Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 62. You're Amazing


__ADS_3

Setelah puas menjahili istrinya, Ammar memakai baju koko, sarung dan peci yang sudah di siapkan oleh Aini untuk pergi ke masjid terdekat. Aini memilih untuk keluar menyelamatkan detak jantungnya yang tidak beraturan saat Ammar memaksa tangan Aini untuk memyentuh perut Ammar yang Sixpack.


Aini melangkah ke dapur untuk membantu para asisten nya yang ingin memasak makan malam, walaupun masakan asistennya tidak kalah jauh enaknya dari masakan Aini, tapi tetap saja Aini ingin turun tangan sendiri dalam mengurus segala keperluan Ammar.


Seperti halnya, memasak, mencuci pakaian suami dan lain sebagainya. Karena itu adalah ladang pahala bagi seorang istri untuk melayani kebutuhan suami selain kebutuhan biologisnya.


" Alhamdulillah, sudah selesai. Bibik tolong panggilakan yang lain nya ya? Aini mau ke atas dulu. Mau sholat isya dulu bi. " ucap Aini yang meletakan celemeknya.


" Baik non. " saut si bibik.


Di masjid.


Setelah selesai sholat berjamaah Ammar hendak keluar dari masjid, tapi di panggil oleh pak Mulyo salah satu warga yang ikut berjamaah.


"Assalamualaikum," salam Mulyo pada Ammar yang mau keluar dari pintu masjid.


"Waalaikumussalam," balas Ammar berjabat tangan dengan pak Mulyo.


"Maaf sebelumnya, saya Mulyo warga sini, kalau boleh tau adek ini siapa namanya"


"Oh, saya Ammar pak" Sambil tersenyum ke arah Mulyo.


"Oh, dek Ammar, boleh minta waktunya sebentar? pak Ustad ingin bertemu sama dek Ammar. " Mulyo yang mempersilahkan Ammar untuk masuk lagi bertemu pak ustad.


"Oh iya pak," Ammar melangkah kan kakinya masuk ke dalam masjid kembali.


"Assalamualaikum Pak ustad, ini dek Ammar nya yang menjadi imam sholat tadi." Mulyo memperkenalkan Ammar kepada pak ustad.


"Assalamualaikum Ustad" Salam Ammar yang mencium tangan ustad yang lebih tua dari Ammar.


" Waalaikumussalam wr. wb" balas salam dari ustad.


"Ah dek Ammar, ini Pak ustad di daerah sini, namanya Ustad Sobri. Beliau ingin tau siapa yang mengumandangkan Adzan dengan merdu serta menjadi Imam sholat, karena pak ustad baru melihat wajah dek Ammar disini."


" Ah, saya orang baru di sini, saya cucu mantu nenek Hanum, Suami Nur Aini, kebetulan saya dan istri saya sedang menginap di rumah nenek Hanum." Ammar yang sudah duduk di samping pak ustad Sobiri.


"Ooooohhh... Suaminya dek Aini," ucap para warga yang hanya sisa tiga orang di dalam masjid.


"Aini anak almh, bu Ratna," ucap tiga orang yang masih bingung.


"Ya, saya tau bukanya Aini suaminya si Reyzal anak pak Ghozali? " ucap salah satu warga yang membuat Ammar langsung tersenyum kaku.


"Sstt.!" ucap Mulyo.


"Sudah, kita gak tau, karena rezeki, mati, maupun jodoh itu di tangan Allah swt. kita boleh berencana tapi Allah yang menentukannya, kita sebagai manusia hanya bisa menerima takdir yang sudah di tentukan oleh Allah, dan hanya Do'a lah yang bisa mengubah takdir" Nasihat dari Ustad Sobiri dengan suara ciri khas yang sudah tua.


"Betul itu pak" Mulyo yang membela Ammar, Ammar yang mendengar ucapan warga dan Nasihat dari sang ustad hanya bisa diam dan tersenyum tipis.


"Nah, dek Ammar bapak sangat kagum mendengar suara Adzan dari dek Ammar yang merdu. bisa membuat seisi masjid sampai penuh keluar. oleh warga yang berdatangan dari luar Rt untuk ikut sholat Isya berjamaah di masjid kita ini. kalau bapak boleh tau, dek Ammar lulusan dari pondok mana? " tebakan ustad yang tepat ke Ammar.


"Alhamdulillah apabila suara Adzan saya bisa membuat warga pada berdatangan untuk bisa melaksanakan sholat berjamaah, saya hanya lulusan pondok pesantren Gunxxx di daerah kota xxx ustad. "


" Ma sya allah, saya kira dari Kairo."


" Ya cita cita saya memang ingin melanjutkan kesana, tapi saya gak tega meninggalkan ibu sendiri di sini, setelah bapak gak ada, saya gak mau sampai ibu saya sendirian ustad"


"Ya, kamu benar benar anak yang sholeh, patut di tiru, ibu mu pasti bangga punya anak seperti kamu, begitu juga dengan Aini pasti bangga punya suami seperti kamu. "


"Kenapa gak tinggal sama saudara adik atau kakak dek Ammar, jadi dek Ammar bisa melanjutkan kuliah di Kairo? "


"Saya sebagi naluri seorang anak gak tega meninggalkan ibu bersama saudara, karena menurut saya. Merawat ibu saya lebih penting dari pada meninggalkan ibu saya demi mengejar cita cita saya."


"Ma sya allah," ucap para warga.


Pak ustad dan para warga saling berbincang dengan Ammar, dan tak terasa hari semakin malam.

__ADS_1


"Ya, sudah kalau gitu, kapan kapan kita lanjut lagi pembicaraan kita. mari dek Ammar. " ucap Pak ustad yang mengajak Ammar keluar bersamaan.


Setelah berbincang sama pak ustad dan juga warga lainnya, Ammar pulang barsama, dan saat sampai di pintu gerbang rumah Nenek Hanum tiba tiba sebuah mobil baru tiba dan seorang karyawan sorum mobil keluar untuk bertanya kepada Ammar.


"Permisi bang, maaf apa benar ini rumah Hanum Khoirunisa? " ucap kurir yang membuat warga melirik ke arah Ammar.


"Ya benar, " saut Ammar.


"Ini ada paket mobil baru, atas nama Nur Aini,"


"Mobil baru? Aini beli mobil baru? kok gak bilang sama aku sih?" ucap Ammar dalam hati sambil mengecek surat yang di sodorkan oleh kurirnya.


"Atas nama Nur Aini, penerima mobil baru, pengirim Reyzal? " ucap Ammar yang membaca berkas dari kurir


" Maaf bang, salah alamat disini kaga ada yang namanya Nur Aini. ada juga Nur Izah. "


"Loh katanya benar, ini rumah Hanum Khairunisa" bingung kurirnya. yang membuat warga terbawa sambil berjalan arah pulang meninggalkan Ammar dan kurir.


"Salah denger kali, banyak namanya Nur, kalau di sini ada nya Nur Izah. mungkin beda block bang, nah ini salah blocknya, blok 6 ini, itu tulisannya blok 9."


"Oh, ya sudah makasi ya bang," ucap kurir yang pergi meninggalkan Ammar.


"Gimana? benar gak? "


" Salah Yo, salah blok kita, puter balik "


" Loh gimana si? katanya tadi ini blok 9."


"Dah jalan aja dulu, cepet.! takut kemaleman pulangnya." ucap kurir yang menancapkan gasnya.


Sambil membuka gerbang, Ammar masuk dengan terus beristigfar dalam hati.


"Assalamualaikum"


" Waalaikumussalam," Aini yang menyambut suaminya dengan lembut.


"Sudah pada tidur, kelamaan nunggu mas pulang, jadi Aini nyuruh nenek dan Sarah makan duluan, abis itu pada tidur."


"Maaf tadi mas, ngobrol dulu sama pak ustad, trus Kenzo tidur dimana?" Selidik Ammar.


"Sama Sarah, sekarang dia udah berubah profesinya sebagai baby sister Kenzo" Aini tersenyum menjelaskan ke Ammar.


"Oh," ucap Ammar yang langsung mencium istrinya bertubi tubi.


"Mas,?" Aini yang risih di ciumi di segala arah di wajahnya.


"Mas kangen"


"Makan dulu," Aini yang mencubit hidung Ammar, membuat Ammar meluluh dan mengikutinya.


Setelah makan Aini dan Ammar masuk ke dalam kamar, Aini yang ingin bergegas mengganti baju. mendapat pesan dari Nabila.


"Assalamualaikum Aini, maaf bila mba ngirim pesan ke kamu malam malam. Aini, mba minta tolong sama kamu, mba butuh abang Ammar malam ini juga, soalnya papih sudah ada di rumah. "


" Mba juga minta tolong sama kamu, untuk semingguan ini kalau bisa jangan ke rumah dulu ya? soalnya papi mau nginep di sini kurang lebih semingguan."iya


"Aini, mba minta tolong banget sama kamu ya, buat bang Ammar pulang malam ini juga, dan kalau bisa selama seminggu biar bang Ammar sama saya dulu, bisa kan? "


Raut wajah Aini langsung berubah seketika, saat senang Ammar menginap bersamanya malam ini, tapi harus merelakan suaminya pergi malam ini.


" Sayang, ko ngelamun? pake baju ini ya..." Ammar yang mengambilkan baju dinas malam milik Aini untuk di pakainnya.


Aini langsung tersadar dan mengambil baju pilihan Ammar sambil tersenyum dan bergegas masuk ke kamar mandi. Sebelum Aini keluar, Aini sempat membalas pesan Nabila.


Ceklek... pintu kamar mandi terbuka, Ammar yang tidak sabar melihat penampilan istri tercintanya yang solehot, tersenyum senang sambil menyenderkan kepala dengan kedua tanganya dengan posisi sudah siap tiduran di atas kasur.

__ADS_1


Aini yang keluar dengan malu malu, menambah kesan manis dan mengemaskan di mata Ammar. Aini mulai naik di atas tubuh Ammar yang sudah di berikan arah oleh Ammar untuk naik ke atasnya.


Aini menundukan kepalanya agar bisa memulai aksinya dengan lembut, perlahan Aini mulai mengambil inisiatif sendiri untuk bisa menggoda suaminya.


Ammar yang sudah kalang kabut akibat permainan istrinya yang tidak seperti biasanya, kini membalikan posisinya berada di atas Aini.


Tapi Aini belum puas meluncurkan aksinya, Aini tidak mau kalah untuk bangun dan duduk di pangkuan Ammar, Ammar yang kualahan mengimbangi permainan istrinya hanya bisa pasrah di hadapan Aini.


"You're amazing, baby." Rancau Ammar di telinga Aini saat Ammar di buat kualahan oleh aksi istrinya.


"Now, baby. Now.! please" rancau Ammar yang sudah tidak tahan, karena Aini begitu ahli malam ini.


Entah apa yang Ammar rasakan yang pasti Ammar tau bahwa malam ini Aini begitu berbeda, begitu agresif tapi Ammar menyukainya. Mereka berdua menyelami manisnya cinta


Sejam kemudian, permainan mereka usai, saat Ammar membaca doa dalam hati,


"Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah”.


Artinya:


Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh).


Ammar tumbang di samping Aini, mengecup kening Aini dengan lembut sambil membaca.


"Alhamdu lillaahi Lladzii Khalaqa Minal Maa I Basyaraa"


Artinya:


“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan.”


Saat Ammar mengecup keningnya, saat itu pula air mata Aini terjatuh.


"Mas? malam ini pulang lah, mba Nabila sudah menunggu mas pulang dari tadi, maaf bila Aini telat bilang ke mas" Aini mengusap air matanya saat Ammar membalikan tubuhnya.


"Apa ini alesan mu?" kesal Ammar mendengar ucapan Aini, Ammar yang merasakan hal yang berbeda kini terjawab sudah.


" Maaf Aini gak bermaksud menyinggung perasaan mas, tapi mba Nabila sudah menunggu mas pulang dari tadi,"


Ammar bangun dan mengajak Aini untuk pulang bersamanya tapi Aini hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak.


"Mas mau pulang, asalkan kamu juga ikut pulang sama mas, "


"Pulang lah mas, Aini gak bisa ikut mas pulang"


"Kenapa? "


"Karena papi sudah menunggu mas pulang, "


"Nabila kirim pesan ke kamu?" tanya Amnar sambil mengambil ponsel di meja rias, tidak lupa menutup Mr. King nya dengan selimut yang di lilit di pinggangnya.


Ammar membaca pesan dari Nabila dan melempar ponsel Aini ke kasur, Ammar pergi untuk mandi, yang bergantian dengan Aini.


"Mas marah? " tanya Aini yang mengantar suaminya sampai di bagasi mobil, tapi Ammar masih terdiam


"Maafin Aini, kalau mas marah karena Aini menahan Mas Ammar untuk pulang"ucap Aini yang menangis.


"Sudah jangan nangis. mas hanya kecewa, karena kamu menyetujuhi permintaan Nabila, walaupun kamu setuju apa yang disuruh Nabila, tapi tidak berlaku bagi mas" Ammar yang langsung memeluk Aini saat tau istrinya menangis.


"Mas pulang dulu, dua hari lagi mas jemput, mas gak mau kamu menolak saat mas jemput kamu. ok"


" Iya, hati hati di jalan mas, "


"Setelah mas jemput, mas mau seperti tadi lagi ya? " ucap Ammar yang mengecup bibir Aini dan masuk kedalam mobil.


Aini tersipu malu saat Ammar mengingatkan aksinya yang dia lakukan terhadap suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2