Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 141. Terciduk Polisi


__ADS_3

"Kita mau kemana, Mas?" tanya Aini saat mobil sudah berjalan menjauh dari kampus.


Sepanjang jalan Ammar hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan dari sang istri, hatinya begitu sakit saat mengingat kejadian di depan kampus saat teman-temannya bersorak menyemangati Aini untuk menerima Abizar.


"Mas," ucap Aini dengan lembut.


Ammar menepikan mobilnya dengan cara mendadak membuat Aini terkejut, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa saat rasa cemburu berlebihan dia perlahan menyiksa dirinya.


"Aku kurang apa?" pertanyaan Ammar yang tiba-tiba membuat Aini bingung.


"Apa sih, Mas? Aku gak ngerti," ucap Aini dengan jujur.


Ammar memundurkan kembali tubuhnya kebelakang, dia memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. Dia berpikir sejenak bahwa sikapnya begitu konyol saat tidak terima bila sang istri begitu banyak yang menyukai.


"Aini?" panggil Ammar yang masih terpejam.


"Iya, Mas?" Aini menatap ke arah Ammar.


Ammar menggenggam tangan sang istri, air matanya menetes, dia tidak tahu lagi harus melampiaskan rasa kesal dan cemburunya seperti apa. Ammar hanya ingin sang istri tahu bahwa dia tidak menyukai teman-temannya Aini dan juga Abizar.


"Hai, kok nangis? Mas, Aini sudah bilang ... Abizar hanya kasih kado itu untuk si kembar, lagian dia juga gak ada niatan lain ... dan untuk teman-teman juga, mereka gak tahu." Aini memeluk suaminya dan mengusap air matanya.


"Mas yang tahu Aini, karena Mas bisa liat dari cara dia mandang kamu dan sikapnya dia ke kamu, apalagi dengan teman-teman kamu," ucap Ammar yang menahan emosinya.


Suara intonasi Ammar memang pelan, tapi Aini bisa mengetahui bahwa Ammar sedang menahan rasa amarahnya. Dia pun berjanji kepada sang suami agar meluruskan kesalahpahaman pada teman-temannya.


***


Butik Permata.


Mata Aini terus memandang ke arah toko yang kini sekarang dia singgahi, Aini mulai menerka-nerka untuk apa sang suami mengajaknya ke butik Permata.


"Mas, ini?" tanya Aini yang penasaran.


"Pemilik hotel mau mengajak kita untuk makan malam," sahut Ammar langsung melangkah pergi meninggalkan Aini.

__ADS_1


"Iishh, masih ngambek!" kesal Aini yang mengikuti langkah suaminya.


Pemilik butik serta karyawan menyambut kedatangan Ammar dan Aini, karena bunda Ismi sudah mengkonfirmasi kepada pemilik butik untuk menyambut hangat kedatangan anak dan menantunya.


Para karyawan butik terus melayani Ammar dan Aini dengan baik, setelah mencoba beberapa style yang cocok. Ammar pun membayar pesanan yang diambil, tetapi bunda Ismi telah membayarnya.


Perasaan Ammar jadi semakin curiga dengan sikap Bunda Ismi yang begitu berlebihan kepada Aini, pasalnya Aini hanya anak angkat dan semestinya bunda Ismi kecewa dengan Aini karena sudah menikah dengan dia.


Privasi dari latarbelakang keluarga Ghozali membuat Ammar susah untuk menyelidiki lebih detail lagi, dia menjadi semakin ingin mengorek informasi tentang keluarga Ghozali.


"Ada apa sebenarnya!" ucap Ammar pada dirinya sendiri yang terdengar oleh Aini.


"Kenapa, Mas?" tanya Aini.


"Gak apa-apa ... ya sudah, kita balik ke hotel." Ammar langsung melangkahkan kembali langkah kakinya untuk keluar.


"Astagfirullah, nyebelin banget kalau lagi ngambek, untung ganteng!" gumam Aini yang terdengar oleh staf butik, sehingga para karyawan butik itu tertawa mendengar celotehan dari Aini.


"Biar aku yang nyetir," ujar Aini yang masuk ke kursi pengemudi.


"Jangan macem-macem, cepat turun!" suruh Ammar yang berada di depan pintu Aini.


Perasaan Ammar menjadi curiga, dia memegang erat-erat handgrip pada bagian atas samping kepalanya saat mobil mulai berjalan memasuki jalur sepi khusunya jalur balap mobil liar, jantungnya berdegup kencang saat Aini mulai menambah kecepatan laju mobilnya.


Suara ciri khas mobil sport pun menjadi pusat perhatian para anak remaja yang sedang menongkrong dan menunggu malam untuk melaksanakan balapan liar, mereka begitu terkagum saat melihat mobil itu melaju dengan cepat.


"Yank, pelan yank!" perintah Ammar begitu ketakutan saat Aini melewati beberapa mobil sport yang mengikuti balap liar.


"Rileks yank, jangan tegang! Kamu percayakan sama aku?" Aini tertawa melihat ekspresi wajah suaminya ketakutan.


"Yank, awas di depan! Yank ... astagfirullah!" ucap Ammar yang melihat tikungan tajam.


Suara ban berdecit tajam pun terdengar di telinga yang melihat mobil tersebut, bersamaan teriakan Ammar saat sang istri membelokan mobilnya. Aini tertawa tiada hentinya, ketika Ammar dibawa ngedrip oleh Aini pakai mobil sport suaminya.


"Wooow!" sorak para anak remaja yang melihat aksi tersebut, walaupun mereka tidak tahu siapa yang membawa mobil itu.

__ADS_1


Aini langsung menghentikan mobilnya saat tiba di sebuah danau kecil yang begitu indah, mereka menarik napasnya dalam-dalam agar debaran jantung mereka kembali normal.


"Aini! Kamu mau aku ... mm," ucapan Ammar langsung terpotong saat sang istri tiba-tiba menyambar bibirnya dengan napsu.


Ammar begitu terkejut saat Aini langsung mencium bibirnya dan duduk di atas pangkuannya, perlahan mata Ammar mulai menutup, merasakan yang ingin dia rasakan saat ini.


Tangan Ammar memeluk tubuh sang istri dan membalas setiap sentuhan di bibirnya, sekilas matanya melihat wajah Aini yang begitu dekat saat bibir mereka saling berpadu kasih.


"I love you," ucap Aini yang melihat Ammar begitu sendu


"Jangan ngambek lagi, aku gak mau Mas Ammar terus bersikap dingin sama aku." Aini menaruh kepalanya di atas bahu Ammar.


Ammar mengelus kepala Aini hingga ke pundak, dia mengecup kepala istrinya dengan lembut, kemudian mengangkat wajah sang istri agar menatap matanya.


Perlahan wajah Ammar mendekat dan melummati bibir sang istri dengan lembut, cukup lama mereka beradu silat lidah. Sampai akhirnya suara ketukan kaca mobil menyadarkan mereka.


Aini langsung melepaskan pelukannya dan kembali duduk, tapi Ammar menggeser posisi duduk Aini, sehingga dia yang berada di kursi pengemudi.


Kaca mobil dibuka oleh Ammar dan melihat polisi sedang memberi salam kepada mereka, dia menebak polisi datang menegurnya karena kecepatan mobil yang dikendarai oleh sang istri.


"Selamat siang, Pak!" sapa Polisi tersebut.


"Siang, Pak," jawab Ammar.


"Mohon maaf, mengganggu waktu anda! Bisa perlihatkan surat-suratnya?" tanya sang polisi.


Ammar mengeluarkan beberapa surat-surat lengkap dari saku dompetnya, dia memberikan kepada polisi tersebut. Polisi itu melihat satu-persatu surat mobil Ammar beserta simnya.


Polisi itu mengembalikan surat-surat mobil Ammar yang aman, dia melihat ke arah samping Ammar yang terdapat seorang wanita yang bercadar. Ammar yang mengerti pertanyaan dari pak polisi tersebut memberitahu bahwa dia adalah istrinya.


"Untuk menghindari terjadinya fitnah, silahkan Bapak dan Ibu bisa melanjutkan perjalanan atau bisa langsung masuk ke dalam area taman danau. Ya, Pak?" ucap pak polisi yang memberi saran kepada Ammar.


"Ya terima kasih, Pak," jawab Ammar yang di anggukan oleh polisi tersebut, kemudian Ammar menjalankan mobil itu.


Senyum Ammar merekah saat melihat istrinya yang sedang menutupi wajahnya dengan tas karena malu, sekilas Ammar mengelus kepala Aini dengan cepat. Jika sang istri tidak memakai kerudung, mungkin rambut Aini akan berantakan.

__ADS_1


"Langsung pulang ya?" tanya Ammar dengan tawanya. Aini hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


Bersambung...


__ADS_2