Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 88. Pertemuan Robbet 1


__ADS_3

Marseille,


Setelah mencari Monica beberapa bulan di Indonesia, Akhirnya Jhon menemukan bahwa anaknya sudah dalam perjara di negara asing selama empat bulan lebih.


Jhon sangat marah terhadap Frans berserta keluarganya karena sudah berani-beraninya bermain api dengan keluarganya.


"Cari sampai ketemu, bila perlu seret jasadnya ke hadapan ku!" Jhon yang menghubungi anak buahnya untuk mencari Frans sampai ketemu.


Jhon mengepalkan tangannya dan membanting semua yang ada di hadapannya, ketakutan Jhon yang selama ini ditakuti akhirnya terjadi.


Monica di hancurkan oleh calon suaminya sendiri, kalau saja Jhon bergerak cepat untuk memutar balikan fakta dan tidak menuruti permintaan Monica untuk menjodohkan dengan Frans. Maka semua ini tidak akan terjadi.


"Rose!" Jhon memanggil Rose penuh emosi. Rose pun menghampiri Jhon yang berada di dalam ruang kerjanya.


"Kamu lihat apa yang sudah kamu perbuat? Dia sudah menghancurkan anak kamu sendiri! Frans menjebloskan Monica ke dalam penjara!" Jhon meleparkan amarahkan kepada Rose.


"Apa! Kenapa bisa Monica di penjara?"


"Iya, dan itu karena kamu!" tunjuk Jhon dengan kesal.


"Aku?" Rose menujuk dirinya sendiri


"Iya, karena kamu yang memaksa permintaan Monica untuk menikah dengan Frans! Sekarang kamu lihat kan, apa yang sudah di perbuat olehnya!" Jhon bertelak pinggang dan membelakangi Rose.


"Terus bagaimana? Apa yang sudah di perbuat oleh Monica sampai dia di penjara?"


"Monica di tuduh kasus perencanaan pembunuhan!"


"Tidak, mungkin! Tidak mungkin Monica merencanakan pembunuhan!" Rose masih menyangkalnya.


"Inilah hasil didikan kamu yang selalu memanjakan Monica." Tegas Jhon.


"Karena aku? Kamu gak sadar! Kalau saja kamu tidak mementingkan Ernata di atas segalanya. Monica tidak akan kekurangan kasih sayang dari seorang Daddy nya." geram Rose terhadap Jhon.


"Jaga ucapan kamu Rose!"


"Kenapa? Memang benarkan? Liat saja Jhon, aku tidak akan tinggal diam untuk Monica! Ernata dan Frans harus merasakan hal yang sama!" Rose berbalik mengancam Jhon.


"Jangan sekali kali nya kamu mengancam ku dengan membawa nama Ernata! Dia tidak bersalah Rose! Frans lah yang memasukan Monica kedalam penjara, bukan Ernata!"


"Lihat sendiri kan? Kamu terus membela! " Rose menunjuk Jhon dengan kasar.


"Aku tidak membelanya! Kenyataannya benar, Ernata tidak melakukan kesalahan!" Jhon menepis jari Rose yang menunjuk ke aras dirinya.


"Awas, kalau sampai terjadi dengan Ernata aku yang akan membuat perhitungan dengan mu! Dan kalau terbukti kasus pengeroyokan Ernata itu dalangnya adalah kamu! Aku akan seret kamu ke hadapan Mommy! Ingat itu Rose. " Jhon mencengram kedua pipinya dengan satu tangan dan melepasnya begitu saja dengan kasar, dan pergi meninggalkan Rose yang mematung karena ancaman Jhon.


'Awas, kamu Jhon!' ucap Rose dalam hatinya yang melihat kepergihan Jhon.


_________


Kemang, Jakarta selatan


Setelah pulang dari kantor, Ammar memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kursi panjangnya. menjernihkan pikirannya yang sedang tidak bersahabat.


"Aini, di mana kamu. Sayang?" ucap Ammar memandang ponselnya, tiba tiba Ainun menghampirinya.


"Kamu sudah pulang nak?" ucap Ainun yang menghampiri Ammar.

__ADS_1


"Ibu." Ammar melihat ibunya langsung bangun dan mencium tangannya.


"Kamu gak ajak Nabila untuk kesini nak?" ucap Ainun.


"Belum bu," ucap Ammar


"Apa ada yang kamu sembunyikan?"


"Enggak, bu."


"Ya sudah, kalau nda mau bilang, ya sudah ..." Ainun langsung berdiri.


"Bu ...! Maaf kalau Ammar sudah buat ibu malu." Ammar mulai berani mengungkapkan perasaanya.


"Ammar sudah memikirkannya bu," ucap Ammar.


"Memikirkan apa?"


"Keputusan yang akan Ammar ambil bu."


Ainun menghela nafasnya dan mengusap pundak Ammar dengan lembut.


"Nak, sebelum kamu mengambil keputusan yang tepat. Ibu sarankan agar kamu sholat sunnah untuk meminta jawaban yang benar benar tepat, kalau kamu memgambil keputusan dengan keadaan kamu yang sekarang sedang emosi, itu bukan keputusan yang baik," ucap Ainun.


"Ya, bu. Ammar paham," ucap Ammar


"Ya, sudah. Lebih baik kamu tidur, biar besok ke adaan kamu tambah fit." Ainun bangun dan meninggalkan Ammar di ruang TV.


Sedangkan di sisi lainnya.


"Ya ampun Aini, kamu habiskan bebek panggang satu ekor sebesar itu?" ucap seorang wanita ke pada Aini.


Aini yang mendengar suara dari seorang wanita yang menghampirinya dengan sebutan Tante hanya tersenyum senang.


"Ya sudah, buat kamu semua. Tante sudah kenyang melihat kamu makan sudah kaya orang kelaperan berbulan bulan." tantenya hanya merasa jenga melihat Aini hampir menghabiskan satu ekor bebek panggang dengan ukuran super jumbo dengan Nasi yang hampir habis sebakul begitu juga minuman jus yang ada di tangannya.


Melihat keponakannya yang makan dengan lahap, tantenya merasa sangat senang akhirnya Aini bisa perlahan kembali ceria dari sebelumnya yang terus mengurung dirinya di dalam kamar.


Setelah makan Aini bergegas ke dalam kamarnya yang cukup luas, menyenderkan badannya ke atas kepala kasur yang super empuk.


Tok tok tok,


Suara kentukan pintu kamar Aini terdengar, Aini yang belum sempat bangun untuk membukakan pintu ternyata Tantennya sudah masuk terlebih dahulu.


"Eh, Tante ... Ada apa tan?" tanya Aini dengan senyum manisnya.


"Tante mau tanya," ucap Tantenya yang duduk di pinggir kasur.


"Tanya apa tan?" Aini penasaran dengan Tantenya.


"Kamu beneran serius mau melanjutkan kuliah kamu disini? Dengan kondisi kamu yang sedang hamil, kamu yakin?" Tanya tantenya yang duduk di samping Aini.


"In sya allah, Tante. Soalnya Aini mau fokus mengejar cita cita Aini tan." Aini masih saja dengan senyum cerianya walaupun tantenya tahu kalau Aini masih sedih karena jauh dari suaminya


"Tapi kalau ada yang tau kamu kuliah di daerah sini ...." ucapan Tantenya terpotong


"Tenang saja tante ku yang cantikk, lagian Aini mengambil kuliah Online kok. Jadi gak akan ada yang tau kalau Aini kuliah di daerah sini." Aini tau maksud dari tantenya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau gitu, tante merasa tenang. Karena tante gak mau mengecewakan Ayah kamu yang sudah memberi kepercayaan sama tante." Tante nya berdiri dari duduknya.


"Ya sudah kalau gitu, ini minum vitaminya dan langsung tidur ok! " Tantenya memberikan Vitamin dan segelas air ke Aini lalu pergi


"Ya tante, makasih," ucap Aini melihat tantenya menutup pintu kamar.


__________


PT Abqori Enegri.


Ammar sudah menunggu kedatangan Robbet selaku pemilik Perusahaan Lior sekaligus Ayah mertua Ammar.


"Semua sudah di siapkan?" Ammar bertanya kepada Roy.


"Sudah bos!" ucap Roy yang berdiri di belakangnya yang mengikuti langkah Ammar yang menuju ke ruang rapat pertemuan.


Ceklek.


Suara pintu di ruangan tersebut tebuka. Ammar langsung melihat ke arah mertuanya yang sudah duduk manis ruangan tersebut bersama dengan ketiga karyawannya.


"Selamat pagi, Pak Robbet." Ammar mengampirinya dan mengulurkan tangannya kehadapan Robbet.


"Pagi juga Pak Ammar!" Robbet membalas ucapan Ammar tampa membalas uluran tangan Ammar. dan menyerahkan sebuah dukumen kehadapan Ammar dengan menyuruh Asistennya.


Dalam ruangan yang cukup besar dan mewah hanya terdengar suara dalam pembahasan mengenai alesan pemutusan kerja sama antara Perusahan Ammar dan Perusahaan Robbet.


Begitu lantang asisten Robbet menjelasakan kesalahan terhadap proyek yang mereka bangun, karena Real kesalahan terletak di posisi Ammar. Ammar yang menerima konsukuensi nya dalam dunia bisnis dengan rasa tanggung jawab membayar kerugian yang di alami oleh perusahaan Lior.


Penjelasan demi penjelasan sudah di utarakan oleh pihak Lior untuk memutuskan kerja samanya. Robbet yang enggan untuk membuka suaranya hanya bisa menyuruh Asistennya untuk mewakilinya.


Setelah usai pembahasan masalah binis, kini Robbet beserta karyawannya hendak keluar dari ruangan metting kerja Ammar.


"Ayah!" Ammar memanggil Robbet yang ingin keluar dari pintu. Robbet menghentikan langkanya.


"Yah? Boleh Ammar minta waktu luang Ayah, sebentar?" ucap Ammar memohon.


"Maaf, Pak Ammar. untuk sementara jadwal Tuan sangat ketat." Asisten Robbet angkat bicara.


"Yah, Ammar mau menjelasakan semuanya Yah." Ammar memegang tangan Robbet.


"Maaf, saya harus permisi!" Robbet melepaskan tangan Ammar dari lengan nya.


"Yah, Ammar tau Ammar salah. tolong kasih tau Ammar yah. dimana Aini? Ammar suami nya Yah!" Ammar masih mencegah Robbet untuk keluar.


"Maaf Tuan Ammar, sekarang Tuan Robbet tidak punya waktu. mohon di mengerti. " Asisten Robbet menyingkirkan tangan Ammar dari gagang pintu. Namun Roy membela Bosnya agar Asisten Robbet tidak menghalangi nya.


"Yah," ucap Ammar memelas.


Robbet pun akhirnya mengisyaratkan kepada asisitennya untuk memberi waktu untuk mereka berdua.


Bersambung...


Hallo assalamualaikum wr. wb. Author mau mengucapkan terima kasih untuk para reader yang masih setia membaca karya Author yang receh ini , mohon maaf apabila cerita author masih kurang bagus atau masih salah dalam menulis jalan ceritanya, karena ini cerita pertama Author. Author sangat senang bila ada kemasukan saran yang positif dari cerita author yang author buat dengan mengunakan bahasa yang sopan.... terimakasih.


Selagi menunggu Aini untuk Up, yuk mampir di cerita temen Author yang satu ini... di jamin ceritanya gak akan buat kamu males membacanya...


__ADS_1


__ADS_2