Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 173. Rahman terkejut Ammar lepas


__ADS_3

"Astaghfirullahaladzim, Ibu!" Ammar langsung mengangkat tubuh Ainun lantas menaruhnya ke kursi.


Amarah langsung memanggil para pelayan yang lain, tetapi tidak ada satupun yang datang. Dia kesal akhirnya mengambil air minum sendiri dan juga minyak angin untuk dia oleskan di kening Ainun.


"Minum dulu, Bu!" Ammar mengangkat kepala Ainun agar posisinya tegak.


Secara perlahan Ainun meminum air yang diambilkan oleh Amar, dia melihat kembali anaknya secara mendetail dengan tangan yang meraba ke wajah sang anak tak lupa dengan tetesan air mata yang menetes ke pipi.


Sungguh mustahil bagi Ainun yang hanya manusia biasa, bagaimana bisa seorang yang mati bisa hidup kembali? Kecuali atas kehendak Sang Maha Pencipta.


"Ammar, anakku?" Ainun masih terus menjelajahi raut wajah Ammar yang sedikit memar dan bengkak akibat perkelahian sengit di pulau untuk meloloskan diri.


"Ya, Bu ... ini Ammar!" ucap Ammar yang mempertegas kepada Ainun.


"Terima kasih, sudah masuk ke dalam mimpi Ibu, Ibu kangen sama kamu, Nak!" Ainun mencium seluruh wajah Ammar lalu memeluknya dengan erat lantas kembali berkata, "Ajak, ibu, Mar! Ibu ingin ikut saat kamu ... Ibu mau bertemu Bapak!"


Ya, ternyata Ainun masih menganggap semua yang dia lihat adalah mimpi, membuat Ammar mengepalkan tangannya menahan kesal, dia memeluk erat tubuh ibunya yang semakin rentah di usianya. Sungguh hatinya begitu sakit mendengar perkataan sang ibu, membayangkan bagaimana bila dia memang telah pergi untuk selamanya?


Ammar membalas pelukan sang ibu dengan pelukan yang sangat erat, dia mengecup wajah keriput itu dengan penuh kasih sayang, air matanya tak henti-henti menetes saat melihat air mata Ibu yang menangis menganggap dirinya sudah tiada.


Emosi langsung memuncak di dalam benak Ammar ketika dalang semua ini akibat Rahman, tetapi di sisi lain dia bersyukur karena dia bisa selamat dari kecelakaan pesawat tersebut. Tidak mau berlarut-larut membiarkan sang Ibu masih terus menganggapnya telah tiada, Ammar pun berusaha untuk memastikan bahwa dirinya masih hidup.


"Ibu, jangan ngomong seperti itu! Ammar masih membutuhkan ibu di sini! Ini Amar, Bu ... Ammar masih hidup!" Amar menangkap wajah sang ibu untuk bisa melihatnya, tangannya menyeka air mata di wajah pipi yang sudah mengkerut itu.


Ainun pun langsung berhenti menangis seketika, mendengar ucapan dari orang yang ada di hadapannya, dia memastikan kembali meraba wajah, tubuh, tangan bahkan melihat kaki Ammar lantas menepuk pipi itu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ucapan orang tersebut adalah benar.


"Ini Ammar, anak ibu masih hidup!" Ammar meyakinkan sekali lagi pada Ainun, hingga membuat wanita paruh baya itu langsung terjatuh pingsan. "Astaghfirullahaladzim, Bu ... Bu, bangun, Bu!"


Ammar langsung memindahkan Ainun ke dalam kamar dan menghubungi dokter untuk memeriksa kesehatan Ainun, sembari menunggu dokter tiba, Amar mencari istrinya di setiap ruangan saat tidak menemukan Aini di kamarnya.

__ADS_1


"Ke mana kamu, Aini?" Ammar mencoba menelpon sang istri tapi ternyata nomornya sudah tidak aktif. Dia kesal karena di rumah tersebut semua para pelayannya tidak ada, hanya Bik Sumi yang masih pingsan di ruang tamu usai Ammar memindahkannya di atas sofa.


Begitu dokter datang, Ammar langsung menyuruhnya untuk segera memeriksa sang ibu yang sampai saat itu belum sadarkan diri, hanya memerlukan waktu beberapa menit dokter pun selesai memeriksa kesehatan Ainun.


"Alhamdulillah, kondisi Ibu Ainun baik-baik saja, beliau hanya syok yang berlebihan nanti akan segera sadar!" ucap sang dokter yang menyerahkan obat kepada Amar. "Ini obat untuk ibu Ainun, tolong dihabiskan antibiotiknya!"


"Terima kasih, Dok!" Ammar menerima obat pemberian dari dokter.


"Dan ini, untuk Ibu Sumi!" Dokter tersebut juga menyerahkan obat pada Ammar untuk Sumi, lantas berkata, "Kalau begitu, saya permisi dulu!"


Ammar mengucapkan terima kasih sembari mengantarnya sampai ke depan pintu utama, dia pun kembali lagi dan melihat Bikin Sumi sudah terbangun dari pingsannya.


"Ha–ha–han—"


Belum sempat Sumi kembali mengucapkan kata hantu, Ammar meyakinkan asisten tersebut bila dirinya masih hidup. Sumi pun tidak kembali pingsan usai mengetahui kenyataannya, justru asisten rumah itu merasa lega bila suami dari majikannya tersebut sudah kembali pulang.


"Apa, Bik Sumi tahu ke mana, Aini?" tanya Ammar ketika mereka sudah berada di dalam kamar Ainun.


"Katakanlah, aku tidak akan marah! Ke mana dia pergi?" Ammar memotong ucapan Sumi yang terlihat canggung.


"Nyonya, pergi sama Pak Rahman, Tuan!" ucap Sumi yang takut apabila Ammar akan marah mendengarnya.


"Ke mana?"


"Pergi makan malam, Tuan!" sahut Sumi.


"Apa, Bik Sumi punya nomor telepon Aini?" tanya Ammar dengan nada dingin.


"Punya, Tuan." Sumi mengeluarkan ponselnya lalu memberikan kepada Ammar.

__ADS_1


Suara sambungan telepon terhubung ke nomor yang di tuju, tetapi tidak ada tanda-tanda sahutan dari seberang telepon. Hatinya memanas dikala pikiranya melayang membayangkan kedekatan Aini dengan Rahman di kala satu anak kembarnya belum juga ditemukan.


Ammar memutuskan sambungan telepon saat berulang kali dia menelepon istrinya tetapi tidak mendapat jawaban dari seberang telepon, dia pun bertanya pada Bik Sumi mengenai perkembangan pencarian tentang anaknya.


Bik Sumi menceritakan bila pihak kepolisian sampai sekarang belum menemukan titik terang tentang keberadaan Khan, dia juga menceritakan awal mula penculikan.


Tidak lama kemudian, Ainun pun tersadar dari pingsannya. Dia menyebut nama Ammar berulang kali hingga suami dari Aini menghampiri sang ibu yang terbaring lemah, dia menggenggam tangan sang ibu yang mengusap pipinya.


"Masyaallah ... Ya Allah! Ini beneran kamu?" Ainun meneteskan air mata ketika yang dirasakan bukanlah mimpi.


"Ya, Bu ... ini Ammar, anak Ibu!" Ammar lantas memeluk ibunya dengan penuh haru, dia menceritakan kejadian semuanya tentang penyebab dalang di balik penyekapan tersebut. Betapa terkejutnya Ainun mendengar bahwa Rahman lah yang sengaja mengasingkan anaknya di pulau terpencil agar dia bisa memiliki Aini seutuhnya.


***


Sementara itu di posisi Aini, mereka sedang menikmati makan malam mereka di restoran ternama. Nampak segurat wajah penuh kebahagiaan yang terpancar di raut wajah Rahman dan juga Naura, tetapi berbeda dengan Aini yang masih murung ketika anak tersayangnya masih belum juga ditemukan.


Bagaimana bisa Aini sebagai seorang ibu, malah bersenang-senang menikmati makanan mewah bercanda ria bersama Naura dan juga Rahman sedangkan hatinya dan pikirannya masih terfokus kepada Khan.


"Bunda, kenapa diam saja? Apakah Bunda tidak senang makan malam bersama Naura?" tanya Naura yang tengah memperhatikan Aini.


Aini menengok ke arah Naura yang sedang memperhatikannya. "Tidak apa-apa, Bunda senang kok ... habiskan makanannya!"


Di sela-sela canda Naura bersama Aini, telepon Rahman berbunyi tetapi sang pemilik ponsel tidak menggubrisnya dia justru mengabaikan dan memilih fokus untuk meluangkan waktu bersama orang yang dia cinta.


Akan tetapi, notifikasi pesan langsung beruntun masuk di kala panggilan diabaikan. Membuat Aini menyuruh Rahman untuk menjawab pesan lebih dulu, pria itu pun dengan patuh mengikuti arahan Aini untuk membalas pesan yang masuk ke ponselnya.


Betapa terkejutnya Rahman saat membaca sebuah pesan yang mengatakan bila Amar berhasil lolos dari penjagaan, semua anak buahnya tewas di hajar oleh Ammar dan juga Roy.


"Apa!" Sendok yang ada di tangannya langsung terjatuh mengenai pinggir piring hingga menimbulkan efek suara nyaring.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2