Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 160. Tangisan Naura


__ADS_3

"Bunda, boleh Naura cium dedek kembar?" tanya Naura saat berada di dalam kamar bersama Aini yang sedang memberikan ASI pada si kembar.


"Boleh, dong!" ucap Aini ketika posisinya tiduran di samping Khansa.


Naura pun mencium si kembar dengan gemas, mengusap kepala si kembar seraya menyanyikan lagi pengantar tidur yang legendaris untuk anak kecil yaitu Nina Bobo.


"Bunda," panggil Naura yang kembali melihat Aini masih memberikan ASI pada si kembar.


"Apa, Sayang? Kamu belum mau tidur? Liat, sudah jam berapa? Sini tidur!" Aini melepaskan Khansa yang sudah terlepas dari dot-nya dan bergantian tidur di samping Naura seraya menepuk bokong kecil Naura dengan lantunan sholawat.


"Bunda, boleh Naura melihat wajah Bunda?" ucap Naura yang ingin membuka cadar Naura, tetapi tangan Aini sudah mencegahnya lebih dulu.


Naura tampak sedih ketika mengetahui bila Aini tidak mengijinkannya, dia pun menundukan wajah sedihnya sembari menjauhkan tangannya pada wajah Aini.


Aini pun tersenyum lalu membuka tali yang mengikat di kepalanya, perlahan dia menurunkan cadarnya. Hingga terpampang jelas wajah cantik Aini di mata Naura yang tengah tersenyum gembira.


"Bunda cantik banget!" puji Naura berbinar melihat wajah cantik yang menurutnya adalan ibunya. "Naura sayang sama, Bunda! Naura pengen cantik seperti Bunda!"


Aini pun memakai cadarnya kembali dan memeluk malaikat kecil tanpa dosa itu. "Bunda Aini juga sayang sama Naura, tidak perlu menjadi cantik seperti Bunda, karena kamu jauh lebih cantik dari Bunda, Bundanya Naura pasti lebih cantik dari Bunda Aini."


"Ya kan, Bunda Naura, Bunda Aini. Bunda gimana sih? Bunda lupa ya?" ucap Naura dengan lugu dan polos.


Aini pun menghela napas panjangnya dan hanya terdiam, mungkin suatu saat nanti dia bisa menjelaskan bila dirinya bukanlah ibu kandungnya.


"Ya, sekarang baca doa dan bobo, ya ...." ucap Aini seraya kembali menepuk Naura, tetapi anak kecil itu belum juga memejamkan matanya dan melemparkan pertanyaan kembali.

__ADS_1


"Bunda, Naura mau bobo bareng Ayah dan Bunda, Naura panggilin Ayah dulu ya? Biar kita bobo bareng." Naura hendak bangun dari tidurnya tetapi dicegah oleh Aini.


"Hai Naura, jangan!" Aini menarik tangan Naura agar tidak turun dari tempat tidur.


"Kenapa, Bunda? Apa Bunda masih marah sama Ayah? Mangkanya Bunda nggak mau pulang ke rumah Ayah dan bobo bareng sama Ayah?" ucap Naura yang sedih


"Bukan begitu sayang, tapi kalau Ayah ikut bobo di sini, gak cukup! Sempit, kasian dedek kembar," ujar Aini yang memberitahu pada Naura.


"Oh, iya ya ... tapi kan bisa Bun Ayah bobo di sofa, boleh ya, Bun! Bun ... Naura mohon, untuk malam ini saja, Bun!" rengek Naura.


"Naura, nggak bisa, Sayang!" ucap Aini yang ternyata membuat Naura menangis lagi.


"Hai, hai, hai, dengarin, Bunda. Mungkin suatu saat Naura pasti mengerti, kalau Ayah Rahman dan Bunda Aini gak boleh satu ruangan, Sayang!" ucap Aini yang menjelaskan. Akan tetapi Naura tambah menangis dan itu berhasil membuat Ismi masuk ke dalam kamar Aini yang ternyata melihat Rahman yang berdiri dari sela pintu yang terbuka.


"Aini kenapa?" tanya Ismi. "Loh, Naura kenapa nangis?"


"Naura cuma mau bobo sama Ayah dan Bunda! Tapi Bunda Aini nggak mau bobo bareng!" ucap Naura yang mengadu pada Ismi.


Aini hanya terdiam ketika Naura mengungkapkan seluruh isi hatinya, dia berharap Naura cepat mengerti bila Aini dan Rahman tidak akan bisa bersama.


Ismi melihat ke arah Rahman dan juga Aini, dia pun mencoba menjelaskan secara pelan agar Naura mau mengerti. Namun, lagi-lagi Naura tetap pada pendiriannya, dia ingin sang ayah tidur satu kamar, meski tidak satu ranjang dengan Aini.


"Maaf, Bunda. Aini tidak bisa mengabulkannya kali ini!" ucap Aini dengan tegas.


"Tapi kan Ada Bunda, Al, Jasmine—”

__ADS_1


"Aini pernah janji Bun, sama Mas Ammar. Bila A'Al yang terakhir masuk ke dalam kamar Aini dan Mas Ammar." Aini melihat ke arah Naura yang dipeluk oleh Rahman di depan pintu kamar.


"Naura, Naura kan janji sama Bunda, nggak boleh nakal! Naura harus tepati janji Naura, Ayah nggak suka Naura berbohong," ucap Taman yang mencoba menjelaskan.


"Selama ini Naura pengen ngerasain bobo bareng lagi sama Bunda dan Ayah, Ayah minta maaf sana sama Bunda, ayo Yah ... minta maaf. Bunda pasti mau maafin Ayah!" rengek Naura dan dia pun kembali mendekati Aini.


"Bunda maukan maafin Ayah? Naura janji Bun, ini permintaan Naura yang terakhir kalinya, Naura ingin merasakan bobo bareng Bunda sama Ayah lagi! Naura mohon sama Bunda!" Naura bersimpuh di kaki Aini.


Ismi tidak tega melihat cucunya seperti itu dia mencoba membujuk Aini agar mau demi mental sang cucu, meski bukan cucu kandungnya setidaknya dia cucu pertama baginya.


Akhirnya Aini pun membuat kesepakatan pada Ismi, bila dia menyetujui permintaan Naura yang tidur bersama Rahman dalam satu kamar bukan satu tempat tidur, di temani oleh Ismi, Rey, Jasmine.


Pintu kamar pun terbuka lebar, di mana sofa dalam kamar yang tidak jauh dengan bed cover ditempati oleh Rahman. Lambat laun Naura pun tertidur dalam pelukan Aini, dimana semua orang pun tertidur dalam kamar itu, hanya Robert dan Ainun yang tidur di kamar masing-masing.


Pada saat semua tertidur lelap, Rahman bangun, dia melihat Khan yang terbangun karena popok yang digunakan sudah penuh. Tanpa membangunkan Aini, dia berinisiatif untuk menggantikan popok Khan.


Rahman tersenyum saat melihat Aini tertidur masih berpakaian kumplit plus cadarnya, dia pun teringat ketika tanpa sengaja melihat raut wajah Aini yang begitu cantik dari balik cadar. Pilihan hatinya begitu tepat, dia tidak salah memilih calon ibu untuk Naura dan tidak sabar menunggu masa idah Aini telah usai.


"Astagfirullahallazim, Pak Rahman?" Aini pun terkejut saat melihat Rahman sedang mengganti popok anaknya.


"Maaf bila saya membangunkan kamu, saya hanya berniat mengganti popok Khan yang sudah penuh, sekarang sudah selesai. Kamu lebih baik kembali tidur, biar saya yang menjada Khan." Rahman pun menggendong Khan seraya menimang-nimang dengan pelan agar salah satu bayi kembar itu tertidur lelap dalam gendongannya.


"Maaf, merepotkan Pak Rahman!" ucap Aini dengan pelan dia pun tidak tahan menahan kantuk yang luar biasa, karena menurutnya ada bunda dan juga yang lainnya, dia pun kembali tertidur.


Rahman tersenyum lalu meletakan Khan yang kembali tertidur, tidak lupa juga dia memberanikan diri untuk membetulkan posisi kepala Aini, dengan pelan Rahman membetulkan posisi bantal Aini seraya mengecup ubun-ubun Aini dari lapis kain penutup rambut.

__ADS_1


"Aku tidak sabar menunggu kamu menjadi milikku, Aini!" ucap Rahman ketika usai mencium kepala Aini yang masih tertutup kain.


Bersambung. . .


__ADS_2