
"Nabila, please! Jangan buat Abang menjadi nekat melukai kamu!" Ammar meminta pengertian Nabila dengan memegang kedua tangan Nabila.
"Oke! Nabila sudah memutuskan, Nabila akan izinkan Abang untuk bersama Aini, tapi dengan satu syarat! " Nabila menatap nanar mata Ammar.
"Syarat?"
"Iya, kalau Abang setuju dengan syarat Nabila. Nabila janji akan merelakan Abang untuk Aini." Nabila memegang wajah Ammar dengan lembut.
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya, izinkan Nabila untuk menjalankan tugas Nabila sebagai istri Abang!"
"Apa?"
"Waktunya sebulan! Selama sebulan, Nabila mau kita sebagai pasangan normal yang romantis seperti pasangan lainnya, Abang harus mencium Nabila sebelum atau sesudah pulang kerja, setiap pulang kerja Nabila mau Abang harus membelikan Nabila bunga mawar. Pergi berkencan setiap seminggu sekali selama sebulan. Dan yang terakhir, setelah selama sebulan abang menjalankan itu semua. Nabila mau menjalankan tugas Nabila yang pertama dan yang terakhirnya untuk Abang." Nabila menangis tampa melihat Ammar.
Mendengar permintaan Nabila, mungkin saja Ammar sanggupi. Akan tetapi, untuk permintaan yang yerakhir Ammar tidak bisa berjanji untuk menjalankan haknya sebagai suami.
"Apakah sesulit itu?" tanya Nabila kembali saat tau Ammar tidak mengatakan satu kata pun setelah mendengar syarat dari Nabila.
"Oke, Abang setuju!" ucap Ammar agar masalahnya cepat selasai.
Nabila tersenyum senang saat Ammar mengatakan setujuh dengan syarat yang di ajukannya.
__________
Seminggu kemudian.
Kemang, Jakarta selatan.
Ammar sudah menjalankan persyaratan yang di ajukan oleh Nabila selama seminggu. Ibu Ainun yang melihat ke anehan terhadap sikap Ammar hanya bisa menunggu waktu yeng tepat untuk meminta penjelasan dari Ammar.
"Bang, menurut Abang. Tasnya yang hitam atau yang putih?" Nabila meminta pendapat dari Ammar.
"Yang mana saja." jawab Ammar jutek sambil memainkan ponselnya.
Nabila hanya tersenyum getir saat mendengar jawaban dari Ammar. Nabila yang tahu selama seminggu ini walaupun Ammar menyutujui permintaanya tapi hati nya terpaksa menjalankannya.
"Ok kalau begitu yang hitam saja," ucap Nabila yang tidak terlalu memikirkannya.
"Abang, hayo!" Nabila yang semangat untuk pergi berkencan dengan Ammar.
"Bu, kami pamit dulu ya." Ammar mencium tangan Ainun.
"Hati-hati di jalan," ucap Ainun yang mengusap rambut Ammar.
"Ya bu, assalamualaikum." Ammar bergegas masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumussalam," ucap Ainun.
Selama perjalanan Nabila begitu senang karena ini pertama kalinya mereka pergi berkencan dalam sebulan, sedangkan Ammar yang hanya fokus menyetir tidak menghiraukan Nabila yang selalu memposting statusnya di dunia maya.
__ADS_1
Selama kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat wisata yang mereka kunjungi. di mana tempatnya yang begitu sejuk, asri dan indah.
Lereng Anteng, tempat wisata yang Nabila dan Ammar kunjungi dimana disana Nabila menikmati pemandangan sambil menikmati kuliner makanan ciri khas sana.
sumber foto by google.
"Bang, Nabila mau ketoilet dulu ya," ucap Nabila yang pergi ke dari tempatnya yang hanya di anggukan oleh Ammar.
Ketika Nabila sudah pergi, Ammar langsung memanggil Roy untuk mendekat ke arahnya hanya dengan satu jarinya. Ternyata Roy setia mengikuti ke mana Bosnya pergi.
"Mana hasil laporannya?" ucap Ammar yang masih sibuk mengurus pekerjaannya di saat hari libur berwisata dengan Nabila.
"Ini, Bos." Roy memberikan benda pipi yang besar.
"Perhatikan Nabila, kalau sudah datang!" perintah Ammar kepada Roy yang sedang mengecek hasil kerja lembur Roy.
Ammar tersenyum dengan hasil kerja Roy yang cukup memuaskan, Sesuai dengan rencana Ammar sebentar lagi baik itu perusahaan maupun Aini, Ammar akan mendapakannya kembali. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk semuanya kembali normal.
Ammar memberikan laporannya kembali kepada Roy. Roy pun duduk kembali ketempatnnya.
"Hari libur harus kerja juga?" tanya Ulfa ke Roy ketika Roy masuk lagi kedalam tenda.
"Iya mau gimana lagi, harus mengejar target!"
"Target? Target apa?" tanya Ulfa bingung.
Pruuuffftt!
Semburan air minum dari mulut Ulfa meluncur tepat di wajah Roy. Roy yang sedang mengetik di laptopnya, langsung mematung menatap ke arah Ulfa dengan wajah dingin.
Hug, Hug, Hug. Batuk Ulfa ketika mendengar ucapan dari Roy.
"Ma'af, ma'af ... Sengaja gue ... Eh, maksudnya gak sengaja!" Ulfa mengelap wajah Roy dengan tisu.
"Udah jangan melotot melulu ... Kan gue udah minta ma'af! Ulfa yang masih mengelap wajah Roy dengan sangat kasar.
"Lagian gue bingung sama bos loe tuh, Aini lagi ngilang bukannya nyariin malah enak enakan sama madunya." Ulfa yang duduk kembali, tiba tiba Roy memperlihatkan laporan pencarian Aini kepada Ulfa.
"Ya seharusnya kalau dia gak cinta ngapain coba masih bertahan sama madunya, tinggal bilang cerai apa susahnya sih? Suami kok gak tegas banget," ucap Ulfa yang kesal sama Ammar.
"Ulfa! Tidak segampang itu suami mengatakan cera-cere, cera-cere, terhadap istrinya!" lagi lagi Roy menjelasakan seakan membela Ammar.
"Ya seharusnya yang adil dan tegas dong! Kalau gak bisa cerai! Jangan egois jadi suami!" ucap Ulfa yang ngegas.
"Seadil-adilnya manusia tidak akan pernah bisa seadil Tuhan, Ulfa!" Roy yang kembali menjelaskan kepada Ulfa.
"Loe tuh ya ... Belain aja terus Bos loe! Berapa si loe di gajih sama dia?" Kesal UlFa kepepada Roy yang begitu setia dengan Ammar.
"Emang enak! Rasain akibat menyakiti hati istri yang sholeha, apalagi sedang hamil. Makanya teguran cepet lewat rezeki seret! " timpal Ulfa yang memberi tahu kepada Roy.
__ADS_1
"Astagfirullah, Ulfa! Sudah, dari pada kesal sendiri, mending habiskan makanan kamu!" Roy terus berfokus ke laptopnya.
"Gimana gue gak kesel coba sama bos loe, Aini kan Best Friend gue! Jelas lah gue sebagai sahabatnya marah! Marah banget malah! Istri lagi hamil bukannya di pehatiin malah si nenek sihir yang di manja! Kayanya takut banget sama Nabila." Ulfa terus berbicara tanpa henti
"Kamu tuh yah, nyerocos mulu kaya bebek! Pak Ammar itu punya alesan sendiri kenapa dia tidak langsung menceraikan Nabila, dan kenapa selalu melindungi Nabila! Bukannya takut! " Roy yang kesal dengan gebetannya yang bawel.
"Kenapa emang?" Kepo Ulfa.
"Mau tau?" Tanya Roy jail.
"Apaan?" Ulfa yang penasaran langsung mendekat ke arah Roy yang sudah memberikan kode dengan jari telunjuknya agar wajah Ulfa mendekat ke arah Roy.
Ulfa pun memasang kuping lebar lebar di saat Roy memajukan wajahnya untuk berbisik kepadanya, pada saat Ulfa sudah siap mendengarkan ucapan Roy. Roy malah meniup kuping Ulfa dengan kencang.
Huuufffhhh!
"Roy!" teriak Ulfa langsung memukul lengan Roy. Roy tertawa melihat Ulfa kesal.
Sementara di sisi lainnya.
"Bang, bagaimana kalau kita menginap saja di penginapan sekitar sini?" Nabila yang berusaha mengajak Ammar.
"Gak bisa, Abang ada jadwal metting besok pagi!" Ammar mencari alesan agar nanti mereka bisa lansung pulang ke rumah.
"Ya sudah, kita pulang!" Nabila memasang wajah cemberutnya.
Selama berjalan menuju parkiran mobil, Nabila terus menggengam erat tangan Ammar seakan todak mau lepas dari sang suami, Ulfa yang melihat kemesraan mereka ber dua menjadi kesal dan meremas botol kosong hingga remuk.
"Cemburu?" tanya Roy yang mengkodekan tangannya agar bisa bergandengan dengan Ulfa.
"Ogah!" Ulfa berjalan duluan sengaja menabrak bahu Nabila dengan sekidit kencang membuat tas Nabila terjatuh.
"Aaauuwwwh!" Nabila merasakan sakit di bahunya karena di tabrak oleh Ulfa.
"Eh, maaf Kak. Gak liat jalan tadi, lagi buru buru soalnya!" Ulfa berniat mengambil tas Nabila yang jatuh. Namun tidak jadi, karena Ulfa beralasan ada panggilan masuk dari temannya.
"Halo loe di mana Ni?" ucap Ulfa mengangkat teleponnya.
"Oh loe udah disini? Ngapain? Ah apa? Mau ngelabrak Suami loe sama madu loe?" ucapan Ulfa sedikit berteriak membuat Ammar mengerutkan keningnya.
Roy memang sudah memberi tahu kepada Ammar tentang dirinya yang mengajak teman untuk menemani dirinya selama Ammar berkencan dengan Nabila.
Namun, Ammar tidak mengetahui bahwa Ulfa yang menjadi teman Roy dalam menemaninya berkencan dengan Nabila.
"Ya sudah, gue ikut! Kebetulan tangan gue udah gatel dari tadi mau gue remes remes tuh madu, gak tahu diri banget!"
"Loe share lok aja ya! Oke bye. " Ulfa memutuskan sambungan teleponnya, walaupun entah siapanya yang dia angkat teleponnya.
"Eh sorry ya mba sekali lagi, have fun ya ... Bye!" Ulfa yang pergi duluan meninggalkan Roy yang masih tertinggal jauh di belakang Ammar dan Nabila.
Bersambung...
__ADS_1