Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 132. Kabar Duka


__ADS_3

Hari semakin larut, Ammar beserta keluarganya pulang setelah acara selesai. Selama perjalanan itu pula Ammar selalu memandangi wajah istrinya yang tertidur lelap di atas bahunya.


Membelai pipi yang dilapisi oleh cadar dan mencium tangan istrinya dengan penuh rasa gelisah, entah apa yang dirasakan oleh Ammar saat hatinya merasa tidak tenang dan sulit diartikan.


"Roy, kita masuk perumahan lewat jalur utara," perintah Ammar kepada asistennya.


"Baik Bos." Roy memutar lajunya ke arah Utara di mana pintu masuk perumahan begitu dekat dengan rumah Nabila.


Selang beberapa menit, mobil yang dikendarai oleh Roy, masuk ke dalam yang terdapat bendera warna kuning di gerbang utama gapura.


"Innalilahi wainailahi rojiun," ucap Roy yang melihat bendera kuning.


"Astagfirullah! Roy, belok kiri dulu," suara Ammar bergetar saat pikirannya tertuju dengan titik lokasi rumah Nabila.


Mobil berbelok ke arah yang dituju, mata Ammar langsung meneteskan air mata, hatinya bergetar saat melihat orang-orang begitu ramai berdatangan ke rumah Nabila yang terdapat bendera warna kuning.


"Stop, Roy!" Ammar menepuk bahu asistennya dengan kencang.


"Mas, kenapa?" Aini terbangun dari tidurnya saat mendengar suara Ammar begitu keras di telinganya.


Tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya, Ammar langsung membuka pintu dan menyuruh asistennya untuk membantu dia membawakan kursi roda.


Aini yang menyadari situasi disekitarnya langsung membantu Ammar untuk masuk ke dalam rumah Nabila yang sudah terdapat banyak orang yang sedang berkumpul untuk membacakan surah Yasin.


"Assalamualaikum, Nabila!" Ammar memasuki rumah dan melihat Nabila sedang menangis sembari membacakan lantunan ayat.


"Abang!" Nabila ingin bangun, tapi dicegah oleh Maminya.


"Mau apa kamu ke sini? Belum puas membuat anak saya sakit hati atas apa yang sudah kamu perbuat?" Mami Nabila mendekat ke arah Ammar dan Aini.


"Maksud Mami, apa?" tanya Ammar yang begitu heran dengan sikap Mami Nabila.


"Belum sadar? Kamu sudah membohongi anak saya dan juga membohongi kita semua!" Mami Nabila begitu geram melihat Ammar datang membawa Aini.


"Dan kamu! Pelakor yang tidak tahu diri, berani datang ke sini tanpa tahu malu." Mami Nabila menampar pipi Aini begitu keras di depan semua orang.


"Mami!" teriak Nabila yang ingin melerai kesalahpahaman kepada Aini tapi di cegah oleh adik Nabila.


"Astagfirullah, Mami! Ammar gak akan tinggal diam atas apa yang Mami lakukan pada istri, Ammar." Ammar menunjuk ke arah Mami Nabila dengan suara yang meninggi.

__ADS_1


"Silahkan, terserah kamu. Saya tidak membutuhkan rasa empati dari pelakor dan suami yang tidak tahu diri seperti kamu," usir Mami Nabila kepada Aini dan juga Ammar.


Sementara Nabila sudah menangis melihat tingkah ibunya yang begitu berani berbicara kasar dan mengusir Ammar keluar dari rumahnya. Di saat dirinya sedang berduka atas meninggalnya papi Gunawan.


"Nabila, maaf. Abang tidak bisa lama-lama." Ammar melirik Nabila dan langsung memutar roda kursinya untuk pergi dari rumah kediaman Nabila.


Roy membuka pintu mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah, Ammar yang terus mengusap pipi Aini yang sedikit membengkak akibat tamparan yang diberikan oleh mami Nabila. Merasa geram dan sedih.


"Maaf," bisik Ammar ditelinga Aini.


Aini hanya terdiam, termenung yang menyandarkan kepalanya dikaca mobil, hatinya begitu sakit saat mendapatkan hinaan yang di berikan oleh mami Nabila. Di depan semua orang, suara paru baya itu sangat kencang melontarkan hinaan bahwa dirinya adalah seorang pelakor.


Permintaan maaf dari sang suami, juga tidak di dengar oleh Aini saat hati, pikiran dan matanya kosong menatap luar kaca mobil. Beberapa menit kemudian, Roy memparkirkan mobilnya di sebuah bagasi yang berada di samping rumahnya.


Aini tidak melihat ke arah Ammar, dia langsung turun dari mobil dan bergegas untuk masuk ke dalam kamar yang berada di bawah. Tidak lupa Aini menarik tangan Gabriel saat sang gadis sudah terbangun dari tidurnya di dalam mobil.


"Kak, sepertinya ... Gabriel salah kamar," ucap Gabriel yang merasa bingung dengan sikap Aini.


"Temani Kakak tidur," ujar Aini dengan suara yang lirih.


Gabriel terkejut dengan ucapan Aini, dia menengok ke belakang dan melihat Ammar untuk meminta jawaban dari permintaan Aini. Ammar hanya bisa mengangguk sebagai tanda mengizinkan Gabriel untuk tidur dikamar bersama Aini.


"Mar?" Ainun duduk di samping anaknya.


"Eh, Ibu. Belum tidur Bu? Maaf ya Bu, lama ... Khansa dan Khan sudah tidur?" tanya Ammar dengan senyuman diwajah untuk menutupi rasa kesedihannya.


"Iya, Ibu paham kok, nak. Oh iya, kamu sudah ...." belum sempat Ainun melanjutkan ucapannya, Ammar sudah menjawab pertanyaan Ainun.


Ammar menjelaskan kepada ibunya, bahwa dirinya sudah datang ke rumah Nabila dan mengetahui bahwa papi Gunawan meninggal dunia. Ammar juga menceritakan bahwa Aini mendapat hinaan dari maminya Nabila saat mereka baru datang dan berniat untuk melihat papi yang terakhir kalinya.


"Astagfirullah, kelewatan banget itu. Ibu gak terima bila menantu ibu dihina seperti itu!" Ainun marah setelah mendengar ucapan dari anaknya.


"Tenang Bu, Ammar sudah mengurusnya." Ammar meraih tangan Ainun agar percaya pada dirinya.


"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat. Wajar sikap Aini dingin, mungkin dia membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya." Ainun mengelus pundak Ammar dengan lembut.


Ammar hanya menuruti yang diucapkan oleh sang ibu, mungkin Aini memang butuh waktu, setelah itu Ammar akan mendekat ke arahnya dan mencoba untuk mengobati rasa sakitnya.


Pagi harinya, Aini sudah bangun seperti biasanya. Menyiapkan segala keperluan anak-anaknya lalu membantu para koki rumah untuk menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Ammar yang terus memperhatikan istrinya merasa sakit melihat Aini begitu dingin terhadap dirinya, walaupun Aini begitu dekat dan terus melayani kebutuhannya tapi aura dingin begitu kentara di sekita mereka berdua.


"Kak, Gabriel nanti boleh jalan sama lara?" tanya Gabriel yang memecahkan suasana.


"Gak boleh pake, baju yang terlalu terbuka, jam tujuh malam harus ada di rumah," ucap Aini dengan ketus.


Baru kali ini Gabriel mendapatkan rasa posesif dari seorang kakak, ada rasa sedikit tidak bebas tapi ini awal Gabriel yang mulai menyukai sikap Aini sebagai kakaknya.


"Siap, bos." Gabriel menggerakan tangannya memberikan hormat kepada Aini sebagai tanda patuh dan menuruti semua permintaan dari sang kakak


"Yank," ucap Ammar yang membuka suara saat Gabriel telah selesai berbicara dengan Aini.


"Dilarang bicara saat makan," ujar Aini saat Ammar ingin mengeluarkan satu kata.


Ainun dan Gabriel hanya saling melempar tatapan lalu mereka hanya bisa menikmati sarapan pagi mereka dengan keheningan yang sunyi.


Setelah makan, Ainun memberanikan diri untuk menyampaikan kabar, bahwa dia harus pergi ke kota x hari ini untuk menemani sang adik merawat orang tuanya yang sedang sakit. Aini begitu sedih bila Ainun akan pergi dari rumah dan tidak tinggal lagi bersama mereka.


Ammar sebagai anaknya hanya bisa mengantar Ainun ke bandara dan Sarah ditugaskan untuk menjaga Ainun selama di sana, Aini yang masih tidak rela di tinggal oleh sang mertua hanya memendam rasa sedihnya.


"Antar aku pulang dulu, setelah itu ... Mas boleh ke rumah Nabila," lirih Aini saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju arah pulang ke rumah.


"Mas gak akan ke sana," ujar Ammar yang memilih menjaga perasaan istrinya.


"Astagfirullah, Mas! Biar gimanapun almarhum adalah mertua kamu." Aini melihat ke arah suaminya dengan tatapan yang tidak bisa di percaya dengan ucapan Ammar.


"Mas gak akan datang kalau gak ikut pergi sama Mas," ujar Ammar dengan tegas.


Aini lebih memilih untuk mengalah dan menuruti permintaan sang suami dari pada harus berdebat sepanjang jalan, tapi Aini memilih untuk tetap berada di dalam mobil saat Ammar ikut mengantar almarhum ke tempat peristirahatan yang terakhir.


Setelah selesai, Ammar pamit kepada Nabila dan beserta keluarga, tapi keluarga Nabila menahan Ammar agar tetap berada di samping Nabila. Ammar pun mengirim pesan kepada Roy agar menjemput Aini dan membawanya pulang ke rumah.


Tanpa menunggu lama, Roy pun menjemput Aini yang berada di dalam mobil. Roy melihat di kelopak mata Aini begitu sembab dan merah, menandakan bahwa istri atasannya tidak baik-baik saja.


"Maaf, Nyonya. Saya disuruh oleh Bos untuk mengantar anda terlebih dahulu." Roy membukakan pintu mobil untuk Aini agar bisa berpindah ke mobil satunya.


Aini mengerti maksud perkataan Roy, dia langsung berpindah ke mobil lalu mematikan ponselnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2