Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
48. Aini sakit part 2


__ADS_3

Aini terbangun dari tidur istirahatnya, dia melihat jam di ponselnya, jam menunjukan pukul 13 : 15 wib.


" Sarah..?" ucap Aini yang melihat Sarah sudah datang dan tertidur di sofa.


Perlahan Aini menurunkan kakinya, mendekati Sarah yang teridur disofa kamarnya, memberikan selimut untuknya dan berlalu kekamar mandi.


Saat Aini keluar dari kamar mandi, Sarah sudah bangun dan sigap membantu Aini untuk berjalan.


" Makan siang dulu non" ucap Sarah menuntun Aini ke tepi tempat tidur. Aini hanya mengangguk.


Sarah mengambilkan sop iga beserta nasi putih yang masih hangat. Aini makan dengan hambar begitu juga dengan perasaannya.


Sampai saat ini Ammar tak mengirim pesan atau pun menghubunginya, Aini terus menatap ponselnya yang hanya berisi pesan masuk dari teman temannya.


" Sarah,? "


" Iya non?"


"Apa mas..... hmmm.... gak jadi deh" ucap Aini takut kecewa bahwa Ammar tidak menanyakannya lewat Sarah. Sarah yang tau maksud dari majikannya hanya bisa diam. Karena Ammar tidak menanyakan kabar Aini lewat Sarah.


" Sarah,,? temani saya ke kampus ya?" ucap Aini yang hanya makan sedikit.


" Tapi non,, "


" Saya sudah baikan Sarah..." ucap Aini tersenyum pelan.


" Maaf non, saya tidak mengijinkannya, saya takut tuan marah" ucap Sarah


" Kalau gitu saya gak mau temenan sama kamu lagi" Ancam Aini.


" Non..." Melas Sarah, tapi Aini masih merajuk.


" Iya non... saya akan temenin non Aini ke kampus, tapi habisin dulu makanannya ya non,,, trus minum obat. " ucap Sarah yang menyodorkan sendok ke Aini.


Aini tetap tidak mau menghabiskan makanannya hanya menyuruh Sarah membawa potongan buah, lalu meminun obat nya, segera berangkat ke kampus.


Sudah libur panjang, Aini izin cuti kuliah nya. dia tidak mau menjadi mahasiswa abadi mangkanya Aini memaksakan diri untuk masuk kuliah sore ini.


Perusahaan PT. Abqori Energi.


Ammar yang masih uring uringan dalam bekerja, setiap jam selalu melihat ponselnya, mengharap istri pertamanya menghubunginya duluan dan memohon maaf padanya. Ternyata nihil.


" Roy...,,!" panggil Ammar mengeras dengan intonasi nadanya.


" Rooyyy.....?! " panggilan Ammar yang ke dua kalianya terhadap assisten barunya.


" Ya... bos..? " sigap Roy yang terburu buru menghampiri Ammar.


" Astagfirullah,,, saya manggilin kamu dari tadi." Ucap Ammar.


" Maaf bos, "


" Cepat kamu cari tau tentang istri saya sedang apa? dimana? tapi jangan sampai ketauan,,, dan lapor ke saya dalam 30 menit, kalau lebih satu detik kamu telat,, kamu terima hukumannya" ucap Ammar galak.


" Astagfirullah..." ucap Batin Roy yang merasa baru pertama kerja mendapatkan tugas yang begitu amat sangat banget berat, karena menyangkut nyonyah Aini.


" Baik bos. " ucap Roy


20 menit kemudian.....


" Permisi bos,,? ini laporanya bos" ucap Roy yang sudah mendapat informasih kurang dari 30 menit.


" Katakan saja.. "


" Maaf bos, nyonyah saat ini berada di Falkutas Hukum. " ucap Roy dengan rasa agak takut.


" Pergi naik apa? dengan siapa? "


" Sama sopir pribadinya bos, dan juga Assistennya." ucap Roy


" Ternyata dia masuk kuliah tanpa izin dari aku? " ucap Batin Ammar yang kecewa.


"Hmmm.... bos itu.... hmmmm? " ucap Roy ragu.


"Hhmmmm... Apa..? yang jelas,,,! saya tidak mau kamu bertele tele" ucap Ammar penasaran.


" Nyonyah Aini,,, sedang sakit demam bos, tapi di paksakan masuk untuk kuliah" ucap Roy menjelaskan.


"Appaaa....? astagfirullah kenapa kamu baru lapor ke saya ?" ucap Ammar kesal.


Bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kampus Falkutas dengan perasaan cemas. Roy yang betusaha menenangkan kekawatiran Ammar hanya kena omelan terus di saat pertama nya bekerja.


Fakultas Hukum....

__ADS_1


Roy memakirkan mobilnya di halaman Falkutas hukum, dan menynggu perintah selanjutnya.


Ammar yang merasa kecewa dengan sikap istrinya meembuatnya kesal, Ammar segera menghubungi Sarah dan menanyakan keberadaan Aini.


Setelah mata kuliah yang Aini ambil trlah usai, Aini di minta oleh Sarah untuk mengikutinya. Aini tau pasti Ammar menjemput nya dan sudah ada di halaman falkutas hukum.


" Silahkan non" ucap Sarah yang membukakan pintu mobil belakang yang sudah ada yang menunggunya di dalam.


Aini tersenyum ke Sarah sebagai ucapan tanda terimakasih, walaupun senyumannya tertutup oleh cadar.


" Assalamualaikum mas" ucap Aini lemas yang mencium tangan Ammar.


" Jalan " ucap dingin Ammar yang mengabaikan salam dari Aini.


" Assalamualaikum..?" ucap Aini yang sedikit memaksakan suaranya agar terdengar oleh Ammar, namun di jawab oleh Roy Assisten Ammar.


" Waalaikumsalam nyah" ucap Roy tersenyum dan melihat istri majikannya. Ammar melirik tak suka dengan senyum assistennya ke istrinya


Ammar lanjut mengutak atik ponselnya tanpa membalas salam Aini dari ucapannya, hanya di dalam hati Ammar menjawab salam.


" Astagfirullah, hukum nya wajib bagi seorang muslim menjawab salam, apalagi dari istrinya. " ucap pelan Aini yang merasa panas di tubuhnya.


" Assalamualaikum mas" ucap Aini yang sekali lagi memberi salam ke Ammar, mengambil ponsel Ammar dan memegang pipi Ammar dengan ke dua tangannya lalu tatapan ke duanya bertemu.


Mata Aini semakin meredup saat Ammar melihat matanya.


Bruukkk...


Aini terjatuh kepelukan dada Ammar, Ammar panik dan menyentuh kening istrinya. Begitu panas dan langsung mendekap nya dalam pelukannya


" Sayang..? sayyangggg..? Astagfirullah, Roy cepat kita kerumah sakit sekarang..! " panik Ammar yang memeluk Aini.


" Enn,,, gak mau, gak mau ke Rs. cukup minum obat aja... " ucap Aini pelan yang masih setengah sadar di pelukan Ammar.


"Lagi sakit, tetap aja keras kepala, Roy panggil dokter Odi ke rumah suruh bawa assisten perempuan." ucap Ammar.


" Baik bos" ucap Roy.


Beberapa menit kemudian, Ammar mengendong Aini sampai di kamarnya dan membaringkannya dengan pelan pelan.


" Bik tolong Ambilkan kompres ya" ucap Ammar.


Bik Nuni mengambilkan air kompresan untuk Aini, dengan rasa panik bercampur rasa bersalahnya karena tidak mencegah Aini untuk ke kampus.


" Keluar dulu bik, nanti kalau dokter Odi datang suruh tunggu. saya mau ngompres Aini dulu" ucap Ammar.


" Baik tuan. " Ucap Bik Nuni.


Ammar membuka cadar dan kerudung Aini, membuka kancing baju di dadanya dan mengompres seluruh badan Aini. dan memakaikannya lagi sebelum dokter Odi masuk kedalam.


" Maaf" ucap lemas Aini yang masih tertutup kelopak matanya dan memegang tangan Ammar yang mengompres keningnya.


Ammar hanya ter senyum mendengarnya, mengelus pipi Aini dengan lembut.


"Maaf kak Al,,, Maafin Nur yang gak bisa nepatin janji Nur ke kakak buat jadi pengantin wanita kakak" ucap lemas Aini yang masih di dengar Ammar.


Dengan rasa kecewa Ammar melepaskan tangannya dari Aini dengan sedikit kasar.


" Ckk... Al..? heh..! " ucap Ammar berdiri dan keluar dari kamar Aini


Ammar melihat dokter Odi sudah datang bersama Assisten nya. dokter Odi pun memeriksa Aini tapi lagi lagi Ammar menyuruh untuk Asisten nya saja yang melakukan kontak fisik dengan Aini.


" Gimana..? " tanya Ammar.


" Aini hanya terkena demam biasa, sudah di pasang infusa sebentar lagi juga membaik. dan ini obat obatnya. jangan lupa di minum." ucap dokter Odi.


" Thanks.." ucap Ammar dingin


" Ck,,, ya sudah saya pulang dulu" ucap Dokter Odi.


" Tunggu..! " ucap Ammar.


" Apa lagi..? " ucap Odi kesal dengan Ammar yang sudah di anggepnya adiknya. karena dokter Odi adalah dokter keluarga Ammar. dan lebih tua dari Ammar.


" Minta nomor Dokter Inggit." ucap Ammar.


" Hmmm... Ammar Ammar. " ucap Odi yang mengirim nomor Dokter Inggit ke Ammar.


" Udah..? "


" Ya sudah, Thanks" ucap Ammar datar.


Hari pun mulai Gelap, Aini masih tertidur di atas kasurnya sedangkan Ammar tertidur di sampingnya.

__ADS_1


Suara mobil Nabila pun terpakir di depan rumah.


" Assalamualaikum bik? " salam Nabila ke Bik Nuni yang membukakan pintu.


" Waalaikumussalam nyah"


" Bang Ammar udah pulang bik? " ucap Nabila.


" Sudah nyah, sekarang lagi tidur di kamar Nyonya Aini" ucap Bik Nuni.


" Loh, Bang Ammar tau kalau Aini lagi sakit? bibik yang memberi tahu..? kan saya sudah bilang bik...!" ucap Kecewa Nabila karena tidak mau sampai Ammar tahu kalau Aini sedang sakit.


Nabila menaiki tangga dan masuj ke kamar Aini tanpa mengetuk pintu، dengan rasa cemburunya Nabila mengecek suhu Aini dengan tanganya.


" Udah gak panas,, lebay banget pake infusan. " ucap Nabila.


" Bang..? " ucap Nabila lembut membelai pipi Ammar.


" Astagfirullah,,, " Ammar pun terbangun karena sentuhan Nabila.


" Maaf kalau Nabila membangunkan Abang, abang lebih baik tidur di kamar Nabila saja, kasian Aini takut terganggu, lagian gak bagus juga buat abang, bukannya Nabila melarang atau apa,, hanya saja Nabila gak mau sampai Abang juga jatuh sakit karena merawat Aini. "


" Gak apa apa, kan memang sudah jadi tanggung jawab abang sebagai suami. "


" Ya tapi kan bang,,, ada Nabila, biar Nabila yang jaga Aini. " ucap paksa Nabila agar Ammar tidak mengurus Aini yang sedang sakit.


" Terimakasih ya, sudah mau peduli pada Aini," ucap Ammar yang memegang pundak Nabila.


" Sudah jadi kewajiban Nabila membantu suami bang, " ucap Nabila manja.


Aini yang sudah terbangun dari tadi hanya bisa menahan cemburu mendengar mereka berdua melontarkan kata kata perhatian anatara suami istri.


" Oh ya bang. Nabila mau ngomong sama Abang di luar,,, bisa? " ajak Nabila yang menarik tangan Ammar untuk segera bangun dan keluar dari kamar Aini.


Setelah mereka keluar, Aini langsung meneteskan air mata mencabut selang infusnya.


"Astagfirullah, kenapa sesakit ini, mendengar mereka saling melontarkan perhatian satu sama lain" ucap Aini menangis pelan.


" Apakah mas merasakan sakit seperti ini saat tau tentang hubungan aku dan Rey..? " ucap dalam hati Aini.


Aini pun bangun dan menuju kamar mandi, setelah selesai Aini keluar dari kamar mandi dan melihat Ammar sudah ada di tempat tidurnya sedang mengutak atij laptop nya.


Dengan cuek Aini mengambil baju untuk di ganti, karena baju yang dia pakai sudah lengket dengan keringat yang banyak akibat sakit.


Aini hendak masuk lagi ke kamar mandi tapi Ammar menarik tangan Aini hingga berbalik ke hadapan Ammar.


" Mau ngapain..? " tanya Ammar dengan suara dingin.


" Mau ganti baju" ucap Aini yang masih suara pelan.


" Biar aku bantu" ucap Ammar datar.


" Gak perlu, aku bisa sendiri" ucap pelan Aini sambil berbalik membelakangi Ammar, tapi Ammar membalikan lagi badan Aini hingga mereka berdua begitu dekat.


" Mas... " ucap Pelan Aini dengan sedikit mendorong Ammar.


Ammar semakin mendekat hingga Aini mentok ke dinding, dengan mengambil nafas panjang Aini menatap Ammar. mengalah mencari tau mau suaminya apa.


"Kenapa infusannya di lepas..? " tanya Ammar yang mendekatkan wajahnya ke Aini hendak mencium bibir Aini.


" Udah sembuh" jawab singkat Aini sambil mendorong pelan Ammar.


Ammar tertawa pelan melihat reaksi istrinya.


" Apa kamu masih mencintainya? " tanya Ammar yang sudah tak tahan ingin tau perasaan istrinya.


" Mas.. !" ucap Aini. Ammar membalikan badan dan membelakangi Aini sambil telak pinggang saat Aini menekan kata panggilan untuknya.


" Apa mas juga mencintai Nabila..? " balas Aini yang ingin tau juga perasaan suaminya terhadap madunya.


Ammar tertawa pelan dan berbalik menghadap Aini kembali.


" Aku tanya sama kamu, kamu malah balik tanya,,, kamu sendiri kan yang nyuruh mas buat menikahinya, sekarang kamu sendiri yang kawatir tentang perasaan mas ke dia" ucap Ammar sedikit marah.


Aini terdiam saat Ammar berkata seperti itu ke dirinya, Aini tak dapat di pungkiri lagi kalau dia merasa sakit bila Ammar memberikan perhatian ke Nabila walaupun hanya secuil.


Perasaan yang sulit diartikan ketika Aini sedang berada di puncak asmaranya dengan Ammar suaminya, dimana tak mau ada yang menganggu hubungan cinta mereka, berbagi kemesraan hanya berdua, menikmati manisnya pengantin baru hanya berdua tapi Aini harus berbagi cinta asmaranya yang sedang bermekar dengan orang ke tiga.


Itu lah yang Aini rasakan saat ini. pikiran nya, hatinya, kesehatanya menjadi kacau saat batin belum siap menerimanya secara langsung.


Mereka berdua saling cinta tak mau berbagi cinta, tapi mereka berdua belum bisa saling memahami ke egoisan mereka masing masing.


Bersambung,,,,

__ADS_1


__ADS_2