Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 127. Rencana menikah Roy


__ADS_3

Samar-samar Gabriel mendengar suara yang begitu berisik membuat dirinya tersadar dari tidurnya. Terasa berat di kepala dan begitu sakit yang dia rasakan saat pergelangan tanganya dia gerakan.


"Emm ... aauu!" Gabriel melihat selang infusan yang berada di sampingnya.


"Hai, sudah bangun! Gimana, apa ada yang masih sakit?" tanya Roy yang menghampiri sang Gadis.


"Om," ucap Gabriel dengan lirih. Namun, mampu di dengar oleh Ammar dan juga Aini.


Aini dan Ammar langsung menahan tawanya saat mendengar calon istri Roy memanggil calon suaminya dengan sebutan Om.


"Ahh, gak kuat! Mau keluar dulu."Ammar langsung tertawa terbahak-bahak karena asistennya di panggil Om oleh calon istrinya sendiri.


Sial batin Roy yang mengetahui Atasannya sedang mengejek dirinnya begitu senang.


"Ehhmm, hai!" Aini mulai menghilangkan rasa tawanya dan mendekat ke arah Gabriel.


Gabriel tersenyum lemah saat Aini mendekatinya dengan ramah. Gabriel melirik ke arah Roy untuk meminta penjelasan kepada Roy.


"Ah, dia Nyonyah Aini, Istri Bos O-aku!" Roy menjawab pertanyaan dari lirikan Gabriel.


"Saya Aini, kamu bisa panggil saya kakak, Oh iya. Ini saya bawakan buah kesukaan kamu, kata Roy kamu sangat suka buah Apel?" Aini menaruh semua buah di atas piring.


"Biar saya saja, Nyah." Roy langsung merebut piring dan sekantung buah dari tangan Aini.


"Terima kasih, Kak," ucap Gabriel masih dengan nada yang lemah.


"Sama-sama," Aini duduk di bangku yang di sediakan Roy.


"Gimana? Masih sakit?" tanya Aini.


Gabriel terdiam sejenak, hanya buliran air mata yang menetes lalu memalingka. wajahnya untuk menutupi rasa sedih di relung hatinya.


Perasaan yang tidak enak saat Gabriel enggan untuk bercerita, Aini memberikan kode kepada Roy untuk memberikan waktu berdua dengan Gadis belia tersebut.


"Ehhem!" Aini memberikan sorot mata yang tajam kepada Roy.


"Nyonyah, haus?" Roy yang begitu tidak peka dengan situasi saat ini.


"Ihhs, iya saya haus, tolong belikan saya minuman di ujung jalan sana!" printah Aini dengan ketus.


"Loh, minuman apa, Nyah? Kan di sini juga tersedia berbagai minuman." Roy membuka isi kulkas mini yang berada tidak jauh dari Aini.


"Astagfirullah, Roy! Kamu ini ...." Emosi Aini saat Roy tidak mengerti maksud dirinya.


"Eh, iya. Ngerti, Nyah!" melihat Istri Bosnya sudah marah, Roy baru melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Gabriel tertawa melihat tingkah Roy dan Aini, melupakan sejenak rasa sakit yang ada di pergelangan tangannya.


"Sekarang hanya ada Kakak, kamu gak usah takut lagi untuk bercerita sama Kakak." Aini mengelus rambut Gabriel penuh perhatian, memembuat Gabriel meneteskan air matanya.


"Hai, jangan nangis! Ada aku di sini, kamu bisa mengeluarkan segala masalahmu padaku." Aini mengusap air mata Gabriel.


Merasa dirinya mendapat perhatian dari orang lain, Gabriel menceritakan semuanya kenapa Aini, kenapa dirinya bisa mengambil tindakan bodoh untuk mengakhiri hidupnya.


Rasa impati pada diri Aini, mengalir begitu saja, saat mendengar semua yang sudah di alami oleh Gabriel.


"Sudah, ada Kakak di sini. Jangan takut dan merasa sendiri lagi." Aini memeluk Gabriel dan mengusap pundaknya.


"Terima kasih, kak." Gabriel tersenyum ke arah Aini.


"Apakah kamu mau, buah?" tanya Aini kepada Gabriel. Gadis itu pun mengangguk sebagai tanda mau.


Perasaan bahagia dan terharu saat melihat orang yang baru di kenal begitu perhatian dan peduli terhadapnya. Membuat Gabriel bangkit dari rasa keterpurukannya.


Selesai mengupas dan memotong buah apel, Aini menyuapi Gabriel dengan kasih sayang. Gabriel merasa nyaman dengan Aini yang sekarang mulai menjadi Kakaknya.


"Gab, boleh Kakak bicara serius sama, kamu? Mungkin ini sedikit mendadak dan terlalu cepat, tapi ... Kakak harus bilang sama kamu."


"Hal serius apa, Kak?" tanya Gabriel yang penasaran.


"Kakak mau, kamu secepatnya menikah dengan, Roy!"


"Karena ini demi kebaikan kamu, karena Kakak sayang dan peduli sama kamu, Kaka mau melindungi kamu sabagai wanita dengan cara menikah dengan Roy!"


"Dia hanya terobsesi dengan tubuhku, Kak. Aku gak mau menikah dengannya, karena, aku, tau. Di hati, Om Roy, itu masih ada, Kak Ulfa!" Gabriel meneteskan air matanya.


"Hai, gak baik bicara seperti itu. Roy bukan tipe seperti itu, karena Kakak mengenalnya. Kakak melihat ada ketulusan dan cinta di mata Roy untuk, kamu." Aini memberikan segelas air hangat kepada Gabriel.


"Terima kasih, Kak." Gabriel meminumnannya dan menyerahkan kembali gelas kepada Aini.


"Sama-sama, jadi? Apa kamu juga mencintai, Roy?" tanya Aini yang melanjutkan percakapannya.


"Entahlah, Kak. Gabriel hanya merasa nyaman berada di dekat Om Roy, tapi ... Gabriel masih mencintai Nico. Lagian juga dengan status Gabriel yang sudah tidak perawan, mana mau Om Roy menerima aku sebagai istrinya." Gabriel kembali menjatuhkan air matanya.


"Hai, gak boleh bicara seperti itu, gak baik! Kakak tau, berat bagi kamu menerima pernikahan ini, apalagi kamu masih sekolah, ditambah kamu mengalami hal seperti ini, tapi Kakak yakin kok, Insyaallah Roy bisa menjadi imam yang baik buat kamu." Aini mencoba meyakinkan pada diri Gabriel agar mau bersedia menikah dengan Roy.


"Tapi, Kak ...."


"Gak usah, tapi. Ini juga demi kebaikan kamu, percaya sama Kakak, Roy itu suka sama kamu, dia mau menerima kamu apa adanya, Kakak rasa, kamu juga memiliki perasaan sama Roy." Aini mencolek hidung Gabriel yang tersipu malu.


"Hmmm," ucap Gabriel yang masih menyimpan rasa takutnya.

__ADS_1


"Sudah tenang saja, kalau Roy yang menyakiti kamu, kamu bisa laporan sama Kakak." Aini memeluk Gabriel yang sudah di anggapnya sebagai adiknya agar yakin dengan ucapan dirinya.


"Ya, Gabriel mau menikah dengan Om Roy." Gabriel mengangguk sabagai setuju dengan keputusan Aini.


"Alhamdulillah, ya sudah ... sekarang kamu fokus jaga kesehatan dan fokus sekolah. Biar semua Kakak yang atur." Aini ikut senang mendengar jawaban dari Gabriel, setidaknya Gabriel dan Roy bisa terhindar dari maksiat lebih dalam lagi.


🍀


"Kapan kamu akan melamar Gabriel?" tanya Ammar.


"Kemarin saya sudah melamarnya, Bos." Roy berterus terang kepada Ammar.


"Maksud saya, ke keluarganya!" Ammar meperjelas pertanyaannya.


"Iya, sudah." Roy duduk tepat di samping kursi roda Ammar.


"Wah ... gercep juga ya! Ah iya daun muda." Ammar masih terus menyindir Roy. Namun, Roy memasang wajah kekecewaaanya.


"Kenapa? Kecewa? Mau batalin?" tanya Ammar yang mengerti maksud Roy saat calon istrinya sudah di lecehkan oleh Nico.


"Entahlah, Bos!" Roy mengepal tanganya sendiri dengan kecang saat menahan emosinya ketika mengingat bagaimana Gabriel di perlakukan oleh Nico.


"Istigfar! Apa kamu yakin Nico sudah merenggutnya?" tanya Ammar mengerti apa yang Roy rasakan.


"Apa kamu mau meninggalkannya saat tau hal itu?" timpal Ammar kembali ketika Roy tidak menjawab pertanyaan Ammar.


"Kalau kamu menikahinya karena sesuatu yang di miliki Gabriel, kamu salah!" Ammar menepuk punggung Roy dan berlalu menuju arah kantin.


Mendengar ucapan dari Bosnya, Roy tersadar, mencoba Ikhlas menerima apapun ke adaan Gabriel dan menyusul Ammar yang sudah menjauh dari dirinya.


"Maaf, Bos!" Roy berhasil mengejar Ammar dan mendorong kursi roda Ammar.


"Apa kamu sudah menyiapkan langkah selanjutnya?" tanya Ammar yang sudah berada di kantin rumah sakit.


"Baru lima puluh persen, Bos." Roy mengambilkan sebuah minuman dan menyerahkan kepada Ammar.


"Oke, kalau gitu ... lusa akad nikah!" Ammar langsung menenggak sebotol minuman dari Roy.


"Brruff! Asataga, Bos gak salah?" Roy menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya ke arah depan.


"Roy!" geram Ammar yang melihat tingkah konyol Roy.


"Maaf, Bos! Maaf!" Roy mengelap baju kemeja Ammar yang terkena semburan dari Roy.


"Bang, Ammar?" ucap lirih seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari Ammar dan Roy.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2