
Srrreeerr!
Suara kucuruan air sower membasahi tubuh Aini yang duduk di bawah sambil menangis, Aini menggosok kasar tubuhnya melempiaskan rasa kesalnya yang telah di lakukan oleh suaminya.
Setelah keluar dari kamar mandi Aini memakai baju hangatnya lalu tertidur, berharap semua perlakuan Ammar yang baru Aini rasakan adalah mimpi.
Pagi harinya,
Suara alrm Jam berbunyi, Aini bangun dan bergegas melaksanakan sholat subuh, setelah selesai sholat dan mengaji, Aini keluar menghampiri semua keluarga yang sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
"Loh Ammar belom bangun nak?" Ainun tidak melihat Ammar keluar bersama Aini.
"Semalam mas Ammar pamit bu, ada urusan pekerjaan katanya"
"Pekerjaan apa yang harus di urus malem malem?" Celetuk Robbet baru angkat bicara.
Semua orang terdiam dan melihat ke arah Aini yang ingin mengetahui kebenarannya.
"Sudah, mungkin sangat penting. Dah kita lanjutkan makanya," ucap Grandma yang mencairkan suasana.
Setelah semua sudah selesai sarapan bersama di meja makan, keluarga Ghozali pamit pulang bersama Nenek Hanum dan Robbet bersama Grandmah.
Begitu juga dengan Aini yang berpamitan untuk pergi ke kampus yang sudah di tunggu oleh Rey di depan pintu gerbang.
"Terimakasih ya, Aa sudah mau repot repot anter jemput Aini," ucap Aini tanpa semangat.
"Masih kaku aja, santai lah dek, Aa juga ikhlas kok ngelakuinnya, jadi jangan terlalu sungkan." ucap Rey.
Selama perjalanan menuju kampus, Aini hanya melihat ke arah luar kaca mobil Rey, jalanan yang masih segar di pagi hari akan udaranya yang sejuk.
"Kakak Aini angan cedih, kan ada aku, aku mau ko jadi teman kakak yang cantik." Rey yang memberikan boneka tangan ke Aini.
"Ihh lutu nya, dari mana?" tanya Aini yang tersenyum kembali.
Rey hanya menujuk ke arah anak jalanan yang menjual boneka di lampu merah.
"Makasih ya A," ucap Aini kembali senang.
"Sama sama, dah jangan banyak pikiran, nanti pas di priksa tensi nya naik lagi, bumil harus banyak ceria dari pada sedih terus," ucap Rey tersenyum
"Periksa?" tanya Aini bingung.
"Loh kan jadwal priksa kandungan kamu sekarang kan?" tanya Rey memastikan.
"Astagfirullah, Aini sampai lupa A." tanganya menepuk jidatnya sendiri.
"Ya sudah, nanti pas pulang dari kampus kalau A'a belum datang. Tungguin ya," ucap Rey tersenyum.
"Tapikan Aini gak mau ngerepoti A'a terus, mestinya sekarang jadwal Mas Ammar anterin Aini."
"Sudah gak apa apa, mungkin suami kamu sibuk. Lagian A'a ikhlas kok ngenjalaninya, buat calon anak kita." Rey yang mengklaim sendiri anak yang di kandung Aini anaknya.
"Eh, maksud A'a ... calon ponakan." Rey yang mendapat tatapan Aini langsung mengubah kata katanya.
Tidak lama kemudian mobilpun sampai di depan Kampus Falkutas Hukum.
"Semangat ya belajarnya, jangan kangen sama A'a." Rey yang mengedipkan satu matanya ke Aini yang sudah turun dan melihat ke arah Rey.
__ADS_1
"Makasih ya A'a yang ganjen," ucap Aini melambaikan tangannya.
Aini berjalan menuju arah tangga, saat sampai di depan anak tangga. Aini berhenti sejenak dan melihat ke arah atas anak tangga.
Aini berfikir sangat sulit untuk sampai di lantai tiga dengan kondisi dia yang sedang mengandung dua calon debaynya. Saat hendak ingin melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama.
Tiba tiba Shandy mengulurkan tasnya untuk bisa di pegang Aini agar bisa memapah Aini untuk bisa naik ke atas. Aini tersenyum dan berpegangan di tas Shandy untuk menopang tubuhnya yang berat.
Shandy yang telaten mengandeng Aini dengan tasnya berjalan pelan pelan menaiki tangga, saat sampai di lantai dua. Shandy menyuruh Aini untuk ikut bersamanya ke ruang Prof. Pratama.
Tok, tok, tok.
"Masuk," ucap Prof.
"Yah,"
"Loh kamu, kirain siapa. Biasanya juga main nyelonong aja Shan." Prof Pratama yang langsung fokus kembali ke laptopnya.
"Pagi Prof." Sapa Aini.
"Oh, sama bumil. Pantesan Shandy sopan masuknya," Sindir Prof Pratama ke Shandy.
"Ada apa Aini, pagi pagi sudah keruangan saya, mau minta Nilai?" Sindiran Prof Pratama membuat Aini mati kutu.
"Loh, katanya Shandy, saya di panggil sama Prof suruh keruangan Prof pagi pagi." Heran Aini
Prof Pratama melihat ke arah Shandy yang sedang mengisyaratkan pakai bahasa pikiran.
"Aini suruh belajar di ruang ayah aja, kasian dia yah lagi hamil. Harus naik tangga lagi." Shandy yang menatap lurus ke Prof Pratama.
"Kamu itu ya, suaminya bukan, yang hamilinya bukan, tapi sok perhatian sama istri orang yang sedang hamil." Balas tatapan Prof Pratama saat Shandy melihatnya.
"Sebanyak ini, Prof?" tanya Aini saat melihat tumpukan tugas di meja Dosennya.
"Ya, makanya kamu ngerjainnya di ruangan saya saja sama Raya. Nanti saya panggil Raya juga untuk mengerjakan tugas tugas ini."
"Sedikit apanya? Ini mah bukan sedikit namanya. Tapi bejubun!" kesal Aini.
"Sudah jangan kesal, kamu hubungi Raya suruh ke ruangan saya," ucap Prof Pratama.
"Ya, Prof." Aini membuka ponselnya dan menghubungi Raya.
Sementara Shandy yang sekarang menjadi asisten Prof. Pratama, akan mengantikan posisi ayahnya sebagai dosen di Falkutas Hukum. Karena sebentar lagi Prof. Pratama akan segera pensiun sebagai dosen di Fakultas Hukum.
Usia Shandy memang masih muda, tapi soal dalam ilmu tidak di ragukan lagi. Kecerdasan yang di miliki oleh Prof Pratama menurun kesemua anak anaknya, termasuk Shandy.
"Permisi Prof."
"Ya, silahlan duduk, langsung kerjakan materi yang sudah saya kasih!"
"Iya, Prof." Raya duduk di samping Aini.
"Hai, Bumil. Hay, Shan!" Raya mencoba menyapanya tapi hanya deheman yang di dapat Raya dari Shandy.
"Isshh, somse banget. " Gumma Raya
"Hai, juga," ucap Aini.
__ADS_1
"Shan, kamu tolong handle di sini! Saya mau masuk ke kelas." Prof Pratama yang bergegas keluar dan di anggukan oleh Shandy.
Suasana di dalam ruangan Prof. Pratama sangat hening, karena Aini dan Raya sedang fokus mengerjakan tugas yang di berikan oleh Dosennya. Sesekali Shandy mendekatkan dirinya di tengah tengah Aini dan Raya untuk memgecek tugas mereka.
Beberapa jam kemudian, Aini dan Raya selesai menyelesaikan tugasnya dengan baik. Shandy puas dengan hasil tugas yang dikerjakan oleh Aini dan Raya.
"Eh, Nur. Ngapain loe masih diem disini? Belum di jemput sama sopir loe? Apa nungguin suami loe?" tanya Raya saat mereka berdua sudah keluar dari ruangan Prof Pratama.
"Tau, Ray. Kayanya dia sibuk deh, gue telfon juga gak di angkat, sms gue aja gak di buka." Aini masih menatap ke arah luar kaca gedung kampus.
"Ya, sudah. Turun yuk!" ajak Raya menggandeng tangan Aini.
Entah sudah berapa lama Shandy mendengar percakapan Aini dan Raya, tapi hatinya ingin sekali mengantar pujaan hatinya yang sudah menjadi milik orang lain.
Sesampainya di bawah.
"Wooii! lama amat loe berdua turunya, udah kaya pengantin sunat aja." Ledek Panda.
"Eh, nongki nyookk di cafe baru! dah lama ni kita gak hangout bareng. " ajak Kim keteman temannya.
"Sorry gue kaga bisa, hari ini gue masuk sift siang," ucap Ulfa menolak.
"Yaelah, Ul ... kali kali ngapa bolos kerja, kerja mulu benghar enggak, G*lo iya," ucap Senja membuat teman temannya ketawa kecuali Aini.
"Mak, loe ikut kaga?" tanya Panda.
"Kaga deh, kayanya. Gue ada jadwal Chek kandungan soalnya," ucap Aini.
"Hay, ciwi ciwi" Shandy menghampiri sekumpulan cewe cewe yang sedang asik berbincang.
"Hay juga, calon dosen." Serempak Genk's Fams.
"Hay, Aini." Rey menyapa Aini dengan senyum.
"Hai, juga Shan," ucap Aini masih kurang semangat.
Tin!
Suara klakson dari mobil Rey tepat di hadapan mereka semua. Rey turun dari mobilnya dengan penampilan yang cool membuat orang terpanah akan ketempanan sholehnya.
"Assalamualaikum," ucap Rey yang berdiri di samping Aini.
"Waalaikumussalam," ucap Serempak Genk's Fams yang melongo melihat kedatangan cowok keren.
"Udah selesai kan mata kuliahnya?" tanya Rey
"Sudah," ucap Aini
"Kalau gitu hayu." ajak Rey.
"Saya culik Aini nya dulu ya." Rey yang melontarkan candaan ke teman teman Aini.
"Gue duluan ya." Aini yang melambaikan tangan.
"Culik aye juga boleh bang," ucap Panda yang terpesona. Rey berbalik badan dan mengedipkan satu mata ke Panda. membuat semua bersorak dan tentunya Panda yang mendapat serangan cinta langsung meleleh.
__ADS_1
"Siapa lagi tuh cowok? Kenapa Aini gak di jemput sopir atau suaminya?" Gumma Shandy yang masih terus menatap mobil yang di naiki Aini menghilang dari pandangannya.
Bersambung....