
Perasaan Rey menjadi tidak menentu, ketika dia mencoba menapik semua rasa kecewanya. Dia berusaha untuk kembali ke akal sehatnya, tidak mungkin hatinya tertarik dengan wanita malam yang baru saja dia temui.
"Astagfirullah," hanya kalimat itu yang terus Rey ucap selama perjalanan pulang kembali ke hotel.
Rey hampir lupa akan kedua orang tuanya yang akan kembali ke Ibu kota pagi ini, dia mencoba menambah kecepatannya hingga sampai di sebuah Hotel Praabu, dia masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya sembari mengucapkan salam dan di jawab oleh kedua orangtuanya.
"Ya ampun, dari mana ... pagi-pagi udah kelayapan?" tanya Bunda Ismi.
"Abis liat proyek, Bun." Rey langsung membanting tubuhnya di atas kasur.
"Gimana hasilnya?" tanya sang Ayah yang memakai jasnya.
"Baru 60 persen, Yah!" Rey mencoba menghapus wajah sang wanita dari pikirannya saat Izul mengajaknya bicara.
"Ya sudah, kalau sudah jadi. Baru kamu balik lagi ke Bandung." Ayah mengajak istrinya untuk keluar, ketika dia sudah selesai.
"Serius, yah?" tanya Rey yang semangat bila dia harus lebih lama lagi di kota tersebut.
"Loh, semangat banget, Rey?" tanya Ismi yang curiga.
"Semangat lah, kan bentar lagi dapet bonus dari ayah," kilah Rey yang merasa malu, sembari mengantarkan orang tuanya sampai ke lobby utama
Mereka juga bertemu dengan Aini dan Ammar yang sudah menunggu mereka bersama Zidan dan istrinya, Ammar mengucapkan terima kasih kepada Zidan selaku pemilik hotel yang sudah melayaninya dengan sangat baik, selama dia menginap di hotel tersebut.
Zidan merasa tersanjung dengan pujian dari Ammar, dia meminta maaf ketidak nyamananya atas nama Abizar. Ammar tersenyum dan mencoba untuk tidak memperpanjang masalah.
"Loh, Aa gak ikut pulang?" tanya Aini kepada Rey.
"Dia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu disini," jawab sang ayah yang menjawab putrinya.
"Hai, jagoan dan peri cantik, Om. Jangan kangen ya." Rey mencium pipi kedua bayi Aini dengan gemas.
"Proyek apa? Proyek ngejar wanita yang tadi subuh?" tebak Aini tertawa, mengetahui kejadian tadi subuh bersama Ammar.
"Kok kamu tahu sih, dek?" Rey tertawa ketika dirinya terciduk.
"Gimana gak tahu, loe aja ampe nungguin di depan toil—”
__ADS_1
Rey langsung membekap mulut Ammar sembari tertawa garing, dia melihat ke arah orang tuanya yang sedang memperhatikan tingkah dia, termasuk pemilik hotel.
"Dah, langsung jalan sana ... nanti terjebak macet kalau kesiangan." Rey melepas dekapan dari mulut Ammar dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Maaf bang, darurat ... masih rahasia," bisik Rey langsung ketika dia mendapat tatapan sinis dari Ammar.
Orang tua Rey tidak mengerti akan tingkah anaknya yang aneh dan belum menyadari maksud perkataan Ammar dan Aini, mereka pun langsung berpamitan kepada pemilik hotel, yang sudah mau ikut mengantar mereka sampai di depan hotel miliknya.
Setelah mobil orang tuanya dan sang ipar pergi, Rey menghubungi Abizar, dia meminta bantuan untuk mengecek daftar tamu semalam. Namun, Abizar menolaknya karena dia ingin mengajukan barter pada Rey.
Abizar ingin mendapatkan informasi lebih lengkap soal Aini, Rey pun menarik napas panjangnya dan berpikir sejenak sebelum dia menyetujui sebagai jawabannya.
Senyum terlukis di wajah Abizar saat permintaanya disetujui oleh Rey, dia segera datang menemui sahabat yang lebih tua darinya, membantu mencari informasi tentang wanita yang semalam Rey temui.
"Namanya Rara? Bukannya Jasmine?" ucap Rey pada dirinya sendiri ketika sudah mendapat informasi tentang wanita tersebut.
"Emang kenapa si? Jangan bilang loe mau nyewa tuh cewek?" tebak Abizar saat mereka berada di ruangan khusus untuk mengetahui informasi daftar tamu.
"Boleh juga ide, loe!" Rey langsung menyetujui ide Abizar yang terbilang cukup konyol.
"Astagfirullah, insap Bang! Gue cuma bercanda." Abizar terpaku mendengar ucapan dari Rey.
Abizar mendengar semua cerita Rey dengan serius, dia tidak percaya dengan apa yang sudah sahabatnya katakan, dia mencoba untuk membantu Rey untuk menemukan kebenaran tersebut.
Hati Rey terus penasaran dengan sosok wanita yang sudah membuatnya tertarik dengan pribadi Jasmine yang begitu Sholeha ketika menjadi guru mengaji pada anak-anak, dirinya terus menampik bahwa hati sudah tertarik pada sosok wanita penghibur.
***
Malam hari.
Sebuah mobil Panjero terparkir sempurna dihalaman club malam yang menjadi tempat kerja Jasmine di malam hari, Rey meneteskan air mata ketika rasa sesak di dadanya mencekik leher dengan sangat kencang, saat dia melihat begitu cantiknya Jasmine membuka aurat demi uang.
"Sabar ... loe tahu sendiri kan, tidak ada seorang manusia yang ingin menjerumuskan dirinya sendiri kalau tidak karena terpaksa!" ucap Abizar yang menepuk pundak sahabatnya.
"Siapa tahu dia terpaksa melakukan hal tersebut, atau mungkin dia dipaksa oleh seseorang untuk melakukan hal keji itu, sampai dia mau menjalankan yang dibenci oleh Allah." Abizar melihat Jasmine bersama teman-temannya yang masuk ke dalam club malam tersebut dari dalam mobil.
"Loe udah menghubungi Mami Lala?" tanya Rey.
__ADS_1
"Loe yakin, mau booking tiga malam?" tanya Abizar yang sekali lagi menyadarkan Rey dari tindakan konyolnya.
Rey ingin memastikan hatinya, dan ingin melihat dengan mata kepala dia sendiri, saat Jasmine merayu pria yang tidur dengannya. Rey pun berencana untuk membooking Jasmine atau biasa dipanggil Rara selama semalam.
Melalui Mami Lala, Rey meminta Abizar untuk menghubungi mucikaari tersebut untuk membuat kesepakatan. Kesepakan itu sudah di setujui oleh Mami Lala agar bisa langsung datang ke lokasi untuk bertemu dengan Rara.
"Nih pakai, buat jaga-jaga!" Abizar memasang kulit sintetis pada tubuh Rey, agar dirinya tidak bisa tersentuh oleh wanita yang bukan muhrimnya.
Usai mempersiapkan mental, Rey langsung keluar dari dalam mobilnya bersama Abizar. Mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah disepakati sebelumnya.
Mereka berdua masuk ke dalam sebuah club malam, melihat suasana lampu berkedap-kedip membuat mata mereka terkejut, alunan musik dengan irama jedag-jedug membuat jantung kedua pemuda itu ikut berdegup kencang, telinga mereka belum beradaptasi dengan musik yang begitu keras, karena ini pertama kali untuk kedua pemuda alim itu menginjakan kaki mereka di tepat tersebut.
Rey dan Abizar disambut oleh salah satu anak buah muciikari itu untuk bertemu dengan Mami Lala, perlahan langkah kaki mereka masuk kesebuah ruangan khusus dan bertemu dengan Mami Lala yang berpenampilan seksi dan montok.
"Hai, ya ampun ... udah lama ya nunggunya?" tanya Mami Lala yang menghampiri Rey dan mencium pipi kiri dan kanan.
Rey hanya terdiam mendapat ciuman dari Mami Lala, seorang transgender yang dikenal sebagi mucikarri. Namun, pada saat Mami Lala ingin mencium Abizar, pemuda itu justru menghindar.
"Iiish ... somsenya," ucap Mami Lala.
Mereka pun disuruh duduk dan menunggu Rara untuk keluar, tidak membutuhkan waktu yang lama, Rara keluar dan berdiri di samping Mami Lala, irama jantung Rey terus berpacu hebat saat Rara perlahan keluar dengan penampilan yang cukup memukau kaum Adam. Rey langsung memalingkan wajahnya saat dia melihat Rara begitu cantik.
Begitu juga dengan Abizar, dia selalu menunduk selama berada di dalam ruangan tersebut, tidak berani untuk mendongak sedikitpun.
"Rara, ini Pak Jamil. Dia yang akan menjadi pelanggan baru kita, selama tiga hari. Layani dia dengan puas ya ... berikan Service terbaik. Oke!" ucap Mami Lala.
"Oke, Mam." Rara menjawab ucapan Mami Lala sembari melirik ke arah Rey yang hanya menunduk.
"Ya sudah kalau gitu, Pak Jamil ... selamat bersenang-senang." Mami Lala pergi bersama dua bodyguard dan meninggalkan mereka yang masih mematung terdiam.
"Kok bengong? Buruan jalan!" pinta Rara yang berdiri dihadapan Rey yang masih menundukkan pandangannya.
"Mau di sini?" tanya Rara yang membuka kancing bajunya dihadapan Rey dan Abizar.
Rey langsung membuka jaketnya, lalu memakaikan jaket kepada Rara hingga menutupi kepalanya, barulah dia menuntun Rara untuk masuk ke dalam mobilnya bersama Abizar.
"Ternyata, mau juga sama yang tepos!" ucap Rara alias Jasmine yang duduk di kursi belakang.
__ADS_1
Bersambung...