Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 150. Pertemuan keluarga Rey dengan Jasmine


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, semenjak Ammar pergi dinas ke luar negeri, Aini sudah bekerja sebagai pengacara pribadi seorang pengusaha ternama di kota M. Dia menangani kasus pertamanya sebagai seorang pengacara yang menangani beberapa masalah perusahaan yang menyimpang.


"Aini! Saya mau, kamu menjatuhkan hukuman dengan pasal yang berlapis atas pencemaran nama baik perusahaan!" Rahman duduk di seberang Aini yang sudah duduk seraya membaca laporan dari Rahman lelaki yang berusia seumuran dengan sang suami dengan status duda.


"Baik, Pak!" Aini memeriksa satu persatu data pelaku yang menyebarluaskan gosip yang beredar.


"Ok! Kalau gitu temani saya makan siang, kamu juga belum makan siang kan?" tanya Rahman yang memesan satu restoran untuk dia boking.


"Maaf, Pak ... saya sudah ada janji untuk bertemu Bunda Ismi," tolak Aini dengan secara halus. Dia tahu betul untuk menghindari adanya fitnah yang bukan sesama makrom.


Rahman memang tertarik dengan Aini, bahkan dia juga berniat untuk merebut Aini dari Ammar tapi dia akan bermain secara halus memalui Ismi yang menjadi adik dari ibunya.


Penolakan Aini tentu membuat hati kecil Rahman kecewa, tetapi itu membuat Rahman semakin ingin memiliki wanita bercadar yang menjadi pengacara pribadinya. Rahman sempat jatuh cinta pada pandangan pertama, bagaimana dia melihat sikap pribadi Aini yang masuk dengan kriteria sebagai istri idamannya.


Akan tetapi, dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa Aini sudah bersuami dan memiliki anak kembar. Rahman yang ingin tahu lebih banyak lagi tentang Aini mencoba mengorek informasi tentang pengacara pribadinya tersebut melalui bawahannya.


Begitu mudah Rahman mendapatkan informasi tentang wanita bercadar di hadapannya, dia mengetahui bahwa Aini adalah tunangan Reyzal saat masih kecil dulu.


"Ok, saya tidak akan memaksa kamu untuk makan siang bersama." Rahman meng-chancel booking restoran tersebut.


"Kalau gitu, saya permisi dulu Pak Rahman!" Aini membawa berkas-berkas barang bukti yang akan memperkuat tuduhan terhadap pelaku.


***


Francis, Rose yang begitu kesal selama ini karena berusaha sabar menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan dendam kepada Aini, karena sudah menjebloskan Monica ke penjara atas tuduhan perencanaan pembunuhan.


Dia pun mulai menjalan aksinya untuk membuat perhitungan dengan Aini dengan memesankan tiket pesawat menuju tempat tinggal Aini, karena mengetahui bahwa Ammar sedang berada di luar negeri. Sehingga dia bisa melancarkan aksinya yang sudah dia tunggu-tunggu dengan mudah.


Senyum smirk pun berkembang tak kala rencana yang begitu matang akhirnya tiba pembalasan kepada Aini, tidak mudah baginya untuk menyusun rencana yang sudah dia buat hanya untuk membuat Aini sengsara tanpa diketahui oleh suaminya—Jhon.

__ADS_1


"Saya tidak mau bila rencana yang sudah lama gagal total hanya dengan kebodohan kamu!" pinta Rose dalam bahasa Prancis.


***


Acara makan siang bersama dengan keluarga Gozali membuat Aini tambah semangat, pasalnya sang kakak angkat telah menemukan tambatan hati. Hari ini Aini di undang oleh Bunda Ismi makan siang untuk bertemu dengan calon istri Reyzal yang berprofesi sebagai guru ngaji sekaligus sebagai seorang penghibur.


"Kamu sudah memberi kabar sama Ammar?" tanya bunda.


"Sudah, Bun!" jawab Aini yang kini duduk di samping Bunda Ismi.


"Apa kamu betah dengan pekerjaan kamu? Apakah Rahman menyulitkan kamu?" tanya sang ayah.


"Tidak, Yah ... Pak Rahman baik." Aini berusaha untuk tidak mengecewakan ke dua orang tuanya.


Tidak lama kemudian, Reyzal pun datang bersama Jasmine. Tampilan Jasmine yang memakai kerudung syar'i membuat jati dirinya yang keduanya sebagai seorang wanita malam tidak terlihat sama sekali.


Setelah pengenalan, mereka makan bersama. Di mana Reyzal memberikan perhatian pada Jasmine dan itu membuat Aini merasa senang bila Reyzal sudah menemukan tambatan hatinya.


"Ok, langsung saja pada intinya, Jasmine ... kita akan bertemu dengan keluarga kamu untuk membahas hubungan kamu dengan Al," ujar sang ayah tanpa basa-basi.


"Apa, Om?" tanya Jasmine yang terkejut dengan ucapan ayahnya Reyzal.


"Apa kamu keberatan?" tanya sang ayah dengan nada serius.


"Yah!" ucap Reyzal yang tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang ayah.


"Al ... Ayahmu hanya ingin secepatnya melihat kalian menikah, karena tidak baik menunda sesuatu yang baik, ya kan, Sayang." Ismi melirik ke arah Aini untuk meminta persetujuan.


"Ah, benar apa yang diucap bunda!" Aini tersenyum di balik cadarnya.

__ADS_1


"Ta–tapi, Tante," ucap Jasmine yang terbata, karena ini tidak termasuk rencananya bersama Reyzal. Pemuda itu hanya mengundangnya untuk acara makan siang bersama keluarga. Akan tetapi tidak untuk membicarakan soal pernikahan dan pertemuan dengan orang tua.


Reyzal dan Jasmine saling melempar pandangan satu sama lain, begitu mudahnya dia masuk ke dalam jebakan Reyzal sehingga bingung harus berbuat apa, karena dia sudah menolak ajakan Reyzal untuk ta'aruf.


Setelah acara makan itu selesai, Reyzal pun mangantar Jasmine pulang. Sementara, Aini kembali untuk kekantor pribadinya untuk melanjutkan penyelidikan atas kasus yang di perintah kan oleh Rahman.


"Astagfirullah ... Pak Rahman? Ngapain di sini?" tanya Aini saat dia sudah sampai di kantor pribadi yang sudah disediakan Bunda Ismi.


"Saya, hanya numpang makan, lapar!" Rahman dengan sesuka hatinya memesankan begitu banyak makanan atas meja.


Aini mulai memutar bola matanya dengan malas, dia pun memilih untuk keluar dari ruangan itu agar tidak menjadi fitnah. Akan tetapi Rahman menyuruhnya untuk menemani dia makan, agar napsu makanya bertambah.


"Maaf, Pak ... bukanya saya tidak mau, saya hanya ingin meng—"


"Hanya ingin apa? Ingin menghindari fitnah? Buka saja pintunya, anggap ini adalah perintah bos kamu! Saya lagi kurang napsu makan, jadi tolong temani saya di sini! Di depan pintu juga tidak apa-apa," ujar Rahman yang meminum minuman kalengnya.


Terpaksa Aini menemani bos-nya itu makan siang, seraya duduk kembali ke kursi kerjanya. Semua bukti sudah Aini kumpulkan dan dia pelajari, bahkan Aini sudah mengantongi pasal berlapis untuk pelaku yang sudah mencemarkan nama baik perusahaan bosnya.


"Aini, kamu tidak mau?" tawar Rahman.


"Tidak Pak, saya sudah kenyang!" Aini masih berkutik di depan layar monitor lebar seraya jemari lentiknya mengetik bagian yang harus dia cari.


"Kapan, suamimu pulang?" tanya Rahman dengan santai.


Jari Aini langsung terhenti ketika mendengar pertanyaan yang cukup sensitif untuk dia, tapi mengingat Rahman termasuk keponakan Ismi, jadi dia lebih memilih menjawabnya sekilas.


"Aini, kamu beneran tidak mau? Ini enak loh rasanya! Sini jangan malu-malu!" Rahman menggeser makanan untuk mengisyaratkan bahwa Aini boleh mencicipi makanan yang dia pesan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2