Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 60. Salah Target


__ADS_3

"Eh lo tau gak? hari ini kan ada kunjungan dari Istri pak Bos, " gosip salah satu karyawan wanita di dalam satu lift bersama Aini.


" Ya ela, gue juga udah tau kali, masa iya yang serame, semeriah, seromantis tadi gue gak tau, seluruh karyawan di gedung ini juga udah pada tau kaless," ucap temannya.


" Ya biasa aja dong loe... eh loe liat deh, gue gak sengaja ngerekam, gila kan? romantis banget....pake acara gelar karpet merah sama taburan kelopak bunga mawar dari lantai atas lagi. isssshh beruntung banget ya istrinya, gue juga mau kalau jadi istri ke duanya, istri sirih nya juga gak apa apa hehe,"


" Uuss gila loe, mau di pecat loe, eh tapi kan pak bos lagi metting di ruang Metting, trus... siapa yang nyambut istri pak bos? "


" Asissten pribadinya, si Roy yang guantengnya 11, 12 sama bosnya,"


Tanpa mereka sadar, di belakang mereka ada sosok wanita yang sudah memeperhatikan video yang sedang di putar di ponsel karyawan Ammar.


" Ehhheeemmm, " deheman Aini membuat kedua wanita itu terkejut.


" Maaf mba, di lantai berapa ya ruangan metting nya? saya mau mengantarkan berkas yang tertinggal, " ucap Aini menyamar.


" Di.... lantai 35 kak, kakak orang suruhanya Roy ya? " tanya karyawan Ammar, dan hanya di anggukan oleh Aini.


" Ya sudah, kebetulan kita juga mau kelantai 35 kok. ikutin kita aja. " ucap ramah karyawan Ammar.


Sampai nya di lantai 35, lift pun terbuka. Kedua karyawan Ammar pun mengantar Aini sampai di depan pintu ruangan metting.


" Sepertinya masih meting kak, duduk disinih dulu aja kak, kalau gak kirim pesan aja dulu ke Roy nya, nanti juga keluar Roy nya." saran dari wanita itu.


" Trimaksih ya, " Aini sambil duduk di bangku,


Disisi lain.


" Bos, nyonyah Aini sudah menunggu di ruangan, bos." Bisik Roy ke telinga Ammar saat ingin menutup persentasi, Ammar hanya mengangguk sebagai tanda iya.


Aini yang merasa bosan mulai berkeliling melihat isi kantor Ammar di lantai 35, yang terdapat ruang metting, dan ruang karyawan lainnya.


Tanpa Aini sadar Ammar sudah keluar dari ruangan metting dengan wajah yang ceria menuju ruangannya, karena ingin bertemu dengan istri tercintanya.


Sesampainya di dalam ruang, Ammar langsung memanggil nama romantisnya untuk Aini.


" Assalamualaikum, saaaayy.. ang, kamu sudah sampai? " terbatah Ammar saat mengucap kata Sayang, Ammar kaget melihat yang ada di ruangannya adalah Nabila memegang buket bunga mawar merah yang berukuran cukup besar.


" Waalaikumussalam, abang tau Nabila mau kesini? abang nyiapin surprise untuk Nabila saat Nabila datang? ah abanggggggg.... " Manja Nabila yang mencium bunga mawar merah dan berlari memeluk Ammar.


Ammar hanya terdiam dengan senyuman kecewanya tanpa membalas pelukan Nabila, Ammar membawa Nabila untuk duduk agar tidak merasa curiga.


" Suka? " tanya Ammar kaku. Nabila mengangguk semangat menandakan senang yang tiada terkira.


Siapa yang tidak senang dan tersentuh, saat Nabila turun dari mobil di sambut ramah oleh semua karyawan dan berjalan di karpet merah, saat masuk ke dalam kantor disambut oleh kelopak bunga mawar merah dari lantai atas, dan di berikan sebuket bunga mawar merah yang cantik.


" Tunggu di sini sebentar ya, mau minum? " Tanya Ammar sambil berdiri meninggalkan Nabila dan mengirim pesan ke Roy.


Ting pesan masuk ke ponsel Roy.


My Money Store


" kamu tau siapa yang kamu sambut tadi?!"


balas,


" Nyonyah Aini bos, gimana? nyonyah terharu kan bos, saya yakin nyonya akan klepek klepek sama bos, "


My Money Store


" Iya! dia terharu,, sangat terharuu!!!"


Balas,


" Alhdamdulilah, bagus kan ide saya bos? Bonus nya jangan lupa ya bos hehehe"


My Money Store


" Ide apaan!! bonus iler mu!!! cepat cari istri saya yang bernama Aini, priksa rekaman cctv, pastikan tidak bertemu dengan istri ke dua saya saat saya keluar dari ruangan saya. gajih kamu saya potong."

__ADS_1


Balas,


" Astagfirullah, jangan bos,,, lagian saya mana tau bos, nyanya Aini atau bukan? kan wajahnya gak kelihatan bos. "


Ting pesan gambar masuk.


My Money Store


"Ingat, langsung di hapus!!! kalau sampai kamu masih menyimpan foto istri saya, tamat dompet mu!!"


Balas,


" Baik bos."


Beberapa menit kemudian, setelah menjelaskan niat Nabila datang ke kantor untuk meminta maaf soal kejadian semalam, sambil membelikan makan siang untuk suaminya.


Nabila pun di antar oleh Ammar menuju lift pribadi, tapi malah bertemu dengan Aini yang berpapasan di jalan.


Mereka saling bertemu dan saling bertatapan, Roy yang sudah panas dingin langsung menepuk jidadnya.


Aini yang melihat Nabila mengandeng tangan suaminya sambil memegang buket mawar merah yang cantik, merasa sakit di dadanya, air matanya hampir keluar tapi sayangnya langsung di usap oleh Aini dengan cepat.


" Assalamualaikum mas, mba" salam Aini


" Waalaikumussalam," balas Nabila. Ammar hanya memegang keningnya yang tidak pusing dan menarik nafas panjang.


" Assalamualaikum mas? " Salam Aini ke dua kalinya saat Ammar tidak menjawabnya.


" Ah iya Waalaikumussalam," ucap Ammar.


" Wah sepertinya Aini datang di waktu yang tidak tepat, ya sudah kalau gitu, Aini pamit dulu, nanti saja di rumah obrolannya. " sambil membalikan badan lalu pergi naik lift lagi.


Ammar ingin mengejar nya, tapi pada saat Ammar mengantar Nabila hingga lift ke dua tertutup. Ammar pun menggunakan lift pribadinya untuk mengejar Aini.


Saat sampai di loby, Ammar melihat Nabila sudah naik mobil, tapi Ammar tidak menemukan Aini di sekitaran lobby, bahkan saat Ammar menghubungi sopir pribadi Aini, Pak Karto bilang, Aini belum masuk ke mobil.


Ammar melangkah masuk kedalam dengan senyuman lega, berjongkok dan mengusap lembut kepala Aini lalu mengecupnya dengan dalam dan penuh perasaan.


Aini langsung mendongak ke depan melihat suaminya yang ada di depan mata, lalu langsung berdiri dan menghindarinya. Saat hendak keluar dari dalam lift, Ammar mencegahnya dan memeluknya dari belakang.


" I'm sorry, please don't go away," peluk Aini dengan sangat erat.


Ammar membalikan tubuh Aini, melihat mata Aini yang lembab, Ammar langsung melahap bibir Aini di dalam lift, Aini berusaha mendorong tubuh Ammar, tapi Ammar malah mengeratkan pelukan dan ciumannya.


Ammar tau Aini tidak membalas ciumannya, sehingga Ammar mengendong tubuh Aini dan mendekapnya hingga mentok kedinding lift.


Ciumannya semakin panas, saat Ammar memaksa menyentuh benda sensitif Aini, Aini terus memberontak, membuat Ammar semakin mengila menciumnya.


Hingga akhirnya Ammar melepaskan ciumanya dan menatap penampilan Aini yang sudah di acak acak oleh Ammar dengan n*fs* nya.


Beruntung di dalam lift karyawan hanya ada Ammar dan Aini, karena Roy sudah memblokir karyawan untuk menaiki lift yang di gunakan oleh Ammar dan Aini.


Saat ciumanya berhenti, Aini ingin turun, tapi lagi lagi Ammar mengeratkan pelukanya dalam dekapan Ammar dengan posisi Aini di gendong oleh Ammar di depan menghadap Ammar.


Ammar menurunkan Aini dan terus menciuminya dengan agresif sehingga membuat suara seksi Aini keluar dari mulutnya saat Ammar terus melanjutkan aksinya dengan menyetuh segala yang ada di Aini.


Ting pintu lift terbuka tepat di lantai ruangan Ammar yang hanya di huni oleh Ammar, ruang kerja Shindy sekertaris, Siska asisten Shindy, bagian khusus karyawan dengan jumlah hanya 3 orang dan juga Roy.


Ammar langsung mengandeng tangan Aini dengan paksa dan berjalan menuju ruangan nya melewati ruangan Shindy dan yang lainya.


Semua mata termasuk Shindy yang melihat melongo saat Ammar menggandeng tangan Aini berjalan cepat memasuki ruangan Ammar dengan penampilan keduanya masih acak acakan.


Semua karyawan yang ada di situ di buat terkejut oleh penampilan bos mereka dengan wanita yang belum karyawannya tahu.


" Gila, gila, gila,, bos loe noh Sus, wah gue gak habis pikir," ucap temennya Susi yang tukan ngerumpi.


" I... it.. u, beneran bos yang lewat? ama siapa? " kaku Susi bicara


" Yang jelas ama selingkuhanya lah Sus, " ucap temennya.

__ADS_1


Bruuuugggkkkhh.... suara geprakan meja Susi dan temanya.


" Awas!! kalau sampai ada yang ngegosipin bos, dan buka mulut!!! bukan karir kalian yang tamat, tapi hidup kalian gak akan pernah tenang. " Ancam Shindy sekertaris Ammar, mereka semua terdiam dan melanjutkan kerja.


Di ruangan lain.


Setelah masuk ke dalam ruangan, Ammar langsung menutup tirai kacanya dan melanjutkan kembali yang sempat tertunda.


"Mmmpphh... mmmppp... akkhhh... mas.. " ******* Aini saat di cium kembali oleh Ammar sambil diajak ke ruang privasinya di dalam ruangan kerjanya.


" Mas mau ini," tunjuk Ammar dengan wajahnya ke benda kenyal milik Aini.


" Mas, ini di kantor." Elak Aini.


" Tapi ini di ruang privasi mas, sayang... gak akan ada yang tau. Ya, sebentar........ aja, dosa loh kalau nolak suami lagi mau, " dengan suara manja Ammar membujuk istrinya agar mau.


" Kalau lagi mau, kenapa gak minta aja tadi sama mba Nabila? "


" Udah, " jawab Ammar yang tidak konsentrasi karena masih mengusek wajahnya ke areah kembar milik Aini.


" Kalau udah, ya sudah. " dorong Ammar membuatnya terkejut.


" Aini balik dulu mas, kerumah nenek. Aini datang kesini cuma mau minta maaf secara langsung sama mas dan minta izin." Geser Aini agar menjauh lebih dikit oleh jarak Ammar.


" Minta maaf secara benar, baru mas maafin dan mas izinin." ucap Ammar yangasih berusaha.


" Mas Aini minta maaf, soal semalem buat mas salah paham. Aini tau... Aini salah, maafin Aini ya...suami ku tersayang.... Emuach" ucap Aini tulus yang berlutut di hadapan suaminya dan mencium pipi Ammar.


" Minta maaf yang benar. " ucap dingin Ammar yang masih berusaha melirik dada Aini.


" Trus Aini harus gimana, minta maaf cara yang benar?"


Ammar langsung mengangkat Aini ke atas kasur dan membaringkannya lalu menunjuknya dengan wajahnya apa yang Ammar mau.


" Mas mau ini, sebentar aja, "


" Mas kan lagi kerja, "


" Bentar lagi jam istrirahat, sayang. " suara berat Ammar yang sudah tidak tahan.


Aini mengelus rambut Ammar, dan membuka kancing depannya. Ammar yang melihatnya tersenyum senang.


20 menit kemudian, Ammar masih asik dengan benda kenyal milik Aini secara bergantian.


30 menit kemudian, Ammar mulai pelan menyasap benda kembar milik Aini.


45 menit kemudian, Ammar tertidur di pelukan Aini.


"Mas? mas Ammar? " panggil Aini tidak di di jawab oleh suaminya yang sudah tertidur lelap.


" Ih, malah tidur... " ucap Aini sambil menjauhkan wajah Ammar dari benda miliknya yang ingin di kancingkan lagi bajunya.


" Jangan di tutup, masih mau... " Sadar Ammar yang masih berat, mencegah tangan Aini dan memasukan tangannya sendiri ke dalam baju Aini.


Akhirnya jam istirahat Ammar di habiskan oleh tidur berdua bersama Aini.


Tok tok tok. suara ketukan pintu kerja Ammar, membuat Ammar terbangun dan melihat istrinya ikut tertidur lelap, Ammar tersenyum dan menyelimutinya lalu mengecup keningnya.


" Masuk, " ucap Ammar yang duduk kembali di kursi singgah sana nya, sambil menunjukan jari ke arah bibir mengisyaratkan jangan berisik.


" Permisi pak, saya mau ngasih laporan. " Shindy berjalan menghampiri meja kerja Ammar.


" Bagaimana? sudah di perbaiki? " tanya Ammar masih sibuk merapikan penampilannya yang acak acakan.


" Sudah pak," ketawa pelan Shindy melihat penampilan Ammar.


" Gak lucu mba, kaya mba gak pernah aja sama suami mba." ucap Ammar yang akrab dengan sekertarisnya sudah di anggap sebagai kakanya Ammar.


Bersambung,,,,

__ADS_1


__ADS_2