
Warning!!! Adegan dalam episode ini mengandung unsur BERBAHAYA yang TIDAK patut untuk ditiru!!!!
Mohon readers bijak dalam membaca khusunya bagi readers yang masih duduk di bangku sekolah!
Perasaan bersalah terus menghantui Ammar, dia keluar dari kamarnya dan mencari tahu maksud ucapan Aini yang membuatnya susah untuk dimengerti oleh dirinya. Ammar menghampiri Roy yang masih setia menunggu bosnya untuk keluar dari kamar.
"Ponsel!" perintah Ammar dengan nada dingin sembari membelakangi Roy.
Tanpa merasa bersalah, Roy menyerahkan ponselnya kepada Ammar. Roy melihat reaksi raut wajah Ammar yang mulai mengeluarkan tanduk dari atas kepalanya ketika melihat ponselnya.
"Apakah Aini pernah meminjam ponselmu?" tanya Ammar dengan dingin.
"Ee-emm, i-itu ... i-iya Bos," ucap Roy dengan gugup.
Ammar langsung membuang napas kasarnya saat kecurigaannya benar, dia langsung menanyakan soal ucapan Aini kepada Roy yang membuatnya bingung dan tidak mengerti.
Setelah mendapat jawaban dari asistennya dan itu juga Roy mendapatkan jawaban dari Gabriel, Ammar menyuruh Roy untuk tetap menginap karena malam semakin larut. Sebelum itu, Ammar telah memerintahkan kepada Roy untuk melaporkan pencemaran nama baik istrinya.
Ammar pun bergegas masuk kedalam kamar setelah semua urusannya selesai dengan Roy, dia memeluk Aini sembari mencumbui sang istri dengan mesra, sehingga membuat sang empu terbangun dan merasakan geli di sekujur tubuhnya.
"Mas, Aini ngantuk." Aini menepis wajah Ammar dengan lembut.
"Mas harus berbuat apa supaya kamu mau maafin Mas?" Ammar menangis memeluk Aini dengan erat.
"Jujur sama aku, apakah Nabila lebih penting daripada aku?" Aini melepaskan pelukan Ammar dan berbalik melihat mata Ammar yang sudah basah akibat menangis.
"Mas sudah bilang sama kamu, Nabila itu cuma adik gak lebih, apa masih kurang selama ini? Mas sudah buktikan bahwa Mas gak pernah tidur sama Nabila," ucap Ammar dengan lirih.
"Mas aku tanya sama kamu, apakah dia lebih penting dari aku? Kamu selalu jawab cuman adik, cuman adik! Aku benci sama sifat Mas yang seperti ini." Aini bangun dari tidur tapi Ammar menahannya.
"Astagfirullah, maaf! Oke, Mas janji bila sikap Mas buat kamu marah. Mas akan berubah." Ammar menahan tangan Aini agar tidak pergi dari kamarnya.
"Gak perlu! Jika mas berubah karena terpaksa agar buat aku tidak marah, mending gak usah." Aini mencoba melepaskan cengkraman dari sang suami.
__ADS_1
"Aini! Apa kamu tahu, bahwa aku berhutang nyawa sama abangnya Nabila?" Ammar mencoba berbicara jujur kepada istrinya.
"Apa maksud kamu? Jangan pernah mencari alasan, apalagi membawa-bawa orang untuk menjadi alasannya," ucap Aini dengan posisi tangan yang masih digenggam oleh Ammar.
"No! Ini bukan alasan, Mas pernah berjanji dan dititipkan amanah oleh Almarhum abang Nabila, agar Mas selalu menjaga dan memberikan kasih sayang sebagai Abang kepada Nabila." Ammar menunduk dan meneteskan air matanya tanpa melepaskan tangan Aini.
"Mas hanya bisa berjanji padanya, bahwa Mas akan selalu menjaga dan menyayanginya sebagai adik. Karena itu yang dititipkan oleh Almarhum kepada Mas." Ammar menangis dalam dekapan Aini.
"Apa yang membuat mas harus menepati janji seperti itu?" tanya Aini yang mengelus lembut kepala Ammar.
"Karena ... Almarhum yang melindungi Mas saat pisau belati itu ingin menusuk kearah Mas, Almarhum terus memasang badannya untuk melindungi Mas, agar Mas tidak terkena senjata tajam atau pukulan dan tendangan yang diberikan secara terus menerus oleh siswa sekolah lain yang menjadi lawan sekolah Mas dulu." Ammar mencoba menceritakan kepada Aini tantang masa lalunya.
"Astagfirullah." Aini terus memberikan pelukan hangat kepada suaminya saat Ammar menceritakan yang sebenarnya.
Flashback On.
Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai dan semua murid berhamburan keluar dari dalam kelas, Ammar dan Faris yang berniat untuk langsung pulang ke rumah, diurungkan nya karena Faris meminta Ammar untuk menemaninya membelikan sebuah buku yang dipesan oleh Nabila.
Ammar begitu kagum dengan sahabatnya yang begitu perhatian dan peduli dengan kedua adiknya, seakan Faris membuktikan bahwa kedua adiknya tidak merasakan sedih akibat korban broken home dari kedua orang tuanya.
"Wah Ris, gue rasa nanti, kalau Nabila ada yang lamar pasti susah dapet restu dari loe," ucap canda Ammar saat melihat Faris membelikan buku kesukaan Nabila begitu banyak.
"Gak segalak itu kali gue, kalau calon suami adek gue, lo mah ... bakalan gue restuin." Faris tertawa saat candanya membuat Ammar terdiam.
"Kayanya ... adek gue, kaga masuk daftar tipe calon istri lo, ya?" Faris membayar semua buku-buku yang dia belikan untuk kedua adiknya.
"Hanya Allah yang tahu Ris, kalau gue bilang gak masuk daftar istri gue, siapa tahu kedepannya malah adek loe yang jadi istri gue," sahut Ammar dengan nada datar.
"Dah lah, jangan dibahas lagi. Jodoh, rezeki, hidup dan mati hanya Allah yang tahu." Faris membuka pintu toko dan menuju tempat parkiran motor.
"Langsung balik?" tanya Ammar yang menyalahkan mesin motor sportnya.
"Yoi dong," sahut Faris ketika dirinya sudah menjalankan motor sportnya perlahan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian motor yang mereka laju masuk dan berbaur kedalam jalan raya yang begitu senggang, hingga akhirnya mereka di berhentikan oleh teman-teman mereka yang masih satu sekolah untuk turun dari motornya agar tidak melewati jalan mereka lalui.
Tidak berapa lama kemudian, ucapan dari teman-temannya terbukti benar, sekelompok siswa dari sekolah lain, sudah menyerang terlebih dahulu menggunakan batu sehingga batu itu terkena salah satu kepala teman Faris hingga berdarah.
Faris pun turun berniat membantu menyelamatkan temanya, tapi pada saat Faris ingin membawa temannya yang terluka, tiba-tiba dari belakang Ammar sudah melindungi Faris ketika serangan oleh lawan.
Ammar yang mencoba melindungi Faris dari pengeroyokan, berhasil menyerang lawan dan membuat satu persatu lawannya terjatuh.
"Anjeng, bang sat loe!" siswa lain mengeroyok teman-teman dari satu sekolah dengan Ammar secara membabi buta.
Lawan yang begitu banyak dari sekolah lain membuat siswa dari sekolah Ammar menjadi korban tawuran, termasuk dirinya dan juga Faris.
Melihat beladiri dari Ammar yang begitu pintar, membuat lawan berencana untuk menusuk Ammar dari belakang dengan berbagai senjata tajam, tapi aksi itu diketahui oleh Faris. Saat musuh ingin menusuk perut Ammar, Faris sudah berlari ke arah Ammar untuk melindunginya.
"Ammar, awas!" teriak Faris, tapi Ammar tidak mendengar teriakan dari sahabatnya. Akhirnya Faris berlari menghampiri Ammar dia menendang pisau belati dari tangan musuh hingga pisau itu berhasil terjatuh.
Faris pun mendapat serangan tidak terduga dari lawannya yang mengeroyok Faris secara bersamaan, hingga Faris terjatuh dan diserang oleh lawan yang begitu banyak. Ammar yang melihat Faris dikeroyok oleh lima orang langsung menendang satu persatu dan memasang badan untuk Faris, sehingga Ammar yang mendapat pukulan bertubi-tubi dari musuhnya.
Ketika Faris melihat sebuah benda tajam yang diayunkan oleh lawan kearah punggung Ammar, Faris langsung berbalik badan dan mendapat tusukan di punggungnya secara bertubi-tubi hingga dar ah keluar dari mulut Faris dan muncrat mengenai wajah Ammar yang berada di bawahnya.
"Astagfirullah, Faris!" Ammar hendak bangun dan mendorong Faris, tapi sahabatnya melarang untuk tidak bergerak, sehingga Faris mendapat pukulan dan tendangan dari musuh-musuhnya.
"Jangan bergerak, bersabarlah sampai polisi datang!" ucap Faris dengan suara yang lirih menahan rasa sakit yang begitu teramat dalam.
Ammar langsung meneteskan air matanya dia terus memandang raut wajah sahabatnya yang begitu banyak keluar keringat akibat menahan sakit yang dicampur darah yang keluar dari kepalanya.
Begitu jelas dimata Ammar saat Faris memohon kepada Ammar agar menggantikan dia menjaga dan menyayangi Nabila seperti yang selalu dia kasih untuk Nabila.
Tidak lama polisi pun datang dan menangkap para siswa yang ikut dalam tawuran yang mengakibatkan sejumlah korban yang begitu banyak termasuk Faris sahabat Ammar.
Flashback Off.
Bersambung...
__ADS_1