Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 143. Hadiah dari ayah mertua


__ADS_3

"Saya rasa, anak bapak kuliah jurusan hukum, bisa mengerti hukum mengambil foto tanpa seizin yang punya." Ammar mengambil foto sang istri lalu memasukannya ke dalam dompet.


"Maksudnya?" tanya Zidan yang sedikit merasa tersinggung dengan ucapan Ammar.


"Berapa harga foto istri saya? Agar anda bisa menghapus semuanya." Ammar mengeluarkan kartu debitt yang berasal dari Dubayi dan mengeser kartu tersebut di atas alas makanan yang bisa berputar ke arah Abizar.


Semua orang langsung tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Ammar. Begitu juga dengan Rey, dia sampai tidak percaya bila yang dimaksud oleh Abizar selama ini adalah Aini, hal tersebut membuat ayah mertua Ammar turun tangan.


"Aah, sepertinya ada sedikit kesalahpahaman." Sang mertua menepuk pundak Ammar agar tidak terlalu emosi di saat suasana makan malam bersama.


Ammar langsung memasang wajah dinginnya untuk menunggu jawaban dari Abizar, begitu juga kedua orang tua Abizar dan termasuk dengan Rey yang penasaran.


"Ah, begini ... Pak Ammar, sebelumnya saya mohon maaf apabila anda merasa marah—”


"Jelas marah, gue aja marah!" timpal Rey yang ditenangkan oleh sang bunda.


Aura gelap pun menjadi semakin mencekam, Abizar yang merasa terciduk, harus berusaha semaksimal mungkin menjelaskan kepada suaminya Aini agar tidak terjadi perkelahian sengit diantara mereka, kerena akan berpengaruh dengan bisnis sang Ayah.


"Saya mohon maaf sebelumnya, karena sudah mencintai istri Pak Ammar. Saya menyukainya karena ... yang saya tahu, dia belum menikah," ucap Abizar yang menjelaskan.


"Ckk!" kesal Rey mendengar ucapan dari Abizar yang begitu berani.


"Pak Ammar, saya selaku dari keluarga ... meminta maaf yang sebesar-besarnya. Untuk kedepannya ... Abizar tidak akan berani melangkah lebih jauh lagi." Zidan meminta permohonan maaf kepada Ammar.


"Saya percaya, anak Bapak tahu batasannya. Terima kasih atas jamuan makan malamnya." Ammar langsung berdiri, berjabat tangan dengan Zidan dan mengajak sang istri untuk kembali ke kamar hotel.


"Sama-sama, Pak Ammar. Terima kasih atas pengertian dan sudah mau hadir makan malam bersama kami." Zidan beserta istri ikut berdiri dan dilanjut dengan keluarga Ghozali yang berpamitan kepada Zidan dan juga istrinya.


"Ammar!" panggil sang ayah mertua kepada menantunya dan merangkul selayaknya seorang anak dan ayah.


Ammar terkejut dengan sikap sang mertua yang merangkul dirinya seperti hubungan mereka sangat dekat, begitu juga dengan Rey dan Aini yang tidak menyangka sikap Ayah mereka begitu hangat.


"Ada apa, Yah?" tanya Ammar.


"Sebelum balik ke kamar, temani ayah olah-raga," ucap Izul.


Ammar melirik ke arah istrinya untuk meminta jawaban dari Aini, sebelum Aini menjawab pertanyaan sang suami. Bunda Ismi sudah menarik Aini untuk menaiki lift dan membiarkan para laki-laki menikmati waktunya.

__ADS_1


"Bun, ayah mau ngajak Mas Ammar kemana?" tanya Aini penasaran.


"Tenang saja ... ayah hanya ingin berbincang dengan suamimu agar lebih akrab," sahut sang bunda.


"Ya, tapi gak ketempat yang aneh kan?" tanya Aini sedikit khawatir.


"Gak! Posesif banget sih," ledek bunda Ismi yang tertawa.


***


Sport Centre Shooting


Suara tembakan demi tembakan begitu nyaring di area tersebut, sekor yang dipegang oleh Ammar seimbang dengan Rey sedangkan sang ayah berada di atas mereka. Ammar terus menembak dengan waktu beberapa detik lagi untuk melihat hasi pointnya.


Hanya selisi beberapa detik, akhir point Ammar lebih tinggi dari pada Rey, Izul memeluk sang menantunya dengan bangga. Rey pun ikut senang dan memeluk Ammar sebagai abangnya.


"Wah, hebat! Tidak salah Aini memilihmu menjadi suaminya." Izul menepuk punggung Ammar.


"Ayah bisa saja," ucap Ammar yang senang mendapat pujian dari sang mertua.


Ammar teresenyum, dia pun mengiyakan ucapan dari Izul. Setelah itu, mereka duduk merilekskan sejenak saraf-saraf tegang mereka dengan menikmati minuman teh hangat yang cukup elit.


Disela-sela keasikan ketiga pria itu, suara telepon Izul berdering, dia meminta izin kepada kedua anaknya untuk menjawab panggilan telepon dari asistennya.


"Kalau gue boleh tahu, kapan loe ketemu dengan Nur?" tanya Rey to the poin.


"Kenapa? Penasaran? Nanti cemburu lagi," ledek Ammar dengan jahil.


"Wajar kalau gue masih cemburu! Karena dia sampai sekarang, berati banget buat gue." Reyzal menatap Ammar dengan serius.


"Loe masih ada rasa sama istri gue?" tanya Ammar yang menatap balik ke arah Rey.


"Kalau gue bilang masih cinta, nanti loe cemburu lagi!" balas Rey yang meledek Ammar.


"Wajar, karena gue Suaminya!" tegas Ammar yang membalas perkata Rey.


Rey tertawa mendengar menuturan dari Ammar, dia pun menceritakan tentang hubungannya dengan Aini dari kecil, bagaimana dirinya bisa mencintai Aini di usi mereka yang masih terbilang muda sampai saat ini, walaupun hatinya sudah mengikhlaskan sang wanita.

__ADS_1


Rey juga menceritakan tentang hal yang disukai Aini, yang tidak disukai Aini, bahkan Rey memberitahu Aini, bahwa ada bekas luka di pergelangan kakinya yang sama persis di pergelangan kaki Rey.


Itu karena, waktu kecil mereka jatuh bersama dari tangga tempat mereka menimba ilmu Agama, Rey pun juga menceritakan benda yang Aini tidak suka kepada Ammar.


"Balon?" tanya Ammar yang heran dan mengingat kejadian Aini yang selalu menghindar dari balon.


Rey mengangguk kepalanya, seusai Rey menceritakan hubunganya dengan Ammar, Rey membaritahukan kepada Ammar, jangan terlalu cemburu bila dia dekat dengan Aini, walaupun Rey masih mencintainya. Dia tidak akan merusak rumah tangga sang Adik, karena dia bisa melihat dari sorot mata Aini, bahwa adiknya sangat mencintai Ammar.


"Gue ketemu dia, itu ... unik," ucap Ammar yang pertama kali membayangkan pertemuan pertamanya dengan sang Istri.


Rey bisa melihat bagaimana cara Ammar menceritakan Aini dengan wajah yang berseri, sehingga Rey pun ikut tertawa mendengar tingkah Aini yang konyol. Di saat mereka sedang tertawa bersama seperti Abang dan adik. Izul datang menghampiri mereka dan menyuruh Ammar untuk melihat laporan dari Roy.


"Astagfirullah, Yah! Ini serius?" Ammar terkejut melihat laporan dari Roy. Bahwa, sebesar 50 persen, Izul memberikan sahamnya untuk Ammar.


"Ini hadiah untuk kamu, jelas Ayah serius." Izul menepuk punggung Ammar dan mengajaknya untuk pulang.


"Yah, untuk Rey?" tanya Rey kepada sang Ayah.


"Bawa calon istri kamu, maka semua saham milik kamu!" ucap Izul.


"Serius ya?" tanya Rey.


"Gak, ayah cuma bercanda," goda sang ayah kepada anak semata wayangnya


"Ayah gak asik, ah!" Rey merajuk dengan candaan Izul.


Ammar yang melihat keakraban mereka ikut tersenyum dari belakang, kehangatan yang diberikan oleh keluarga Ghozali berbanding terbalik dengan kabar beredar yang dibicarakan oleh kalangan pembisnis lainnya.


"Bang minta nomor Nabila dong!" Rey mendekati Ammar sembari membujuknya.


"Buat apaan?" tanya Ammar yang mengerutkan kening.


"Mau kenalin ke ayah, sebagai calon istri. Biar dapet saham! Masih gres kan? Belum di apa-apain?" ledek Rey yang melihat wajah Ammar mulai berubah total.


"Ampun, Bang!" Rey berlari sembari tertawa saat Ammar ingin menendang bokkongnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2