
"Bunda buka mulutnya, aaa!" Naura mencoba menyuapi Aini, dia membuka sedikit cela cadar Aini lalu memasukan makanan ke dalam mulut Aini.
Aini pun ikut senang bila anak itu tidak lagi menangis, dia pun menyuapi Naura dari pangkuannya. Aini tahu, apa yang dia lakukan mungkin akan membuat orang lain salah paham apalagi suaminya, tapi dia tahu Ammar akan mengerti dengan apa yang dia lakukan bila Naura masih terus memanggilnya Bunda.
Rahman tersenyum ketika melihat Naura begitu bahagia berada di pangkuan Aini, hatinya semakin kuat untuk merebut Aini dari Ammar secara perlahan dan bermain halus. Ya, Rahman telah menghidupkan kembali dongeng yang telah mati dan menghancurkan dongen Ammar secara perlahan.
Semua orang yang melihat mereka pasti mengira bila mereka adalah keluarga yang harmonis, karena terlihat jelas di raut wajah Rahman dan Naura ketika makan siang bersama Aini.
"Bunda, gantian ... Bunda suapi Ayah! Ayo, Bun!" ajak Naura dengan maksa.
Aini dan Rahman sempat terdiam mendengar permintaan Naura, tapi dengan cepat Rahman mengatakan bahwa dia sudah kenyang jadi Aini tidak perlu repot-repot untuk menyuapi dia.
Naura pun kecewa dan merasa sedih ketika Aini menolak untuk menyuapi Rahman. "Kenapa Bunda tidak mau? Apa Bunda marah sama ayah?"
"Tante tidak marah sama Ayah kamu, hanya saja ... tante malu di sini banyak orang!" bisik Aini secara halus agar Naura bisa mengerti.
Naura melihat-lihat pengunjung restoran yang ramai ketika matanya mengikuti arah yang Aini tunjuk, dia pun mengerti lalu kembali minta disuapi oleh Aini.
"Anak pinter!" Aini mencolek hidung Naura dengan gemas.
__ADS_1
Rahman tersenyum senang, pilihannya tidak salah memilih Aini untuk menjadi ibu sambung Naura, dia berharap bahwa Ammar tidak akan pernah pulang ke Indonesia sehingga dengan begitu dia bisa mudah mendapatkan Aini.
...----------------...
Sebuah sekolah taman kanak-kanak ternama, Nabila sedang mengajar anak-anak. Kini hidupnya mulai berubah, semenjak Ayahnya yang bernama Gunawan meninggal dunia dan sang ibu di penjara, Nabila mencoba menata kehidupannya yang baru.
Nabila sudah memutuskan untuk menjauh dari Ammar dan Aini, bahkan dia sampai menutup hatinya untuk siapapun walaupun terbesit ada benih cinta untuk Reyzal, tapi karena dia tahu Reyzal hanyalah pelampiasan rasa sakitnya untuk melupakan Ammar, maka dari itu dia pergi menjauh ke sebuah kota di mana tidak berhubungan dengan Aini tanpa berniat untuk memutuskan tali silahturahmi.
"Permisi, Bu! Assalamualaikum!" ucap wali murid.
"Waalaikumussalam, iya ... Oh, Rasyid telat ya?" Nabila mendekat ke arah wali murid dan Rasyid.
"Iya, Bu!" sahut wali murid—Rasyid.
"Rasyid, Om Abizar harus kerja, tidak bisa menemani Rasyid, nanti Om jemput Rasyid lagi, ya?" Abizar berjongkok mengimbangi tinggi Rasyid.
Memang Nabila sudah mengerti anak-anak didiknya yang berbagai macam sifat dan perilaku, dia pun sangat penyabar dalam mendidik anak-anak muridnya.
Biasanya Rasyid selalu di temani oleh ibunya di dalam kelas, tapi karena Abizar memberitahu bahwa Ibunya sedang menjalani proses lahiran, jadi sementara waktu Abizar yang mengantar jemput Rasyid.
__ADS_1
"Rasyidkan anak pintar, dan berani, kan ada Bu Nabila! Rasyid jangan takut, ya?" ucap Nabila yang membujuk Rasyid, hingga anak itu akhirnya mau dan memeluk Nabila.
Nabila pun tersenyum lalu menggendong Rasyid, dan mendapat ucapan dari terima kasih dari Abizar.
"Dadah dulu sama Om, dada Om!" suruh Nabila yang menggerakkan tangan kepada Abizar. Abizar pun membalas melambaikan tangan pada Rasyid kemudian pergi dari sana.
Setelah tiga jam Nabila mengajar anak-anak, Nabila pun menunggu satu persatu orang tua murid untuk menjemput anak mereka masing-masing, semua pun telah dijemput tapi tinggal Rasyid yang menangis menunggu jemputan dari Abizar.
Nabila pun mendekat ke arah Rasyid lalu menggendongnya agar anak itu terdiam, Nabila terus berusaha membuat rasyid tertawa dan bersabar menunggu wali untuk menjemputnya.
Hampir tiga puluh menit wali murid Rasyid tidak kunjung menjemputnya, sampai anak itu tertidur dalam dekapan Nabila. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti dan Abizar turun dari mobil untuk menjemput Rasyid.
"Assalamualaikum, Rasyid maaf, Om telat jemput nya!" ucap Abizar yang ternyata mendapat isyarat dari Nabila bila Abizar tertidur.
Nabila menjawab salam dari Abizar lantas menyerahkan kepada Om—Rasyid, tetapi anak itu menangis dan tidak mau melepaskan Nabila.
"Biar saya bantu untuk taruh ke dalam mobil," ucap Nabila.
Nabila mengekori Abizar bejalan menuju mobil, kemudian dia membungkukkan tubuhnya untuk menaruh Rasyid di kursi belakang, pada saat itu juga tangan Abizar melindungi kepala Nabila agar tidak membentur bagian atas pintu mobil.
__ADS_1
Rasyid menangis dan masih tidak mau melepaskan Nabila, terpaksa Nabila ikut mengantar Rasyid sampai ke rumah. Dia pun duduk di kursi belakang sembari memeluk Rasyid dalam dekapannya yang sedang tertidur lelap.
To be continued...