
"Jadi kapan kamu akan melamar Ulfa?" Tanya Ammar dengan serius.
"In sya Allah ... Besok malam, Bos!" jawab Roy tanpa ragu.
"Secepat itu?" Ammar terkejut dengan niat Roy yang sangat mendadak.
"Iya," ucap Roy sangat yakin dengan keputusannya.
Duaar!
Bagaikan kesambar petir di siang bolong, Sarah begitu sakit saat mendengar percakapan Bosnya dengan pria yang sudah dua bulan mengisi hatinya.
Begitu jelas di telinga Sarah, mendengar perbincangan Ammar dan Roy mengenai lamaran yang akan Roy lakukan terhadap wanita lain saat pintu ruang kerja Ammar tidak tertutup rapat.
Krek!
Sarah tidak sengaja membuat pintu ruang kerja Ammar semakin terbuka lebar, Ammar dan Roy langsung melihat kearah sumber yang sedikit menganggu perbincangan mereka.
"Sarah?" ucap Roy saat melihat Sarah membawa setumpukan surat di tanganya.
"Ah, maaf Tuan. Saya tidak sengaja! Saya hanya ingin mengantar semua surat-surat ini untuk Tuan!" Sarah langsung menghapus sisa airmata yang ada di pipinya dan menyerahkan kepada Roy.
"Terima kasih, Sarah!" ucap Ammar yang melihat keanehan kepada Sarah.
"Kamu kenapa?" tanya Roy dengan suara pelan agar tidak di dengar oleh Ammar.
"Saya pamit permisi, Tuan!" Sarah melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Ammar tanpa melihat dan membalas ucapan Roy.
'Kenapa, dia? Aneh!' gumma Roy dalam hati yang masih saja memandang kepergian Sarah.
"Roy! Bisa kita lanjutkan?" Ammar mengetuk mejanya dengan pulen.
"Ah. iya ... Bos!" ucap Roy yang tersadar dari lamunannya.
Di sisi lainnya.
"Sar, kamu sudah kasih semua surat-suratnya?" Aini bertanya pada asistennya yang sedang merenung di samping Aini.
"Sar?" Aini kembali memanggil Sarah yang tak kunjung menjawab.
"I-iya, Non?" Sarah terkejut saat Aini memanggil namanya sedikit kencang.
"Kamu kenapa?" tanya Aini heran melihat mata sembab di kelopak mata Asistennya.
"Aku ... Ah, saya gak apa-apa, Non!" Sarah mengusap airmatanya saat kembali menetes.
"Jangan bohong!" Aini menatap tajam ke arah Sarah yang sedang berbohong.
"Dia mau melamar seseorang, Non!" tangisan Sarah langsung pecah saat dirinya sudah tidak bisa menyembunyikan rasa sesak didada nya.
"Astagfirullah! Tenang dulu ... Kamu tau dari mana kalau dia mau melamar seseorang?" Tanya Aini yang begitu merasa iba terhadap Sarah.
Selama ini. Sarah selalu bercerita tentang perasaan yang dia miliki terhadap Roy kepada Aini, tapi Sarah masih belum berani menunjukan rasa sukanya terhadap Roy.
Aini yang sudah menganggap Sarah sebagai temannya dari dulu, selalu memberi dukungan terhadap asisten pribadinya, termasuk mendukung hubungannya dengan Roy.
Namun, Aini belum mengetahui bahwa Roy menyukai sahabatnya yang bernama Ulfa, sedangkan suaminya tidak mengetahui bahwa asisten istrinya memiliki perasaan terhadap asisten pribadinya.
"Saya tau dari mulutnya sendiri, Non!" Sarah semakin terisak dalam pelukan Aini.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti biar saya tanya langsung sama, Roy!" ucap Aini yang menenangkan perasaan Sarah.
"Jangan, Non! Saya gak mau! Walaupun sakit, saya ikhlas bila dia bukan jodoh saya!" Sarah melepas pelukan Aini.
"Ya sudah, saya ngerti! Jangan nangis lagi!" jawab Aini dengan mengusap airmata Sarah.
_________
Malam hari.
"Mas!" Aini perlahan mendekat ke arah Ammar yang sudah ada di atas tempat tidur yang masih asik dengan Laptop nya.
"Hmm?" jawab Ammar singkat.
"Boleh Aini bertanya?" tanya Aini ragu mengenai prihal hubungan Roy dan Sarah.
"Tanya aja!" jawab Ammar yang masih fokus ke pekerjaannya.
"Hmm ... Ini soal, Sarah!" Aini menarik nafanya dengan panjang.
"Sarah? Kenapa emangnya?" jawab Ammar yang masih mengetik di keyboardnya.
"Bukan Sarah aja, tapi juga soal Roy!" Aini mulai cemberut dengan sikap Ammar yang cuek.
"Roy? Kenapa dengan mereka berdua?" Ammar meminum air putih hangatnya yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.
"Ihh. mas! Aini serius loh!" kesal Aini saat Ammar benar-benar dingin sikapnya.
Mendengar istrinya mulai merajuk, Ammar menutup Laptopnya dan terfokus mendengar curhatan istrinya sambil tersenyum.
"Maaf ya, sayang ku! Ya sudah, sekarang mau cerita apa?" Ammar mencubit pipi Aini yang kini menjadi hobby baru Ammar.
"Ih, sakit tahu!" Aini mengelus pipinya sendiri.
"Mas! Aini serius loh!" Aini memasang wajah masamnya.
"Ya udah, coba cerita!" Ammar mencoba menahan tawanya.
"Si Sarah suka sama Roy, Mas!" ucap Aini to the point.
"Hah?" Ammar mencoba memastikan pendengarannya.
"Sarah punya rasa sama Roy, Mas!"
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah, Mas! Rasa cinta itu kan milik Allah," ucap Aini.
"Terus, Roy tahu kalau Sarah suka?" Tanya Ammar penuh penasaran.
"Gak tahu, aku Mas! Mangkanya seharian ini Sarah kelihatannya sedih mulu." Aini menarik nafas panjangnya.
"Sedih?"
"Katanya dia dengar, Roy mau melamar seseorang!"
"Oh, iya ... Mas baru ingat! Kalau dia mau melamar besok malam katanya." Ammar baru teringat soal Roy ingin melamar Ulfa.
"Besok? Cepat banget!"
__ADS_1
"Ya kan, dia pernah bilang ... Kalau dia berhasil menaikan angka saham dua kali lipat, dia minta bonus buat melamar pacarnya."
"Terus?"
"Mas kan, udah bilang sama kamu. Alhamdulillah Roy berhasil menaikan angka saham sampai sepuluh kali lipat dalam waktu itungan bulan. Waktu itu Mas kan minta izin sama kamu, mau kasih saham dua puluh lima persen sebagi bonus dia, karena sudah mau bantu Mas." Ammar yang mengingatkan Aini.
"Oh iya, Aini lupa ... Emang dia mau lamar siapa?" tanya Aini penasaran.
"Loh, kamu belom tau?"
"Tau? Tau apa?" Aini bingung dengan ucapan Ammar.
"Mas pikir, kamu udah tau kalau Roy mau melamar Ulfa," ucap Ammar yang berhasil membuat Aini terkejut.
"Apa Ulfa? Ulfa mana?" Aini terkejut saat mendengar ucapan Ammar.
"Ulfa teman kampus kamu dulu, sayang!" Ammar yang membenturkan kepalanya dengan kepala Aini dengan pelan.
"Masa sih, Mas? Kok bisa?" pertanyaan Aini membuat Ammar tertawa.
"Bisa lah, sayang! Namanya juga cinta, karena rasa cinta itu kan milik Allah." Ammar mencubit hidung Aini dengan gemas.
"Ih, bukan itu maksud Aini ... Maksudnya kok bisa sama Ulfa? Gimana ceritanya?"
"Ya itu sudah di atur sayang ... Kita sebagai hambanya kan tidak ada yang tahu," ucap Ammar menasihati Aini.
"Ya sudah, udah malam. Besok lagi lanjutinnya!" Ammar merebahkan dirinya dan menepuk sampingnya agar Aini bisa tidur di samping kiri Ammar.
"Kok aku bisa gak tau ya?" Aini masih bingung dengan dirinya sendiri.
"Sudah, lebih baik tidur ... Besok lagi kita pikirkan, baca doa tidur dulu! " Ammar mencium pucuk kepala Aini.
"Bismillah ...." Bacaan doa Aini terpotong dengan bacaan doa Ammar yang cepat dan lantang.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa, aamiin." Doa Ammar yang begitu jelas di telinga Aini.
"Ih ... Kok doa tidurnya gitu?" Aini yang protes dengan bacaan doa tidur Ammar.
"Oh iya lupa, ke ingat Mas. Itu mulu." Tawa Ammar yang berhasil membuat Aini gugup.
Setelah membaca doa tidur dengan benar, akhirnya mereka tertidur dalam selimut yang sama.
Sejam kemudian, suara ponsel Ammar berdering sehingga membangunkan Ammar yang sudah masuk kedalam alam mimpinya.
"Halo ... Assalamualaikum?" Ammar menjawab panggilan telepon dengan nada serak nya yang menahan kantuk.
"Waalaikumussalam, Bang? Maaf bila mengganggu malam-malam," ucap Nabila dari seberang telepon.
"Oh. ada apa Dek?" tanya Ammar yang masih dengan setengah sadarnya.
"Nabila mau tanya, surat dari pengadilan sudah sampai belum?" Nabila memastikan surat gugatan sudah sampai di tempat Ammar.
"Ah? Apa?" Ammar masih belum paham dengan pembicaraan Nabila.
Tut, tut, tut!
Suara panggilan tiba-tiba terputus, Ammar melihat ponselnya yang ternyata tidak hidup karena kehabisan daya batrainya.
Bersambung...
__ADS_1
Wah... Author baru tahu kalau baca doa tidur ada versi barunya 🤠hayooo yang sudah punya pasangan halalnya... siapa yang pengalaman pribadinya seperti di atas?
Terima kasih bagi yang sudah mendukung karya Author... Siap siap ya, dapat kejutan balik dari author untuk kalian... 😘😘😘