Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 120. Ke Gip Papih


__ADS_3

Rumah sakit khusus anak.


"Alhamdulillah, perkembangan si kembar baik. Tidak ada kendala." Dokter mencatat perkembangan setelah memberi imunisasi kepada si kembar.


"Alhamdulillah," ucap Ammar yang merasa lega.


"Bulan depan jangan lupa periksa kembali, untuk imunisasi yang ke dua." Dokter menyerahkan buku warna pink tentang catatan perkembangan si kembar.


"Terima kasih ya, Dok." Ammar mengambil buku warna Pink yang di serahkan oleh Dokter.


"Terima kasih ya, Dok," ucap Aini dengan ramah.


"Ya, sama-sama, Pak Ammar, Bu Aini. Oh iya, semoga Pak Ammar, bisa cepat sembuh seperti sedia kala." Dokter menjabat tangan Ammar.


"Terima kasih atas doanya, Dok." Ammar membalas menjabat tangan sang Dokter, lalu berjalan bersama istrinya.


Setelah pemeriksaan dan pemberian imunisasi terhadap si kembar telah usai, Ammar berencana untuk mengajak sang istri untuk makan di luar.


"Sayang, kita makan di luar saja ya? Sekalian jalan-jalan, mau?" tanya Ammar yang sudah berada di dalam mobil.


"Tapi katanya, Mas mau lanjut kerja? Setelah nganterin Aini periksain si kembar?" Aini mencoba mengingatkan pada suaminya.


"Pekerjaan Mas, sudah selesai lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Jadi, kamu tenang saja." Ammar mengusap kepala Aini dengan lembut.


"Bener, Mas?" Aini memastikannya kembali.


"Ya," ucap Ammar yang menyakinkan istrinya.


"Kalau, gitu Aini boleh belanja sekalian?" tanya Aini penuh semangat.


"Iya!" jawab Ammar singkat,


"Bener?" tanya Aini yang memincingkan matanya.


"Iya," ucap Ammar dengan senyuman.


"Sepuasnya?" Aini meraih tangan suaminya, agar mendapatkan jawaban yang di inginkannya.


"Iya," jawab Ammar dengan senyuman.


"Pake duit, Mas?" tanya Aini yang kini melihat bola mata Ammar lebih dekat.


"Iya." Ammar terus menjawab pertanyaan sang istri dengan senyuman yang menggoda.


"Serius?" tanya Aini sekali lagi untuk mastikan jawaban dari suaminya.


"Iya ... istri ku, sayang!" Ammar mengelus pipi Aini agar istrinya berhenti bertanya.


"Akkhh! Makasih, Mas." Aini langsung memeluk tubuh Ammar dengan manja lalu mencium pipinya.


"Dah, gitu doang, terima kasihnya?" tanya Ammar yang menahan kepala Aini.


"Mas, kita di mobil!" Aini menutup mulutnya agar sang suami tidak bisa mencium bibirnya.


"Kalau gitu ... nanti malam, Mas minta lebih dari ini." Ammar mengecup sekilas bibir di balik cadar Aini, membuat sang empu memasang pipi yang merah merona.


"Pak, kita ke Mall Metropolitan," ucap Ammar yang memerintahkan sang sopir.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Sopir pribadi Ammar mengangguk sebagai tanda mengerti.


---


Setibanya di Mal, semua mata tertuju oleh sosok pria yang begitu rupawan dan berkarisma, walaupun duduk di kursi roda. Namun, tidak mengubah kekaguman para kaum hawa yang terpanah akan kepesonaan yang di miliki Ammar.


"Mas, kita ke toko perlengkapan bayi dulu ya," ucap Aini mendorong kereta bayi.


"Oke!" ucap Ammar yang menyetujui permintaan istrinya.


Mereka berdua pun berjalan menghampiri sebuah toko yang penuh dengan perlengkapan bayi, begitu masuk ke dalam ruangan toko, mereka di sambut dengan hangat dan ramah.


Tanpa ragu, Aini langsung mencari perlengkapan untuk si kembar yang di dampingi oleh sang suami.


"Ihh, lucu ... beli ya, Mas!" Aini melihat sepasang baju bayi kembar yang unik.


"Pilih semua yang kamu suka," ucap Ammar yang senang melihat istrinya begitu gembira.


"Terima kasih, Abi." Aini pun melanjutkan memilih dan memasukan barang ke dalam kerajang belanjaannya.


Setelah puas berberlanja, kini mereka singgah di sebuah restoran ternama yang berada di dalam Mall tersebut, sambil menunggu pesanan yang mereka pesan datang. Ammar tidak henti-hentinya bersendau gurau dengan sang Istri dan kedua anaknya.


Para pengunjung restoran yang melihat keharmonisan rumah tangga Ammar, merasa iri dan kagum. Bagitu sangat jelas kebahagiaan terlukis di raut wajah Ammar dan Aini.


"Permisi, Tuan." Pegawai tersebut menata makanan di atas meja mereka.


"Thanks," ucap Aini tersenyum.


"Selamat menikmati." Pegawai tersebut langsung meninggalakan Aini dan Ammar untuk menikmati hidangan yang mereka buat.


"Makan yang banyak!" Ammar menukar piring yang berisi daging steak yang sudah terpotong.


"Enak?" tanya Ammar penuh perhatian.


"Enak!" ucap Aini terkejut dengan rasa yang luar biasa dari steak lainnya.


"Mas, buka mulutnya! Aaaa ...." Aini menyodorkan sebuah potongan daging ke arah mulut Ammar.


Ammar langsung membuka mulutnya. Namun, belum sempat potongan daging masuk kedalam mulutnya, suara teriakan dari belakang mengejutkan Ammar.


"Ammar!" Gunawan menghampiri meja Ammar dan Aini.


"Papih? Kenapa Papih, bisa ada di sini?" Ammar terkejut dengan kedatangan Papih Nabila.


"Seharusnya saya yang bertanya sama, kamu! Kenapa kamu asik-asikan di sini dengan wanita lain? Bukannya kamu dinas ke luar kota?" Gunawan masih menahan emosinya di depan Ammar.


"Ah, gini. Pih!" Ammar mulai bingung menjelaskan kepada Papih, karena setahu Ammar, Nabila sudah berbicara jujur kepada Papih secara perlahan.


"Gini apa? Kamu, mau bilang apa? Siapa perempuan ini, dan kenapa kamu bisa ada di sini memakai kursi roda? Terus siapa anak ini!" teriak Gunawan.


Sementara semua mata pengunjung langsung tertuju pada keributan yang terjadi di meja Ammar.


"Pih, Mas, sebaiknya kita bicara di luar, gak enak di liat sama pengujung lainnya," ucap Aini yang mencoba memberikan saran.


"Siapa kamu, seenaknya menyembut saya Papih!"


"Pih, benar apa kata, Aini. Kita bicara di luar!" Ammar mulai merasa tidak enak saat semua pengujung restoran menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak perlu! Jadi kamu, Aini? Sepupuhnya, Ammar! Kamu kan, yang datang ke acara pernikahan kakak sepupuh kamu! Dan sekarang, kamu malah asik bermesraan dengan Ammar. Memalukan!" Gunawan berteriak di depan Aini, membuat Aini hanya bisa menunduk saat dirinya di hina, di depan umum.


"Pih! Jangan berbicara kasar sama istri, Ammar!" Ammar menarik tangan Aini. Namun, Aini menepisnya lalu mendorong kereta bayinya agar bisa keluar dari restoran tersebut.


"Istri? Apa maksud kamu?" Gunawan terkejut dengan pernyataan dari mantunya.


"Iya! Dia istri Ammar! Ammar harap Papih bisa menjaga cara bicara Papih." Ammar mengeluarkan uang cas di atas meja, lalu pergi meninggalkan Gunawan beserta anak buah mertuanya.


"Ammar!" teriak Gunawan sembari memegang dada sebelah kirinya yang terasa begitu sakit.


"Bos!" teriak para anak buah Gunawan langsung sigap menolong atasannya.


---


SMK Karya Rajin.


Pukul 15 : 20


Sebuah mobil terpakir sempurna di depan gerbang sekolah, walaupun dengan penampilan yang super duper keren, Roy tetap percaya diri dengan wajahnya yang sedikit babak belur akibat ulah gadisnya.


"Gab, hari ini, kamu, jadi kan nginep di rumah, Sisil?" tanya Lara yang menyusul Gabriel berjalan ke arah gerbang sekolah.


"Hmmm, gimana ya?" Gabriel masih ragu untuk menyetujui pertanyaan dari temannya.


"Sorry, dia udah gue boking duluan." Nico langsung merangkul bahu Gabriel dengan mesra.


"Cie elah ... udah kaya Dilen sama mie lea, aja loe berdua. Iri nih yang jomblooo," ucap Sisil kesal.


"Dah, cepet merred sonoh. Awas anak orang blendung duluan," sindir Lara sambil bercanda.


"Langsung kawini aja, Nic!" sambung Sisil.


"Cue, Loe!" Gabriel mencubit pinggang kedua temannya sambil tertawa.


"A-a-mpun, Gab!" Sisil berusaha untuk lepas dari ranjau yang di berikan oleh Gabriel.


"Mau nya si gitu. Tapi, doi udah keburu meleleh duluan." Nico sambil mencubit pipi sang pujaan hatinya.


"Ih, atit!" Gabriel memasang wajah manjanya.


"Ala manja banget loe, Mak!" Sisil mengacak rambut Gabriel.


"Eh, bentar. Gue angkat telepon dulu!" Gabriel langsung melepas rangkulan dari Nico dan segera menjauh.


"Siapa si? Tumben tuh anak angkat telepon menjauh dari kita," ucap Lara curiga yang melihat Gabriel menjauh dari mereka.


Nico yang merasa cemburu terus memperhatikan tingkah kekasihnya yang sedikit menutupi sebuah rahasia.


Di lain sisi, Gabriel terpaksa mengangkat telepon dari Roy.


"Hallo?" ucap Gabriel terpaksa mengakat telepon dari Roy, karena ponsel Gabriel yang terus berdering.


"Lima menit, masuk ke dalam mobil." Suara Roy dengan nada yang dingin.


Bersambung...


Alhamdulillah, bisa up juga hari ini🤧. Maaf ya readers baru bisa up, karena kondisi author dan kelurga drop selama seminggu, 😢 alhamdulillah kondisi mulai membaik.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutan kisah Aini. maaf kalau partnya kurang feelnya. jaga kesehatan ya, untuk kalian semua. 😘


__ADS_2