
"Hai, gak kok! Dari mana?" sambut Aini dengan rama dan mengajaknya untuk duduk di sofa saat sudah memakai cadarnya kembali.
"Aku ... Tadi ... Dari ...." ucap Nabila yang canggung.
"Dari Farmasi !" sahut Roy membantu Nabila menjawab pertanyaan Aini.
"Oow! Oh iya, ini buat Mba! Tadi aku liat ini pas belanja sama Tante Dinda. Semoga Mba suka ya!" Aini memberikan sebuah paper bag kepada Nabila.
"Buka lah ...." Perintah Aini kepada Nabila.
"Ini ...." Nabila mengeluarkan kitab suci yang bersampul warna merah muda dengan di sertai nama Nabila.
"Gimana suka gak? Aku juga beli dua, satu buat Mba ... Satu lagi punya aku." Aini juga mengeluarkan kitab yang sama dengan Nabila hanya saja namanya yang berbeda.
"Syukron, Aini!" Nabila terharu dengan hadiah pemberian Aini, lalu memeluknya dengan erat.
"Afwan," ucap Aini seraya membalas pelukan dari Nabila.
Melihat kedua Istrinya berpelukan ada rasa senang di hati Ammar, tapi ada rasa takut saat melihat situasi yang saat ini dimana Robbet melihat Nabila juga berada disini.
"Ehhem! Baik kalau begitu Bu Ainun saya pamit dulu, karena waktunya tidak banyak. Saya ada jadwal meeting, jadi harus ngejar waktu. Ammar semoga lekas sembuh, yah!" Robbet yang menepuk tangan Ammar yang di gips.
"Aawwh!" rintih Ammar saat mertuanya menepuknya dengan sengaja.
"Ahhh anak laki harus kuat!" ucapan dan tingkah Robbet membuat Ainun dan Ammar tertawa garing.
"Iya, Yah! Terima kasih sudah mau jenguk Ammar!"
"Sebenarnya, Ayah malas jengkuk. kalau bukan karena Aini yang paksa, Ayah!" ucap Robbet yang lagi-lagi membuat tertawa seisi ruangan.
"Ah, bisa aja. Ayah!" ucap Ammar yang tertawa.
"Aini, Ayah tunggu di luar. Jangan lama-lama!" Robbet mencium kepala putrinya.
"Iya, Yah!" sahut Aini.
"Sekali lagi, terima kasih ya, Pak Robbet sudah berkenan untuk menengok Ammar!" Ainun yang mengantar Robbet sampai di depan kamar inap.
Di sisi Lain.
"Aku pamit dulu ya, Mba! Titip Mas Ammar!" ucap Aini yang memeluk Nabila sebelum berdiri.
"Loh. emangnya kamu gak nungguin, Bang Ammar?" Nabila bertanya.
"Aini harus mengechek jadwal persiapan Lahiran, Mba!" ucap Aini yang asal.
__ADS_1
"Mas, maaf ya ... Aini gak bisa lama menemani Mas Ammar di rumah sakit!" Aini menghampiri Ammar yang sudah memasang wajah masamnya.
"Mas?" ucap Aini saat melihat tidak ada jawaban dari Ammar.
"Kalau, Mas gak ijinin kamu buat pergi?" ucap Ammar yang menatap lekat ke arah Aini.
"Kalau Mas gak kasih izin, yang ada susah lagi buat ketemu sama Dokter Fazilanya!"
"Ya kan ada Dokter lain, bukan cuma Dokter Fazila doang!" Ammar kesal dengan Aini.
"Mas!" Aini yang bingung dengan harus bicara apa supaya Ammar mau mengizinkanya.
Tidak mungkin Aini harus bicara yang sebenarnya dengan kondisi Ammar yang seperti ini saat dirinya harus mendapat perawatan spesial saat melahirkan nanti.
"Mas bilang, gak! Ya, gak!" Ammar masih terus mengenggam tangan Aini dengan erat, tanpa melihat ke arahnya.
"Kita bisa Video Call kok! Kalau Mas Ammar tidak percaya!" Aini membujuk Ammar.
"Semalam aja kamu janji mau hubungi. Mas! Mana buktinya?" Ammar masih memalingkan wajahnya.
"Ok, terus bagaimana Aini mau membuktikanya?" tanya Aini yang mulai pasrah.
Mendengar tawaran dari Aini, Ammar tidak membuang kesempatan yang ada di depan matanya, dengan akal bulusnya Ammar mengeluarkan senyum liciknya.
"Cium, Mas! Baru, Mas izinin." Ammar menunjuk semua yang ada di wajahnya termasuk bibirnya.
Aini mulai mendekatkan wajahnya dan mencium kening suaminya dengan kecupan sayang, pelahan turun kedua matanya lalu ke hidung mancung milik Ammar.
Mencium ke dua pipi Ammar secara bergantian lalu berhenti sejenak melihat kedua mata suaminya yang haus akan kasih sayang dari dirinya.
Kedua mata sejoli saling pandang memandang dengan penuh cinta yang tersirat dari mata mereka masing-masing sampai akhirnya Ammar mengungkapkan isi hatinya yang membuat Aini tercengang mendengarnya, saat itu pula Aini mendapat serangan mendadak dari Ammar.
"Hhmm, ehmmm! Kiss me!" ucap Ammar di sela-sela ciumannya.
Mendengar Ammar menyuruhnya untuk membalas ciumannya, Aini langsung mencium Ammar dengan lembut dan penuh tuntutan.
Suara decakan ciuman menghiasi suara di dalam ruangan yang hening dan sepi, pergulatan lidah dan pertukaranan slavina antara dua sejoli menambah kesan yang sangat erotis yang mereka lakukan di rumah sakit.
"Ya, Tuhan ... Aini! Ayah nunggu dari tadi di luar! Malah enak-enakan ciuman! Buruan waktu Ayah mempet!" ucap Robbet yang tiba-tiba masuk kedalam dan mempergoki dua sejoli sedang bermesraan begitu intim di atas ranjang tempat tidur rumah sakit.
Suara teriakan dari sang Ayah, membuat dua sejoli itu terkejut dan saling melepaskan ciumannya, Ammar hanya mengusap kasar wajahnya saat Ayah mertuanya menggangu aktifitas melepas rindunya yang begitu panas, walaupun hanya sebuah ciuman saja.
"Maaf, Ayah." Aini menunduk malu.
"Mas, Aini pamit dulu ya " ucap Aini saat mencium tangan Ammar.
__ADS_1
"Ingat jangan lupa telepon!" perintah Ammar setelah mencium pipi Aini.
"Sehat-sehat ya, sayang! Jangan nakal di perut Ummi!" Ammar mengusap perut Aini dengan lembut.
"Assalamualaikum, Abi!" ucap Aini.
"Waalaikumussalam, hati-hati. Yah!" ucap Ammar yang sedikit kesal dengan Ayah mertuanya.
Setelah Aini dan Ayah mertuanya sudah pamit pulang, Nabila mulai masuk dengan perlahan dengan perasaannya yang bercampur aduk menjadi satu.
"Bang?" ucap Nabila.
"Iya?"
"Nabila minta maaf," ucap Nabila secara ragu-ragu.
"Mendekatlah!" Ammar menepuk kasur yang ada di sampingnya.
Nabila memberanikan diri untuk mendekat ke arah Ammar duduk di atas tempat tidur Ammar. Ammar mengusap pipinya lalu memeluk Nabila dengan penuh sayang.
"Maaf bila membuat mu, terluka ...."
"Maafkan, Abang yang sampai saat ini tidak bisa membalas cinta kamu! Terima kasih, Nabila ... Terima kasih sudah mencintai Abang di hati mu!" ucap jujur Ammar sambil memeluk Nabila dalam dekapannya.
"Sakit ... Sakit rasanya bila Abang tidak mencintai Nabila ...." ucap Nabila menggantung.
"Tapi lebih sakit lagi, bila Nabila melihat Abang terbaring koma di rumah sakit seperti Bang Faris, maafin Nabila, Bang! Abang mengalami kecelakann karena Nabila." Nabila menangis dalam pelukan Ammar.
"Sudah, jangan bicara seperti itu! Semua sudah kehendak-Nya," ucap Ammar mengusap pipi Nabila.
"Maaf, Bang! Karena sudah paksa Abang untuk mencintai Nabila! Nabila sayang sama Abang, Nabila berharap ... Kalau Nabila melepaskan Abang untuk Aini, rasa sayang Abang ke Nabila tidak berubah!" Nabila mendongak ke atas melihat Ammar yang masih memeluknya.
Deg.
Jantung Ammar berdegup terkejut saat mendengar perkataan Nabila yang membuat perasaan Ammar senang sekaligus lega.
"Terima kasih, Nabila! Terima kasih, sudah mau memahami perasaan, Abang. Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi adik yang paling Abang sayang!" Ammar meneteskan airmatanya karena terharu, menciumi kepala Nabila penuh kasih sayang.
"Boleh, Nabila minta izin untuk bertemu Papih? Nabila rindu sama Papih! Nabila akan bilang sama Papih secara pelahan, agar tidak mengejutkannya!" dengan isak tangisannya Nabila meminta izin kepada Ammar.
"Boleh, tentu boleh! Terima kasih, Nabila!" Ammar terus mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Nabila yang sudah mau mengerti perasaanya.
Bersambung...
Part yang di tunggu-tunggu akhirnya nongol juga, maaf bila kurang srek di part di mana Nabila akhirnya mengibarkan bendera putih juga... 😁
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga ya, di cerita Author yang terkeren ini.