
"Berengsek! Dasar bodoh, kalian semua! Kenapa mereka bisa lolos? Hah!" Rahman memaki anak buahnya di seberang telepon saat dia berada di dalam toilet pria.
"Kenapa kalian baru mengatakan sekarang? Hah!" tanya Rahman dengan penuh kesal ketika dia baru mengetahui ini semua dari empat hari yang lalu.
Anak buah yang berada di seberang telepon hanya meminta maaf karena selama ini dia mencoba menghubungi Rahman tetapi sangat sulit, sehingga mereka baru bisa mengabari sekarang.
"Dasar tidak berguna!" Rahman pun langsung mematikan sambungan telepon penuh dengan emosi, lalu berteriak, "Aakkkkhh!"
Rasa kepanikan ketakutan menjadi satu dalam hati Rahman, dia bisa menebak bahwa sekarang Amar sudah berada di kota tersebut tepatnya di rumah. Rahman berpikir keras bagaimana dia harus menangani semua itu.
Rahman tidak mau bila usahanya kali ini sia-sia, dia sudah berkorban banyak untuk bisa mendapatkan Aini walaupun dengan cara licik. Dia pun memutuskan agar malam ini Aini tidak pulang ke rumah.
Ya, Rahman harus bergegas membawa Aini menjauh dan tidak kembali lagi dalam pelukan Ammar, karena bisa dipastikan Ammar akan memberitahu bila dalang dari balik semua itu adalah dia.
"Ok, tenang Rahman! Kini Aini bersamamu, kamu tidak membujuknya untuk pergi ke suatu tempat di mana Ammar tidak akan pernah mengetahuinya dan Aini akan menjadi milikmu sepenuhnya." Rahman menatap sendiri wajahnya yang berada di pantulan cermin wastafel, setelah itu baru dia melangkahkan kakinya keluar.
Benar saja, Rahman berhasil membujuk Aini untuk pergi ke suatu tempat dengan alasan Naura agar Amar tidak bisa menemukannya. Begitu tiba di halaman parkiran restoran ini menjadi ragu untuk masuk ke dalam mobil Rahman.
"Mas, sepertinya aku tidak jadi ikut! Kasian Khanza kemaleman, masih belum bisa dibawa pergi jauh! Toh kamu juga belum sembuh total, nanti lukamu terbuka lagi bagaima?" Aini mencoba menolak secara halus.
"Sebentar saja! Ayo, buruan masuk!" Rahman terus memaksa Aini agar mau ikut bersamanya.
Aini hanya menghela napas, dia hanya menurut kali ini dan berkata, "Biar Aini yang menyetir, Mas! Kasian, Mas pasti cape!"
"Tidak apa-apa ... biar kita tidak kemaleman sampai di puncak! Kasian Naura, dia ingin melihat kembang api di sana." Rahman menyalahkan mesin mobilnya lalu mulai masuk ke dalam jalan raya.
"Pinjam ponselnya!" Rahman menjulurkan tangannya ke arah ini untuk menerima ponsel.
"Ponsel? Untuk?" tanya Aini yang bingung.
"Mana!" bentak Rahman ketika Aini tak kunjung menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
"Tidak mau!" Aini tetap pada pendiriannya, hingga membuat Rahman kesal.
"Aini ... jangan buat saya mengulang kata!" Rahman kembali membentak Aini.
"Kamu kenapa sih, Mas?" Aini kesal lalu suara ponselnya berdering kembali, baru saja Aini mau mengangkat teleponnya yang melihat nomor Bik menghubunginya. Namun, Rahman langsung merebutnya dan membuka kaca mobil lalu melemparnya keluar.
"Mas!" teriak Aini yang emosi.
"Diam dan duduk manis!" Rahman menambah kecepatan laju mobilnya, itu membuat Aini yakin bila ada sesuatu yang tidak beres dengan Rahman.
"Aku mau turun! Berhenti!" ucap Aini dengan kesal.
Rahman ketawa dia tidak akan semudah itu untuk bisa melepaskan Aini ketika saat ini sudah berada di genggamannya, dia semakin mempercepat laju mobilnya, membuat Aini semakin takut ketika Khanza pun merengek nangis mendengar pertengkaran Rahman dan juga Aini.
Begitu juga Naura, dia menangis saat mendengar bentakan suara keras dari Rahman membuat bibir mungilnya terus berkata. "Ayah jangan marahin, Bunda! Naura nggak mau sampai Bunda pergi!"
Sangat begitu jelas dengan ucapan Naura bila selama ini Rahman sering membentak istrinya dan itu membuat sang istri tidak betah dan selingkuh pria seperti Rahman.
"Apa kau gila? Dia masih kecil!" Aini tidak percaya apa yang dilakukan oleh Rahman, apa sebenarnya yang membuat dirinya berubah begitu drastis?
"Iya, aku gila karena kamu! Puas?" Rahman kembali menambah kecepatan.
"Rahman! Hentikan! Kau bisa membunuh kita semua!" Aini memegang kencang penyangga yang ada di atas kepalanya.
"Biarkan kita mati bersama bila kita tidak bisa hidup bersama Aini!" Rahman tertawa.
"Kamu, gila! Aku sudah menarimamu? Lalu apa lagi? Hah!" tanya Aini yang bingung.
Rahman memelankan laju mobilnya saat mendengar bila Aini mengatakan menerimanya. "Benarkah? Kalau begitu malam ini kamu akan tinggal bersamaku, di mana tidak ada orang yang bisa menggangu kita!"
Aini benar-benar tidak percaya dengan sikap Rahman kali ini, dia berpikir keras untuk mengetahui sesuatu yang terjadi. Aini juga melihat Naura yang masih menangis bersama Khanza mencoba untuk mendiamkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Naura jangan nangis lagi ya! Bunda nggak akan pergi kok, tadi ayah cuma kesel sama Bunda karena Bunda yang salah," ucap Aini yang begitu lembut.
Melihat Aini yang menurut dan mau ikut bersamanya membuat Rahman menjadi tenang, dia pun meminta maaf kepada Naura Aini dan juga Khanza.
"Maaf, aku sedikit emosi!" ucap Rahman.
Tanpa membalas ucapan Rahman Aini hanya mengganggukan kepala, dia masih mencoba untuk mencari cara bagaimana bisa meloloskan diri dari Rahman sebelum terlalu jauh. Begitu sampai di lampu merah, Aini melihat Naura yang sudah tertidur dalam tangisannya. Dia melihat ke arah sekelilingnya untuk memperlambat perjalanannya.
"Mas, Aku haus!" ucap Aini dengan berbadan basi.
"Nanti, sebentar lagi kita sampai!" ucap Rahman.
"Mas, tadikan abis teriak-teriak ... aku haus! Mau minuman segar," rengek Aini dengan manja kepada Rahman.
Rahman mengerutkan keningnya melihat tingkah Aini langsung berbeda, bersikap manja dan menggemaskan. Membuat Rahman tidak sabar memilikinya.
"Apa kau sedang menggodaku?" Rahman menelan salivanya.
"Emangnya salah menggoda calon suami sendiri? Lagian pakai bentak, kan jadi haus!" ucap Aini dengan intonasi suara yang manja.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Rahman keluar dari dalam mobil yang dia buka sedikit pintu kaca mobilnya, lalu mengunci mobil tersebut agar Aini tidak bisa kabur.
Namun, dugaan Rahman salah. Aini justru tersenyum lantas membangunkan Nuara untuk meminjam ponsel anak kecil itu. Susah payah Aini membangunkan Naura sampai akhirnya anak itu terbangun dan dia langsung menjelaskan pada Naura agar tidak memberitahu sang Ayah. Mengerti akan tujuan Aini, anak kecil itu langsung menyerahkan ponsel pada Aini.
Aini mengirim pesan singkat pada nomor ponsel Sumi yang dia ingat, lalu mengembalikan ponsel tersebut kepada Naura sebelum akhirnya Rahman datang membawakan segelas air minum dan cemilan.
"Makasih!" Aini langsung meminum air yang baru saja dibuka oleh Rahman dan mobil pun kembali melaju.
"Kita mau ke mana si Mas?" tanya Aini kepada Rahman.
"Nanti kamu juga akan tahu!" sahut Rahman dengan singkat.
__ADS_1
Bersambung...