Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 53. Lari Pagi


__ADS_3

15 menit kemudian....


" Bos la.... " ucap Roy terpotong.


" Bacakan..! " ucap Ammar.


" Nyonyah Aini sudah berangkat pukul 13 : 15 ke daerah Jakarta Utara perumahan Elit tempat neneknya tinggal, membawa koper yang di temani oleh Sarah, dan juga sopir pribadi bos, nyonyah akan menginap di rumah neneknya selama tiga hari kedepan. " ucap Roy.


" Truss..? " tanya Ammar masih penasaran.


" Nyonyah.....bertemu dengan tunanganya bos." ucap Roy yang memancing marah Ammar.


" Asstagfirullah... ROY...! " ucap Ammar yang tiadak suka mendengar kata tunangan pada istrinya.


" Maaf bos,,, saya gak tau siapa orangnya,,, tapi kata Sarah dan pak Karto begitu,,, Nyonya sempat nangis di dalam mobil saat meninggalkan Tu... tu..... " ucap Roy ketakutan.


" Roy ambil gajih dan... " ucap Ammar yang langsung di potong oleh Roy dengan buru buru.


" Maksud saya orang gila ituuu bos,,, bos... menurut saya anda harus secepatnya menjalankan misi bos,, agar nyonyah Aini tidak akan berani meninggalkan bos." ucap Roy yang buru buru mengambil hati Ammar.


" Astagfirullah... ya sudah balik kerja lagi sana" usir Ammar dengan kedua jarinya.


" Aini..." ucap Ammar yang mengusap kasar rambutnya.


Ammar pulang dari kantornya dengan wajah yang tidak semangat, karena istri tercintanya tidak ada di rumah. Ammar masuk di sambut oleh senyum Nabila, tapi Ammar balas senyuman dengan paksa.


" Assalamualaikum,, " ucap Ammar lesu.


" Waalaikumussalam, abang lembur..? gak bilang Nabila? " ucap Nabila yang membawakan tas kerjanya.


" Maaf tadi ada sedikit mendadak pekerjaan yang harus diselesaikan juga. " ucap Ammar yang duduk di sofa ruang keluarga.


"Abang mau mandi dulu atau mau makan dulu? "ucap Nabila yang membukakan Jas kantor Ammar.


" Abang sudah makan," ucap Ammar yang memegang kepalanya.


" Nabila siapkan air hangat dulu ya bang untuk mandi" ucap Nabila dan di anggukan oleh Ammar.


Saat Nabila membawakan turun dan mengambilkan air minum untuk Ammar, Nabila melihat Ammar sudah tertidur di sofa. Nabila ingin membangunkannya tapi Nabila tidak tega membangunkanya.


Terpaksa Nabila memberikan selimut dan bantal untuk Ammar, dengan raut wajah yang kecewa Nabila ingin sekali malah ini bisa mejalankan kewajibanya sebagai seorang istri untuk Ammar, karena Aini sedang tidak ada di rumah.


Adzan subuh berkumandang, Ammar bangun dari tidurnya, dia sadar semalam dia tidur di sofa karena sengaja untuk menghindari Nabila, karena Ammar tau Nabila pasti menantikan dirinya.


Tapi Ammar masih belum bisa menerimanya, sulit sekali bila memaksakan nya bagi nya untuk berhubungan dengan Nabila.


Ammar memlihat ponselnya, Aini sama sekali tidak memberi kabar tentang dirinya. Ammar merasa kecewa pada Aini dan terus memandang kontak nomor Aini.


Ammar mencoba mengalah untuk kesekilan kalinya untuk menghubungi Aini, karena Aini sangat jarang mengubunginya, selalu Ammar yang terus menghubunginya terlebih dahulu. Beda dengan Nabila, Nabila selalu menghubunginya lebih dulu dari pada Ammar.


Nomor yang anda tujuh sedang berada di luarjangkauan silahkan hubungi beberapa saat lagi. Suara operator Aini.


" Astagfirullah Aini... " ucap Ammar yang membanting ponselnya.


Ammar langsung bangun dan mandi di kamar Aini dan melaksanakan aktivitas rutin seperti biasanya bersama Nabila, tapi tidak untuk mengajar, karena setiap hari sabtu dan ahad di liburkan.


" Bang, apa harus abang yang mengerjakannya juga? kan ada Roy, " kecewa Nabila yang hari sabtu Ammar mesti masuk ke kantor.


" Maafkan Abang ya Nabila, abang mesti turun langsung menangani proyek ini,, " ucap Ammar menjelaskan.


Nabila hanya cemberut mendengarnya karena ingin sekali berduan dengan suaminya karena ini kesempatan Emas buat Nabila saat Aini tidak ada.


" Apa hari ahad abang ada waktu luang..? " tanya Nabila saat mengantar Ammar berangkat kerja ke depan pintu rumah.


" Gak ada sepertinya, kenapa " ucap Ammar.


" Kita weekend yuk bang,, lagian kan semenjak menikah abang belum ada waktu berduaan dengan Nabila." ucap Nabila manja.

__ADS_1


"In sya allah,, Abang akan usahakan.." ucap Ammar yang membuat Nabila tersenyum dan mencium pipi Ammar.


" Jangankan sama kamu Nabila, abang sama Aini saja belum sempat merasakan pacaran setelah menikah" ucap Ammar dalam hati


Ammarpun mencium kening Nabila dan langsung berangkat ke kantor, Sesampainya di kantor Ammar langsung menyuruh Roy menanyakan kabar Aini lewat Sarah, tapi Roy mengatakan bahwa Sarah dan pak Karto tidak ikut menginap di rumah neneknya Aini.


" Apa...! " ucap kecewa Ammar,


" Ya bos, Nyonya Aini sendiri yang bilang kalau dia tidak mau di ganggu selama menginap di rumah nenek. " ucap Roy yang menjelaskan.


" Mau menghindar..? kita liat sampai kapan kamu akan menghindar dari aku" ucap Ammar dalam hati.


Di sisi lain...


Perumahan Elit Jak-Ut.


Dengan tekat Aini akan menghapus rasa cinta nya terhadap Ammar, Aini sengaja tidak membawa charcher agar ponsel Aini mati agar Ammar atau dia tidak saling kontekan. sebelumnya Aini sudah mengirim pesan untuk Nabila.


Agar mengunakan waktu nya bersama Ammar lebih dekat, dan Aini tidak mau menganggu atau merasakan sakit hati, lebih baik Aini memutuskan hubungan sementara dengan Ammar melalu Sarah dan Pak Karto.


" Aini,,, kamu pasti bisa,,, " ucap Aini yang mengelap air matanya dan siap untuk lari pagi.


" Assalamualaikum nenek ku tersayang,,, " ucap Aini yang mencium neneknya di meja makan.


" Waalaikumussalam,, kamu mau kemana? "


" Mau olahraga nek lari pagi di sekitaran kompleks,,, mumpung hari weekend,, " ucap Aini yang duduk di samping neneknya dan meminum susu.


" Ya sudah, habiskan dulu susunya" ucap neneknya.


" Sudah nek,, Aini berangkat dulu ya nek,, assalamualaikum emmmuuaccchh" pamit Aini dan keluar dari rumahnya.


Sambil menyalakan musik di telinganya, Aini berlari ke arah lapangan yang khusus untuk berolahraga di sekitaran kompleks.


Aini sengaja menggunakan Ponsel baru pemberian Rey, walaupun model lama termasuk nomor dan gantungan cantik yang Rey berikan, tidak ada maksud lain hanya menggunakannya agar Aini tidak jenuh dengan ponsel nya yang kehabisan batrai.


Sesampainya di lapangan, ternyata banyak kalangan sedang melakukan olahraga di pagi hari seperti dirinya, setelah beberapa putaran, Aini berhenti dan mecari sekeliling untuk mebeli minuman.


" Nih.. " ucap seseorang yang menyodorkan minumannya. dengan nafas yang masih turun naik Aini melihat keatas siapa orang yang memberikanya minuman.


" Kak Al.. ?" ucap Aini.


" Tenang saja, aku baru beli dan belum aku campurkan ramuan memikat hati " ucap Rey yang sama sama tertawa dengan Aini.


Aini tertawa mendengar ucapan Rey dan langsung meminum botol pemberian Rey.


" Makasi ya kak" ucap Aini yang mau menutup botolnya tapi di ambil lagi oleh Rey.


Aini terkejut saat Rey juga meminum botol bekas di minum dirinya.


" Lari segitu saja sudah haus banget ya,,, apa faktor umur ya.. " ucap Rey menjelaskan yang tau tatapan dari Aini.


" Iya faktor umuur buktinya banyak kriput di matanya nih nih nihh" tunjuk Aini di wajah Rey dengan rumput ilalang yang baru di cabut oleh Aini.


" Ih,, apa sih... ? geli tau,, sini kamu mau gak nih nih nih" balas Rey yang mencabut rumput dan balas dendam ke Aini.


Mereka berdua tertawa melepas kerinduan yang selama ini mereka rasakan dalam diam, perasaan yang sulit di artikan oleh Aini. Aini hanya sedang menikmati proses di mana dia ingin berteriak dan pergi.


" Kak maaf ya soal waktu itu" ucap Aini saat candanya telah usia dengan Rey.


" Bisa gak jangan bahas apapun saat pertemuan kita sekarang.. " pinta Rey yang juga ingin menikmati waktu yang sekarang bersama orang yang dia cinta.


" Ok,,, " ucap Aini yang berdiri dan di ikuti oleh Rey.


Mereka berlari pelan bersama sambil melepas canda dan tawa, Rey pun sesekali menjaili Aini dengan sebuah ulat yangdisodorkan oleh Rey pakai Ranting, Aini pun ketakutan sampai melempar Rey dengan ranting pohon yang berjatuhan.


" Ah kak udah, istirahat dulu,, " ucap Aini yang duduk di bangku taman bersama orang orang lainnya yang sedang beristirahat.

__ADS_1


Aini melirik jam di ponselnya, Rey tersenyum melihat ponsel beserta gantunganya yang Aini pakai.


"Sepertinya banyak yang jual ya gantungan itu,, aku pikir cuma milik calon istri aku aja yang punya, ternyata kamu juga punya" sindir Rey yang memandang lusrus ke depan.


" Nyindir..? ya sudah nih aku kembalikan" ucap Aini yang melihat gantungan nya dan bangun berdiri.


" Hai jangan ngambek,,, tunggu dulu... Nur.. ! ponsel kakak ilang,,, " ucap Rey yang panik.


" Astagfirullah kok bisa..? coba di inget inget lagi naroknya dimana,, " ucap Aini yang bantu cari di kolong bangku.


" Coba kamu miscall dehh sapa tau masih di sekitar sini" ucap Rey.


Aini menyerahkan ponsel pemberian Rey, Rey mengetik nomornya di ponsel Aini. nada pun nerdering. Ternyata ponsel Rey ada di saku celananya. Modus Rey pun ketahuan oleh Aini.


" Spek bilang aja minta nomor huuuuuuu" ucap Aini yang langsung mengambil ponselnya.


" Hahaa ngapain spek,,, tinggal minta apa susahnya" elak Rey.


" Ellllllllaaa,,,, moduss" ucap Aini tertawa


Mereka pun berjalan arah pulang, saat di tengah jalan mereka bertemu tukang bakso dan makan bersama di pinggiran emperan bakso. Saat selesai makan Rey mengantar Aini sampai rumah neneknya.


" Terimaksi ya untuk hari ini, " ucap Aini.


" Sama sama, aku pamit dulu ya, salam buat Nenek" ucap Rey


" Ya,, " ucap Aini yang masuk kedalam.


Dengan perasaan senang Rey pulang dengan senyuman di wajahnya.


Hari Aini pun di habiskan dengan caranya sendiri agar tidak memikirkan Ammar yang sedang berduaan bersama Nabila. tapi berbeda cerita dengan Ammar yang merasakannya.


Ammar sengaja lembur di hari sabtu agar dia tidak berduaan dengan Nabila saat Aini tidak ada di rumah.


Haripun menjelang sore Ammar berniat menemui Aini di rumah neneknya tapi sebelumnya, Ammar pulang dulu kerumah untuk mengabari Nabila.


" Assalamualaikum " ucap Ammar.


" Waalaikumussalam,, abang?" ucap Nabila yang membukakan pintu.


Seperti biasa Nabila melayani Ammar penuh dengan segenap hatinya, tapi tetap saja Ammar membalasnya dengan kasih sayang sebagai adiknya.


Saat malam mejelang, Nabila mencoba menarik hati Ammar dengan penampilan yang membuat Ammar terpancing.


" Abang... " ucap Nabila yang memeluk Ammar yang sedang menonton TV di ruang keluarga.


Ammar masih terdiam tanpa membalas pelukan Nabila, aroma Nabila membuat Ammar terhanyut dalam suasana.


Nabila mulai mecium pipi Ammar dan ingin mencium bibir Ammar tapi Ammar langsung mendorongnya.


" Maaf Nabila, Abang... abang.... " ucap Ammar yang jujur.


" Apakah Aini yang menyuruh Abang supaya abang gak nyentuh Nabila sampai saat ini? " ucap Nabila menangis dapat penolakan dari Ammar.


" Nabila,, Aini gak pernah melarang Abang, justru Aini yang selalu berupaya agar Abang bisa dekat dengan kamu".


" Apakah masih belum ada rasa cinta itu tumbuh di hati abang buat Nabila..? "


" Maaf Nabila, abang sudah berusaha agar bisa mencintai kamu, tapi abang butuh waktu," ucap Ammar.


" Waktu? berapa lama? sedangkan abang saja tidak memberi waktu luang untuk kita berdua, terus menghindar... bagaimana cinta itu akan tumbuh di hati abang..? "


" Maaf Nabila. " ucap Ammar putus asa.


" Kecuali memang abang yang gak mau cinta itu tumbuh untuk Nabila. " ucapan Nabila membuat Ammar terdiam tidak bisa menjawabnya, karena itu benar.


Bersambung,,

__ADS_1


__ADS_2