Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 122. Bom atom


__ADS_3

"Dah hayuu, buruan mandi!" Seru Ammar setelah selesai dari kamar mandi lalu menggoyangkan tubuh Aini dari balik selimut.


"Iya, ini juga mau!" Aini menarik selimutnya dari cengraman Ammar dan berjalan menuju kamar mandi.


"Nanti, Mas langsung ke Pak ustad Rahman ya?" Ammar meminta izin terlebih dahulu.


"Iya," jawab Aini masih dengan raut wajah yang merajuk. Ammar hanya menahan tawanya saat melihat sikap istrinya yang menggemaskan.


Beberapa menit kemudian, Aini keluar dari dalam kamar dan ternyata sudah ada bunda Ismi dan Reyzal di ruang tamu.


"Bunda? Assalamualaikum." Aini melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Ismi.


"Waalaikumussalam. Ya ampun, tambah seksi aja, anak Bunda." Ismi memeluk Aini


"Ihhs, Bunda!" Aini sedikit kurang percaya diri saat dirinya bertambah gemuk setelah melahirkan.


"Gak apa-apa, wajar! Dulu Bunda juga seperti itu, waktu si Al." Ismi berusaha untuk menenangkan perasaan minder terhadap Aini.


"Ah, iya ... hampir lupa, ini Bunda ada oleh-oleh untuk Khan dan Khansa." Ismi menyerahkan beberapa paper bag kepada Aini.


"Wah, terima kasih ya, Bun!" ucap Aini senang mendapat kado dari sang Bunda.


"Iya, ini semua Rey yang memilihkan untuk ponakannya!" Ismi melihat ke arah dapur yang sudah di obrak abrik oleh Rey yang seakan sudah menganggap rumahnya sendiri.


"Ya ampun Aa?" teriak Aini saat melihat Rey sedang memakan semua cemilan kue kelinci dari dalam kulkas.


"Rey, sopan dikit!" teriak Ismi yang merasa tidak enak oleh Ainun.


"Gak, apa-apa! Justru, saya senang, bila bunda Ismi, beserta keluarga mau bersilahturahmi," ucap Ainun yang merasa senang dengan sikap Rey yang begitu cuek dan menganggap rumah sendiri.


Ismi yang merasa tidak enak, melihat tingkah Rey justru berbeda dengan Ainun yang sudah menganggap hal biasa, karena pada saat di villa, Rey selalu membantu Ainun dan Aini selama Ammar tidak berada di dekat mereka.


"Oh iya, kemana suami kamu?" tanya Ismi yang tidak melihat Ammar.


"Tadi sih, Mas Ammar bilang mau bertemu sama Pak ustad Rahman, Bun!"


"Oh gitu,"


"Trus si kembar mana? Bunda mau liat!" Ismi yang sudah tidak sabaran ingin melihat cucunya.


"Ada di kamar, Bunda mau lihat?" Aini langsung berdiri mengajak Ismi untuk melihat si kembar yang tertidur di tempat tidur ayunan.


"Masyaallah, sepasang ya?" tanya Aini ketika sudah masuk kedalam kamar utama bawah.


"Alhamdulillah, Bun!" Aini senang melihat raut wajah Ismi yang hampir menangis saat melihat cucunya.


"Ah, iya! Ayah gak ikut, Bun?" tanya Aini baru sadar bahwa Ayah angkatnya tidak ikut bersama Ismi.


"Ayah masih sibuk, belum bisa jenguk! paling nanti malam jemput, Bunda." Ismi yang menjelaskan kepada Aini.


"Bunda gendong ya? Boleh?" Ismi yang tidak sabar ingin menggendong cucunya.


"Boleh dong, Bun!"

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Ibunya, Ismi langsung menggendong Khansa sedangankan Ainun menggendong Khan untuk di bawa ke ruang tamu.


"Emm, wanginya cucu Omah. Rey kamu gak mau coba gendong?" Ismi mencium gemas pipi Khansa.


"Astagfirullah," ucap Rey yang terkejut melihat Aini yang sedikit mengemuk.


"Ih, nyebelin sekali loh kamu! Baru ketemu udah ngajak perang!" Aini merasa kesal dengan sikap candaan yang Rey buat.


"Ngeledek, Adeknya mulu!" Ismi mencubit pinggang Rey.


"Canda, Bun!" Rey memasang wajah menahan sakit akibat cubitan dari Ismi.


"Yang cowok mana, Bun?" tanya Rey.


"Kamu gak bisa bedain? Mana cowok mana cewek?" Ismi memasang raut bingung kepada anaknya yang sedikit salah tingkah ketika bertemu kembali dengan Aini.


"Canda, Bun! Sini, Rey coba gendong!" Rey mengambil Khansa dari dekapan Ismi untuk menutupi rasa gugupnya ketika bertemu kembali dengan Aini.


"Bisa gak?" tanya Ismi penuh selidik.


"Kan coba, Bun!" Rey sudah menebak bahwa Bundanya mengetahui tingkahnya yang sedikit gugup.


"Tangan, Aa begini." Aini mencoba mengajarkan Rey saat ingin menggendong Khansa.


Rey mencoba memperaktekan gerakan Aini, akan tetapi masih saja kaku dalam menggendong sang bayi.


"Dah, nanti kalau sudah menikah dan punya anak juga bisa sendiri," ucap Ainun yang melihat Rey berusaha untuk seperti yang Aini ajarkan.


Rey menggendong Khansa penuh perhatian, rasa senang dalam diri Rey mengalir alami ketika Rey mencoba mencium Khansa dengan sangat hati-hati.


Berusaha mendapatkan Brownis Amando yang hanya tinggal satu di tempat toko tersebut, sampai harus berebut dengan pengunjung lainya, rela mengantri panjang untuk membeli satu duren montong.


Namun, Aini hanya mencium wanginya tanpa memakan buah duren yang sudah Rey belikan. Semua Rey lakukan tulus karena rasa cinta dan sayang kepada Aini yang sekarang Rey rubah menjadi rasa sayang kepada adiknya.


Brebek, brebek!


Suara pup, dari Khansa yang melepaskan bom atomnya dalam dekapan Rey, semua isi pup Khansa mengenai jaket hingga ke baju Rey.


"Ya, Om Rey, dapet salam kenal dari Khansa." Ismi dan Ainun begitu juga dengan Aini tertawa melihat penampilan Rey yang sudah berlumur warna kuning.


"Sini, biar Aini ganti popok dulu." Aini langsung mengambil Khansa dari pangkuan Rey.


"Sekalian, Aini. Ambilkan baju untuk, Rey," ucap Ainun yang memberikan saran.


"Ya, Bu!" jawab Aini yang berlalu ke dalam kamar.


"Ya sudah sana ganti di kamar mandi tamu, awas salah masuk kamar!" teriak Ismi.


Selang beberapa menit kemudian, setelah selesai merapihkan Khansa. Aini mengantarkan sebuah setelan baju baru yang belum sempat Ammar pakai.


"Aa? Aini taruh bajunya di atas tempat tidur ya?" Aini berteriak dari luar pintu kamar mandi lalu pergi dari kamar tamu.


"Loh, ibu kenapa?" Aini melihat Ainun juga mendapatkan bom atom dari Khan.

__ADS_1


"Sama, dapet salam dari Khan." Ainun menyerahkan Khan kepada Aini untuk mengganti popok baru pada Khan, sedangkan Ainun membersihkan sisa pup yang menempel pada bajunya.


"Bunda, bantu sini." tawar Ismi yang masuk kedalam kamar Aini.


"Gak apa-apa, Bun. Biar Aini saja." Aini meletakan Khan di atas tempat Khusus bayi.


"Nur, makasih ya!" Rey menyerahkan celana yang masih baru kepada Aini.


"Loh gak ganti juga, A?" tanya Ismi yang melihat ke arah Rey.


"Gak kena ke celananya kok, Bun!" Rey melihat Aini yang sibuk mengganti menyiapkan kebutuhan Khan.


"Ya sudah taruh situ aja," ucap Aini yang masih sibuk.


"Kenapa? Pup juga? Coba sini biar aku bantu." tawar Rey kepada Aini.


" Kaya bisa aja!" Ismi memasang raut wajah yang mengejek kepada Rey.


"Ih, ngeremehin, Bunda. Liat nih!" Rey menggulung lengan bajunya.


"Emang bisa?" sindir Aini kepada Rey penuh ketidak percayaan.


"Kan coba! Kamu gendong yang satu aja, biar aku yang mengantikan popok." Rey membuka popok yang sudah terisi penuh oleh pup Khan tanpa merasa jijik.


Pada saat Ismi melihat raut wajah anaknya yang begitu serius mengantikan popok Khan, tiba-tiba ponselnya berdering dan melihat nomor suaminya menghungunginya.


"Bunda angkat telepon dulu dari Ayah!" Ismi memberitahu kepada Aini dan juga Rey, lalu pergi ke arah balkon kamar.


"Aa gak jijik?" Aini melihat raut wajah Rey yang tidak merasakan jijik saat membuka popok Khan.


"Kenapa harus jijik? Nih gimana lagi?" tanya Rey yang masih awam terhadap bayi.


Sambil menggendong Khansa, Aini mengarahkan kepada Rey sampai akhirnya Rey memasangkan celana baru kepada Khan.


"Aini!" teriak Ammar yang terkejut melihat Rey berada di dalam kamar mereka sedang berduaan dengan sang Istri.


"Mas Ammar!" Aini terkejut mendengar namanya di panggil oleh suami dengan nada yang dingin.


"Eh, hay. Bang!" tegur Rey dengan santai lalu memakaikan Khan bedak di wajahnya.


Melihat Suaminya memasang wajah seram, dan memasang aura yang dingin. Aini langsung mengerti situasi yang dia rasakan saat ini. Aini mendekat ke arah Ammar yang sedang menantap ke arah Rey dengan tatapan yang membunuh.


"Mas, ini ...." belum sempat Aini melanjutkan penjelasan kepada Ammar, Ismi langsung masuk kedalam kamar lagi begitu juga dengan Ainun yang keluar dari arah kamar mandi.


"Eh, Ammar, gimana kabarnya? Sudah mendingan?" Bunda Ismi masuk kembali dari arah balkon kamar.


"Kamu sudah pulang, Nak? Apa kata Pak Ustad?" timpal Ainun saat keluar dari dalam kamar mandi.


Aini yang merasa lega saat Ainun dan juga Ismi bisa keluar dari tempat persembunyiannya sehingga bisa menjelaskan kepada sang suami agar tidak salah paham.


"Dah ganteng! Nih liat, bisa kan!" ucap Rey tanpa merasa berdosa sama sekali langsung menggendong Khan dalam dekapannya.


"Ngapa wajah loe, Bang?" ucap Rey yang tau maksud dari raut wajah Ammar yang sudah cemburu buta

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2