Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
bab 149. Wisuda


__ADS_3

Hari di mana Aini melaksanakan wisuda di kotak X dengan penampilannya yang cantik walaupun tertutup. Hatinya begitu senang ketika sang suami menemaninya di ruang sidang, walaupun ke dua anaknya ikut tetapi mereka berada di ruang berbeda bersama keluarganya termasuk Bunda Ismi.


Ketika para mahasiswa atau mahasiswi dipanggil satu persatu naik ke atas panggung, saat itu juga Ammar melihat sang istri penuh bangga. Rasa senang yang dicampur haru terus Ammar rasakan saat Aini menerima detik-detik penghargaan.


Setelah acara tersebut telah usai, Aini dan Ammar keluar untuk menemui anak mereka. Aini pun mendapat sambutan hangat dari Robbet dan Bunda Ismi, begitu juga Reyzal yang sudah merentangkan tangan untuk memeluk sang adik tiri, tapi dengan cepat Ammar membalas pelukan Reyzal.


"Selamat ya, Sayang!" ucap Bunda Ismi yang memeluk anak angkatnya, begitu juga sang Ayah.


"Makasih ya, Bun, Yah." Aini membalas pelukan Bunda Ismi.


"Eh, kita foto dulu dong!" Reyzal menyerahkan kamera yang sudah dia siapkan pada Ammar. Aini yang melihat tingkah jahil Rey langsung mendorong tubuh kakaknya itu untuk menggantikan Ammar.


"Selamat ya, Sayang." Ammar berbisik pada telinga Aini, sontak membuat Aini melirik ke arah sang suami, dan saat itu juga Rey mengambil foto keluarga saat wisuda Aini.


"Hai, selamat ya!" ucap Abizar yang bertemu dengan Aini ketika tidak sengaja dia melihat Aini beserta keluarga.


"Selamat juga ya," ucap Aini.


Abizar pun tersenyum ke arah Ammar yang berdiri di samping Aini sembari berjabat tangan, kemudian Rey menyuruh Abizar untuk ikut berfoto bersama dengan ke dua keluarga.


Abizar pun berdiri tepat di samping Aini, sedangkan Ammar juga berada di samping sang istri, membuat ke tiganya merasa posisi yang tidak begitu nyaman.


***


"Mas, besok kamu langsung berangkat ke London?" tanya Aini saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel.


"Iya, maaf ya ... Mas, gak bisa oper tugas Mas ke siapa pun. Roy pun mau tidak mau harus ikut ke London." Ammar mulai masuk ke dalam selimut yang sama dengan Aini.


Aini pun menarik napas panjang, berat rasanya ditinggal oleh sang suami ke luar negeri walaupun hanya sebulan. Dia pun memeluk tubuh sang suami dengan erat.


"Jangan nakal, ya ... awas kalau nakal," ucap Aini dengan nada yang cemberut.


Ammar hanya tertawa mendengar penuturan dari sang istri. Dia mencubit batang hidung sang istri lalu mengecup keningnya dengan dengan mesra seraya memeluk tubuh sang istri.

__ADS_1


Ammar mulai membisikan kata-kata jimat pada telinga sang istri, lalu perlahan mengecup bibir kecil itu secara perlahan, menikmati sensasi rindu yang tiada tara, saat dia akan berpisah dari sang istri selama sebulan penuh.


"Mas," dessahan Aini mulai terdengar di telinga Ammar saat tubuhnya mulai di sentuh oleh sang suami.


Ammar mulai melepas satu persatu baju yang masih menempel pada Aini, dia mulai mengabsen setiap lekuk tubuh sang istri dengan bibir dan jemarinya.


Lenguhan suara Ammar pun terdengar di telinga Aini, saat sang empu mulai mengambil alih dalam permainan yang sedang mereka buat, jemari Aini semakin mengeratkan pelukan pada tubuh sang suami, ketika Ammar semakin mempercepat gerakannya.


Desiran terus mengalir hingga ke puncak, masing-masing ke duanya saling mengejar titik kliimaks yang mereka inginkan untuk melampiaskan hasrat membara.


Suara dessahan panjang pun lolos dari bibir sang Istri ketika dia telah sampai pada titik puncaknya yang mengalir begitu hebat, Ammar yang mulai merasakan denyutan yang hangat, terus berpacu pada kecepatan yang semakin memburu.


"Aarrggh!" eraangan Ammar lepas ketika dia sudah mencapai pada puncaknya.


Hentakan demi hentakan dia berikan saat rasa denyutan itu masih ada, dia memeluk tubuh sang istri sembari menikmati sisa-sia sensansi yang nanti tidak akan dia rasakan selama sebulan.


"I love you," bisik Ammar yang masih memeluk tubuh sang istri sembari mengecup pucuk kepala Aini.


"Halo?" ucap Ammar dengan suara yang lembut.


"Bos, saya sudah mengumpulkan data soal kecelakaan tentang keluarga Nyonya Aini," ucap Roy dari seberang telepon.


Roy langsung memberikan beberapa keterangan bahwa kecelakaan yang menimpa ke dua orang tua Aini, karena sudah direncanakan oleh musuh dari keluarga Al- Ghozali.


Mendengar penuturan dari asisten pribadi Ammar, dia langsung menggeser posisi sang istri lalu memakai handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Terus?" Ammar mulai mendengarkan dengan seksama.


"Ok, terima kasih, Roy." Ammar menutup sambungan teleponnya.


Dia menatap wajah sang istri yang sudah tertidur pulas, perlahan Ammar menyentuh pipi Aini dengan lembut. "Pantesan Bunda begitu memanjakanmu! Aku gak tahu, apakah kalau kamu tahu, kamu mau menerima segala pemberian dari, Bunda?"


Ammar segera masuk ke dalam selimut, lalu memasuki arus mimpi bersama dengan sang istri.

__ADS_1


***


Ke esokan hari, Ammar bersiap-siap untuk langsung pergi ke bandara, Aini yang sudah siap ditinggal oleh sang suami selama sebulan, rasanya enggan untuk melepaskan kepergian Ammar.


Setelah semuanya sudah siap, mereka pun pergi ke Bandara Udara, selama di perjalanan, Aini terus bersandar di pundak sang suami. Tanganya pun dia ganggam dengan erat, karena ini pertama kalinya, Aini di tinggal pergi dinas oleh Ammar dengan jarak yang begitu jauh.


"Mas, cuma sebulan kan?" tanya Aini ketika mereka suda tiba di Bandara.


"Iya, Sayang! Jangan sedih gitu dong!" Ammar mencubit pipi sang istri.


"Jangan lupa kabarin kalau sudah sampai!" ucap Aini kembali.


"Iya," jawab Ammar dengan lembut.


"Hati-hati ya, Mar!" ucap sang Ayah mertua yang ikut mengantar Ammar ke Bandara.


"Ya, Yah!" Ammar memeluk tubuh sang mertua lalu menghampiri kedua kembarnya.


"Hai, Abi berangkat dulu ya ... gak boleh nakal, harus nurut sama Umi. Ok!" Ammar mencium ke dua anaknya.


Puas menciumi ke dua anaknya, Ammar melihat raut sang istri yang berubah menjadi tersenyum. Ammar pun tersenyum ke arah istrinya lalu mengecupnya kemudian memeluknya dengan sangat erat.


"Mas, janji akan menghubungi kamu begitu, sampai di sana! Jaga anak baik-baik, tunggu Mas pulang!" Ammar mencium kening sang istri dengan mesra.


" Iya, suamiku, aku ridhoi kepergianmu untuk mencari rezeki." Aini tersenyum lalu memeluk suaminya dengan erat sebelum dia melepaskannya.


Ammar pun pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih melihat dia perlahan menjauh, begitu juga dengan Robbet. Usai mengantar Ammar, Robbet mengajak anak dan kedua cucunya untuk ikut pulang bersama ke Ibu kota.


Aini yang mencoba untuk tegar, karena ditinggal oleh suami menjadi tersadar, begitu tidak enak dan tidak nyaman ketika jauh dari orang yang kita sayang.


"Karma!" gerutu Aini pada dirinya sendir saat mengingat ketika dia juga pernah meninggalkan Ammar dan pergi ke luar Negeri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2