
Apartment Roy.
Mengetahui bahwa Bosnya sedang bermadu kasih dengan pasangan halalnya untuk melampiaskan hasrat, disisi lain Roy sedang uring-uringan menahan gejolak yang sudah berada di ujung tanduk.
"Akkhh! Kacau ... parah sih, Bos gue mah! Huufss ... gila panas banget si hari ini!" Roy mendumel sendiri untuk menenangkan pusaka miliknya.
"Masa iya gue main solo di kamar mandi? Gila ... yang ada gue bisa di pecat jadi kacungnya Ammar ... Tapi gue bukan ustad seperti dia ... men!" ucap Roy bicara sendiri yang membandingan iman dia dengan iman atasanya.
"Wah gila gue nih, aaakhh! Terus mesti gimana gue? Mana masih On terus lagi." Roy membuka kacing bajunya dan masuk kedalam kamar mandi lalu berendam dengan air dingin selama berjam-jam.
Beberapa jam kemudian.
"Yang ini kamarnya?" tanya seorang yang berbadan tinggi dengan tubuh besar bertanya dengan temanya yang serupa.
"Ya, sepertinya yang ini," jawab temanya.
"Ya sudah, gedor aja pintunya." perintah satunya lagi.
Ceklek!
Suara pintu terbuka dari dalam, saat orang yang bertubuh kekar itu ingin menggendor pintu apartment milik Roy.
"Ets, siapa loe? Ngapain ada di depan kamar gue? Sorry gue gak punya hutang sama siapapun!" Roy terkejut saat dua orang yang bertubuh kekar berada di depan pintu kamarnya, seperti seorang rentenir yang ingin menagih hutang.
"Loe yang bernama Om pedopil?" tanya salah satu Pria tersebut kepada Roy.
"Pedopill? Om?" Roy tidak asing lagi dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Pria kekar itu.
"Seret!" ucap teman yang satunya lagi.
"Hayo ikut, kami!" Perintah Pria bertubuh kekar yang mengaet tangan Roy agar bisa memgikuti langkah Pria tersebut.
"Eh, tunggu dulu! Maen bawa-bawa aje ... Loe kira gue maling! Siapa loe semua? Gue laporin atas penculikan nih." Roy mengambil ancang-ancang untuk melawan.
"Kami hanya menjalankan perintah. silahkan tuan ikut dengan kami untuk bertemu dengan Tuan Bahrudin." Pria kekar itu menjelaskan kepada Roy.
"Siapa Bahrudin? Gue aja kaga kenal siapa dia?" tolak Roy dengan tegas.
Bugh!
Suara hantaman dari pukulan benda keras mengenai kepala belakang Roy, membuat Roy terjatuh tidak sadarkan diri, lalu di bawa oleh kedua pria berbadan besar.
Beberapa jam kemudian.
"Siram!" perintah atasannya kepada anak buahnya.
Byyuuur!
"Huuk, huukk, huukk!" Roy tersadar dari tidurnya.
"Eh, Sial! Siapa loe? Berani nyulik gue." Roy memberontak untuk melepaskan tali yang mengingat di tangan dan kakinnya yang digantung di tiang penyanggah kayu.
"Hajar!" perintah sang bos yang berada di kegelapan sinar.
__ADS_1
Bugh, bugh, buggh!
Pukulan bertubi-tubi mengenai seluruh wajah dan tubuh Roy hingga babak belur, darah menetes dari setiap sudut luka yang ada di wajahnya.
"Anying loe semua! Beraninya main keroyokan! Kalau berani lepasin gue, gak usah satu lawan satu, semua bakalan habis di tangan gue! Banci loe semua!" Roy tertawa penuh emosi di sertai darah yang terus mengucur dari luka pukulan.
Mendengar penuturan dari perkataan Roy. Atasan yang memerintahkan anak buahnya untuk memukul Roy, perlahan menampakan wajahnya, senyuman terlukis di raut wajah seorang pria paru baya yang memiliki bekas luka di pipi kananya.
"Ternyata, kamu orang yang cukup berani. Tidak hanya berani sudah merusak masa depan anak saya tetapi berani mengatai anak buah saya banci!" ucap Bahrudin yang tertawa jahat.
"Gila ... siapa yang sudah merusak masa depan anak loe? Ngeliat muka loe aja, udah ketauan anaknya kaya gimana!" Sindir Roy yang berhasil memancing amarah sosok Bahrudin.
"Bedebah!" Bahrudin langsung menendengan perut Roy begitu keras.
"Banci loe! Kalau berani lepasin gue ... kita duel secara jantan!" ucap Roy yang menghina Bahrudin.
"Habisi dia." Bahrudin menyalahkan pipa rokkok dan duduk manis melihat mangsanya di pukul secara membabi buta.
"Ayah, Stop!" teriak seorang gadis belia berlari memeluk Roy yang di ikat di atas kayu.
Mendengar teriakan dari sang anak, Bahrudin menyuruh anak buahnya untuk berhenti memukuli Roy.
"Minggir, Gabriel!" Bahrudin berteriak kepada putrinya.
"Gak! Gabriel mohon sama, ayah ... lepasin dia, yah!" Gabriel terus menangis memeluk Roy.
"Jangan harap cecunguk ini bisa bernafas besok hari!" teriak sang Ayah yang sudah murka.
"Ok! Kalau begitu pukul sekalian Gabriel sampai Ayah puas." Gabriel merentangkan tanganya yang bersiap menerima pukulannya.
"Seret dia keluar!" Perintah Bahrudin yang tanpa kasian menyuruh anak buahnya untuk menyeret Grabiel.
"Gak!" Gabriel masih memeluk Roy dengan erat.
Melihat adegan yang membuat Roy memahami situai dan kondisi saat ini, gadis yang selama ini Roy cari untuk bertanggung jawab atas perintah Ammar, ternyata anak dari Bahrudin seorang mafia kelas kakap ke dua yang tidak mengenal ampun terhadap siapapun.
"Ayah, Gabriel mohon! Jangan sakiti Om ini! Dia gak bersalah, Ayah ... Gabriel yang mau melakukanya dengan dia, Gabriel cinta sama Om ini. Ayah!"
"Cinta? Sama lelaki tua bangka ini? Kamu tau ... gara-gara kamu yang hamil di luar nikah sama dia, keluarga Panji membatalkan pernikanya sama kamu dan semua aset sudah di ambil ahli menjadi keluarga Panji. Ngerti kamu!" Bahrudin menjambak rambut anaknya tanpa kenal ampun.
"Aauhhh, Ammpun ... ampun, Ayah! Sakit!" Gabriel menahan jambakan dari tangan sang Ayah.
"Cih, hai ... Bang sat, lepasin anak loe! Loe gak pantes di sebut, Ayah!" tawa Roy menggelegar menusuk kuping Bahrudin.
"Sem, pasung dia di kamar!" Bahrudin melepaskan jambakan begitu kasar.
"Gak, Ayah ... ampun! Gabriel sudah menuruti semua keinginan, Ayah ... tapi jangan paksa Gabriel buat nikah sama Panji, Ayah ... dia lebih tua dari Om ini. Gabriel gak mau jadi istrinya, Ayah ... Please!" mohon Gabriel kepada sang Ayah.
"Kamu, tau! Gara-gara kamu Ayah rugi besar!" bentak sang Ayah di telinga Gabriel.
"Gabriel janji sama ayah, Gabriel akan menganti semua kerugian, Ayah. Tapi tolong lepasin Om ini, Yah." Pinta Gabriel yang masih menangis.
"Ok, ayah lepaskan, tapi kamu harus menggugurkan bayi yang ada di dalam perut, kamu!" pinta sang Ayah yang di sanggupi oleh Gabriel.
__ADS_1
Mendengar percakapan antara anak dan sang Ayah. Roy sangat sakit hati ketika Gabriel setuju untuk menguguran benih Roy, walaupun Roy masih tidak percaya bahwa anak yang di kandung Gabriel adalah anak Roy.
Roy pun di lepaskan oleh Bahrudin dan Gabriel sudah mendapat izin untuk merawat Roy hingga sembuh.
Apartment Roy.
Gabriel membersihkan dan mengobati pada setiap luka di wajah Roy, Roy masih terdiam tanpa berkata sekatapun, saat Gabriel membatu merawat dirinya sebagai konvensasi terhadap perbuatan Ayahnya.
"Dah, Om tidur dulu, biar aku yang jagain. Om, gak usah takut, aku gak bakalan lari dari tanggungjawab kok." Gabriel menyelimuti Roy dan hendak melangkahkan kakiknya untuk kedapur.
"Berapa bulan?" tanya Roy yang menghentikan langkah Gabriel.
"Dua bulan," ucap Gabriel menunduk.
"Anak siapa?" tanya Roy yang memastikan kebenarannya dari mulut Gabriel.
"Nanti kita bahas lagi ya, Om! Aku harus mengerjakan tugas sekolah aku dulu." Gabriel berusaha mengahlikan pembicaraan.
Roy mengerti maksud dari ucapan Gabriel, Roy pun perlahan mulai tertidur karena pengaruh obat yang di beriakn Gabriel untuk kesembuhan lukanya.
Hari pun semakin larut, jam menujukan pukul 23:45. Roy terbangun karena rasa hausnya, mengira Gabriel sudah pulang ke rumahnnya. Roy memutuskan untuk mengambil air minum di dalam kulkas.
"Terima kasih ya, Gab," ucap sang kaka yang berada di seberang telepon yang di lauspaker oleh Gabriel.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Gabriel yang masih mengerjakan tugas sekolahnya.
"Sudah mau menutup mulut untuk kakak, dan mengakui kalau kamu yang sedang hamil," ucap Sang kakak.
"Oh," ucap Gabriel dengan singkat.
"Kamu nangis? Kamu gak marah kan, sama kakak ... hanya gara-gara kakak masukan hasil tes pack kakak kedalam tas, kamu?" pertanyaan sang kakak membuat Gabriel meneteskan air matanya.
Selama ini Gabriel selalu di bedakan kasih sayangnya oleh sang Ayah semenjak ibunya sudah meninggal, sang kakak selalu di banggakan dan di sayang oleh sang Ayah.
Sedangkan dirinya selalu menjadi pelarian kesalahan sang kakak untuk menutupi segala tingkah buruk kakanya.
"Gak, udah santai aja ... udah biasa kok! Kakak kan tau Gabriel sudah kuat tahan banting sama Ayah, masa anak dari seoarang mafia cengeng." Gabriel menghapus air matanya dengan cepat.
Krekk!
Roy membuka kulkas yang ada di samping Gabriel. Gabriel yang panik saat kebohongannya terbongkar langsung mematikan ponselnya lalu mengusap air matanya.
"Eh, Om sudah bangun? Om laper?" Gabriel langsung mengambil hati Roy.
"Laper! Sangat laper, samape mau makan orang saat ini juga." Roy menenggak satu botol denga tandas lalu menggengamnya dengan sangat kuat sampai botol air itu meremuk tidak terbentuk.
"O-o-om, sepertinya di antara kita ada sedikit kesalah pahaman!" Gabriel memundurkan tubuhnya saat Roy mulai mendekat ke arahnya.
"Banyak!" ucap Roy dengan sinis.
"Oo-om, a-aaku bisa jelasin semuanya!"
"Jelasin apa? Kamu memfitnah aku untuk menjadi kambing hitam kakak, mu! Iya!" Bentak Roy sangat kencang saat Gabriel sudah mentok di dinding.
__ADS_1
"Jawab!" teriak Roy yang sudah kalang kabut akibat kebohongan Gabriel.
Bersambung...