
"Hallo?" ucap Gabriel terpaksa mengangkat telepon dari Roy, karena ponsel Gabriel yang terus berdering.
"Lima menit, masuk ke dalam mobil." Suara Roy dengan nada yang dingin membuat Gabriel susah menelan salivanya.
"Hmm!" jawab singkat Gabriel lalu memasukan ponselnya kembali ke dalam sakunya.
"Pake, helmnya." Nico melempar helm ke arah Gabriel ketika Nico sudah mengambil motornya dan berhenti di depan Gabriel.
"Gab, kita balik duluan, yak! Gak jadi acara party piayama di rumah, Sisil!" Lara langsung menancapkan gas motornya.
"Bye, Gabriel." Sisil melambaikan tangan saat motor sudah berjalan.
"Hati-hati!" teriak Gabriel yang membalas lambaian tangan ke arah kedua sahabatnya.
"Hayo, buruan naik!" Nico menarik tangan Gabriel.
"Sorry, Nic. Om gue jem ...." Belum sempat Gabriel menyelesaikan ucapannya, Nico langsung menarik paksa Gabriel agar mendekat ke arahnya.
"Kalau, kamu menolak. Jangan salahkan, aku yang akan berbuat nekat di depan sekolah!" Nico mulai mendekatkan wajahnya ke arah Gabriel.
"Iya!" Gabriel memakai helm pemberian Nico dan langsung memeluk erat Nico saat motor yang dia tumpangi melesat cepat melewati mobil Roy.
"Si al!" Roy mengeluarkan tanduk merahnya saat melihat gadis incarannya tidak patuh terhadap dirinya.
Nico yang sudah mengetahui, bahwa orang yang menelepon Gabriel adalah Om dari Gabriel, langsung mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi.
Roy yang sudah kalang kabut, menyusul dan mengejar gadis incarannya yang masih berstatus kekasih orang.
Suara motor sport yang di kendarai oleh Nico memecah bela jalanan ibu kota yang terlihat cukup ramai, semua pengendara lainnya melihat ke arah sumber yang menjadi pusat perhatian.
"Nic, kamu kenapa sih? Bisa pelan sedikit gak, bawa motornya? Aku takut!" teriak Gabriel dari belakang Nico.
Mendengar kekasihnya ketakutan, Nico semakin nekat mempererat tangan Gabriel agar semakin kencang memeluknya dan menambah kecepatannya agar bisa menebus lampu yang akan berubah menjadi warna merah.
"Percayakan sama, aku!" teriak Nico kencang lalu menambah kecepatan motornya.
"Nico!" teriak Gabriel kencang yang memeluk erat tubuh kekasihnya.
Tin!
Suara klakson kencang, saat mobil Roy menerobos paksa lampu merah yang hanya hitungan satu detik.
Nico mulai menurunkan kecepatannya saat melihat mobil Roy sudah tidak terlihat, perlahan Nico menepikan motornya di sebuah danau yang indah.
__ADS_1
"Kenapa ke sini?" tanya Gabriel.
"Kangen!" Nico melepaskan helm yang ada di kepala Gabriel, lalu mengajak sang gadis untuk turun dari motor.
"Tambah cantik." Bisik Nico yang menaruh anak rambut ke belakang telinga Gabriel.
"Nic! Ada yang mau aku omongin ke kamu." Gabriel melepaskan gangaman tangannya dari tangan Nico.
"Apakah ini soal kehamilan kamu?" tanya Nico yang berhenti tepat di hadapan Gabriel.
"Gab! Aku sudah pernah bilang, apapun yang terjadi sama kamu, aku yang akan bertanggung jawab." Nico memeluk erat kekasihnya.
"Maaf, Nic! Aku sudah mengkhianati, kamu." Gabriel meneteskan air matanya.
"Ssstt ... Jangan nangis!" Nico mengusap air mata Gabriel dengan jari jempolnya.
'Maaf, Nic! Aku sudah mengecewakan kamu berkali-kali, tapi kamu tetap sayang sama aku, maaf sudah membohongi kamu soal kehamilan aku dan sudah selingkuh di belakang kamu,' ucap Gabriel dalam hati.
"Hai, kok tambah nangis!" Nico menarik dagu Gabriel hingga kedua mata mereka saling bertemu.
Perlahan tapi pasti, Nico mencium bibir Gabriel dengan lembut semakin menikmati alunan sentuhan lembut yang di berikan oleh Nico. Berbeda dengan ciuman yang di berikan oleh Roy yang terhanyut dalam kemabukan gelora asmara.
"Ah, maaf. Nic!" Gabriel mendorong dada Nico agar ciumannya terlepas, saat dirinya mengingat ciuman panas yang dia lakukan dengan Roy di pagi hari.
"Gab!" Nico mengejar kekasihnya yang sudah berlari menjauh dari hadapannya.
Hap!
Gabriel pun di tangkap dan di peluk ke dalam pelukan si pria tersebut, dengan dera nafas yang tidak teratur di sertai deraian air mata. Gabriel mulai merasakan nyaman dalam pelukan hangat yang memeluk tubuhnya.
"I love you! Maaf kan aku yang sudah mengkhianatimu." Gabriel masih memejamkan matanya saat berada di dalam pelukanya.
"Its Okey, aku sudah memaafkan kamu. Lebih baik kita pulang sekarang!" Suara berat Roy mengejutkan Gabriel.
Begitu terkejutnya, Gabriel saat memgetahui bahwa yang menangkap dan memeluknnya adalah Roy bukan Nico. Gabriel tidak percaya dengan apa yang dia ucap dan di jawab oleh Roy.
Gabriel menengok ke kanan dan kekiri melihat sekitar danau ternyata tidak ada Nico maupun orang lain yang berada di danau tersebut, hanya ada dirinya dan juga Roy.
Kemang, Jakarta Selatan.
"Masih marah kah sama Mas?" tanya Ammar yang mendekat ke arah istrinya.
__ADS_1
"Gak," jawab singkat Aini saat dirinya mengayun ke dua anak nya di sebuah ayunan moderen.
"Maaf, kalau tidak membela mu di depan, Papih!" Ammar mengusap air mata Aini.
"Mas harus apa? Agar kamu tidak marah?" Ammar menarik wajah Aini agar dirinya bisa melihat kedua bola mata istrinya yang sudah memerah.
"Aini, mau istirahat dulu, Mas!" Aini segera naik ke atas tempat tidurnya.
Tanpa menunggu lama Ammar mengikutinya dan ikut masuk kedalam selimut yang sama bersama sang istri, lalu memeluk tubuh Aini dari samping.
"Kembalilah bersama Nabila, Mas!" Aini meneteskan air matanya saat membelankangi suaminya.
"Never! " ucap Ammar dengan tegas yang mendekap istrinya dengan kencang.
"Why? Dia sangat mencintaimu, Mas! Dan Papih juga sangat baik sama kamu, dia sudah menyerahkan semua sahamnya untuk kamu!"
"I never loved her, only you!"Ammar kecewa dengan ucapan Aini dan melepaskan pelukannya lalu bersandar di atas kepala tempat tidur.
"Im sorry!" Aini bangun dari tempat tidurnya dan duduk di samping suaminya.
"Kalau, Mas memang tidak mencintainya, kenapa Mas menciumnya? Mas, juga pernah bilang, apa salah kalau Mas juga mencintai Nabila? kata Mas gitu," ucap Aini yang mengeluarkan segala rasa kesal di hatinya selama ini.
Jleb, semua perkataan Aini menyerang tepat di hati Ammar secara bertubi-tubi, bagaikan mendapat readers yang begitu banyak untuk membaca kisahnya.
"Sudah, gak usah di jawab, Aini paham!" Aini bangun dan berdiri dari tempat tidurnya. Namun, Ammar menarik tangannya, sehingga dirinya terjatuh di pelukan sang suami.
"Im sorry, sudah buat kamu terluka."Ammar langsung mencium bibir Aini dan melumattinya dengan dalam.
Aini terus mendorong tubuh suaminya. Namun, Ammar masih terus mendekapnya dengan erat, memperdalam ciumanya dan semakin bergaiirah.
'Iya, Mas memang menciumnya, tapi Mas tidak pernah menikmati seperti yang Mas lakukan terhadap kamu! Seandainya kamu tahu tanpa harus, Mas bilang ke kamu! Seharusnya kamu juga merasakan yang Mas lakukan di setiap sentuhan yang Mas berikan kepada kamu?' batin Ammar yang terus memberikan sentuhan yang begitu memabukan Aini.
"Akkh!" desa han Aini lolos begitu saja saat suaminya mengigit gemas puncuk coklat miliknya dan mencolek bagian bawah yang sudah mulai lincin.
"Apakah ini kurang untuk menjawab semua perkataan kamu?" tanya Ammar dengan lantang saat menghentikan aktifitasnya.
Masih deru napas yang sudah tidak beraturan, di campur rasa kecewa saat Ammar menghentikan permainannya. Aini langsung paham dengan ucapan dari sang suami.
"Bagus kalau kamu sudah paham, mandilah!Mas ada janji, mau bertemu Pak ustad Rahman sore ini." Ammar bangun dari tempat tidurnya.
"Isshh. menyebalkan!" dumel Aini di tempat tidur, saat dirinya sudah berada di puncak hasrat yang ingin di tuntaskan. Namun, suaminya malah menghentikan permainannya.
Ammar hanya tertawa pelan saat dirinya mendengar istrinya mendumal kesal akibat ulahnya, lalu langsung masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
"Awas, tunggu pembalasanku, Mas! Isshhh keseelll!" Aini melilit tubuhnya dengan selimut karena merasa malu dan kesal di permainkan oleh suaminya.
Bersambung...