aini terkejut saat senjata api tersebut berada di keningnya.
"Dengar baik-baik, aku sudah berkorban banyak untukmu dan anakmu dan kamu juga juga sudah menerimaku! Jadi suruh mereka untuk menyingkir! Atau anak keduaku menyusul Abang tercinta!" Rahman mengarahkan pistol ke arah Khanza.
"Astagfirullah, Mas sadar! Apa yang kamu lakukan ini dimurkai sama Allah! Kamu boleh mencintai seseorang tapi cara kamu salah Mas!" ucap Aini yang kini mengerti apa yang membuat pria yang hampir saja menjadi suaminya berubah menunjukan sikap aslinya.
"Tidak usah perlu banyak bicara! Cepat suruh mereka menyingkirkan mobil mereka atau kamu beneran mau kehilangan anak kamu!" tegas Rahman sekali lagi dan itu membuat Aini menangis.
Terpaksa Aini menuruti keinginan Rahman demi keselamatan sesama anak, perlahan dia keluar dan melihat ke arah suaminya yang berada di seberang badan mobil, berdiri di samping pintu mobil pengemudi. Terdapat sorot mata kerinduan terpancar dari manik mata Aini ketika melihat Ammar berada di hadapannya dengan jarak dan tidak terlalu jauh.
Ingin sekali Aini berlari memeluk tubuh itu melampiaskan rasa rindunya, tetapi kenyataannya dia harus terpaksa menahannya demi keselamatan putri tercinta—Khanza.
"Mas Ammar," ucap Aini yang melihat Ammar sedang menatapnya.
"Aini?" Ammar tersenyum lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat, tetapi istrinya itu melarangnya.
__ADS_1
"Jangan mendekat, Mas! Aini cuma mau bilang, bila Aini sudah memilih hidup bersama Mas Rahman ... jadi, tolong biarkan Aku pergi bersama Mas Rahman!" Suara Aini bergetar saat mengatakan itu, sungguh hatinya sangat berat tetapi demi keselamatan buah hati bersama Ammar, dia berharap sang suami mau memahaminya.
Jleb! Sungguh sakit saat mendengar ucapan dari wanita yang dia cintai dan sayangi sampai saat ini, wanita yang dia rindukan selama beberapa bulan. Namun, dia menyadari sesuatu dari Aini sehingga dia mulai mengerti arah maksud dari sitrinya.
"Oke, tapi ijinkan Khanza ikut bersama Mas!" jawab Ammar dengan tegas dan tentu berhasil membuat Aini menjatuhkan air matanya.
Rahman yang melihat dari dalam mobil langsung tersenyum dan keluar untuk menyerahkan Khanza pada Ammar, dia tidak mau bila Aini yang menyerahkan langsung pada pria itu.
Pada saat Ammar menerima Khanza dari tangan Rahman, saat itu pula dia mengeluarkan jurus tendangan yang diarahkan ke kaki musuhnya. Hingga Rahman bersimpuh dengan lutut yang disusul dengan tendangan di wajah sampai pria itu tersungkur ke bawah.
Aini yang melihat itu langsung berlari ke arah Ammar tapi dengan cepat Rahman menangkis kaki Aini hingga terjatuh, dia pun jatuh tepat di samping mantan bosnya itu yang sedang menatapnyaa dengan kesal.
"Kau menipuku?" Rahman menarik tangan Aini dengan cepat sebelum Ammar menariknya.
"Kau harus menepati janjimu, Sayang! Kau sudah memilihku!" Rahman menodongkan pistool ke arah kening Aini seraya memeluknya dengan erat lantas berucap, "Jangan bergerak! Atau aku tembakt dia!"
Polisi yang awalnya maju dan mengepung Rahman langsung menurunkan senjatanya sesuai perintah komandonya, sedangkan Ammar menyerahkan anaknya untuk pada naga putih untuk di amankan. Polisi bisa saja bertidak dengan memberikan tembakan pada Rahman, tetapi mengingat bila di dalam mobil terdapat Naura s sehingga polisi itu pun berhati-hati dalam tindakannya.
Aini menangis dalam genggaman Rahman seraya terus menatap Ammar yang melihatnya, dia pun berkata. "Mas ... biarkan aku sama Mas Rahman pergi!"
"Kau liat? Hmmm?" Rahman mencium pipi Aini berkali-kali dalam pelukannya lantas berkata, "Dia milikku sekarang!"
Ammar mengepalkan tangannya seraya mengeraskan rahang kokoh tersebut ketika melihat istrinya menangis dicium oleh pria lain, dia pun menyuruh pihak polisi untuk membiarkan mereka pergi.
Rahman tersenyum kemenangan, dia langsung menarik Aini untuk masuk ke dalam mobil, tetapi wanita itu menghentikan langkahnya ketika Khanza terbangun dan menangis menyebut namanya.
"Eeumi ... Cuuuccuu!" tangisan Khanza membuat Ammar pun ikut melihatnya.
__ADS_1
"Masuk aku bilang!" Perintah Rahman dengan kasar, tetapi tidak di dengar oleh Aini sehingga Rahman kembali berteriak, "Masuk!"
Pada saat itu juga Aini memberanikan diri mengigit tangan Rahman dengan kencang saat melihat anaknya menangis, hingga membuat Rahman memukul kepala Aini dengan kencang.
Ammar yang melihat sang istri di pukul langsung maju dan menyerang langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Rahman usai dia menarik baju pria itu hingga berkali-kali pukulan musuhnya langsung babak belur.
"Damnnnn!" Rahman marah dia kembali melawan Ammar hingga perkelahian sengit terjadi.
Di tengah kesibukan perkelahian sengit mereka, anak buah naga putih membantu polisi mengeluarkan Naura dari dalam mobil yang ternyata terkunci.
Ketua komando pun membantu menyerang Rahman dengan menangkapnya saat perkelahian sengit itu terjadi, hanya satu gerakan Rahman sudah berhasil di taklukkannya.
"Anjing! Lepaskan, bang sat!" bentak Rahman tangannya sudah di borgol oleh polisi.
"Bawa dia!" Perintah komando yang menyuruh anak buahnya.
"Ayah! Jangan tangkap ayah Naura! Bunda!" Naura yang terbangun dan berhasil keluar dari dalam mobil, dia memberontak ingin dilepaskan dari gendongan polisi tersebut lantas mengejar Rahman tapi dengan cepat tubuh mungilnya ditangkap oleh Aini.
Aini langsung memeluknya agar Naura tidak melihat Rahman yang di bawa oleh pihak polisi, meski pun Naura memberontak tapi Aini terus berupaya untuk menenangkan Naura, sampai gadis itu terdiam dalam tangisan dipelukan Aini.
Begitu polisi membawa Rahman pergi, Aini yang sedang menggendong Naura melihat ke arah Ammar ternyata sudah menatapnya.
Aini meneteskan air mata seraya melangkah perlahan mendekap ke arah Ammar saat tangan kekar itu merentangkan tangannya, ingin rasanya berhamburan memeluk tubuh yang dia rindukan tapi dia sadar terdapat anak buah naga putih dan juga Naura. Hingga dia hanya berjalan perlahan dan berdiri di depan Ammar sembari membawa Naura.
"Mas Ammar," ucap Aini dengan lirih.
Ammar pun langsung memeluk Aini lalu mengecup kening istrinya itu dalam-dalam, tetapi mendapat dorongan dari Naura hingga pelukan itu terlepas.
__ADS_1
"Jangan cium-cium, Bunda! Ini Bunda Naura! Om siapa? Berani-berani cium Bunda—Naura!" omel Naura yang berada di tengah-tengah mereka.
Bersambung...