
Aini melanjutkan perjalanannya hingga sampai di salah satu perumahan di kawasan Jakarta Utara.
" Ini Non rumahnya..? " ucap Sarah yang takjub melihat rumah nenek Aini.
" Kalau gak salah si Sar" ucap Aini lupa lupa ingat.
" Hmmm si non" ucap Pasrah Sarah dan akhirnya turun menanyakannya ke pak satpam yang ada di rumah itu.
" Hayo non turun,, benar katanya" ucap Sarah yang membuat Aini tersenyum.
Aini di perbolehkan masuk dan menunggu di ruang tamu, tante Dinda pun keluar menyambut Aini dengan senang.
" Ma sya allah Aini..? akhirnya kamu pulang juga kerumah,, " ucap Tante Dinda adik alhm mamahnya.
" Assalamualaikum tante,, iya maaf baru kali ini Aini pulang... maaf juga gak bisa dateng saat Kakek... " ucap Aini terhenti saat di pelukan tantenya.
" Gak apa apa,, semua sudah berlalu,, nanti kalau kamu ada waktu luang kita ke makam nya bareng bareng ya,,, " ucap Dinda melepaskan pelukannya.
" Iya tante,," ucap Aini.
" Oh iya gimana udah ngisi belum..? " ucap Dinda.
" Belum tante. " ucap Sedih Aini.
" Gak apa apa,, wajar,,, sabar,, nanti tante kasih tips buat kamu" ucap Dinda yang menyemangati Aini agar tidak sedih.
" Oia tan.. ini Sarah, Sar kenalin ini tante aku yang cerewet" ledek Aini.
" Saya tantenya Aini yang centil,,, " balas ledek Tantenya
" Saya Sarah tante, Assistennya non Aini"
" Waduhh,,, yang sekarang sudah jadi Nyonyah Ammar,, pake Assisten kalau mau kemana mana" ledek Dinda.
" Tante bisa aja,,, oh ya nenek mana nte?" tanya Aini.
" Nenek ada di taman,,, mau kesana..? " ajak Tantenya dengan semangat Aini menganggukannya dan bertemu dengan Neneknya.
" Assalamualaikum nenek..? " ucap Aini.
" Waalaikumussalam,,, ma sya allah Aini,, " peluk Aini dengan sangat erat.
" Nenek kangeeennnnn" ucap Aini.
"Aini tante tinggal dulu ya ke dapur,,, takut gosong kuenya,,, nanto tante bawain kalau sudah matang okkk"
" ok tante" jawab Aini.
" Mana suami mu sayang..? " ucap Nenek
" Mas Ammar kerja nek, jadinya Aini kesini cuma sama Sarah nek"
Nenek Aini tersenyum melihat Sarah, Sarah pun memperkenalkan dirinya sebagai assistennya.
" Sudah pada makan belum? kalau belum hayuu makan dulu" ajak nenek.
" Sudah nek" ucap Aini begitupun dengan Sarah.
" Ohhh nenek punya kejutan buat kamu, " ajak nenek ke kamar Aini dulu masih kecil yang berada di lantai dua.
Aini membuka pintu kamar nya waktu kecil dan melihat isi dalam kamarnya yang begitu rapih, persis seperti waktu kecil dia dulu, baju bajunya dulu waktu sekolah dan mengaji masih di simpan dengan rapih.
Aini menangis melihat semua nya masih tersimpan seperti dulu.
__ADS_1
" Nenek... " ucap Aini terharu
" Nenek selalu berdoa agar kamu bisa kembali kerumah ini, alhamdulillah doa nenek terkabul juga, waulupun kamu tidak tinggal lagi bersama nenek, setidaknya kamu masih mau kesini. " ucap nenek sambil menangis yang duduk di kasur Aini dulu.
Tak tega melihat neneknya menangis, Aini langsung memeluknya, Sarah yang melihatnya sangat terharu dan meneteskan air mata juga.
" Maaf non ganggu, saya cuma mengingatkan waktunya kuliah non, " ucap Sarah yang memecah kesedihan.
" Nenek,, Aini kuliah dulu ya, in sya allah kalau mas Ammar kasih izin, malam ini Aini nginep disini ya nek,, " ucap Aini yang masih ingin berlama lama bersama neneknya.
" Iya, hati hati di jalan ya,, kabarin nenek ya.. " ucap nenek.
" Oh ya Aini.. nenek masih punya sesuatu lagi buat kamu" ucap nenek yang mengambil sebuah kotak yang sudah usang dan beberapa dus besar.
" Apa nih nek..? "
" Ini semua pemberian dari keluarga Ghozali... Nenek atau pun semua yang tinggal disini tidak berani membukanya, jadi kita semua tidak tau apa semua isi isinya, mereka memberikan ini pertama kali waktu si Al masuk pesantren, dan setiap 2 tahun sekali keluarganya masih menunggu kamu dan memberikan ini semua untuk kamu. Apa kamu masih ingat dengan Al....?" ucap Nenek yang sengingatnya memeberitahu Aini.
" Maaf nek,, Aini baru inget kak Al pas Aini ketemu denganya sebagai assistennya Mas Ammar. " ucap Aini memberi tahu.
" Kok bisa..? trus bagaimana..? "
" Panjang nek ceritanya,, in sya allah sepulang dari kuliah, Aini kesini lagi, untuk sementara ini taruh di sini aja dulu ya nek" ucap Aini.
Neneknya mengerti dan membiarkan Aini untuk pergi lagi, tapi kali ini neneknya merasa lega, karena akhirnya Aini bisa kembali ke rumahnya.
πΈπ₯
Gereja ternama di Jakarta,
" Gimana..? Persiapannya udah beres..? " ucap Frans ke sahabatnya Kevin.
" Sip,, lo tenang aja" ucap Kevin menepuk pundak Frans.
" Wuuiittsss tenang broderrs,,, udah jangan banyak marah,, yokk udah siap kan,,, " ucap Kevin yang menetralkan kondisi grogi Frans.
Frans melangkah keluar dari ruangan pengantin pria dan menuju tempat yang akan mengubah statusnya.
Sesampainya Frans, sekarang giliran Veby yang keluar menuju tempat dimana Frans sudah menunggunya dengan penuh senyuman kemenangan.
Pernikahan Frans dan Veby yang di selenggarakan di salah satu gereja ternama di kota Jakarta yang hanya di hadiri oleh orang orang keterpecayaannya Frans, begitu juga dengan Veby yang hanya di hadiri oleh ibunya saja dan teman teman kerja Veby yang menjadi saksinya.
Bahkan orang tua Frans dan keluarganya termasuk Aini tidak tau bahwa Frans akan menikah dengan Veby.
Frans yang terpukau melihat penampilan Veby yang begitu anggun dan cantik sampai lupa untuk mengedipkan matanya, sedangkan Kevin tak memalingkan pandangannya membuat Frans merasa kesal.
Frans mengulurkan tanganya ke Veby, Veby menerimanya. Kini mereka mengucapkan janji suci mereka berdua, walupun hanya Frans yang dengan tulus mengucapkannya, sedangkan Veby mau tak mau menikah dengan laki laki yang menjadi oenyelamatnya sekaligus dia benci.
Saat waktu nya untuk kedua pengantin berciuman, dengan sigap Veby menutup bibirnya dengan jari jempolnya agar Frans tidak bisa mencium bibirnya langsung.
" Puji syukut tuhan, akhirnya mama bisa liat kamu menikah dengan orang yang tepat" ucap ibunya Veby yang bahagia.
" Yang tepat..? tepat apanya..? tepat si al nya..iya...! " grutu Veby dalam hati.
" Jangan ngedumel, aku tau kamu pasti sedang mengrutuin aku kan? dalam hati?" bisik Frans ke Veby.
" Loh kok dia bisa tau si,,,?" ucap Veby bicara dalam hati.
" Ya tau lah,, kan sekarang aku suami kamu" ucap Frans.
" Ya tuhan...! " tepok jidat Veby sendiri.
Mereka pun merayakan pernikahannya dengan sederhana tapi penuh dengan barang barang mewah dari Frans.
__ADS_1
Setelah acara selesai, Veby di bawa oleh Frans ke apertmentnya, sedangkan ibunya di kasih fasilitas mewah, termasuk rumah pribadi yang kini termasuk atas nama kepemilikan Veby.
" Ini kamar kita, tapi hanya untuk 3 hari kedepan, selanjutnya kamu akan ikut bersama ku tinggal di Prancis." ucap Frans yang memperlihatkan sweetroom yang penuh dengan bunga mawar.
" What...?! kamar kita? Prancis..? " ucap kaget Veby mendengar kamar kita sekaligus ikut bersama dia tinggal di Prancis.
" Why..? apa kamu sudah gak sabar " ucap Frans yang meraba belakang bahu Veby.
" Apaan si loe,,? se enak jidad loe aja,, awasss dont touch me....!!! " ucap Veby galak yang menghindar sentuhan dari Frans.
" Hahaha,,, Veby,, Veby,, jangan terlalu galak honneyyy,,, semakin kamu galak, semakin kamu membangunkan adik kecil ku yang sedang tertidur" goda Frans.
" Gil-la...! " ucap Veby yang mengacungkan jari tengah nya sambil belari menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Veby ingin keluar tapi dia lupa membawa baju ganti, mau tidak mau dia keluar hanya menggunakan handuk.
Perlahan membuka pintu, melihat sekitar isi ruangan, mencari sosok yang ingin dia hindari. tapi matanya langsung menangkap sosok laki laki yang sedang bersadar di atas kasurnya sambil mengutak atik ponselnya.
" Ke-ke,,, luarrr..! " ucap takut Veby.
" Ngapain..? toh ini kamar aku, suka suka aku mau keluar atau gak..! " ucap Frans sambil membuka kancing kemejanya dan berjalan menuju Veby.
" Ehhhh,,, eehhhh,,, mau ngapain loe,,, jangan macem macem loe ama gue,,, stooppp..! " ucap Veby yang ketakutan.
" Minggir,,,! mau mandi, udah gerah,,, " ucap Frans yang menarik Veby keluar dari kamar mandi dan masuk langsung mengunci pintunya.
Brruukkk.. suara pintu yang di tutup Frans.
" Bule gil-la, bule Ed-dan.. " ucap Veby yang menutupi rasa malunya karena ke Ge-eran sambil menendang pintu kamar mandi.
" Apa loe bilang..? " tiba tiba pintu mendadak di buka lagi oleh Frans.
" Ya tuhan... heheh gak kok... gue cuma bilang... pintunya cakep benerr " ngeles Veby yang mendorong Frans masuk lagi ke dalam.
" Awasss kalau ngatain lagi bulle eddan... " tunjuk Frans yang marah.
"Gak kok,,, kuping loe aja budek,, congean... " ucap Veby sambil tersenyum paksa.
" Eehhh,,, ampun ampun... maksud gue,,, nanti malam kita makan nasi gudeg" elak Veby lagi yang mendapat tatapan sinis dari Frans.
Frans mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengan ke arah matanya dan bergantian ke arah mata Veby lalu menutup pintu lagi.
Veby langsung mengelus elus dadanya dan berjalan pelan ke arah lemari dan melihat isi pakaian nya ternyata tidak ada satu pun baju untuknya.
Akhirnya Veby mengambil kemeja Frans yang sedikit kebesaran di pakai oleh Veby. Saat Frans membuka pintu kamar mandi, Veby pun langsung menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Frans yang melihatnya hanya tersenyum jail.
Perlahan Veby membuka matanya dan mengintip dari balik selimutnya, dan ternyata Frans tidak ada di depanya, justru Frans mengagetkan Veby berdiri di sampingnya.
" Cari saya.. ?" ucap Frans yang berdiri di sampingnya.
" Ya tuhan, ngapain si belom pake baju juga, masuk angin baru tau rasa,,, ogah gue ngerokin nya. " ucap Kaget Veby melihat Frans di sampingnya yang memperlihatkan roti sobeknya.
" Apaan tuh ngerokin? " tanya heran Frans yang mendekankan wajahnya ke arah Veby.
" Ah dah lupain aja,, dah sono pake bajunya. ngapain diem aja di situ udah kaya patung" ucap Veby yang menarik selimutnya.
" Gimana mau pake baju,,, baju saya aja di pakai kamu.. " ucap Frans yang menarik selimut Veby dan melihat tubuh Veby yang terekspos.
" Iihhhhh apaan si..? " ucap Veby yang bangun dan duduk menutupi kakinya.
Frans yang melihatnya membuat rasa gejolak itu muncul di balik haduk yang dia kenakan di pinggangnya
" Gimana? tertarik sama senjata bule..? " ucap Frans.
__ADS_1
Bersambung,,,,,,