Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
bab 81 Frustasi 2


__ADS_3

Kemang, Jakarta Selatan.


Seeeerrr!


Suara air dari sower turun deras membasahi tubuh Ammar yang kekar. Baru sehari Aini di kabarkan menghilang, tapi sudah membuat Ammar berhasil memporak pondakan setengah wilayah di beberapa kota. Ammar tidak tahu harus kemana lagi mencari istrinya yang sedang dalam keadaan hamil tersebut.


Perasaannya semakin kacau saat mengingat wajah istrinya yang terakhir waktu di rumah Sakit Cinta Ibu. Aini sama sekali tidak melihat Ammar sedikitpun.


"Akkkggg ....!" teriakan Ammar menggema di kamar mandi.


Tok tok tok.


"Bang? Abang gak apa - apa?" Nabila merasa kawatir saat mendengar teriakan dari kamar mandi.


Ceklek.


Ammar keluar dari kamar mandi tanpa melihat ke arah Nabila yang sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Bang, makan dulu! Nabila sudah siapkan untuk abang," ucap Nabila.


"Abang sudah makan tadi." Ammar langsung merebahkan tubuhnya setelah memakai bajunya.


Nabila melihat Ammar yang langsung tertidur di atas tempat tidurnya segera menhampiri Ammar untuk menggantikan perban di tangan Ammar secara perlahan.


'Sebegitu besarkah kamu mencintainya? Sampai sampai kamu tidak perduli terhadap dirimu sendiri bang?' ucap Nabila dalam hatinya.


'Jelas - jelas aku yang memperdulikan ke adaan mu. Tapi, tidak sedikitpun kamu melihat ke arah ku.' Nabila segera bangun saat selesai menggantikan perban di tangan Ammar.


Tap!


Ammar menangkap tangan Nabila dan menariknya dengan kencang, sehingga Nabila terjatuh kedalam pelukanya.


"Ahh!" teriak Nabila pelan saat dirinya berada didada bidang suaminya.


"Jangan pergi!" ucap Ammar saat matanya masih terpejam dan memeluk Nabila dengan erat


Nabila tersenyum saat Ammar melarangnya jangan pergi sambil memeluk dirinya dengan erat. Nabila melihat wajah tampan suaminya begitu dekat, sangat mempesonah. Nabila tergoda saat melihat bibir Ammar yang begitu dekat.


Nabila mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir suaminya.


Cup.

__ADS_1


Kecupan lembut mendarat di bibir Ammar, melihat suaminya masih terdiam. Nabila mencobanya lagi dan terus meluncurkan ciuman lembutnya di mulut Ammar.


Ammar merasakan dirinya sedang di cumbu oleh Aini, Namun karena rasa kantuk dan rasa lelahnya yang seharian tanpa henti mencari Aini, membuat Ammar sulit untuk bangun. Nabila yang sudah mulai terangsang akibat ulahnya sendiri kini tidak berhenti dan terus menerus mencumbui suaminya dengan lembut.


Ammar yang terus menerut mendapat serangan dari istrinya mulai teransang dan langsung menahan tengkuk lehernya tanpa melihat siapa yang dia cium dengan penuh gairah.


Ammar ******* bibir Nabila yang masih di sangka Ammar adalah Aini dengan penuh mengebu gebu. Ammar mengabsen di setiap rongga mulut Nabila tanpa berhenti dan kini tangannya mulai masuk ke dalam baju Nabila dan meremas buah yang empuk milik Nabila.


"Aahh ....!" d*sah*n Nabila lolos dari mulutnya saat Ammar menyesap dan meremas sekuat kuatnya buah empuk milik Nabila.


Ammar kembali mencium bibir Nabila dengan rakus tampa membuka matanya, kini tangan Ammar menjalar menelusuri ke area privat milik Nabila.


Perasaan Nabila yang begitu mengebu saat Ammar begitu agresif menyentuhnya mulai merasa takut karena ini yang pertama untuknya.


"Mulai sekarang Mas tidak akan melepaskan mu dari genggaman Mas, Aini. Mas mohon jangan pergi lagi dari mas Aini!" ucap Ammar yang berbisik di telinga Nabila masih setengah sadarnya.


Jegeeeerrr!


Nabila langsung merasakan sakit yang luar biasa saat suaminya menganggap dirinya adalah Aini. Nabila langsung meneteskan air mata dan mendorong Ammar dengan keras.


Ammar yang gairahnya mulai meredup karena rasa lelah di sertai rasa ngantuknya langsung kembali tertidur saat Nabila mendorongnya dengan keras.


Nabila segera membersihkan dirinnya sambil menangis cukup lama di dalam kamar mandi hingga akhirnya Nabila keluar hanya menggunakan handuknya dan bergegas memakai bajunya kembali.


Ke esokan paginya


Ammar terbangun dari tidurnya yang lelap, melihat ke arah samping ternyata Nabila sudah tidak ada, Ammar melihat dirinya sendiri yang ternyata sudah tidak memakai bajunya.


Ammar bergegas pergi ke kamar mandi, membasahi seluruh tubuhnya yang kekar dengan sower. Ammar mencoba menerka nerka ingatannya soal mimpi indah yang begitu nyata baginya saat Aini kembali kepelukannya dan mencumbui dirinya.


"Aaakkgghh, Aini!" teriak Ammar yang meng*la saat Ammar mengingat kembali adegan panas mereka di rumah Hanum, waktu Aini mencumbuinya dengan agresif penuh dengan g*irah.


Hal itu membuat Ammar semakin kesal di tambah semalam Ammar hampir bercinta dengan Aini yang ternyata semua hanya sebuah mimpi. Setelah selesai Ammar langsung turun ke bawah menghampiri Nabila yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Pagi," ucap Ammar yang mencium kening Nabila. Tapi, Nabila hanya terdiam.


"Nabila, hari ini abang rencananya mau ke Prancis bersama Roy setelah pulang dari kantor, abang mau untuk sementar kamu tinggal bersama Papih dulu. Karena abang takut peneror akan datang lagi," ucap Ammar datar. Namun Nabila masih saja terdiam tidak membalas ucapan Ammar.


"Kamu kenapa?" tanya Ammar yang merasa aneh terhadap Nabila.


Seusai makanpun Nabila masih terdiam sambil mengemas segala keperluan Ammar selama di Prancis.

__ADS_1


"Apa abang buat salah sama kamu?" tanya Ammar yang terus memperhatikan Nabila.


"Nabila! kalau abang ada salah, Abang minta maaf! abang lagi gak mood untuk bertengkar sama kamu, tolong ngertiin posisi abang!" Ammar yang terus berbicara.


"Ngertiin? Maksud abang, Nabila harus ngertiin abang, sedangkan abang sendiri gak pernah ngertiin posisi Nabila. Abang tau gak abang itu egois!"


"Egois di sebelah mana? Abang selalu berusaha se adil mungkin Nabila!" Ammar yang sudah emosi.


"Adil? Adil dimana? Sampai saat ini aja Nabila belum menjalankan tugas Nabila sebagai istri Abang. itu yang disebut adil? Iya!"


"Astagfirullah, Nabila untuk masalah itu kita bahas nanti setelah abang pulang bersama Aini, sekarang abang tidak mau terus terusan berdebat sama kamu." Ammar memijat keningnya yang terasa pusing.


"Aini. Aini dan Aini! Kapan Nabila ada di hati abang?"


"Nabila, stop! "


"Ck! Sekarang abang pilih. Nabila atau Aini?" ucapan Nabila membuat Ammar naik pitam.


Brukk!


Suara bantingan pintu yang sangat kencang oleh Ammar karena menahan rasa kesal dengan ucapan Nabila.


"Abang kecewa sama kamu Nabila!" Ammar nunjuk Nabila


"Sama bang! Nabila juga kecewa sama sikap abang yang pilih kasih!"


"Astagfirullah, Nabila!" Ammar sangat marah dengan ucapan Nabila, karena kalau dia memilih salah satu itu sama saja Ammar menalak salah satu dari istrinya.


Ammar duduk di sofa kamar sambil mengusap kasar wajahnya, perlahan emosi Ammar mereda dan mendekati Nabila lalu membawanya kedalam pelukannya.


"Maafin Abang, kalau abang melukai hati kamu" Ammar mengecup kening Nabila dan mengusap air mata Nabila.


"Nabila, abang gak bisa memilih di antara kalian, Abang sayang sama Aini dan juga kamu. kalian berdua adalah orang yang paling berharga di hati abang."


"Apa abang juga sayang sama Nabila?" Nabila masih menangis sesegukan.


"Abang sayang sama kamu Nabila, jadi abang mohon jangan berkata seperti itu." Ammar terus mempererat pelukannya.


"Apa sayang abang ke Nabila sama seperti rasa sayang Abang ke Aini?" ucapan Nabila kali ini tidak bisa untuk Ammar jawab.


"Kenapa diam? Apakah emang tidak ada tempat untuk Nabila singgah di hati Abang?" Nabila terus menangis di dalam pelukan Ammar.

__ADS_1


Entah harus bagaimana Ammar memberi tahu Nabila, supaya Nabila bisa mengerti bahwa Ammar memang tidak ada rasa cinta terhadap Nabila. Karena hatinya sudah penuh dengan istri pertamanya yang bernama Aini.


Bersambung....


__ADS_2