Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 111. Fakta Ulfa Part 2


__ADS_3

"Astagfirullah, yank ... ini serius! Ulfa teman kamu sudah menikah?" tanya Ammar yang membaca pesan group Aini.


Ammar menunjukan foto pernikahan Ulfa bersama suami Bulenya yang berasal di Turki.


"Dari tadi kan, aku udah bilang sama kamu, Mas! Kamunya aja yang masih sibuk kepo sama isi pesan aku." Aini mulai kesal dengan sikap posesif Ammar.


"Emang gak boleh? Kalau Mas liat isi pesan kamu?" tanya Ammar mulai tersinggung dengan ucapan Aini.


"Eh, kok cepat ngambeknya si? Boleh kok, sayang ku." Aini memajukan badannya ke arah Ammar dan mencium pipi suaminya.


Saat Aini mencium pipi Ammar, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar sehingga Aini langsung menjauhkan wajahnya dari sang suami.


"Permisi, Ibu Aini?" sang Suster mengatar kedua bayi Aini dengan tempat tidur bayi yang bisa berjalan.


"Bayinya sudah boleh di kasih Asi ya, Bu! Biar bayinya sehat dan Ibunya terhindar dari penyakit kanker." Suster menyerahkan bayi pertama kepada Aini di sebelah kiri, setelah itu baru menyerahkan bayi kedua di sebelah kanan.


"Baik, Sus." Aini menerima kedua bayinya dengan cara posisi yang sudah di beri arahan oleh Dokter kandungan.


"Saya tinggal ya dulu ya, Bu ... nanti saya balik lagi bawa bayinya, kalau sudah di beri Asi." Suster yang memeriksa tekanan selang infus Aini lalu pergi meninggalkan ruangan.


"Terima kasih ya, Sus," ucap Aini.


"Sini ... biar Mas, bantu bukain kancingnya." Ammar tersenyum nakal saat ingin membantu Aini membuka kancing baju.


"Mau nya." Ledek Aini dengan sudut mata yang melirik ke arah Ammar.


"Dah ... mimi yang banyak ya, anak-anak Abi." Ammar terus memperhatikan gerak-gerik mulut sang bayi yang mencari putting milk.


"Bisa gak?" tanya Ammar kepada sang bayinya yang mencari pucuk kenyal milik sang Ibu.


Aini menahan tawanya saat melihat Ammar mengarahkan pucuk benda kenyal ke arah mulut sang bayi, agar bisa di hisap dengan mudah.


"Aduh, Mas udah! Aini gak kuat mau ketawa," ucap Aini menahan rasa sakit diarea bekas operasi bagian perutnya.


"Dah ... pintar anak-anak, Abi." Ammar mengusap pipi bayinya saat kedua bayinya mulai menyesap benda kenyal Aini.


"Astagfirullah, Mas! Udah ... aku mau ketawa nih!" ucap Aini yang tidak kuat menahan tawanya.


"Apa sih? Mas cuma mau ngajarin kok!" tawa pelan Ammar saat melihat Aini berusaha menahan tawanya agar perutnya tidak merasakan sakit.


"Mas, Ih! Sengaja ya?" Aini gemas melihat tingkah Ammar.


"Mimi yang banyak ya, sayang! Aduh pintar anak-anak, Abi." Ammar terus mengajak bicara kepada kedua anaknya yang sedang menyusu.


Owekk, owek, owek!


Tangisan salah satu bayi yang berada di dalam dekapan Aini menangis, karena belum mendapatkan Asi dari sang Ibu.


"Hei, kenapa? Belum keluar miminya? Sini, Abi bantu pinjat ya ... biar cepat keluar!" Ammar sudah mengambil ancang-ancang untuk meremas dua buah kenyal Aini dengan senang.


"Mas, ya ampun!" Aini sudah tidak tahan mendengar celotehan Ammar kepada kedua anaknya membuat dirinya harus merasakan rasa nyeri di bagian perutnya akibat melepas tawanya.


"Ya kan. Mas cuma mau bantu, sayang ... siapa tau langsung keluar Asinya." Wajah jahil Ammar mulai terlihat di sudut bibirnya yang terlukis senyuman.

__ADS_1


Aini yang tidak bisa berbuat apa-apa saat Ammar membantu mengeluarkan Asi dengan caranya sendiri, hanya bisa menahan menahan tawanya dan menggendong kedua bayi nya.


 ------


"Bismillah." Roy sudah siap menjemput sang pujaan hati untuk bisa menjadi pelabuhan terakhir dirinya.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, doa dan harapan selalu Roy panjatkan untuk bisa di berikan kelancaran dalam segala urusan. Terutama rencana untuk memimang Ulfa sebagai Istrinya.


Setibanya pesawat di area bandara Ibu kota. Roy langsung melajutkan perjalanannya mengunakan mobil pribadi Ammar hingga sampai di sebuah kost-kostsan tempat Ulfa berada berada.


Roy berniat memberi kejutan untuk Ulfa dengan mempersiapkan bunga mawar yang ada di tangannya. Roy pun mengetuk pintu kostsan Ulfa, lama tidak ada jawaban dari sang empunya Roy pun menelepon Ulfa, tapi normor sang pujaan hati tidak aktif.



"Apa masih di kampus?" Roy mencoba menebak keberadaan Ulfa dngan instingnya.


Tanpa ada rasa ragu lagi, Roy melajukan mobilnya ke tempat Falkutas Hukum tempat kuliah Ulfa, setelah mengendarai dengan kecepatan penuh. Akhirnya Roy sampai di depan kampus pujaan hatinya.


Lama Roy menunggu di halam parkir area kampus, sampai akhirnya Roy memutuskan untuk menghampiri kelas Ulfa.


"Wish, gila! Keren juga tuh cowok." Salah satu wanita yang berbisik kepada temannya.


"Cari, siapa tuh?" jawab temannya penuh penasaran.


Tanpa perlu waktu lama, Roy bertemu dengan Ulfa yang sedang asik bersendau gurau dengan para sahabatnya.


"Ehhem!" Roy mencoba menyadarkan pujaan hati bahwa dirinya tepat di belakang Ulfa.


"Iya, bener!" Ulfa masih saja asik membahas hal lainnya tanpa menyadari temannya sudah terdiam saat kedatangan Roy tepat di belakang Ulfa.


"Asik ya, ngobrol?" Roy mencoba berdiri di samping Ulfa.


"Eh, kamu ngapain di sini?" tanya Ulfa yang baru sadar ternyata Roy sudah ada di sampingnya.


"Mau bicara sama kamu ... ikut, aku!" Roy menarik tas Ulfa tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Eh, mau kemana?" protes Ulfa yang tidak senang dengan sikap Roy yang semaunya.


"Aku mau ngomong sama, kamu!" Roy masih dengan gaya sombongnya memaksa Ulfa untuk ikut bersamanya.


"Gak, mau!" bentak Ulfa dengan kesal.


"Ikut, aku ... sebentar!" Roy menarik tas Ulfa kembali agar Ulfa bisa ikut kemana Roy pergi.


"Eh, tunggu dulu!" Ulfa mencoba menghentikan langkah Roy tapi tidak bisa.


"Ihhs, nyebelin banget si, jadi cowok!Kawan-kawan, aku duluan ya ... bye!" teriak Ulfa saat dirinya mau tidak mau, harus ikut bersama Roy.


"Hati-hati, Ul!" teriak Panda.


"Awas jatoh, Ul!" ucap Raya.


"Bae-bae di penculik, Ul." Senja melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Kalau jatoh bangun sendiri, ya!" teriak Kim dengan kencang.


"Iya, bawel!" teriak Ulfa sambil melambaikan tangannya.


--------


Parkiran mobil.


"Masuk!" perintah Roy.


"Mau kemana?" tanya Ulfa masih sabar menahan emosinya.


"Ya, udah ... masuk aja!" Roy kesal dengan sikap sang pujaan hati saat tidak mendengar perintahnya.


"Roy! Maaf, aku gak bisa ikut sama, kamu!" Ulfa menarik nafas panjangnya mencoba untuk berkata jujur tehadap Roy.


"Kenapa? Karena aku hanya asisten suami dari sahabat kamu, iya?" Roy mendekat ke arah Ulfa.


"Bu-bu-bukan gitu ... Roy!"


"Apa?" Roy semakin mendekat ke arah Ulfa.


"Aku, mohon ... jaga sikap, kamu!" Ulfa merasa risih saat Roy terus mendekat ke arahnya.


"Kenapa? Kasih aku, satu alesan." Roy mengukung Ulfa hingga mentok ke badan mobil.


Bugh!


Pukulan mendarat tepat di wajah Roy, darah berhasil keluar dari sudut bibirnya.


"Ajojing, loe!" ungkapan kasar dari mulut lelaki bule tertuju untuk Roy.


"Astagfirullah ... Altan, stop!" Ulfa menarik suaminya agar menjauh dari Roy.


"Bang sat, loe!" Roy membalas pukulan dari pria bule Turki tersebut dan berhasil membuat Altan terjatuh di pelukan Ulfa.


"Roy, please ... stop! " Ulfa langsung memeluk suaminya dengan erat di depan mata kepala Roy.


"Ulfa?" Roy mengerutkan keningnya saat melihat Ulfa memeluk pria bule itu.


Emosi Roy memuncak saat Ulfa mengusap darah yang ada di sudut bibir suaminya sambil menangis, tanpa basa-basi Roy menarik Ulfa dan masuk kedalam pelukannya.


"Roy, apaan sih, kamu ... lepasin gak!" Ulfa mulai geram dengan sikap Roy yang langsung memeluknya di hadapan suaminya.


"Ulfa!" teriak Altan yang penuh emosi saat melihat istrinya di peluk lelaki lain.


Mendengar namanya di panggil suami begitu keras, Ulfa menginjak kaki Roy, lalu berlari ke dalam pelukan suaminya.


"Ulfa?" Roy masih tidak mengerti maksud Ulfa yang memeluk lelaki yang buhkan mahromnya.


"Gue tegasin sekali lagi sama, loe ... jangan pernah, loe ketemu lagi sama Istri, gue. Ngerti, loe!" Betak Altan yang menujuk Roy dengan jarinya dan merangkul Ulfa untuk bisa masuk ke dalam mobilnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2