
"Terima kasih, Bu Nabila, sudah mau repot-repot ikut mengantar Rasyid sampai ke rumah," ujar Abizar.
"Sama-sama, itu sudah tanggung jawab saya sebagai orang tua Rasyid di sekolah, kalau gitu saya pamit pulang dulu!" ucap Nabila.
Nabila pun menuruni anak tangga yang diikuti oleh Abizar, sesampainya di pintu luar, Abizar menawarkan untuk mengantar Nabila pulang, tapi ditolak secara halus oleh Nabila.
Abizar tidak bisa memaksa Nabila untuk ikut dengan dia, tapi Abizar meminta nomor telepon Nabila untuk berjaga-jaga sementara waktu soal Rasyid, dan dia pun mendapatkan nomor Nabila.
"Kalau gitu saya pamit dulu!" ucap Nabila dengan lembut.
"Oh, iya!" ucap Abizar. Pada saat Nabila telah pergi, dia pun kembali melajukan mobilnya untuk ke kantor.
...----------------...
Hari semakin berlalu, Aini sedang menantikan kepulangan suaminya yang hanya menghitung hari, dia sudah begitu merindukan suaminya sampai rasa rindu itu semakin hari semakin membuatnya sesak.
Hari ini adalah hari pernikahan Reyzal dan Jasmine setelah melalui ta'aruf yang cukup singkat akhirnya mereka bisa menuju ke pelaminan.
__ADS_1
"Bunda, Aini pakai baju biasa aja ya, kebaya ini kekecilan di Aini!" keluh Aini pada Ismi.
"Mangkanya diet-diet! Biar Ammar pulang pangling, ini mah di jamin langsung kabur pas liat ada gajah bengkak di rumah!" ucap Reyzal yang sudah bisa meledek Aini.
"Ihh, Bunda! A'Al tuh," rengek Aini kepada Ismi.
Ismi langsung menjewer kencang telinga Reyzal dan menyuruhnya meminta maaf kepada Aini, tindakan Ismi membuat Aini senang dan menyuruh Reyzal untuk meminta maaf.
"Maaf, Adeku sayang, yang cantik!" Reyzal memperlihatkan dua jari yang berbentuk love sebagai tanda permintaan maaf ketika dia sedang di dandani oleh sang prias pengantin.
"Au, ahh ... sebal!" Aini masuk kembali ke ruangan ganti baju dan mengganti dengan baju syar'i yang dia punya.
Aini pun menyambut hangat tamu undangan khusus untuk keluarga terdekat saja, ketika dia menyambut kedatangan keluarga Abizar dia melihat Nabila yang sedang menggendong anak kecil dan berjalan beriringan dengan Abizar.
Aini sangat tahu betul, walaupun Nabila memakai cadar tapi dia dapat mengenali sosok yang sudah dia anggap sebagai kakaknya, Aini pun langsung memeluk Nabila di depan kedua keluarga.
"Ya Allah, Kak Nabila!" Aini meneteskan air matanya ketika berjumpa kembali dengan mantan madunya.
__ADS_1
Tidak dapat Nabila pungkiri bila dia juga merindukan Aini, dari madunya itu dia belajar banyak hal dalam kehidupan, hingga dia mampu berdiri sendiri.
Bunda Ismi menyuruh Nabila dan Aini masuk ke dalam ruangan privasi untuk melepas rasa rindu mereka masing-masing.
"Si kembar ke mana?" tanya Nabila ketika mereka sudah berada di ruangan privasi.
Aini mengajak Nabila untuk bertemu dengan si kembar yang ternyata sedang tertidur pulas di atas tempat tidur, Aini juga menyuruh Nabila untuk menaruh anaknya di samping si kembar.
"Dia bukan anakku," ucap Nabila dengan jujur.
Aini langsung terkejut mendengar ucapan Nabila, dia berpikir bahwa itu adalah anak Nabila dan Abizar. Namun, ternyata Rasyid adalah anak muridnya, dia tahu ketika Nabila menceritakan semuanya. Kenapa dia menjadi dekat dengan Abizar, itu semua karena Rasyid.
Orang tua Rasyid mencoba untuk membujuk Rasyid tapi anak yang baru berusia lima tahun itu sudah terlalu nyaman dengan ke hadiran Nabila dan juga Abizar. Sehingga mereka berdua seperti orang tua Rasyid meski hubungan mereka hanya sebatas teman.
"Bang Ammar ke mana?" tanya Nabila yang tidak melihat sosok Ammar berada di dekat Aini, dia melihat ada kesedihan di raut wajah Aini. "Maaf, aku tidak bermaksud jelek! Aku hanya bertanya tanpa ada niatan apapun!"
"Nggak apa-apa, Kak! Hanya saja, Mas Ammar lagi ke luar negeri untuk pekerjaannya, sudah hampir satu bulan, in sya allah tiga hari lagi Mas Ammar pulang!" ujar Aini, dia menepuk lembut pergelangan Nabila.
__ADS_1
Bersambung...