Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 177. Memadu Rindu


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut, Naura ikut bersama Aini dan Ammar untuk pulang ke rumah Ammar. Begitu Naura sudah tertidur di kamar terpisah bersama Khanza, tinggalah Aini yang tengah berdebar-debar di dalam kamar saat Ammar masih berada di dalam kamar mandi.


Sungguh senang bukan main ketika mengetahui suaminya masih hidup, rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Entah bagaimana dia meluapkan rasa tersebut, tapi ingin sekali dia memeluknya dengan erat dan tidak akan pernah dilepaskan. Namun, sayang dari awal bertemu sampai saat ini belum ada kesempatan dia untuk memeluknya.


Di saat dia sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba suara pintu kamar mandi terbuka, Aini terkejut lalu melihat ke arah Ammar yang baru saja keluar dari pintu kamar mandi. Kedua mata mereka saling melihat satu sama lain, membuat Aini menjadi gugup.


"Belum tidur?" tanya Ammar, terlihat jelas bentuk tubuh yang semakin sixpack di perutnya.


"Sudah," jawab Aini tanpa sadar, membuat Ammar bingung. Dia pun langsung tersadar dari ucapannya dengan salah tingkah. "Ah, eh ... maksud aku, eehm—"


Ammar terus memperhatikan sikap istrinya, dia sengaja membiarkan Aini untuk mengungkapkan perasaannya untuk pertama kalinya hingga dia melihat bila Aini malah menangis.


"Loh, kok nangis?" tanya Ammar, perlahan dia mendekati sang istri yang tengah menangis.


"Ya, bagaimana gak mau menangis! Mas Ammar nggak tahu bagaimana hancurnya aku mengetahui pesawat yang Mas tumpangi kecelakaan dan tidak ada satupun yang selamat, terus tentang anak kita yang diculik dan sampai sekarang Khan belum ada kabarnya!" Aini menangis memukuli dada bidang Ammar ketika dirinya mendapat pelukan dari sang suami.


"Maaf! Maafkan Mas yang tidak ada di sampingmu saat kau butuhkan!" Ammar memeluk tubuh Aini dengan erat agar istrinya itu berhenti memukul tubuhnya, lantas berkata, "Kita sama-sama berdoa, agar Khan bisa cepat ditemukan!"


Aini mengangguk seraya melihat ke arah Ammar, dia melihat manik matanya yang menatapnya dengan lekat seraya mengusap rambut hitamnya dengan tangan kekar itu.


"Kita salat sunah dulu!" ucap Ammar dengan gugup saat detak jantung kembali berdetak.


Aini pun tidak kalah berdegup kencang saat sesaat dia merasakan desiran aneh yang mengalir keseluruhan tubuhnya. Segera dia berlari menjauhi Ammar yang ternyata juga salah tingkah.


***


Mereka memanjatkan doa bersama agar anak mereka yang bernama Khan segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat, mereka juga bersyukur karena bisa dipertemukan lagi dan bersama.

__ADS_1


Usai selesai salat sunah, Ammar langsung menghadap ke arah Aini untuk mencium keningnya. Melampiaskan rasa rindunya kemudian memeluknya dengan erat.


"Aku merindukanmu, Nur Aini!" Ammar memeluk erat tubuh sang istri dari belakang saat Aini merapihkan dan menaruh alat salatnya.


Aini membalikkan tubuhnya, dia melihat jarak wajah sang suami dan wajahnya begitu dekat bahkan hidung mereka, menempel tak terhalang oleh apapun hingga membuat deru keduanya semakin menggebu.


"Apakah kau sudah mulai mencintainya?" tanya Ammar yang mengingat bagaimana lelaki itu mencium Aini di depan wajahnya.


"Only you in my heart forever!" sahut Aini ketika mereka masih begitu dekat. Namun, tanpa sadar baju tidur yang dia gunakan sudah terjatuh terogok ke lantai.


"Oh ya?" Ammar membuka penyanggah kait bagian belakang Aini sembari berucap, "Apa kau merindukanku?"


Ammar melihat Aini mengangguk. "Kalau begitu, kiss me!"


Aini langsung mengecup bibir Ammar dengan pelan dan melihat manik mata Ammar yang mulai sayu menahan gejolak rindu. "Aku mencintaimu, Mas Ammar!"


Ammar terpaku dengan ucapan Aini, dia benar-benar sudah tidak bisa menahannya dan langsung berkata, "Aku hampir kehilanganmu, Aini!"


"Aahh ... Mas Ammar!" dessah Aini saat suaminya berhasil menyatukan miliknya ke dalam sana.


Bola mata Ammar terus melihat gambaran ekspresi wajah sang istri ketika berada di bawahnya yang selalu dia rindukan, pinggulnya terus bergoyang seirama dengan suara dessahan yang saling menyahut.


"Aku merindukanya Aini! Aku ingin melihatnya!" ucap Ammar yang semakin cepat menggerakkan pinggulnya seakan membalaskan dendam salama beberapa bulan ini.


Aini yang tidak mengerti maksud dari suaminya hanya bisa pasrah saat tubuhnya terus mendapatkan hujaman bertubi-tubi dari Ammar. Sampai dia merasakan sesuatu yang membuatnya ingin melayang sampai di titik puncak nikmat.


"Mas," panggil Aini ketika sudah merasakan sesuatu yang akan meledak.

__ADS_1


"Sebut namaku, Aini!" bisik Ammar di telinga Aini. Dia pun mempercepat gerakannya ketika dia juga hampir sampai. "Aku mau keluar, Sayang!"


Gerakan itu semakin cepat dikala suara mereka yang saling bersahutan menjadi pemicu mereka semakin semangat mengejar sampai di titik puncak kenikmatan, hingga pada akhirnya mereka pun sama-sama sampai di garis finish dan saling menyebut nama dengan sebutan mesra.


Ammar terus mellumat bibir manis itu di saat sisa denyutan masih berasa di dalam sana seakan masih belum rela untuk dilepas, tangannya terus membelai kepala Aini dengan mesra memberikan rasa nyaman pada sang istri.


"Aku ingin terus melihatnya, Aini!" Ammar melihat wajah Aini yang tersipu malu akibat ucapannya.


"Maaf ya, Mas! Karena Aini tidak nurut sama ucapan Mas yang menolak ajakan Bunda," ucapan Aini yang merasa bersalah.


"Sudahlah, lupakan! Tidurlah, biar besok Mas akan menceritakan semuanya!" Ammar merebahkan tubuhnya di samping sang istri seraya menarik tangan lembut itu agar masuk ke dalam pelukannya.


Mereka pun tertidur dalam satu selimut yang sama tanpa mengenakan busana, sampai akhirnya mereka terus mengulangi beberapa kali untuk melepas rasa rindu mereka.


***


Aini dan Ainun nampak terkejut saat mendengar ucapan Ammar yang menceritakan kronologi semuanya, bagaimana Rahman merencanakan semua ini. Sampai dalang yang menjadi pemicunya adalah Ismi, istri dari Ghazali.


Ya, Ismi yang memberikan ide kepada Rahman agar Aisyah menjadi istri Rahman. Dia melakukan itu semua karena Rahman adalah anak kandungnya sendiri dari hasil pemerkosaan yang dilakukan oleh mantan kekasihnya yang bernama Nando saat Ismi sudah menikah dengan Ghazali.


Ismi mengaku pada Ghazali bila anak pertama mereka tidak bisa di selamatkan, tetapi yang sebenarnya adalah menyerahkan kepada Isma—kakak kandung—Ismi yang bekerja sama, karena pada saat itu Ismi dan Ghazali menjalani hubungan jarak jauh sehingga Gahzali menganggap bila anak pertama yang dikandung oleh ismi adalah anaknya.


Semenjak kelahiran Reyzal Al-Ghazali, suami—Ismi memilih selalu untuk tidak pernah meninggalkan Ismi, kasih sayang dan harta Gahzali yang membuat Ismi berbuat seperti itu kepada anak kandungnya dan membohongi Suaminya.


Sampai titik puncaknya adalah tentang kejadian yang merenggut nyawa Ibu kandung Aini, seharusnya kecelakaan itu menimpa keluarga Ghazali tetapi karena mobil yang ditumpangi Aini berserta kedua orang tuanya mirip dengan mobil Ghazali sehingga Nando salah menargetkan.


Nando berniat menyelakai keluarga Ghazali karena rasa cemburu terhadap sang kekasih menikah dengan pria yang dijodohkan oleh orang tua Ismi dan juga mengetahui bila ismi membunuh anaknya saat lahir di dunia.

__ADS_1


Sehingga terjadinya kesalahpahaman antara keluarga Aini yaitu robet dengan saingan cintanya yang bernama Galih. Kalung pelacak yang di pakai Aini juga sudah Ammar ketahui bila itu buatan dari Perancis yang artinya dari Jhon. Jhon yang sampai saat ini juga ikut mencintai ibu kandung Aini hanya ingin menjaga Aini.


Bersambung...


__ADS_2