
Akhirnya Aini mau menuruti permintaan Ammar yang sedikit aneh baginya, mengambil sebotol minum lalu meminum tanpa di telannya, dan mendekatkan wajahnya ke arah Ammar, memberikan air minum yang ada di dalam mulutnya menggunakan bibirnya.
Glek, glek, glek!
Ammar meminum semua air yang ada di dalam mulut Aini sampai habis, setelah selesai. Aini hendak menjauh dari wajah Ammar. Tapi, Ammar langsung menahan tengkuk Aini hingga akhirnya Aini terjebak oleh permainan yang di buat oleh Ammar.
Hmm ... Hmm ... Aaahmmm!
Suara ciuman dari dua sejoli yang saling merindukan yang tidak kenal situasi maupun kondisi di ruangan yang sepi.
Ceklek!
Suara pintu ruangan terbuka, Roy yang terkejut melihat adegan yang jarang orang alami di dunia nyata, karena habis koma langsung berciuman. Langsung membalikan badannya dan meminta maaf kepada dua sejoli yang terciduk oleh Roy.
"Astagfirullah! Maaf, Bos!" Roy menutup matanya sambil menutup pintunya.
Aini langsung duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, itu yang Aini rasakan saat ini, saat dirinya tertangkap basah oleh Roy saat dirinya berciuman dengan suaminya.
Tok, tok, tok!
"Aini? Tante boleh masuk?" Dinda yang sudah mengetahui kejadian adegan delapan belas plus meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk.
"Masuk aja, Tan!" ucap Aini sedikit cemberut.
Dinda yang sudah mendapatkan izin dari keponakannya untuk bisa masuk, menahan gelak tawanya yang hampir terdengar oleh Aini.
"Alhamdulillah, ternyata sudah sadar ... Apa kata Dokter?"
"Alhamdulillah hasil pemeriksaannya bagus, Tante. Tinggal pemulihan." Aini yang merapihkan cadarnya.
"Alhamdulillah, kalau gitu!" ucap Dinda
"Permisi ... Makan siang untuk, Tuan Ammar!" perawat mengantarkan makanan dan juga obat.
"Terma kasih," ucap Aini saat melihat perawat itu mulai jalan keluar ruangan.
"Mau makan sekarang?" tanya Aini.
"Nanti saja, kamu sudah makan? " jawab Ammar sekaligus melempar pertanyaan.
"Oh, iya ... Tante hampir lupa, Tante kesini kan mau mengantar makanan untuk kamu, sekalian Tante mau pamit pulang duluan. Soalnya Kenzo nangis kata bibik. Gak apa-apa kan Tante tinggal? Nanti, Tante suruh Pak Bejo untuk jemput kamu! " ujar Dinda yang menyerahkan bikisan makanan untuk makan siang Aini.
"Gak apa-apa, Tante. Hati-hati ya, Tan! " Aini yang mengambil bingkisan dari tangan Dinda.
"Ya sudah kalau gitu, Tante pamit dulu ya, Mar. Maaf gak bisa lama jenguk kamu. Cepat sembuh ya ... Assalamualaikum." Dinda tersenyum dan meninggalkan Aini berdua dengan Ammar.
__ADS_1
"Waalaikumussalam," ucap Ammar dan Aini bersama.
"Mau makan sekarang?" tanya Aini kembali saat Dinda sudah menutup pintu kamar rawat inap.
"Suapin!" ucap manja Ammar.
"Sebentar ya, Mas! Aini naikin kasur bagian atas dulu. " Aini memencet tombol otomatis agar posisi Ammar tidak tiduran terlentang.
"Gimana, sudah pas?" tanya Aini dan Ammar hanya tersenyum sebagai balasannya.
"Terima kasih, sayang ...." Ammar yang senang mendapat perlakuan dari Aini.
Masih terasa mimpi bagi Ammar, saat dirinya terbaring lemah dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya, Aini justru ada di sampingnya.
Andaikan ini hanya mimpi bagi Ammar, dia akan rela tidak bangun dari komanya dari pada harus tersadar dan menerima kenyataan bahwa Aini tidak pernah ada di sampingnya seperti saat ini yang dia rasakan.
"Loh, kok nangis?" tanya Aini saat sesuap bubur ada di tangannya yang akan di berikan ke mulut Ammar.
Aini meletakan sendoknya kembali ke dalam mangkuk dan mengambil tisu untuk menghapus airmata suaminya.
"Kenapa?" Aini kembali bertanya namun lelaki yang ada di depannya yang berstatus masih sebagai suaminya hanya terus terdiam sambil menatap lurus matanya.
"I love you, never to leave again from my life! (Aku mencintaimu, jangan pernah pergi lagi dari hidupku!)." Ammar memegang tangan Aini mengunakan tangan kirinya dan meletakan di bibirnya.
Sesuap, dua suap masuk kedalam mulut Ammar, perlahan bubur yang ada di dalam mangkuk semakin berkurang. Begitu juga dengan Aini yang begitu lahap semua makanan dari tante Dinda tanpa rasa malu di hadapan Ammar.
Ammar yang melihat sisa nasi di bibir Aini langsung mengusapnya dengan jempolnya, karena Ammar memang menyuruh Aini membuka cadarnya saat sedang berdua dengan dirinya.
Aini merasa malu saat Ammar tersenyum mengusap sisa makanan yang ada di sudut bibirnya.
"Mas sudah kenyang!" ucap Ammar.
"Ya sudah, Aini rapihkan dulu," ucap Aini selesai makan.
"Honey?" panggilan sayang Ammar ke Aini yang begitu Aini rindukan selama ini.
"Hmm?" Aini menghampiri Ammar saat dirinya selesai merapihkan sisa makanan dan ingin memakai cadarnya lagi.
"Jangan di pakai dulu, Mas masih mau melihat lebih lama wajah kamu!" Ammar yang melarang Aini memakai cadar hitamnya.
"Kemari lah, Mas sangat ingin menyentuhnya!" ucap Ammar.
Aini berjalan ke arah Ammar dan mendekatkan wajahnya ke arah suaminya.
"Boleh Mas pegang perut kamu lagi?" tanya Ammar menahan tawanya.
__ADS_1
"Ih, kirain mau megang wajah Aini!" dengan cemberut Aini merasa malu.
"Assalamualaikum, anak-anak Abi ...." Ammar mengelus perut Aini yang sudah membesar.
"Waalaikumussalam, Abi." Aini yang menirukan suara anak kecil dan berhasil membuat Ammar tertawa.
"Kalian gak nakal kan sama Umi? Maafin Abi ya ... Disaat kalian mau sesuatu Abi tidak ada di samping kalian. Abi janji setelah Abi keluar dari rumah sakit nanti kita tinggal bareng terus ya sama Abi ...." Ammar terus berbicara dengan kedua calon anak nya sambil mengusap lembut kulit perut Aini.
"Aauuwwh!" Aini merasakan pergerakan yang hebat dari dalam perutnya yang juga di rasakan oleh Ammar.
"Mereka gerak!" Ammar yang mendapat respon dari kedua anaknya di dalam perut istrinya merasa senang. Begitu juga dengan Aini. Ammar dan Aini tertawa bersamaan saat tendangan dari dalam perut mucul lagi di telapak tangan Ammar.
Kebahagian terpancar di rahut wajah Ammar yang kini sedang di lihat dari balik pintu ruangan, matanya berair ketika melihat senyum yang terlukis dengan tulus di wajah suaminya yang sekarang sudah sadar dari komanya.
Iya, Nabila begitu sedih sekaligus senang melihat adegan begitu hangat dalam sebuah rumah tangga yang dia impikan bersama Ammar suaminya.
'Hari ini aku tersadar oleh senyuman mu, bahwa kamu bahagia saat bersamanya, bukan dengan ku. Seberusahanya aku untuk mendapatkan cinta mu, tapi tetap saja ... Cinta akan menuntun mu kembali kepada pemilik tuannya, terima kasih Ernata ... kamu menyadarkan aku, bahwa aku lah yang menjadi orang ketiga dalam kehidupan kalian berdua!'
Rasa sesaknya begitu menjadi saat dirinya mengenali istri pertama dari suaminya ternyata gadis remaja yang pernah dia temui sewaktu di Pranscis dalam ke adaan koma.
Karena selama ini Nabila belum mengetahui wajah Aini di balik cadarnya, Nabila selalu menganggap wanita yang menjadi istri pertama Ammar hanyalah seorang wanita mualaf biasa.
'Oh, iya ... Kenalin aku Nabila Abigail, kamu boleh panggil aku Nabila atau Abigail juga boleh, hehehe'
'Sepertinya kamu lebih mudaan dari pada aku? Boleh aku menganggap kamu sebagai Adik aku? Kebetulan aku dari kecil mau punya adik perempuan. Tapi malah cowok,'
'Besok aku mau balik ke Indonesia, bukanya kamu sangat ingin tinggal di Indonesia?Kalau kamu sadar ... Jangan lupa mencari ku ya ... Kita saling melantunkan ayat suci bersama-sama, memanah bersama! Bukanya kamu ahli dalam memanah? Bagaimana kalau kita lomba memanah? Hadiahnya ... Siapa yang menang dia yang mendapatkan hati seorang pangeran!'
Nabila menangis mengingat ucapannya yang dia lontarkan waktu dulu Ernata masih terbaring koma.
Roy merasa kasihan terhadap istri kedua Bosnya yang sedang menangis di depan pintu kamar rawat inap Ammar, Roy menghampiri Nabila dan memberikannya sapu tangan kepada Nabila.
"Percayalah, Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya." Roy menyodorkan sapu tangan warna biru dongker kehadapan Nabila.
Bersambung...
Alhamdulillah akhirnya Ilham sedang memberi hidayah kepada Nabila, jangan lupa Like, hadiah, komen dan Vote nya ya... 😀
Jika berkenan author minta dukungannya untuk perlindungan karya Author yang masih terbilang jauh dari kata sempurna.
Sekalian Author mau rekomendasi cerita yang menarik satu ini dari author yang baik hati 😘 jangan lupa mampiirrr ya..
Terima kasih 😀
__ADS_1