Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 83 Sugar daddy Ammar


__ADS_3

...Jodoh itu ibarat seperti makanan. Sayuran tumbuh di daerah pegunungan. sedangkan ikan hidup di laut, tapi mereka saja... masih bisa bertemu dalam satu kenikmatan yaitu di Warteg😅...


...Seperti halnya kamu dan jodoh mu, kamu dari mana dan dia dari mana, tapi tuhan mempertemukan mu dalam sebuah ikatan suci yang di ridhoinya....


(Garing banget ya, Lanjut lah )


Paris, Prancis.


Pesawat yang di tumpangi oleh Ammar dan Roy akhirnya Landing, kini mereka pergi ke salah satu hotel di Paris untuk beristirahat sejenak, sebelum mereka melanjutkan perjalanan mereka mencari keberadaan Aini.


"Bos, bos! Aduh ... jalannya pelan bos, nanti anak buah Robbet curiga melihat penampilan bos yang kakek- kakek jalannya sangat cepat!" Roy mengejar Ammar saat sudah ada di dalam hotel


"Kalau jalan nya pelan, kapan cepat sampainya?! Saya sudah gerah dengan penampilan ide gila kamu! Mau cepat cepat tidur." tanpa memperdulikan Roy Ammar terus berjalan dengan langkahnya yang cool.


"Namanya juga kakek - kakek bos, Lagian mana ada si bos, kakek - kakek jalanya cepet bener." Roy mengimbangi langkah Ammar.


"Ada, ini buktinya! " Kepercayaan diri Ammar membuat Roy mengelengkan kepala.


Ceklek!


Suara pintu kamar hotel Ammar terbuka. Ammar melangkah kan kaki masuk kedalam


"Selamat malam, bos." Roy membuka kamar hotel yang ada di depan kamar hotel Ammar.


"Hmm." Ammar langsung menutup pintu dengan kasar.


"Astagfirullah, untung gak roboh nih hotel." Hanya usapan di dadad Roy, saat melihat bosnya yang luar biasa aneh nya.


Di dalam kamar Ammar.


Setelah beres dan kembali kejati dirinya, Ammar merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Melihat ponselnya mencoba menghubungi Aini namun nomornya tidak aktif.


"Kamu di mana, Honey?" Gusar Ammar dalam hatinya.


Ammar memandang foto Aini di layar ponselnya terus menerus tanpa berasa air matanya menetes. mengusap setiap senti di bagian wajah Aini secara perlahan.


'Kamu harus siap toh nak, menerima resikonya. Kalau salah satu Bapak mertua mu tau,' ucapan Ibu Ainun terus menerus ada di pikirannya.


"Ammar gak tau bu, harus berbuat apa! Kedua nya adalah wanita yang Ammar sayang walaupun rasa sayang Ammar ke mereka berdua berbeda, Bu!" Ammar berbicara sendiri sambil mengingat perkataan Ainun.


"Yang jelas, sampai kapanpun Ammar tidak akan melepaskan Aini bu, bahkan Ammar rela melakukan apa saja untuk Aini Bu, asalkan Aini tidak menjauh dari Ammar Bu." Ammar menangis seorang diri di dalam kamarnya.


Ammar yang hatinya gusar, dia bangun bergegas mengambil air wudhu dan mendirikan sholat sunah, berharap Tuhannya akan mempermudah segala urusannya.


Ammar menangis dalam sujudnya, memohon di berikan petunjuk atas segala permasalahan yang ada. Sampai kapan pun Ammar akan tetap memperjuangkan Aini dan calon anak-anaknya agar mau kembali dalam pelukanya.


Ting.


Ting.

__ADS_1


Ting.


Ting.


Pesan notifikasi terkirim ke nomor Aini, begitu nyaring terdengar dari ponsel Ammar saat Ammar berdoa di akhiri sujud, Ammar yang tidak sadar pesan lamanya baru terkirim dan sudah terbaca oleh Aini dengan tanda ceklis dua. Masih dengan santai melipat sajadahnya.


Mengambil ponselnya secara malas, membukanya dengan pelan sambil mengambil segelas air putih dan mengecek notifikasi pesanya tanpa melihat jelas isi notifikasihnya.


Pppuurrfffhh!


Semburan air dari mulut Ammar saat ingin menelan air minum, namum di keluarkannya lagi lewat mulunya. Ammar melotot tidak percaya, hingga akhirnya Ammar memutuskan untuk menghubungi Aini.


Tuuut ....


Tuuut ....


Lama Aini mengangkat panggilannya, hingga Ammar tidak sabar mendengar suaranya.


Cekllek, kkress ... Suara sambungan di angkat


"Halo?" suara wanita menjawab.


"Hallo, Assalamualaikum sayang? Honey kamu di mana? Kamu baik baik saja kan? Bilang sama Mas, di mana posisi kamu. Biar Mas jemput kamu." Ammar langsung beruntun melontarkan pertanyaan.


"Sorry, ini siapa?" tanya wanita asing itu yang ternyata bukan Aini


"Loh! Ini siapa? Bukannya ini nomor istri saya Aini? Di mana istri saya?" panik Ammar saat mendengar wanita asing yang mengangkat telefonnya.


"Alhamdulillah, terimakasih kamu sudah menemukan ponsel istri saya, boleh saya tau siapa kamu?"


"Ah, iya sama - sama. Oh, saya Liana orang kepercayaannya Omah Rienza, neneknya Aini."


"Ok Liana, apa kamu tau di mana istri saya? Maksud saya Aini!"


"Ya, dia ... Hmm, bukannya kamu suaminya? Kenapa kamu tidak tau di mana istri kamu berada?" Liana malah balik bertanya ke Ammar.


"Iya, saya suaminya. Tapi saya kehilangan catatan alamat rumah Omah Rienza, karena saya tadi harus bertemu clien lebih dulu. Jadi boleh saya minta alamat rumah Rienza?" Elak Ammar agar Liana mau memberikan alamatnya.


"Oh, Oke. Nanti saya kirim alamatnya. mungkin besok pagi saya baru bisa kembalikan ponselnya," ucap Liana.


"Ok, eh! Tapi, kamu jangan bilang soal saya ya kesiapapun ok! Kalau kamu mau pulangkan ponselnya. Karena saya ingin memberi kejutan untuknya!." Ammar tidak ingin Aini kabur lagi.


"Ok!"


"Thank you Liana, thank you very much." Ammar menutup sambungan telefonya dan langsung sujud syukur karena berkat Liana dia bisa bertemu dengan istri tercintanya.


Ting, sebuah pesan masuk ke ponsel Ammar. Segera Ammar membuka ponselnya.


"Alhamdulillah, ya Allah ...." Ammar tidak berhenti bersyukur saat sudah mendapatkan alamat Aini.

__ADS_1


Ke esokan paginya.


Ammar dengan penampilan maco sholehnya sudah tidak sabar bertemu dengan istri tercintanya. Tapi, Roy justru melarang Ammar untuk keluar dengan penampilan jati dirihnya.


"Pokoknya, gue gak mau kalau harus menyamar lagi seperti kakek-kakek!" Ammar menghindar dari Roy yang sudah menyiapkan baju samaran untuk Ammar.


"Hayo lah, Bos! Jangan kaya anak kecil! Kalau Bos gak mau nyamar lagi, Bos akan di depak keluar dari Prancis! Usaha Bos akan sia sia!" Roy membujuk Ammar seperti anak kecil.


Ammar berfikir sejenak. "Bener juga kata Roy," ucap Ammar.


"Ok, tapi jangan terlalu banyak pake perekat lilinnya, bisa rusak muka ganteng gue!" Ammar protes ke Roy.


"Ok!"


Akhirnya demi bisa bertemu dengan istri tercintanya, Ammar nekat merombak wajah gantengnya dengan lilin yang bisa merubah bentuk wajah seperti seorang kakek-kakek cool, bisa di bilang dengan sebutan Daddy Sugar.



(Sumber foto : Tik t*k by bebetoyildirim)


"Sip, selesai. Ok lanjut." Roy membuka pintu kamar hotel untuk Ammar yang sudah di vermak habis penampilannya. Sedangkan Roy yang sudah mengubah penampilanya sebagai cewe yang cantik.


"Saya baru tau Roy, ternyata kamu punya bakat terpendam!" Ammar menyindir Roy dengan sangat pedas.


"Terimakasih, atas pujianya bos. Membuat saya tersandung, eh. Maksud saya tersanjung." Roy berjalan di samping Ammar dengan memegang lengan Ammar dan berjalan bersama.


Saat sampai di lobby hotel, semua mata tertujuh pada Ammar dan Roy yang begitu menggoda di mata masing masing yang melihatnya.


...If it's my right to taste the riches of the earth...


...These bitches better let me work...


...A private host, a private toast to new horizons...


...Never mind what I had to do to get these diamonds...


...He love me, he give me all his money...


...That Gucci, Prada comfy...


...My sugar daddy...


Music Sugar Daddy by Qveen Herby.


Begitu sampai di depan mobil, Roy menarik tangan Ammar dengan tujuan mengisyaratkan agar Ammar membukakan pintu untuknya. Jelas saja itu membuat Ammar kesal, bisa bisanya Roy mengambil kesempatan dalam kesempitan.


'Kapan lagi kan, suruh bos bukain pintu untuk asistennya.' tersenyum Roy penuh kemenangan.


Dalam perjalanan yang cukup menguras waktu, Ammar sudah tidak sabar menemui bidadari surganya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2