
Flasback On
Pukul 22:00
Setelah selesai bekerja, semua karyawan bagian masuk shif siang yang bekerja di Cafetaria pada pamit pulang. Masing masing sebagian karyawan sudah ada yang di jemput oleh kerabatnya.
Tinggal Rani dan Ulfa yang menunggu di halte bis terdekat.
"Tumben loe gak bawa motor?" Rani yang duduk di samping Ulfa sambil menunggu jemputan angkutan umum.
"Si Maxi lagi di bengkel, jadi mau gak mau gue naik angkot."
"Oh, Eh. Itu angkot gue udah datang, gue duluan ya. Gak apa-apa kan gue tinggal sendirian?" Tanya Rani penuh kawatir.
"Gak apa-apa, sudah duluan sana! Nanti keburu lama lagi nunggu angkotnya!" Ulfa yang mendorong Rani agar masuk ke dalam mobil angkutan umum.
"Ya, sudah. Gue duluan ya! Bye Ulfa." Rani melambaikan tangannya dan masuk kedalam angkutan umum.
Sekarang tinggal Ulfa sendiri yang menunggu mobil Busnya datang, selang beberapa menit ada beberapa orang seperti preman yang mendekat ke arah Ulfa secara perlahan.
Ulfa yang menyadari dirinya mulai ketakutan saat dua orang laki-laki yang mendekat ke arahnya, segera berdiri dari duduknya dan perlahan menjauh dari ke dua orang tersebut.
Suasana malam yang sepi dan gelap membuat ke dua lelaki tersebut menjadi peluang untuk menargetkan mangsanya.
"Mau ngapain kalian?" Ulfa yang memeluk tas tepat di depannya sebagai bentuk perlindungan diri dari serangan Preman itu.
Tampa basa basi Preman itu menarik paksa tas yang berada di pelukan Ulfa dengan kasar, membuat Ulfa terjatuh tersungkur kebawah mengenai batu krikil.
"Aaauuhhh!" Ulfa meringis kesakitan saat lututnya terbentur batu.
"Tangkep, Bos!" ucap preman itu ketika melepar tas yang di dapatnya ke teman satunya.
"Lari, beg0!" ucap salah satu preman yang menyuruh teman satunya untuk segera kabur karena tas incaran mereka sudah di dapat.
"Copet! Copet! Tolong, ada Copet!" Ulfa berteriak sambil merasakan sakit di lututnya.
Teriakan Ulfa tidak membuahkan hasil, karena keadaan di trotoar tempat Ulfa di jambret oleh preman itu. Situasinya yang sedang sepi, hanya kendaraan lalu lalang yang ramai. Ulfa pun hanya bisa pasrah dan menangis ketika tasnya di jambret preman.
Selang beberapa menit ada seseorang yang memberikan tasnya tepat di depan Ulfa yang masih duduk di pinggir trotoar sambil menangis meniupi lutunya yang terluka.
Ulfa mengangkat kepalanya ke atas, melihat siapa yang sudah mengembalikan tasnya. Ulfa pun tercengang melihat seorang laki-laki yang baru di kenalnya ternyata yang menyelamatkan tasnya dari para preman tersebut.
"Thanks," ucap Ulfa tersenyum yang mengambil tasnya dari tangan orang yang baru di kenalnya.
"Astagfirullah!" Ulfa menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
"Mba, jangan laporkan kami ke polisi!" ucap salah satu preman yang diseret paksa oleh si penyelamat untuk bersujud di kaki Ulfa dengan muka yang babak belur.
"Iya, Mba. Ampuni kami Mba! Kami terpaksa demi sesuap nasi mba," ucap Preman yang memohon.
"Jangan masukan kami kepenjara Mba, kasian anak-anak saya mba. Saya terpaksa untuk membeli susu anak saya! Ampuni kami Mba. " Perman itu memohon ampun kepada Ulfa.
Ulfa yang merasa iba melihat muka preman tersebut babak belur dan mendengar curhatan para perman. Ulfa hanya mengeluarkan tiga kertas lembaran warna merah dan memberi satu lembar ke masing masing preman tersebut.
"Alhamdulillah, terimakasih Mba." Preman itu hendak mencium tangan Ulfa sebagai tanda terimaksih, namun di pukul oleh sang penyelamat tas Ulfa.
Bugh!
"Ampun, ampun Mas!" ucap Preman yang tidak jadi mencium tangan Ulfa.
"Udah, udah! " Ulfa memegang tangan si penyelamat.
Para preman itu langsung pergi dengan terpingkal pingkal.
"Sekali lagi, terima kasih ya! Kamu sudah menyelamatkan aku!" ucap Ulfa yang mencoba berdiri. Namun, karena luka di lututnya. Ulfa pun kehilangan keseimbangan.
Si penyelamat langsung memegang tangan Ulfa agar tidak terjatuh, tapi justru Ulfa masuk kedalam pelukan si penyelamat. Keduanya sempat saling pandang memandang satu sama lain sampai akhirnya suara deru motor yang kencang menyadarkan mereka berdua dari kehaluan masing-masing.
"Duduk dulu, biar aku obati luka kamu!" Si penyalamat menuntun Ulfa duduk ke tempat duduk halte.
"Gak, usah! Gak apa-apa, biar aku aja!" Ulfa melarang si penyelamat untuk berjongkok di hadapannya.
__ADS_1
"Sepele kok, tenang aja!" Si penyelamat membersihkan luka Ulfa dan memberikan obat merah ke lutut Ulfa sambil meniup-niup lutut Ulfa.
Ulfa hanya tersenyum malu mendapatkan perhatian yang romantis dari sang penyelamat yang ganteng tapi sombong.
"Ngapain senyum-senyum sendiri? Terpesona ya? Liat wajah ganteng saya?" Ucap sang penyelamat dengan sombongnya.
Ulfa yang tadinya tersenyum, langsung memasang wajah jutek karena mendengar penuturan si penyelamat.
"Ayo, masuk!" si penyelamat membukakan pintu mobilnya.
"Gak usah! Gue bisa pulang sendiri!" ucap Ulfa merajuk.
"Yakin? Ya sudah!" Si penyelamat pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Ulfa sendiri di Halte Bus.
"Ihh! Ngeselin banget si tuh cowok! Gak peka banget!" Ulfa marah-marah sendiri di Halte.
Cittt!
Mobil si penyelamat balik lagi dan berhenti di depan Ulfa yang sedang marah - marah sendiri, si penyelamat turun dan membukakan pintu mobilnya lalu mengangkat tubuh Ulfa kedalam gendongannya dan memasukannya ke dalam mobil.
"Eh, mau ngapai loe? Akkkhh!" teriak Ulfa yang di gendong oleh si penyelamat.
"Gak usah gengsi! Di mana alamatnya?" ucap si penyelamat. Ulfa masih terdiam tidak bergeming.
"Ya sudah, kalau gak mau kasih alamatnya aku bawa ke apartment ku!" Si penyelamat menancapkan gasnya.
"Di jalan Kamboja X X X." Ulfa masih memasang wajah jutek.
Si penyelamat pun akhirnya membawa Ulfa sampai di depan rumah kost nya dengan selamat.
"Makasih!" ucap Ulfa yang ingin keluar, namun di tahan oleh si penyelamat.
"Pinjam ponselnya!"
"Buat apa?" tanya Ulfa heran.
"Mana?" si penyelamat maksa meminta.
"Percaya gak?" si penyelamat menatap ke arah Ulfa.
Ulfa yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa dia dengan mudahnya percaya dengan kata kata dari seorang yang baru di kenalnya. Ulfa memberikan ponselnya dan membiarkan si penyelamat mengutak atik ponselnya.
"Nih!" mengembalikan ponselnya kepada Ulfa.
"Aku sudah save nomor kamu. Jadi, kamu gak akan bisa lari dari hutang kamu! Ini tidak gratis! Hari minggu aku jemput kamu disini untuk melunasi hutang kamu!" Roy yang membukaan pintu mobil dengan otomatisnya sambil menaikan alisnya ke atas dengan cepat.
Ulfa yang tahu maksud dari sang penyelamat hanya menahan kesalnya dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Inget nama aku Ulfa, Roy Avandi! " teriak Roy yang tertawa melihat Ulfa menekuk wajahnya dengan kesal.
"Bodo amat! Wlleeee ..." Ulfa yang berbalik badan dan menjulurkan lidahnya sambil mangangkat jari tengahnya ke arah Roy.
Flashback Off.
PT. Abqori Energi.
Selepas pulang dari kencanya bersama Nabila, Ammar langsung fokus menaikan angka saham yang anjlok. Perlahan perusahaan Ammar mulai bangkit kembali dalam waktu yang singkat.
"Do'a kan Abi ya nak! Agar urusan Abi di sini cepat selesai, biar bisa cepat-cepat jemput kalian bersama Umi. Abi sayang kalian ... sehat-sehat ya, di perut Umi. Abi kangen sama kalian." Ammar mencium foto hasil USG Aini yang baru tiga bulan.
Tok Tok Tok!
"Masuk!" Ammar mengusap air matanya dan menaruh kembali foto hasil USG Aini di meja kerjanya.
"Maaf, Bos! Ada undangan pertemuan di kota X." Roy menyerahkan surat undangan kepada Ammar.
Ammar membuka surat undanganya dan melihat tempat dan tanggal undangnnya yang akan di selenggarakan.
"Atur jadwal! Kita akan menghadiri acara tersebut sampai selesai, bila perlu chek In Hotel terdekat!" Perintah Ammar tersenyum.
Roy menganggukan perintah Ammar tanda mengerti dan melangkah maju keluar ruangan Ammar.
__ADS_1
Ammar tersenyum senang, akhirnya Ammar mempunyai alesan yang tepat untuk tidak pulang kerumah di tanggal di mana dia harus menuruti permintaan terakhir Nabila.
Jam pulang kantor.
Roy melanjukan mobilnya dalam kecepatan sedang, Ammar yang masih sibuk dengan laptopnya walaupun sudah berada di jalan arah pulang. Demi mencapai target dan kembali bangun dari terjatuhnya perusahaan yang di alaminya.
"Roy, jangan lupa kamu belikan bunga mawar merah satu."Ammar mengingatkan Roy agar tidak lupa setiap pulang dari kantor harus membeli satu tangkai bunga mawar merah untuk Nabila.
"Baik, Bos!" ucap Roy.
Roy melajukan mobilnya ke arah tempat toko bunga yang berada di persimpangan jalan raya, setelah sampai. Mobil pun berhenti.
"Sudah sampai, Bos!" ucap Roy yang melihat Ammar masih fokus ke laptopnya.
"Kan saya sudah bilang Roy ...." ucapan Ammar di sambung oleh Roy.
"Saya belikan, bos tunggu saja di mobil." Roy yang sangat pengertian terhadap Ammar.
Roy turun dari mobilnya dan menanyakan kepada seorang gadis yang sedang mendisplay ulang bunga-bunyanya.
"Permisi, Mba? Ada bunga mawar merah?" tanya Roy kepada sang penjual bunga.
"Ada Kak, tung ... gu. Ngapain loe di sini?" penjual bunga itu membalikan badanya dan terkejut ketika melihat pelangganya kali ini adalah Roy.
"Loh, kok kamu di sini?" Roy terkejut saat melihat penjual bunga itu adalah Ulfa.
"Ada apa ini Ulfa ribut ribut? Kamu baru kerja sehari saja udah cari ribut sama pelanggan." pemilik toko bunga keluar dan memarahi Ulfa di depan Roy
"Ah, Ma'af ya, maklum pegawai baru." Pemilik toko tersenyum manis kepada Roy
"Oh, Gak apa-apa. Bukan salah dia, salah saya yang sudah membuatnya terkejut," ucap Roy yang melihat ke arah Ulfa yang tertunduk takut oleh pemilik toko.
"Kalau begitu, mau pesan bunga apa?" tanya Pemilik toko
"Saya mau bunga mawar merah satu tangkai dan sebuket bunga mawar putih satu," ucap Roy yang masuk kedalam toko.
Beberapa menit kemudian, Roy keluar membawa sebuket mawar putih dan memberikannya kepada Ulfa.
"Nih, buat kamu! Tadi aku salah beli. Dari pada di buang lebih baik aku kasih sama orang yang membutuhkan." Roy mengambil tangan Ulfa untuk memegang bunga pemberiannya.
"Jangan pegang! Bukan mukhrim!" Ulfa menjauhkan tangannya setelah menerima bunga dari Roy.
"Sabar, bentar lagi gak usah cape-cape kerja part time." Roy langsung meninggalkan Ulfa yang masih mematung dengan ucapannya.
Sebelum masuk kedalam mobil, Roy mengedipkan satu matanya ke Ulfa dan masuk kedalam setelah itu melajukan mobilnya menuju rumah Ammar.
"Bos?"
"Hmm?" Jawab Ammar yang masih Fokus.
"Kalau saya berhasil menaikan angka perusahan dan berhasil menemukan Nyonyah Aini. Apakah saya boleh minta bonus dua kali lipat?" ucap Roy hati hati kepada Ammar.
Ammar menghentikan kegiatannya dan menutup laptopnya, menangkap maksud ucapan Roy.
"Saya kasih dua puluh persen saham milik PT Abqori Energi ke kamu, asalkan kamu serius meminang Ulfa bukan untuk main-main." Ammar yang tahu maksud Roy dan serius dengan ucapanya.
Ciiittttt!
Ban mobil kantor Ammar berdesit karena rem mendadak Roy, membuat Ammar mencium kursi yang ada di depannya.
"Roy!" teriak Ammar kesal yang merasakan sakit di bibirnya.
"Serius, Bos?" Roy menanyakan sekali lagi.
"Serius, serius! Serius sakit saya!" Ammar kesal dengan Roy.
"Ma'af, Bos! Ma'af," ucap Roy ketakutan.
"Saya tunggu hasil kamu! Kalau kamu berhasil menaikan angka saham, 10% saham jadi milik kamu di tambah 10% saham milik kamu setelah kamu berhasil menemukan Aini." Ammar yang melanjutkan kerjanya.
"Deal!" ucap Roy yang menancapkan gasnya kembali.
__ADS_1
Bersambung....