
"Maaf bila ibu menanyakan ini, apa kamu dan Nabila sudah tidur bersama? apa Nabila juga sudah hamil?" timpal Ainun.
Deg.
Sekali lagi perih itu tiba tiba muncul menggores hati Aini. Aini yang tidak mau mendengar jawaban dari Ammar yang akan membuatnya tambah sakit, memilih untuk balik ke kamar.
"Belum bu, sampai saat ini Ammar belum menyentuh Nabila bu,"
"Katanya cinta, tapi belum sentuh,"
"Ammar masih ragu bu, sama perasaan Ammar. Jujur Ammar tidak mencintai Nabila bu, tapi... Ammar tidak mau membuatnya sedih terus terusan karena menikah dengan Ammar bu, Ammar juga sayang sama Nabila bu tapi rasa sayang Ammar ke Aini dan Nabila berbeda bu." Ammar yang berterus terang ke Ainun.
"Ya sudah, ibu hanya bisa memberikan saran sama kamu, kamu harus memberikan keputusan secepatnya nak, sebelum kedua keluarga merasa sangat kecewa pada kita. Ibu nda mau sampai itu terjadi, ibu malu nak sama alm bapak mu."
"Ya bu, ibu tenang saja."
"Ya sudah kamu antar susunya, nanti keburu dingin. mumpung masih hangat."
"Ya bu,"
Ammar bergegas masuk ke dalam kamar, melihat Aini sudah tertidur. Ammar membenarkan selimutnya yang terbuka dan mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Maafkan mas, bila kamu harus merasakan sakit, bila harus rela mas membagi cinta ini untuk kamu dan Nabila."
**********
Perumahan Pondok Indah, Jakarta selatan.
"Brengsek! berani sekali kamu Jhon menyuruh anggota mafia mu untuk memukuli keponakan kamu sendiri!" marah Robbet pada Jhon lewat ponselnya.
"Apa yang kaka bicarakan? aku tidak mengerti maksud kakak, mafia? memukul Aini?" terkejut Jhon atas tuduhan Robbet abangnya.
"Tidak usah pura pura tidak tau kau Jhon, Lihat saja. Aku akan menyeret kasus ini ke kantor polisi."
"Demi Tuhan kak aku gak ngerti sama sekali! aku hanya memerintahan anak buah ku untuk mencari Monica di sana, dan sampai saat ini aku belum mendapat kabar tentangnya. hanya itu." Jujur Jhon kepada abangnya.
"Awas kalau sampai aku mengetahui kamu terlibat dalam pengeroyokan anak ku, jangan harap aku dan mommy masih menganggap mu ada!" ucap Robbet mematikan sambungan di ponselnya.
__ADS_1
Masih dengan amarahnya Robbet terhadap adiknya kini Robbet mendapat kabar dari assistennya mengenai Ammar dan juga Nabila.
"Sudah ku duga," ucap Robbet yang mengepalkan tanganya karena kecewa terhadap menantunya.
Robbet memerintahkan anak buahnya untuk menjemput Aini, tanpa sepengetahuan Ammar.
"Siap bos" ucap orang suruhan Robbet yang menjalankan perintah dari bosnya.
"Robbet, mommy tidak setuju dengan keputusan mu memisahkan Aini dan Ammar! inget Robbet putri mu sedang mengandung! dan kondisi putri mu belum sehat betul" ucap Grandma yang mengetahui rencana Robbet.
"Tapi mom, Ammar sudah menyakiti anak ku, dia menikah lagi! tapa sepengetahuan kita mom, dan Robbet tidak tinggal diam saat Aini sakit dan menangis, karena... karena..."
"Karena apa?!"
"Karena kalau sampai Aini terus terusan menangis yang berlebihan, Aini akan merasaakan sakit yang luar bisa di kepalanya mom. Dan itu... efek dari kecelakan Aini waktu di Prancis mom, apalagi Aini sedang hamil, Robbet gak mau kehilangaanya mom." Ucap Robbet.
"Apa! jadi selama ini kamu menutupi rahasia Aini dari mommy, iya! "
"Maafin Robbet mom, Robbet hanya tidak mau buat mommy kepikiran tentang Aini."
Plakkk
"Itu untuk kamu yang sudah membohongi mommy! mommy setuju tentang keputusan kamu membawa Aini menjauh dari Ammar untuk sementara, ingat sementara... Tapi, setelah acara syukuran Aini selesai dan itu di adakan 3 bulan lagi."
"Kenapa sementara mom? kenapa harus menunggu 3 bulan?"
"Aini masih tahap pemulihan Robbet, kamu lupa, dia sedang mengandung dua calon cucu mu! dua bukan satu, itu berarti Aini harus Extra dalam kesehatannya!"
"Baik mom."
"Satu lagi, cepat seret orang yang berani mengeroyok cucu mommy secepatnya! mommy gak mau terulang lagi saat kejadian yang menabrak Aini kita hanya duduk diam tanpa bertindak! "
"Walaupun itu si Jhon dalangnya mommy?"
"Iya! mommy tidak akan kasih kesempatan kali ini!"
"Baik mommy!"
__ADS_1
**********
Apartments Frans.
Frans yang habis di rawat akibat pengeroyokan di jalan raya secara memb*bi buta, akhirnya pulang dengan kondisi sudah membaik, walupun masih terdapat jaitan di bawahnya akibat pukulan.
Tok tok tok.
"Masuk bik"
"Nyonyah, itu... itu... tuan... itu... " ucap Bibik yang terbatah batah.
"Itu apa sih bik?"
"Itu...Tuan... nyonyah"
"Tuan kenapa? yang jelas bik, saya bukannya orang yang bisa membaca bicara orang gagap."
"Tuan sudah pulang, dia ada... " belum selesai bibik bicara, Veby sudah bangkit dari tempat tidurnya dan segera menemui Frans di kamarnya.
Perasaan di hati Veby yang seperti keredok tercampur menjadi satu, antara kesal, kecewa, tapi merindukan suami bulenya.
Brak!
Suara pintu terbuka dengan kasar, membuat Kevin yang sedang menganti perban ke Frans terkejut.
"Eh ooonyoonnn!" teriak Kevin terkejut hal hasil perban yang ingin di tempel ke luka Frans malah nemplok di mata Frans.
"Ya tuhan Veby.!" Frans yang ikut kaget dan mendapat serangan dari Kevin.
"Ya tuhan... bulle! loe kenapa bisa bonyok begini muka loe?" ucap Veby kembali kasar saat ada Kevin di sebelah Frans.
Veby masuk dan melihat seluruh area wajah Frans penuh jahitan, di kening, pelilpis mata dan di sudut bibir. Veby tanpa sadar menetesakan air matanya.
Sedangkan Frans yang melihat mata Kevin terus fokus ke arah tubuh Veby yang begitu seksi bin bahenol langsung menendang kaki Kevin dengan kesar.
"Aauuwww..." Kevin tersadar dari pikiran kotornya langsung melihat ke arah Frans yang sudah menatap tajam dan menyuruhnya untuk segera keluar.
__ADS_1
"Hai sudah jangan nangis, maafkan aku" ucap Frans yang mengelap lembut air mata Veby.
Bersambung...