Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 71. Trimester pertama


__ADS_3

Ruang rawat inap VVIP.


Ammar masih setia menemani sang istri yang sedang terbaring lemah, tangannya menggenggam tangan Aini sambil diciuminya dengan lembut dan tangan yang satu mengelus elus perut Aini yang masih rata.


"Assalamualaikum, anak anak Abi, makasi ya nak, karena kalian sudah hadir dan kuat untuk bisa bertahan di perut Umi kalian. Maafkan Abi ya, karena Abi sudah buat kalian dan Umi kalian merasakan sakit, Abi janji akan selalu menjaga kalian dan Umi kalian.?" ucap Ammar yang mengelus perut Aini dengan lembut.


Rey yang mendengar ucapan Ammar hanya bisa menyungging senyuman, saat ini yang menjaga Aini hanya Ammar, Rey dan juga Robbet. Rey yang melihat Robbet sudah tertidur lelap di sofa tunggu, melangkahkan kakinya menghampiri Ammar.


"Dah tidur saja duluan, biar gue yang jaga Aini. besok kan loe harus kerja." ucap Rey yang menepuk pundak Ammar.


"Loe mau berduaan sama istri gue?" Ammar yang masih ada cemburu terhadap Rey.


"Masih aee cemburu, seharusnya gue yang cemburu" balas Rey.


"Jadi loe masih cinta sama bini gue? ckk! katanya udah ikhlasin" sindir Ammar yang berdiri dan melangkahkan kakinya keluar memancing Rey agar mengikutinya, supaya Aini tidak keberisikan.


"Loe pikir setelah gue bilang ikhlasin Aini buat loe, rasa cinta gue ke dia langsung ilang gitu? loe aja coba, mau gak?" ucap Rey yang langsung duduk di bangku balkon kamar rawat Aini.


"Jangan ngarep de loe? sampai kapan pun gue gak bakal lepasin dia" ucap Ammar yang berdiri bersadar di pagar.


"Emang loe cinta sama dia?" ucap Rey sambil meneguk air soda di kaleng.


"Ya iyalah, kalau gak cinta, kenapa benih gue bisa tumbuh di ladang istri gue?" ucap Ammar yang hampir buat Rey tersedak.


"Kalau loe cinta sama dia, kenapa loe bisa nikah lagi? karena cinta? "


"Bukan,"


"Ala bulshittt, kalau gak cinta ngapain loe cium dia di mobil?"


"Emang salah ya, suami cium istrinya?"


"Loe bisa cium dia yang gak loe cinta? tanpa mikirin Aini. Loe sehat Broo?" ucap Rey yang menyinggung perasaan Ammar.


"Maksud loe apa, hah?" ucap Ammar yang memegang kerah Rey sehingga Rey pun bangun dari duduknya.


"Woy santai aja kaleess," ucap Rey tersenyum licik, tiba tiba Robbet menghampiri mereka.

__ADS_1


" Kalian kalau mau masih ribut, silahkan keluar," ucap Robbet tegas, akhirnya mereka berdamai dan memilih untuk tidur.


Ke esokan paginya,


Aini membuka matanya secara perlahan, melihat ke sekelilingnya dan melihat selang infus di tangannya. Aini merasakan sakit di seluruh tubunya, merasa tubuhnya ada yang memeluknya, Aini langsung melihat suaminya yang masih tidur disamping dirinya.


"Akkh... " Aini merasakan sakit di perutnya.


Ammar yang mendengar rintihan Aini langsung membuka mata dan siap siaga.


"Sayang, kamu sudah sadar? apa yang sakit, mana yang sakit? bilang sama mas bagian mananya yang sakit, tunggu sebentar ya, mas panggilkan dokter" rasa kawatir Ammar membuat Aini bingung, sekaligus mengagetkan Robbet dan Rey yang masih tertidur.


"Astagfirullah, Nur kenapa? apa yang sakit? " ucap Rey yang terbangun dan ikut kawatir dengan suara ribut Ammar.


"Aini kamu udah bangun nak, apa yang sakit nak? bagian mana yang sakit? bilang sama ayah, sebelah sini atau sini" ucap Robbet menujuk kepala Aini dan juga perut Aini.


Aini yang melihat kekawatiran ayahnya begitu jelas di raut wajahya yang sudah mulai keriput langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum, karena dia merasa tiga cowo yang berada di dekatnya begitu sayang padanya.


"Benar gak apa apa?"


"Bener mas, cuma sedikit kram di perut"


"Permisi, selamat pagi nyonya Aini? gimana sudah mendingan? apa masih ada yang sakit?" ucap suster yang ingin memeriksa Aini.


"Geser sebentar ya bapak, tuan tuan, saya mau periksa nyonya Aini dulu, kalo bapak dan tuan tuan tidak mau geser, gimana saya mau priksa pasiennya?" ucap suster yang bingung terhadap ketiga cowo yang mengelilingi pasiennya.


"Oh ya sus, silahkan" ucap Rey yang menjauh dan memilih keluar.


"Oh ya ya, tolong di periksa dengan teliti anak saya sus" ucap Robbet yang bergeser menjauh.


"Gimana sus? "


"Tensinya bagus ya nyonyah Aini, suhu tubuhnya juga normal, jangan lupa makan makanan yang banyak mengandung nutrisi ya bu, terutama susu khusus ibu hamil di trimestet pertama,"


"Susu ibu hami? " tanya Aini heran.


"Ya, jangan banyak gerak dulu ya bu, kalau mau pipis minta di anter suaminya. nanti periksa lebih lanjut lagi dengan dokter obgynnya langsung ya pak, bu. Bentar lagi dokternya datang, saya permisi dulu"

__ADS_1


"Terimaksih sus" ucap Robbet.


"Susu ibu hamil? " ucap Aini ke dua kalinya.


"Ya minum susu ibu hamil, masa minum susu kebo. karena kamu lagi mengandung calon cucu ayah, bukan cucunya kebo. Jadi jangan berantem beratem lagi, awas sekali lagi ayah denger kamu berkelahi lagi, ayah ganti nama kamu jadi Samsudin." Geram ayahnya yang medengar anak semata wayangnya masuk rumah sakit karena berkelahi dengan sekelompok anggota mafia dalam keadaan hamil.


"Astagfirullah, iya ayah..." ucap Aini yang tak percaya dengan omongan ayahnya


"Kamu juga Ammar, sekali lagi ayah tau Aini ikut terlibat berkelahi ayah potong habis aset kamu sampe ke akar akarnya" ucap Robbet yang sebal karena mempertaruhkan nyawa cucunya yang di harapkan oleh Robbet.


"Iya yah. "


"Ya sudah ayah pamit dulu, Ammar inget pesan ayah, dan satu lagi, urusan kita belum selesai. Kamu punya hutang penjelasan sama ayah mengenai perempuan semalam" bisik Robbet di telinga Ammar.


"Hati hati ya," ucap Aini sambil di cium oleh Robbet di pipinya.


"Jaga kesehatan ya nak. nanti omah dan nenek mau kesini."


"Iya ayah"


**********


Apartemen Frans.


Pukul 21 : 45


"Nyah,? makan dulu ya... " ucap Bibik.


"Masih belum laper bik" elak Veby yang menunggu suami bulenya pulang di ruang tamu.


"Tapi nyah, ini udah malam... kata Tuan nyonyah jangan menunggunya pulang."


"Siapa sih bik yang nunggu dia pulang.? uadah bibik tidur duluan aja, gak usah nemenin saya" kesal Veby.


"Ya sudah nyah kalau gitu, tinggal panggil saya aja ya yah." ucap bibik yang meninggalkan Veby seorang diri menunggu suami bulenya.


"Dasar buaya bule, udah dapet aja... awas kamu kang," ucap Veby bicara sendiri sambil meremas bantal sofa di bangkuannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2