Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 162. Bujukan Ismi


__ADS_3

"Kamu, lagi nggak bercanda kan?" Abizar melihat ke arah Nabila yang sedang tertunduk malu, dia menunggu jawaban dari wanita bercadar yang duduk disampingnya tapi tak kunjung mendapat jawaban, dia pun kembali berkata, "Nabila, kamu tau, apa yang sudah kamu katakan, tidak bisa ditarik lagi! Ngerti?"


Nabila hanya mengangguk secara perlahan, betapa malu nya dia saat mengatakan hal itu pada Abizar. Telinganya pun mendengar suara teriakan rasa senang dari pria yang duduk di sampingnya.


"Yes! Wooo ... Alhamdulillah, ya Allah!" Abizar ingin memeluk Nabila tetapi dia pun langsung tersadar dan tidak berani menyentuhnya. "Astagfirullah maaf, Nabila. Aku terlalu senang!"


"Tidak apa-apa, bisa sekarang kita lanjutkan perjalanan?" ujar Nabila.


Abizar pun langsung menancapkan pedal gasnya menjalankan mobilnya menuju tempat yang dituju, selama perjalanan itu pula mereka pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.


"Mau pesan apa?" tanya besar kepada Nabila.


"Samain saja," jawab Nabila dengan singkat.


Abidzar pun menyamakan menu makanan yang dia pilih untuk Nabila dengan kesukaannya, selagi mereka menunggu makanan, Abizar mulai membuka suaranya lebih dulu.


"Apa kamu yakin, bekerja di perusahaan mantan suami kamu?" tanya Abidzar yang sebelumnya sudah menawarkan kerjasama pada Nabila di perusahaannya.


"Kenapa? Kamu cemburu? Aku hanya ingin membantu Aini, karena dia sama sekali belum ada pengalaman di dunia bisnis." Nabila menaruh ponselnya di atas meja.

__ADS_1


Setelah Nabila mengatakan hal itu, Abizar menjadi mengerti, bila ternyata calon istrinya memiliki jiwa yang bersih dan tulus. Dia pun tidak bisa memaksakan keinginan Nabilah untuk bekerja di perusahaan mantan suaminya.


"Oke kalau itu mau kamu, tapi ingat, jangan terlalu capek, jaga kesehatan. Aku tidak mau bilang kamu sampai kelelahan dan membatalkan acara sakral kita," ujar Abidzar yang memberitahu Nabila.


Nabila hanya tersenyum mendengar penuturan kata dari Abidzar, dia berharap jika pilihannya kali ini adalah pilihan terakhir dia memilih Abizar sebagai imamnya dunia dan akhirat.


Di aela-sela mereka masih asik bicara, seorang pelayan membawakan makanan pesanan mereka dan menaruhnya dia atas meja. Mereka pun menikmati makan siang mereka bersama.


Usai makan siang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kota di mana Nabila tinggal. Begitu sampai di rumah Nabila yang sudah lama tidak di tempati, membuat Abizar melihat-lihat ke arah sekitar halaman. Ternyata rumah itu masih tertata rapih dan bersih, mungkin Nabila menyuruh orang untuk merawat rumahnya.


"Apa Kamu akan tinggal di sini sendirian?" tanya Abizar.


"Terima kasih, kapan kamu siap?" tanya Abizar yang langsung to the poin. Dia sudah tidak mau berlarut-larut dalam suatu hubungan walapun baru tadi pagi Nabila menyetujui hubungan mereka untuk ke jenjang yang lebih serius.


"Insyaallah, minggu depan siap bila Mas Abizar ingin pergi ke nuansa kembangan pagi hari," ujar Nabila yang kini duduk di samping Abizar yang terhalang oleh meja.


"Alhamdulillah, baik lah! Mas akan usahakan untuk pergi menemui ibumu." Abizar menyeruput minuman hangat buatan Nabila.


"Kapan kamu mulai bekerja?" tanya Abizar yang seraya melirik ke Nabila.

__ADS_1


"Insya Allah besok sudah mulai kerja!" sahut Nabila yang di anggukan oleh Abizar.


...----------------...


Naura yang merindukan sosok Aini berada di sampingnya, kini menangis meminta agar wanita bercadar itu mau tinggal bersamanya. Akan tetapi, Aini tidak kunjung datang ke rumahnya hingga membuat Naura jatuh sakit dan harus dirawat intensif.


Berbagai cara Rahman dan Ismi membujuk Naura agar mau makan tetapi gadis kecil dengan rambut sedikit pirang itu menangis merengek meminta Aini untuk menjadi ibu sambungany. Sehingga mau tidak mau Rahman pun menelepon Aini melalui Bunda Ismi.


"Halo, assalamualaikum Aini? Aini, Bunda boleh minta tolong sama kamu, untuk datang ke rumah sakit anak dan ibu?" pinta Ismi kepada Aini saat wanita yang menjadi anak angkatnya itu tengah menemui rapat penting dari dari kolega ternama.


Aini tahu mungkin dia terkesan kejam pada anak seusia Naura, tetapi ini demi kebaikan dia untuk menjaga nama baik mantan suaminya—Ammar, karena sama sekali dia tidak memiliki perasaan terhadap Rahman.


Hubungannya dengan Rahman hanyalah sebatas rekan kerja saja, tapi dia tidak menyangka bila tindakannya kali ini justru membuat malaikat kecil tanpa bersayap itu harus masuk rumah sakit.


"Aini, Bunda minta sekali lagi sama kamu, kasihan Naura. dia ingin kamu menjadi ibu sambungnya, kasih kesempatan untuk Rahman menggantikan posisi Ammar! Bunda juga yakin, Bilaa Rahman bisa menjadi Ayah sambung untuk si kembar," ujar Ismi yang meminta kepada Aini seraya menangis.


"Maaf Bunda, kali ini Aini tidak bisa mengabulkan permintaan Bunda untuk menerima lamaran dari Mas Rahman. Toh, Aini juga masa idahnya belum selesai!" Aini masih setia mendengar penuturan dari Ismi.


"Ya kalau misalkan emang kamu masih belum mau nerima Mas Rahman jadi suami kamu setidaknya kamu mau datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Naura! Dia butuh kamu, Aini!" Sekali lagi Ismi pun memohon agar Aini mau bergerak pergi ke arah rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2