
Ammar menggendong Nabila hingga ke kamar sebelah dekat dengan kamar Aini, Ammar meletak Nabila dengan perlahan, Nabila yang terus menantap Ammar dengan tatapan penuh makna menarik tangan Ammar ketika Ammar hendak pergi.
" Bang,,," ucap manja Nabila yang tak mau Ammar pergi.
" Istirahat lah dulu,,, Abang juga mau istrahat,, tenang saja,, abang akan istrahat di kamar yang lain. Kalau ada yang ingin kamu perlukan panggil saja abang atau gak ada bik Nuni dia kepala asisten rumah tangga disini" ucap Ammar yang mengelus kepala Nabila dan mengecupnya.
" Bolehkan Nabila minta abang untuk disini menemani Nabila,,? sebentar aja..?" ucap Nabila yang mencoba agar suaminya terus di sampingnya.
Ammar masih terdiam untuk beberapa saat, tapi Nabila dengan memelas memohon pada suaminya.
" Baiklah mas akan menemanimu disini, ohmmm maksudnya abang,,," ucap Ammar yang duduk di samping Nabila.
" Apakah kamar ini kamar Nabila..?"
" Tentu,,, kenapa? suka gak?" ucap Ammar.
" Suka sih,,, Tapi bagaimana dengan Aini..?" ucap penasaran Nabila sambil membereskan baju bajunya
" Dia di kamar sebelah, " ucap Ammar yang membantu membereskan barang barang milik Nabila.
Setelah selesai memasukan barang barang milik Nabila, Ammar pun duduk di pinggir kasur sambil merentangkan badannya di kasur.
" Terimakasih bang, sudah membantu Nabila." ucap Nabila yang memijat kaki Ammar. membuat Ammar tertidur pulas di kamar Nabila.
Pukul 16 : 00 wib, Aini bangun dan melihat sekelilingnya yang kosong, Aini pun melihat jam dan begegas ke kamar mandi. setelah sholat Aini mencari sosok suaminya tak terlihat batang hidungnya.
Mencoba mencari di kamar kamar lain tak menemukan suamianya, karena Aini mendengar bahwa Ammar akan beristrihat di kamar terpisah dari dirinya dan juga Nabila, Aini terus mencari nya di ruang kerja, di dapur, di ruang tamu dan di ruang tv juga tak bisa menemukan suaminya.
Aini mencoba pergi ke kamar Nabila, dengan perasaan bercampur aduk Aini membuka pintu kamar Nabila yang tidak terkunci.
Melihat suaminya yang tertidur pulas di pelukan madunyanya, Nabila yang mengetahui Aini sedang melihatnya hanya bisa terus berpura pura tertidur dalam pelukan Ammar.
Aini menutup pintunya secara perlahan agar tak membangunkan Ammar dan juga Nabila.
" Ya allah apakah aku harus merasakan ini setiap harinya..?" ucap Aini yang menangis dalam hatinya.
Aini pun pergi ke dapur untuk mencari sesuatu karena perutnya begitu lapar.
" Astagfirullah allazim nyonya Aini... biar bibik saja yang masak,,, nanti bibik di omelin sama Tuan Ammar." ucap Bik Nuni
" Eh bibik gak apa apa bik,, saya sudah terbiasa kok bi,,, oh iya bibi asissten di sini..?" ucap Aini.
" Biar bibik bantu ya nyonya,,, Oh iya bibik sampe lupa,, saya bik Nuni asissten kepala rumah tangga di sini nyonya.. biasanya ada bagian masak atau koki dan dua orang di bagian dapur, ada juga bagian laundry lima orang, bagian pembersih setiap pagi dan sore lima orang, tukang kebun enam orang dan termasuk sopir pribadi tuan dan nyonya masing masing satu orang nyonya." ucap Bik Nuni yang membantu Aini memasak.
" Aduh bik banyak amat ya,,, emangnya sebelumnya Ibu memperkerjakan begitu banyak assisten ya bi..?"
" Hmmm sebenarnya si gak nyonya, cuma Tuan Ammar ingin kenyamanan nyonya Aini dan juga hmmmm..."
" Mba Nabila..? maksudnya..? hehe gak apa apa bi..Mba Nabila kan juga istri mas Ammar, " ucap Aini.
" Maaf nyonya,,, " ucap bik Nuni
" Sudah gak apa apa bik, lain kali jangan ragu atau sungkan ya,,,, kalau mau bilang nama Mba Nabila sama saya" ucap Aini yang selesai masak dan mencuci tangannya.
" Baik nyonya, " ucap bik Nuni yang heran.
" Ya sudah yu bik sini duduk di samping saya, kita makan bersama,,, " ucap Aini yang menyiapkan dua piring di atas meja makan.
"Eh gak usah nyonya, saya bisa ambil sendiri piringnya, lagian saya juga uda makan nyonya." ucap tolak bik Nuni secara halus.
" Bener udah makan..? ya sudah kalau sudah makan,, tapi boleh menemani saya duduk disini? biar ***** saya bertambah" ucap Aini yang memberikan kursinya ke bik Nuni.
" Maaf nyonya,, Apa saya gak terlalu lancang duduk di samping nyonya Aini..?"
" Loh kenapa lancang,,,? Karena status kita beda..? sudah lah bik tenang saja, itu tidak berlaku buat saya bik, karena saya memandang kita sama, apalagi bik Nuni lebih tua dari saya justru saya harusnya lebih menghormati bibik, lagian kalau gak ada bibik dan lainnya rumah ini gak akan bersih,, ya kan bik..?" ucap santai Aini
" Ma sya allah bener kata ibu, nyonya Aini memang benar malaikat tanpa sayap." ucap kagum dalam hati Bik Nuni.
__ADS_1
Bik Nuni melihat Aini makan begitu banyak dan lahap membuat bik Nuni merasa ngiler dan menelan slavinanya .
" Malaikat makannya juga banyak yaa..?" ucap dalam hati bik Nuni.
Kruukkk... krruukkk.... suara perut bik Nuni.
"Tuh kan laperr dah makan aja,,, gak usah malu malu,,, " ucap Aini.
" Heheh jadi malu sama nyonya hehehe" ucap bik Nuni yang ikut mengambil nasi berserta lauk yang di masak Aini.
" Hmmmm.... ma sya allah pantesan nyonya lahap bener makannya,, " ucap Bik Nuni yang terkejut merasakan masakan Aini walaupun hanya memasak seblak sayur daging pedas.
" Kenapa bik..?"
" Enak bener nyonya hmmmm....huuu... aahhhhh hmmm hukk huukk" sambil merasakan sensasi pedasnya seblak.
" Hahaha bibik bisa aja.. udah jangan sambil ngomong bik,, makan aja...nih buruan minum dulu bik..." ucap Aini yang memberikan gelas ke Bik Nuni.
Disisi lain.
Ammar yang tersadar dari tidurnya mulai membuka matanya secara berlahan dan merasakan bahwa dirinya sedang memeluk Aini.
" Hmmm...sore honey,,, sayangku... " ucap Ammar yang mencium pipi Nabila bertubi tubi dan mengeratkan pelukaknya.
Nabila yang kaget mendapat perilakuan Ammar yang begitu manis dan hangat hanya bisa terdiam.
" Kamu sudah bangun... kok gak bangunin mas sih,,, tapi ntar dulu ya,,, 5 menit lagi,,, mas masih mau sama kamu" ucap Ammar yang terus mencium badan Nabila dengan manja.
Hati Nabila langsung berdenyut sakit mendengar Ammar menyebut dirinya dengan kata Mas.
" Bang,, Nabila mau ke toilet dulu sebentar.." ucap Nabila yang menggeser tangan Ammar dari pelukannya.
Ammar yang mendengar suara Nabila langsung kaget dan bangun dari posisinya.
" Ahh.. maaf Nabila mas gak sengaja ketiduran ah... maksud nya Abang gak sengaja ketiduran." ucap Ammar yang langsung duduk dan memegang kepalanya yang pusing.
Nabila hanya terdiam dan masuk ke kamar mandi tanpa membalas perkataan Ammar. Ammar pun mengajak Nabila untuk sholat berjamaah. Setelah sholat berjamaah bersama Nabila, Ammar melihat Aini di kamar nya tetapi tidak ada.
" Eh mas,, sudah bangun hehe maaf tadi Aini gak bangunin mas, Aini pikir mungkin mas dan mba Nabila cape jadi butuh istrahat... " ucap Aini yang bangun dari duduknya.
" Maaf tadi mas gak sengaja ketiduran di kamar Nabila." ucap Ammar yang mendekat ke Aini lalu mengecup puncak kepala Aini.
"Oh iya tadi Aini laper jadinya Aini cuma masak ini aja buat ganjel perut. mas sama mba Nabila mau coba..? biar Aini ambilakan piringnya dulu." ucap Aini yang hendak mengambilakan piring.
Ammar yang terus melihat bik Nuni di samping Aini membuat Aini tersadar pandangan suaminya.
" Maaf mas tadi Aini yang menyuruh Bik Nuni untuk temani Aini makan,, " ucap Aini yang mengambilkan Seblak ke mangkuk Ammar dan Nabila.
" Maaf Tuan, nyonya Aini, nyonya Nabila,,, saya permisi ke belakang" ucap Bik Nuni yang mengerti situasi.
" Loh bik kenapa..? kan makanannya belum habis..?" ucap Aini.
" Gak apa apa nyonya,, saya lanjutkan di belakang saja." ucap Bik Nuni yang mengambil semangkuk seblaknya. dan lari ke belakang dapur.
Ammar memasukan sesendok seblak dalam mulutnya, mengunyahnya dengan penuh hayat.
" Gimana mas?"
" Hmmm... hmmmm Enak,, kamu yang bikin?" ucap Ammar yang langsung menyendoknya lagi ke dalam mulutnya.
Nabila yang merasa Ammar makan dengan lahap akhirnya ikut menyuap ke dalam mulutnya sendiri.
" Ya... walaupun di bantu sama Bik Nuni.."
" Astaghfirullah bang... hhuuuu aahhhhhhhh.." ucap Nabila yang kelabakan karena pedas.
" Astaghfirullah Nabila, (mba Nabila) kamu gak apa apa..? minum dulu" ucap Ammar yang bersamaan dengan Aini dan memberikan minuman.
__ADS_1
Nabila yang memilih minuman Air putih hangat dari Ammar. Ammar hanya bisa melirik sekilas ke Aini yang memberikan minuman susu putih hangat ke Nabila.
" Ya ampun Aini kok kamu gak bilang si kalau masakan kamu pedas..? aku tuh gak bisa makan makanan yang pedas Aini..." ucap marah Nabila yang kepedasan.
" Ma.. mmmaaff mba,, Aini gak tau..." ucap Aini merasa bersalah.
" Ampun Aini berarti kamu juga gak tau kalau bang Ammar juga gak bisa makan pedas..?" ucap Nabila yang memarahi Aini.
Aini kaget bahwa suaminya tidak bisa makan pedas tetapi malah di makan oleh suaminya.
" Nabila,, udah minum dulu... nanti abang pesankan makanan buat kamu ok.." ucap Ammar.
" Maa... aaff mas Aini gak tau kalau mas sama mba Nabila gak bisa makan pedas" ucap Aini yang menahan tangisannya.
" Sudah gak apa apa, mas suka kok enak." ucap Ammar yang memakan lagi.
" Bang,,, itu tuh pedas banget... nanti kamu sakit.. Nabila gak mau sampai abang sakit..udah ya,,? nanti Nabila buatin yang gak pedas buat abang," ucap Nabila yang menyodorkan air putih hangat ke Ammar dan mengambil mangkuk dari Ammar.
Aini yang melihat sekaligus mendegar ucapan Nabila rasanya begitu sesak di dada sampai Aini sulit untuk bernafas.
" Aini maaf ya, lebih baik kamu jauhkan makanan ini dulu ya... kasian bang Ammar kalau sampai makan lagi yang ada nanti sakit perutnya." ucap Nabila dengan lembut, benar, tapi menusuk.
" Jangan biar mas abiskan dulu yang di mangkuk,," ucap Ammar
" Ih.. jangan mas, benar apa kata mba Nabila.. Aini juga gak mau buat mas sakit. gak apa apa mas biar Aini aja yang habiskan, Aini permisi dulu ya mba, mas" ucap Aini yang langsung pergi membawa mangkuknya, hampir saja meneteskan air mata di depan mereka.
Ammar yang hanya bisa menarik nafas panjang merasa serba salah, sedangkan Aini yang membawa mangkuk ke dapur belakang akhirnya meneteskan juga air matanya.
" Hah,, ampun dah gue,, baru begini aja nangis,,, " ucap Aini yang bicara sendiri di dapur dan menyeka airmata nya dengan tangan.
" Emang se pedas itu ya..? kok gue bisa gak tau mas Ammar gak suka makan pedas? trus mau di kemanain dong ini..? kalau gue buang sayang,, gue makan sekarang kenyang... gue simpen takut mba Nabila marah lagi...oh iya...." ucap Aini yang mengambil ponselnya terus mempotret seblaknya.
" Sayaaang,,,,? kamu dimana?" ucap Ammar.
Aini kaget dan langsung menhampiri suaminya.
" Ya, mas ada apa..?" ucap Aini dengan nada kaget dan menarik nafas pedek dengan tepo cepat.
" Kamu kenapa..? kaya kaget gitu mas panggil..?" ucap Ammar
" Gak apa apa mas, oh iya ada pa?" ucap Aini dengan lembut.
" Maaf kan mas ya,, soal tadi di meja makan." ucap Ammar yang memeluk Aini dan mengecup keningnya.
" Kenapa mas yang minta maaf..? seharusnya kan Aini mas.. maaf ya Aini ... belum banyak tau tentang mas.." ucap Aini.
" Gak apa apa... lagian mas juga suka pedas kok, jadi lain kali kalau kamu masak pedas jangan ragu kasih ke mas, tapi ingat,, jangan terlalu pedas.. bukan karena gak bisa makan pedas,, hanya saja itu gak baik buat kesehatan kamu kalau terlalu pedas ok." ucap Ammar yang mencubit hidung Aini.
" Siap bos" ucap Aini yang yang hormat ke suaminya.
" Gimana..? apakah masih perih kalau mas pinta" ucap Ammar yang berbisik.
" Mas ih..masih siang tau,, " ucap Aini yang mencupit pipi Ammar.
" Abang...?" ucap Nabila yang memanggil suaminya.
Seketika Aini mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari nya.
" Kenapa kamu dorong mas sih?" ucap Ammar yang merceloteh pelan.
" Ya gak enaklah mas, kalau sampai di liat mba Nabila" balas celoteh pelan Aini.
" Kok abang bisa disini..? hayuuu katanya mau anterin Nabila ke rumah papi,,?" ucap Nabila yang sudah rapih.
" Mas sama mba Nabila mau pergi..?" ucap Aini yang melihat nya.
" Ya, Nabila minta di temani ke rumah papi sebentar buat ngambil barang yang peting, apa kamu mau ikut?" ucap Ammar
__ADS_1
Aini ingin sekali ikut bersama Ammar kemana suaminya pergi, tapi dia sadar ada sosok Nabila juga yang ada di samping suaminya.
Bersambung,,,,