Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 139. Datang bulan


__ADS_3

"Mas, ini ...." ucapan Aini terpotong oleh sang suami yang mengulurkan tanganya dihadapan Abizar.


"Saya Ammar, suami—Aini!" tegas Ammar saat Abizar membalas uluran tangan dari Ammar.


Bagaikan luka yang ditaburi oleh garam, begitu sakit dan perih yang dirasakan oleh Abizar saat mendengar pernyataan dari suami Aini. Abizar langsung menarik napasnya dalam-dalam setelah itu dia langsung tersenyum.


"Abizar," ucap Abizar yang menahan sakit.


Keduanya saling tatap menatap saat tangan mereka masih mencengkeram satu sama lain, suasana menjadi tegang ketika Ammar semakin kuat mencengkram tangan Abizar.


"Ehmm, Mas ... kita langsung masuk aja ya, kasian bunda Ismi, pasti cape jagain si kembar." Aini memegang tangan Ammar.


"Terima kasih, sudah mengantarkan Istri saya," ucap Ammar yang melepaskan tanganya dan tersenyum ke arah Abizar.


"Ah, iya, tidak masalah." Abizar tersenyum kaku dan melihat Ammar yang menggandeng tangan Aini dan merangkulnya dengan mesra.


Mata Abizar terus melihat kepergian sepasang suami istri tersebut, air matanya menetes ketika hatinya begitu kecewa dengan apa yang baru saja diterima. Dia masih tidak menyangka bila wanita yang ingin dia persunting, ternyata sudah memiliki suami.


***


Ammar terus menggandengnya dengan erat sampai masuk ke dalam kamar hotel, sang suami langsung mengganti plaster yang ada di tangannya saat Aini sudah duduk di atas kasur.


"Mas, marah?" tanya Aini yang melihat raut wajah Ammar begitu masam.


"Sudah tahu marah, masih nanya," jawab Ammar dengan ketus.


"Kok marah si? Seharusnya aku lah ... yang ngambek sama kamu." Aini menarik tangannya saat sang suami sudah selesai mengganti plaster.


"Maaf sayang ... Mas baru selesai metting, dah gitu mobilnya mogok, ponselnya mati." Ammar menarik wajah Aini agar melihat ke arah dia dan mendengar penjelasannya.


"Dia teman satu kampusku, satu mata kuliah juga, terus aku ketemu dia saat mau pulang. Nah ... kebetulan searah, jadinya bareng deh." Aini merangkul sang suami dan menatap mata Ammar agar suaminya juga mau percaya pada dirinya.


Mendengar penuturan dari sang istri, Ammar mencoba mencari kebohongan tetapi dia tidak menemukan gelagat yang aneh dari sorot mata istrinya, Ammar hanya tersenyum sebagai tanda percaya kepada istrinya walaupun hati masih cemburu melihat lelaki lain mendekati Aini.


"Maaf." Aini mengecup bibir Ammar sekilas dan melihat sang suami hanya menarik napasnya.


"Jemput anak-anak dulu, baru kasih aku kompensasi." Ammar segera berdiri lalu pergi ke kamar mandi.


"Ih, kompensasi apa si? Kan tadi sudah," ucap Aini.


"Kurang!" teriak Ammar dari dalam kamar mandi.


Aini menjadi tersipu malu ketika mendengar jawaban dari Ammar, dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur sembari tersenyum ketika suaminya cemburu terhadap Abizar.


"Astagfirullah, belum jemput si kembar?" tanya Ammar yang sudah keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Lagi dibawa ke sini sama Aa dan juga bunda." Aini menunjukkan isi pesan bunda Ismi kepada suaminya.


"Kesini juga tuh anak?" tanya Ammar yang melihat pesan dari bunda Ismi tetapi yang mengirim pesan adalah Rey.


Ammar langsung kesal ketika melihat isi pesan di ponsel Aini ternyata yang mengirim adalah Rey, dalam isi pesan tersebut juga memperlihatkan foto Rey memasang wajah jeleknya bersama salah satu sang anak.


"Di mana ada kamu pasti ada dia, ya?" tanya Ammar dengan dingin.


"Mulai deh," ucap Aini yang malas dengan sikap suaminya yang akhir-akhir ini seperti anak kecil.


Wajah masam Ammar terus bertambah saat Aini ternyata tertawa melihat foto Rey yang bertingkah lucu, hatinya sungguh kesal mengetahui dia terlalu banyak saingan cinta walaupun Aini sekarang sudah memberikan sepasang anak yang lucu pada dirinya.


Tidak lama kemudian, pintu kamar hotel di ketuk dari luar. Ammar membuka pintu dan melihat ke dua anaknya dalam gendongan Rey dan juga Ismi, Rey hanya tersenyum ke arah Ammar dan langsung masuk ke dalam bersama Ismi.


"Assalamualaikum, umi ... aku pulang." Rey meletakan Khansa di atas tempat tidur sedangkan Ismi memberikan Khan ke pada Aini.


"Waalaikumussalam, ya ampun ... Umi ampe kangen, makasi ya Bun, A ...." Aini langsung mencium pipi Khan.


"Sama-sama, sayang ... gimana di kampus sudah selesai?" tanya Ismi.


"Udah, Bun. Besok tinggal sesi terakhirnya, besok Aini bawa Khan dan Khansa bisa kok! Soalnya besok cuma setengah hari," ujar Aini yang menjelaskan kepada Ismi.


"Gak apa-apa, bunda senang bisa main sama cucu-cucu bunda. Kapan lagi bisa kaya gitu," ucap Ismi yang begitu senang.


Ismi dan Rey pamit kepada sepasang suami istri tersebut, mereka segera keluar dari kamar saat hari menjelang magrib. Ammar mengucapkan terima kasih kepada Ismi dan juga Rey selama seharian, dia juga mengantarnya sampai ke depan pintu.


"Mas, kok masih cemberut si?" tanya Aini.


"Kita sewa baby sister ya?" Ammar menghampiri Aini yang sedang memberikan asih kepada Khan.


"Kalau boleh jujur, Aini lebih suka merawat sendiri." Aini menaruh Khan setelah selesai memberi Asih dan mengambil Khansa.


"Mas hanya mau, kamu tidak terlalu repot mengurus si kembar," ujar Ammar.


"Boleh, tapi ada satu syarat!".


Kening Ammar mulai mengkerut saat sang istri mengajukan syarat untuk menggunakan jasa baby sister, dia bertanya kepada istrinya mengenai syarat tersebut. Tanpa basa-basi Aini mengucapkan syarat yang sah untuk menjadi baby sister si kembar.


"Pertama, wanita yang sudah menikah. Kedua, wanita paru baya, kalau misalkan tidak masuk dalam katagori tersebut. Ya sudah, berati no way!" tegas Aini menatap mata Ammar.


Ammar tertawa mendengar syarat dari istrinya, dia begitu gemas melihat sikap Aini. Ammar pun menarik cadar Aini dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Kompensasi dulu." Ammar langsung kembali melumati bibir manis sang istri ketika Aini sudah menaruh Khansa yang tertidur lelap.


Mendapat serangan mendadak dari sang suami, membuat Aini terkejut. Dia langsung mengimbangi permainan dari Ammar dengan merangkul dan membalas setiap suaminya berikan. Senyum Ammar langsung terlukis di wajahnya ketika dia mendapat lampu hijau dari Aini.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama lagi, kedua tangan Ammar mulai menadahkan sesuatu sembari membaca doa, dan mengusapnya ke arah wajahnya. Ammar kini mulai menuntun sang istri untuk mengikuti permainan selanjutnya.


"Mas?"


"Hmmm," ucap Ammar yang terus memberikan rangsangan kepada Aini.


Aini mencoba nerka-nerka sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia mengingat kembali tanggal datang bulanannya. Aini pun mencoba untuk menghentikan aksi sang suami yang terus mencumbunya.


"Mas, kompensasinya di undur dulu!" Aini mencoba berbicara lembut kepada sang suami. Namun, Ammar tidak memperdulikan ucapan Aini.


Napsu Ammar sudah di batas kewajaranya, dia terus memberikan rangsangan kepada istrinya. Hingga lampu sudah iya matikan, Ammar langsung membuka baju dan menuntun Aini agar juga membuka bajunya. Namun, sang Istri menahan tangan Ammar.


"Maaf, sepertinya Aini datang bulan, Mas." Aini menahan tangan Ammar agar tidak melanjutkan aksinya lebih lanjut.


"Astagfirullah," ucap Ammar menahan rasa kecewa.


Ammar menjatuhkan wajahnya di dada Aini dan menekan wajahnya ke benda empuk tersebut, dia memeluk tubuh sang istri dan menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralisirkan hasrat gejolak yang sudah dia tahan dari kemarin malam.


"Maaf." Aini mengelus kepala Ammar dengan lembut.


Kepala Ammar menengok ke atas dan mengecup bibir sang istri sebagai tanda dirinya tidak apa-apa, walaupun ada sedikit rasa kecewa.


"Check dulu gih, yank!" perintah Ammar agar memastikan kembali dengan benar.


Aini menggeser tubuh suaminya untuk mengecek ke dalam kamar mandi dan melihat hasilnya, dia pun bangun dan masuk ke dalam. Setelah melihat hasilnya Aini menjadi tambah ragu untuk mengatakannya.


"Gimana, yank?" Ammar mengetuk pintu kamar mandi.


Aini membuka pintunya sedikit agar bisa memberi cela untuk melihat sang suaminya, dia memberi tahu bahwa dia lupa membawa pembalut dengan raut wajah yang memohon.


"Ya sudah, tunggu sebentar." Ammar mengelus lembut rambut Aini yang terurai.


"Makasih, Mas." Aini tersenyum ke arah Ammar dan menutup kembali pintu kamar mandi.


***


Super market.


Ammar langsung turun tangan membeli pembalut untuk sang istri, dia melihat-lihat beberapa merek yang pas agar Aini merasa nyaman. Ammar tidak menghiraukan beberapa pengunjung lainnya yang memperhatikan dia sedang berdiri di barisan lorong pembalut wanita.


Tiba-tiba dari arah samping, Rey menjatuhkan pembalut yang biasa Aini gunakan. Hati Ammar sungguh sakit melihat Rey yang ada di sampingnya, dia langsung menatap ke arah Rey untuk minta penjelasan.


"Jangan salah paham! Dia adek gue sekarang, jelas gue tahu." Rey menepuk bahu Ammar dan meninggalkan kakak iparnya yang menahan rasa kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2